080811 Kemenhub Kaji Tingkatkan Pertanggungan Asuransi Penerbangan

JAKARTA–Kementrian Perhubungan (Kemenhub) tengah mengaji meningkatkan pertanggungan (cakupan) pada layanan asuransi di bisnis penerbangan berjadwal agar maskapai lebih meningkatkan layanannya.

Rencananya asuransi nantinya tidak hanya menanggung  jiwa penumpang, tetapi juga  barang, dan keterlambatan pesawat. Nantinya regulasi  akan diberlakukan dalam bentuk Keputusan Menteri Perhubungan (KM)  tentang tanggung jawab pengangkut terhadap penumpang.

“Saat ini draft Keputusan Menteri Perhubungan yang akan mengatur hal-hal soal pertanggungan ini  sudah masuk ke pak Menteri (Menhub Freddy Numberi). Kalau sudah ditandatangani dan disosialisasikan bakal diberlakukan,”  kata Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Herry Bakti Singayudha Gumay di Jakarta akhir pekan lalu.

Dijelaskannya,  aturan ini dilakukan agar maskapai semakin meningkatkan layanannya terutama dalam hal waktu keberangkatan pesawat.

“Rencananya,  aturan baru soal jaminan penumpang pesawat tersebut bakal diberlakukan pada tahun ini. Nantinya, maskapai akan diwajibkan untuk menyertakan asuransi tersebut terhadap penumpang,” katanya.

Diungkapkannya,  bila tadinya santunan asuransi untuk korban kecelakaan pesawat minimal hanya  50 juta rupiah, nantinya akan ditingkatkan menjadi minimal satu  miliar rupiah.

Dijelaskannya, asuransi yang diberikan kepada penumpang saat ini adalah asuransi jiwa dari PT Jasa Raharja. Dengan Jasa Raharja, bila terjadi kecelakaan dan penumpang meninggal, maka akan dapat santunan sebesar  50 juta rupiah.

Sedangkan asuransi lainnya adalah asuransi pada pesawat. Dalam pengoperasian pesawat, maskapai mengasuransikan pesawat itu sendiri, selain akan mendapat dana penggantian pada saat pesawat kecelakaan dan rusak berat, penumpang juga akan mendapat santunan dari perusahaan di luar negeri yang besarannya tidak tentu.

Misalnya,  Merpati Nusantara Airlines dengan Asuransi AON hanya memberikan santunan sebesar  300 juta rupiah. Demikian juga dengan kasus Adam Air beberapa tahun lalu di mana penumpang pesawat yang jatuh mendapat santunan sekitar  500 juta rupiah.

“Dengan aturan yang baru nantinya santunan akan jauh lebih besar. Kita menetapkan kisarannya minimal  satu miliar rupiah,” jelasnya.

Selain asuransi jiwa, jaminan yang bakalan diberikan adalah masalah keterlambatan (delay) pesawat dan baran-barang bawaan penumpang yang dititipkan di bagasi pesawat.

“Nantinya bila dalam perjalanan, bagasi hilang atau rusak maka penumpang akan mendapatkan uang ganti,” katanya.[Dni]

060811 Sriwijaya Air Luncurkan Prima Sriwijaya

JAKARTA—PT Sriwijaya Air (Sriwijaya) menggandeng perusahaan asuransi yang berfokus pada risiko penerbangan, PT Citra International Underwriters (CIU, untuk meluncurkan produk Prima Sriwijaya.

Wakil Direktur Niaga Sriwijaya Hasudungan Pandiangan menjelaskan, Prima Sriwijaya travel insurance adalah penjualan asuransi yang sifatnya layanan tambahan yang dapat diperoleh dengan premi seharga 12 ribu rupiah per pelanggan per tiket sekali jalan.

“Produk ini sebagai salah satu antisipasi yang kami lakukan seiring rencana otoritas penerbangan sipil akan mengeluarkan aturan tentang tanggung jawab pengangkut terhadap penumpang,” katanya di Jakarta, Jumaat (5/8).

