090811 Kemenhub Terbuka Tarif RA Dikaji

 

JAKARTA—Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terbuka tarif agen inspeksi (Regulated Agent) dikaji terutama tentang penerapan   ambang atas dan bawah dalam pelaksanaannya   yang akan   diberlakukan pada 3 September mendatang.
“Kita akan tunggu hasil kajian dari pelaku usaha yang tergabung di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) soal penerapan tariff batas atas dan bawah untuk RA,” jelas Menteri Perhubungan Freddy Numberi di Jakarta, Senin (8/8).
Dijelaskannya,  pelaksanaan regulated agent merupakan amanat dari otoritas penerbangan internasional. Melalui regulated agent,  keamanan penerbangan lebih terjamin dan mereduksi penyelundupan barang-barang berbahaya.
“Prinsipnya, ada hal-hal yang harus kita ubah supaya menghidupkan persaingan bisnis sehingga tidak ada yang merasa diuntungkan atau dirugikan,” jelasnya..
Menurutnya, sejumlah warehouse dan perusahaan freight forwarder berpeluang menjadi regulated agent jika memiliki infrastruktur pendukung seperti gudang, metal detector, serta mesin pemindai. “Di Hongkong ada 400 regulated agent dan Australia punya 200 lebih. Maka seharusnya di Indonesia juga harus ada ratusan RA,”katanya.
Dikatakannya,  tarif regulated agent di Indonesia harus disesuaikan dengan biaya yang berlaku di negara-negara lain. Bahkan, Kemenhub akan memberlakukan kompensasi keamanan angkutan kargo.
Juru bicara Kemenhub Bambang  S Ervan menambahkan,   untuk  tarif Regulated Agent  sebenarnya itu masalah pasar.  Namun, kalau Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memberikan sinyal pemerintah dapat mentetapkan tarif batas bawah dan batas  atas akan ditindaklanjuti.  “Saran dari  Kadin juga akan menjadi masukan dan dibahas nantinya. Kami  sangat mengapresiasi kesediaan Kadin  untuk  memfasilitasi dalam pemberlakuan Regulated Agent,” katanya.
Ditegaskannya,  selama ini Ditjen Hubud selalu melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Kadin   terkait pemberlakuan Standar Operasi Prosedur (SOP) pemeriksaan kargo dan Regulated Agent.
Secara terpisah, Direktur Angkasa Pura II (AP II) Tri S Sunoko mengungkapkan, perseroan sedang mengurus izin sebagai Regulated Agent ke Ditjen Perhubungan Udara. “Izin sedang diurus. Nanti kami akan tawarkan tarif pemeriksaan yang lebih kompetitif ketimbang yang ada sekarang,” katanya.
:Sebelumnya, Kadin mengusulkan  tarif wajar ambang  bawah untuk Regulated Agent adalah Rp 250/ kg dan untuk  batas atas Rp. 500/kg, sebagai acuan para pelaku bisnis. Kadin juga mendesak pemberlakuan security charge yang lebih proporsional. Hal ini karena  security charge menjadi tanggung jawab pemerintah melalui Kemenhub dan APII.
Saat ini sudah ada tiga agen inspeksi  yang ditunjuk oleh Ditjen Hubud berikut pentarifannya adalah PT Duta Angkasa Prima Kargo/ DAKP ( Rp 875/kg), PT Fajar Anugrah Sejahtera/ FAS (Rp 700/kg), dan PT Gita Avia Trans/Gatra (Rp 900/kg). Gatra dan DAKP menetapkan tarif untuk membawa barang hingga ke lini I, sementara FAS tidak sampai ke Lini I.[dni]

 