Dijelaskannya, dengan membeli produk Prima Sriwijaya penumpang

akan mendapatkan santunan maksimal 4 juta rupiah

jika pesawat mengalami keterlambatan terbang atau delay minimal empat jam dari jadwal keberangkatan yang tercantum dalam tiket.

Dikatakannya, dengan membeli tambahan asuransi ini,

penumpang akan memperoleh beberapa kompensasi, seperti mendapat 300 ribu rupiah

untuk delay atau terlambat terbang minimal empat jam dari jadwal, selanjutnya 200 ribu rupiah

per tambahan keterlambatan setiap dua jam, hingga 4 juta rupiah.

Penumpang

juga akan memberikan penggantian atas biaya penerbangan yang tidak dapat dikembalikan akibat pelanggan membatalkan penerbangan sesuai dengan sebab yang ditanggung oleh polis seperti meninggal, kecelakaan, dirawat di RS atau karena sakit berat. Santunan maksimal 4 juta rupiah.

Santunan lainnya yakni adanya kerusakan, kehilangan dan terlambatnya bagasi. Untuk bagasi terlambat serah terima minimal 6 jam sejak landing, diberikan 700 ribu rupiah

per penumpang, bagasi hilang, serah terima minimal 24 jam sejak landing, 700 ribu rupiah, per koli maksimal 4 juta rupiah per pelanggan. Untuk bagasi rusak maksimal 4 juta rupiah

perpenumpang,” katanya.

Diungkapkannya,

program ini sebenarnya sudah ada sejak 1 November 2010, dan tercatat 50.000 pelanggan Sriwijaya yang berminat setiap bulannya. Dari angka tersebut, telah terselesaikan 30 kasus klaim setiap bulannya. “Kondisi ini memiliki makna kerugian pelanggan terpulihkan karena terhindar dari hangusnya uang pembelian tiket pesawat,” katanya.

Sebelumnya, Kementrian Perhubungan (Kemenhub) tengah mengaji kebijakan terkait keterlambatan keberangkatan (Delay) yang sering terjadi di dunia penerbangan nasional dengan mewajibkan maskapai mengasuransikan kejadian tersebut.“Sedang dibuat aturan baru terkait seringnya delay di industri penerbangan belakangan ini. kita harapkan dalam waktu dekat akan keluar beleid yang menguntungkan bagi konsumen angkutan udara,” ungkap Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bakti Singayudha Gumay.

Diungkapkannya, dalam aturan yang tengah dikaji tersebut  delay akan diasuransikan dan menjadi  kewajiban mengasuransikan bagi maskapai.

“Setiap maskapai wajib mengasuransikan keterlambatan penerbangan. Jadi misalnya pesawat delay beberapa jam, calon penumpang bisa dapat asuransi sebesar seian ratus ribu rupiah,” jelasnya.

Dijelaskannya, saat ini pihaknya sedang menunggu Surat Keputusan (SK) Menteri Perhubungan terkait dengan jaminan terhadap penumpang tersebut. Aturan tersebut,   dibuat agar penumpang yang selama ini dirugikan bisa mendapatkan kompensasi saat terjadi delay terhadap pesawat yang akan ditumpanginya.

Menurutnya, selama ini maskapai juga mengasuransikan delay, namun hal itu masih bersifat pilihan bagi penumpang. Penumpang bisa mengasuransikan delay pesawat dengan uang sendiri terpisah dari tiket pesawat.

Rencananya, selain delay, masalah  barang-barang yang masuk bagasi juga wajib diasuransikan. Hal ini untuk menjamin bagi penumpang, agar barang-barang yang dibawa oleh penumpang memiliki jaminan dari maskapai yang menerbangkannya.

Berdasarkan catatan, selama ini kewajiban asuransi terhadap penumpang saat ini terbatas pada asuransi kecelakaan saja. Bila terjadi kecelakaan pesawat dan penumpang terluka atau meninggal maka mereka akan mendapatkan asuransi tersebut.[dni]

060811 Maskapai Dapatkan Tambahan Kapasitas

 

JAKARTA –Maskapai penerbangan nasional dan internasional diberikan tambahan kapasitas melalui ekstra penerbangan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub)  terkait lonjakan mudik Lebaran mendatang.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bakti S Gumay mengungkapkan,  angkutan udara yang tersedia untuk Lebaran tahun 2011 (1432 H) sekitar 40 persen lebih besar dari perkiraan jumlah penumpang yang akan mudik menggunakan angkutan udara pada Lebaran tahun ini.

“Jika melihat kapasitas yang tersedia dari angkutan udara, tidak ada alasan penumpang tidak terangkut,” katanya di Jakarta, Jumat (5/8)

Diungkapkannya, terdapat  82 frekuensi tambahan untuk tujuan domestik yang diberikan oleh kemenhub kepada  maskapai penerbangan nasional maupun internasional. Maskapai nasional yang meminta extra flight tersebut yakni Garuda Indonesia, Lion Air, Batavia Air, Indonesia AirAsia, dan Express Air.

Dijelaskannya,  dari lima maskapai penerbangan domestik tersebut, ada 82 tambahan frekuensi yang diajukan sejak pekan lalu. Penerbangan tambahan ini akan dioperasikan pada masa angkutan Lebaran 2011. Garuda Indonesia tercatat paling banyak tambahan penerbangannya.

Sedangkan untuk maskapai asing, lanjut Herry, juga ada yang mengajukan tambahan penerbangan yakni diantaranya Cathay Pacific, Singapore Airlines,  dan Silk Air. “Tambahan penerbangan ini kemungkinan terus meningkat menjelang Lebaran. Biasanya maskapai meminta tambahan tergantung libur,” jelasnya.

Dikatakannya, tambahan frekuensi terbang ini sebesar 15 persen dibanding frekuensi normal. Untuk tambahan penerbangan rute internasional, menurut data Kemenhub, periode 1-31 Juli 2011, tercatat 41 permintaan penerbangan tambahan ke luar negeri yang berasal dari lima maskapai yakni Cathay Pacific Airlines, China Airlines, Garuda Indonesia, Tri MG Airlines dan Batavia Air.

Dari data Kemenhub disebutkan Cathay Pacific mengajukan 24 penerbangan, yakni 10 diantaranya dari Denpasar ke Hong Kong, pergi pulang (PP) dan 14 dari Jakarta ke Hong Kong, PP. Pelaksanaan ekstra flight dari maskapai asal Hong Kong ini dimulai pada 12 Juli hingga 7 September 2011.

Tambahan terbanyak kedua dicatat China Airlines sebanyak 8 penerbangan tambahan yakni rute Taipei-Denpasar, PP. Tanggal pelaksanaan penerbangan tambahan dari maskapai ini dimulai pada 1 Agustus hingga 29 Agustus 2011. China Airlines akan menggunakan pesawat jenis Boeing 738.

Hal ini berarti  kedua maskapai asing asal China itu mendominasi penerbangan tambahan rute internasional yakni 78 persen atau 32 ekstra flight dari total 41 penerbangan.

Angka ekstra flight untuk periode hingga 31 Juli 2011 ini tercatat lebih tinggi ketimbang periode 1-31 Juni 2011 yakni saat musim liburan sekolah. Pada bulan lalu tercatat 34 penerbangan tambahan ke luar negeri dari 7 maskapai, yakni Lion Air 9 penerbangan, Batavia Air 9, China Airlines 8, Cathay Pacific Airways 3, Garuda Indonesia 2, Tri MG 2,dan AirAsia 1.

Untuk penerbangan domestik, pada periode bulan lalu, tercatat empat besar maskapai telah meminta penambahan penerbangan sebanyak 58 frekuensi penerbangan.

Sementara itu Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub Bambang S Ervan mengatakan, meskipun secara kalkulasi ketersediaan tempat duduk lebih besar sekitar 40 persen dibandingkan dengan perkiraan jumlah penumpang yang akan diangkut pada masa-masa Lebaran. “Namun untuk rute-rute gemuk kemungkinan tetap akan mengalami kekurangan tempat duduk. Namun untuk rute-rute bukan favorit diperkiarakan masih akan mengalami kelebihan tempat duduk,” kata Bambang.[dni]