090811 Operator Medioker Sambut Ramadan

JAKARTA—Dua operator lapis dua (Medioker), Tri dan Bakrie Telecom (Esia), menyiapkan jaringan dan program pemasaran menyambut Ramadan layaknya para oeprator besar.
Chief Commercial Officer Tri Bhuwan Khulshreshta  mengungkapkan, perseroan   menawarkan layanan cara baru isi ulang  agar para pelanggan tahu persis tarif yang dibayar saat membeli pulsa. “Kami ingin menawarkan sesuatu yang tidak rumit dan hemat dalam menyambut Ramadan ini,” katanya di Jakarta, kemarin.
General Manager Consumer Marketing Tri Algrini Syafitri Dewanti mengatakan, perseroan  menyebut program terbaru ini sebagai   Paket All In One dimana  isi ulang  10 ribu rupiah, pelanggan akan mendapat waktu bicara 5.000 menit, 50 ribu SMS, dan kapasitas internet 30 MB.
Paket Tri ini berlaku dari Pukul 12 malam sampai 6 sore. Adapun batas pemakaiannnya adalah 500 menit per hari, 5.000 SMS per hari, dan 3 MB per hari.
Guna menghadapi masa mudik dan lebaran, Esia sudah mempersiapkan diri dengan menambah kapasitas untuk voice, data dan SMS lebih banyak. Mengingat kedua waktu tersebut mengakibatkan lonjakan trafik yang sangat tinggi, sehingga kapasitas harus lebih besar.
Sementara EVP Network Service Bakrie Telecom Irwan Anwar mengungkapkan, perseroan  menyediakan kapasitas dua kali lebih besar dari tahun kemarin dalam menyambut lonjakan trafik selama Ramadan bagi 13,9 juta pelanggan Esia.
”Untuk tahun ini kami sediakan lebih dari 80 persen untuk SMS, dan untuk Voice dan Data sebesar 50 hingga 100 persen. Perluasan jaringan berkonsentrasi di Jawa Tengah dan Timur yang merupakan tujuan mudik pelanggan. Saat Lebaran akan kami gunakan juga untuk maintenance jaringan di Jakarta karena trafiknya sedikit,” jelasnya.
Diungkapkannya, saat ini Esia sudah memiliki 3.900 BTS yang tersebar diseluruh Indonesia dan TRX sebanyak 11.700 unit yang melengkapi BTS serta berfungsi untuk meperluas kapasitas jaringan Esia.
Wakil Presiden Bakrie Telecom Erik Meijer, menambahkan, perseroan  selalu berinvestasi minimal 20 persen lebih tinggi dari jumlah penggunannya. Investasi ini ditujukan untuk mendirikan tower BTS dan penambahan TRX pada setiap tower BTS yang dimiliki Esia. Selain itu, Esia juga mengalokasikan investasi tersebut dengan membuat key perfomance indicator guna mengetahui bagaimana performa jaringan di seluruh Indonesia yang dikontrol tiap jam.[dni]

 

090811Penataan 3G Tidak Ditunggangi

 

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menegaskan penataan kanal 3G di frekuensi 2,1 GHz  tidak ditunggangi oleh kepentingan asing, melainkan mengantisipasi  kebutuhan masyarakat terhadap layanan broadband.
“Tidak ada itu penataan karena desakan atau titipan dari investor asing yang kebetulan menguasai saham Axis atau Tri. Penataan ini murni agar masyarakat mendapatkan layanan broadband yang berkualitas,” tegas Anggota Komite BRTI Nonot Harsono di Jakarta, kemarin.
Anggota Komite lainnya, M. Ridwan Effendi menegaskan, hasil pleno BRTI adalah meminta   Telkomsel   yang telah datang duluan di kanal 4 dan 5 diminta pindah ke kanal 5 dan  6 agar Tri bisa berada di kanal 1 dan 2, sedangkan Axis di 3 dan 4. Posisi  sekarang adalah Tri berada di kanal 1, NTS (3), Telkomsel (4 dan 5), Indosat (7 dan 8), XL (9 dan 10). Sementara kanal nomor 2, 6, 11, dan 12 lowong
Sementara Direktur Penjualan Axis Telekom Syakieb Sungkar meminta semua pihak untuk berkomitmen dalam menjalankan kesepakatan yang ada tanpa harus melempar tudingan ke sana-sini. ”Sudahlah, jika mau berunding lagi, mari berdiskusi. Saling tuding di media, malah membuat kondisi tidak sehat. Sementara investasi yang kami keluarkan untuk membeli perangkat terbuang karena tidak bisa dipasang mengingat kanal kedua belum dimiliki,” kesalnya.
Direktur Government Relations Tri  Sidarta Sidik juga mengaku bingung dengan perkembangan penatan kanal kedua 3G yang berjalan di tempat dan malah memunculkan sentimen isu penguasaan asing di frekuensi. ”Saya tidak habis pikir, kenapa jadi seperti ini. Sementara inti persoalan tidak beres,” sesalnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menegaskan enggan untuk pindah kanal karena sudah terlanjur berinvestasi. Jika pun dipaksakan pindah, ada konsekuensi penurunan kulaitas layanan dan harus mengeluarkan dana sekitar 34 miliar rupiah.
Direktur Center For Indonesian Telecommunication Regulation Study (CITRUS) Asmiati Rasyid  menegaskan  Telkomsel tidak  harus pindah kanal karena memiliki kebutuhan yang besar melayani pelanggan dan meminta dilakukan audit frekuensi mengingat sumber daya alam terbatas itu banyak dikuasai pihak asing.[dni]

090811 Layanan BlackBerry Telkomsel Bermasalah

JAKARTA—Pelanggan Telkomsel mengeluhkan layanan BlackBerry Internet Service (BIS) milik penguasa pasar itu yang mulai menurun kualitasnya sejak awal Ramadan.
“Menjelang akhir pekan sebelum Ramadan, Jumat (29/7), layanan BlackBerry Telkomsel sempat bermasalah. Sangat susah untuk terkoneksi internet dan melakukan instant messaging,” ungkap seorang pelanggan, Arika di Jakarta, Senin (7/8).
Pelanggan lainnya, Ratri, mengeluhkan pola aktivasi BIS secara prabayar yang tidak ramah kantong dan pola perpanjangan secara otomatis. “Untuk aktivasi BIS harus dilakukan dua kali SMS yang menyedot pulsa sekitar 700 rupiah. Belum lagi perpanjangan BIS tanpa ada notifikasi alias pulsa dipotong secara otomotis,” keluhnya.
Telkomsel saat ini memiliki 2,5 juta pengguna BlackBerry dengan kapasitas ke RIM  sebesar 2,4 Gbps. Jika pola berlangganan BIS dengan menarik bayaran sekitar 700 rupiah, maka operator ini diperkirakan dari aktivasi saja sudah meraup omset 39,375 miliar rupiah dengan asumsi 90 persen pelanggan prabayar dan menggunakan pola berlangganan harian. Pola penarikan biaya aktivasi hanya dilakukan oleh Telkomsel. Sementara Indosat, XL, Axis, dan Tri membebaskan pendaftaran aktivasi.
Deputi VP Sekretaris Perusahaan Telkomsel Aulia E Marinto mengakui pada Jumat (29/7) layanan BIS sempat terganggu karena Link ke server Research in Motion (RIM) di Kanada terputus.
Sementara itu, VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo mengungkapkan, perseroan  menggandeng Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci untuk mengembangkan  Aplikasi Mobile Campus BlackBerry besutan Better-B.
 “Telkomsel kini bukan lagi sekedar menyediakan SIM card atau jaringan. RIM juga tidak lagi hanya menjadi manufaktur handset. Kami adalah platform ekosistem yang menyediakan berbagai solusi berbasis komunikasi,” ujar Gideon.
 Dikatakannya, mahasiswa UPH bisa mengunduh aplikasi ini melalui link http://uph.better-b.mobi langsung dari BlackBerry-nya. Melalui aplikasi ini mahasiswa bisa mendapat informasi mulai dari jadwal kuliah, materi akademik, data akademik pribadi seperti IPK dan grafik prestasi, hingga melakukan pembayaran uang kuliah.[dni]

 

090811 Berjualan di Pasar Freemium

Lembaga riset Gartner memperkirakan pendapatan dari jasa data secara global pada akhir tahun ini mencapai 314.7  miliar dollar AS atau naik  22,5 persen dibadnig 2010 sebesar 257 miliar dollar AS. Pada akhir 2011 diperkirakan ada 5,6 miliar pengguna jasa telekomunikasi bergerak atau naik 11 persen dari  5 miliar pengguna.
Menurut Principal research analyst  Gartner Jessica Ekholm penggunaan mobile data akan terus naik seiring pembangunan jaringan kian cepat. ”Kendalanya pendapatan dari jasa data  tumbuh lebih rendah dari trafik,” katanya.
Disarankannya, operator harus mengaji kembali  pentarifan di jasa data seperti  tiered pricing, a la carte, dan usage-based plans, serta berhati-hati  menambah fitur bagi pengguna data.
Sementara para pengembang aplikasi juga mendapatkan tantangan yang sama dengan para operator mengingat pengguna jasa data telah terbiasa dengan sesuatu yang gratis alias free.
”Pengembang aplikasi tantanganya lebih berat lagi. Jika diberikan sesuatu yang gratis, pengguna ramai. Begitu diberikan pentarifan, maka aplikasi ditinggalkan. Pengembang harus bisa mengembangkan diri kearah freemium yakni dimana untuk tahap tertentu ada gratisnya, tetapi untuk sesuatu yang lebih bernilai dikenakan biaya,” jelas Chief Architect?Director Risto Mobile Wvgen Wong di Jakarta, belum lama ini.
Risto Mobile adalah perusahaan pengembang aplikasi dari Singapura. Risto telah bermain di  pasar Indonesia sejak setahun yang lalu,dengan merilis aplikasi gratisan dan berbayar. Aplikasi besutan perusahan  ini disediakan  bekerja sama dengan empat operator telekomunikasi Indonesia, yakni Telkomsel, Indosat, XL Axiata, dan Bakrie Telecom.
“Tak mudah untuk berjualan software aplikasi mobile di Indonesia. Dengan jumlah pengguna telekomunikasi 200 juta, pasarnya memang sangat besar. Namun hanya segelintir saja yang dinilai mau membelanjakan uangnya,” katanya.
Dikatakannya, berdasarkan pengalaman  saat aplikasi itu gratis, penggunanya akan datang berbondong-bondong. Namun begitu aplikasi itu berbayar, mayoritas pengguna di Indonesia akan berpikir dua kali untuk mengeluarkan uangnya. ”Mereka merasa lebih baik pergi ke Ambassador atau Roxy untuk inject aplikasi jail break dengan biaya murah,” katanya.
Meski dianggap sulit, namun Risto tidak menyerah mengeluarkan mainan barunya yakni   aplikasi Gift & Take untuk platform sosial di Facebook dan BlackBerry Messenger (BBM). Gift&Take adalah platform aplikasi mobile gift untuk mengirim bingkisan pesan secara personal melalui jaringan sosial media seperti Facebook dan platform Blackberry Messenger 6 (BBM 6) dari Research in Motion, yang memungkinkan pengguna mengirim pesan personal kepada kontak BBM.
Aplikasi Gift & Take yang baru akan dirilis resmi di Indonesia pada 15 Agustus 2011 mendatang ini menawarkan pengiriman pesan ucapan dengan grafis animasi. Pesan ini disediakan dengan dua skema, gratis dan berbayar mulai harga  500 hingga  5000 rupiah yang ditagihkan pada pulsa pelanggan.
“Kami  optimistis aplikasi ini  setiap bulannya diunduh 20 ribu sampai 50 ribu pengguna. Server kami sendiri disiapkan secara kustomisasi dimana kapasitasnya naik seiring banyaknya penggun,” ungkapnya.
Menurutnya, Indonesia  pasar yang unik. Meskipun pengguna tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli aplikasi, tapi banyak yang bersedia membayar untuk item-item tertentu. Saat main game di Farmville, misalnya, memang aplikasinya gratis, tapi ada yang mau membayar untuk peralatan di dalamnya.
Dijelaskannya, alasan perseroan untuk melepas aplikasi ini di pasar Indonesia karena masyarakat negeri ini sangat sosial dalam penggunaan ponsel dan suka berbagi. “Di Indonesia isu nasional bisa bergerak dari pesan-pesan instant messengger seperti BBM. Kesenangan berbagi ini menjadi peluang bagi aplikasi kami karena tentunya pengguna ingin sesuatu yang unik kala mengirimkan sesuatu pada komunitasnya,” katanya.
Secara terpisah, Deputy Director of Solution Sales Div   Huawei Tech Investment Dani K. Ristandi mengakui, para pengembang aplikasi merupakan salah satu pendorong kebutuhan broadband karena hasil kreasinya berjalan di atas jasa data.
“Kadang-kadang para pengembang aplikasi dan platform malah dianggap sebagai saingan bagi para operator karena hingga saat ini belum ada model bisnis yang ideal antara kedua belah pihak,” katanya.[dni]

 

090811 Strategi Bisnis : Infomedia Kembangkan Portofolio Bisnis. Menuai Buah Transformasi

 

 
PT Infomedia Nusantara (Infomedia)  mencatat kinerja keuangan yang menggembirakan pada semester I 2011. Anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) ini berhasil meraih omset  sebesar 551 miliar rupiah selama  semester I 2011 atau naik  26 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Sedangkan  operating Income dibukukan pada semester I 2011 sebesar  132 miliar rupiah   atau tumbuh sebesar 29 persen  jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Sementara laba bersih semester I 2011 sebesar   89 miliar atau tumbuh sebesar 26 persen  dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Pencapaian omset perseroan  selama semester I di dorong oleh 3 portofolio bisnis yang ada dengan kontribusi masing-masing portofolio sebagai berikut; Digital Media & Rich Content (DMRC) sebesar   176 miliar rupiah atau berkontribusi sebesar  32 persen dari total revenue,  Contact Center & Bisnis Proses Outsourcing (BPO) sebesar 327 miliar rupiah  alias berkontribusi   59 persen bagi total omset,  serta Printing & Publishing sebesar  48 miliar rupiah dimana berkontribusi    9 persen bagi total   revenue yang diperoleh Infomedia.
“Laba usaha dan laba bersih Infomedia  memang naik maisng-masing sebesar 29  dan 26 persen. Nilai laba memang kecil dibandingkan pendapatan, karena margin kita sangat tipis sekali hanya 15 persen. Sedangkan sumbangan kita ke Telkom masih kecil baru sekitar 2 persen dari total pendapatan Telkom Group,” ungkap Presiden Direktur Infomedia Muhammad Awaluddin di Jakarta, kemarin.
Dijelaskannya, pertumbuhan omset  dicapai melalui optimalisasi bisnis eksisting dimana  pengelolaan bisnis organik Infomedia yang fokus kepada pengelolaan potensi bisnis pasar berdampak pada meningkatnya bisnis new wave infomedia yaitu Digital Rich Content (DRC) dan Business Process Outsourcing (BPO) yang masing-masing tumbuh sebesar 263 dan 35 persen.
Kembangkan Portofolio
Diungkapkannya, perseroan pada tahun ini menargetkan untuk meraih omset satu triliun rupiah. Untuk  menggenjot pertumbuhan pendapatan, Infomedia memperluas jangkauan bisnisnya mulai  semester kedua tahun ini dari tiga portofolio menjadi tujuh portofolio.
Ketujuh portofolio bisnis baru Infomedia adalah Customer Relationship Management Services (Contact Center, Costumer Management, IT Helpdesk & Support), HR Services (HR Provider, Training & Development ), Operation Services (Asset &Infrastructure Management, Back Office, Project Management), Research & Consulting Services (Market Research, Consulting In Corporate Strategy and Management), Advertising & Directory (Advertising: Printing, Online, Mobile, Digital Signage dan Directory: Business & Lifestyle), dan Printing & Publishing (General & Security Printing), Commerce (Marketplace, Cross Selling and Up Selling Client’s Products).
“Kontribusi bisnis baru akan kelihatan pada kinerja keuangan tahun depan, karena baru dirintis tahun ini. Sedangkan alokasi  belanja modal  masih tetap sekitar 150 miliar rupiah, cuma komposisinya di restrukturisasi, dimana 60 persen untuk bisnis organik dan sisanya 40 persen untuk non organik,” jelas Awaluddin.
Sedangkan dalam mengembangkan tujuh portofolio bisnis terbarunya perseroan masih mengandalkan infrastruktur dan aset teknologi yang dimiliki oleh Telkom selaku induk grup. “Kami tidak mau buang-buang uang kalau sumber daya di Telkom masih besar dan bisa diutilisasi,” katanya.
Dikatakannya, untuk lini bisnis andalan dari perseroan, contact center, telah disiapkan  empat model bisnis yakni  wholesale (B to B contact center), hosted contact centee (cloud contact center), shared agent contact center, dan white label contact center.
Saat ini untuk Wholesale contact center  ada 24 site di seluruh indonesia dengan 70  klien wholesale (corporate client) dalam 2 kelompok besar yakni, pertama,  perbankan dan  lembaga keuangan. Kedua, Non bank  dan lembaga keuangan. Hingga akhir tahun nanti diharapkan bisa menembus 100 klien.
Sementara untuk hosted contact center (cloud contact center) diharapkan bisa mendapatkan  1.000 hosted client,  dimana penawaran yang diberikan ke pasar adalah  solution package dengan  target  small and medium enterprise (SME) dan product packaging terdiri atas contact center solution, social media, IVR, dan web portal
“Untuk contact center berbasis social media Infomedia menggandeng Avaya mengembangkan aplikasinya. Kita kembangkan Contact Center berbasis social media ini bagi klien besar dan SME. Klien besar sudah dilakukan uji coba, sementara SME kita bidaik ada 200 perusahaan akhir tahun nanti,” katanya.
Untuk model bisnis shared agent contact center infomedia menargetkan pada tahun ini sekitar  100 business community, multi industry.  Penawaran yang diberikan adalah solution package, target market service industry, product packaging : contact centre solution, social media, IVR, HR services.
Konsep share agent call adalah dimana satu nomor didedikasikan untuk sektor industri utnuk menjadi nomor contact center. Konsep ini mengubah pola penghitungan dari cost per seat menjadi cost per call.
Sedangkan yang terakhir adalah white label contact center atau chanelling dimana untuk  tahun ini ada  5 business partner. Solusi  yang dijual adalah  connectivity, infrastructure facilities (PBX, IVR, CMS, dll), serta  apabila memungkinkan space property Konsep chanelling untuk mengakali mulai dibutuhkannya nomor publik oleh pemerintah daerah atau pasar di daerah dimana Infomedia belum memiliki cabang
Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo mengakui Infomedia adalah salah satu andalan perseroan bermain di bisnis Information, Media, dan Edutainment (IME). “Sebenarnya pilar dari Infomedia itua da dua BPO dan mencakup produk 1-4 CRM service (contact center) dan DMRC. Kami mulai melakukan streamlining  dengan membuat dua pilar ini menjadi unit mandiri, dimana  ke depan siap dipisahkan setelah cukup besar,” jelasnya.
Diungkapkannya, digital media yang dimiliki Infomedia saat ini mengeksplorasi  directory services (yellow pages). Sementara tengah disiapkan  Plasa.com untuk bermain di   e-commerce dan  transaction. “Nantinya akan ada Superportal dari Telkom yang dikoordinasikan  oleh   divisi multimedia dengan mengagregasi seluruh portal di  group. Superportal diharapkan menjadi default portal untuk 120 juta pelanggan Telkom group, bisnis utamanya  diharapkan dari advertising,” jelasnya.
Secara terpisah, Praktisi Telematika Teguh Prasetya menyarankan prioritas pertama yang dilakukan Infomedia agar diversifikasi usaha sukses adalah melakukan   streamlining bisnisnya dahulu agar lebih efisien dan bisa bersaing dengan contact center global. Karena jika terlalu mengandalkan sumber omset dari Telkom group,   nilai kompetitifnya   akan minimal.
Dijelaskannya, steramlining yang harus dilakukan adalah memotong biaya dengan benchmark unit usaha eksisting dibandingkan  global contact center agar lebih efisien. Berikutnya, mendidik ekisting agent agar bisa multi talenta dan bahasa untuk dapat menerima order dari mitra internasional. Terakhir, perluasan pasar eksisting.
“Jika tercapai omset satu triliun rupiah dan EBITDA diatas 50 persen baru bicara diversifikasi usaha.  Kalau sekarang sepertinya terlau cepat, khawatirnya sumber daya internal tidak siap yang bisa berujung  chaos,” jelasnya.[dni]