020811 Barang Legal Belum Maksimal


Jasa musik digital beserta ekosistemnya diprediksi memiliki nilai bisnis mencapai 6 triliun rupiah. Angka itu telah  memasukkan penjualan secara illegal. Sedangkan yang legal hanya sekitar 1,2-1,3 triliun rupiah.
Operator telekomunikasi yang mulai menyadari tidak bisa lagi mengandalkan pendapatan dari jasa suara dan SMS sejak beberapa tahun lalu telah mulai menggarap bisnis lagu legal atau Full Track Download.
Telkom telah menggarap bisnis ini sejak tujuh tahun lalu ditandai dengan peluncuran produk Ring Back Tone (RBT) Telkomsel dengan merek Nada Sambung Pribadi. Berikutnya, Plasa.com, Speedytrek, Langit Musik, Flexi Musik, dan terakhir membangun perusahaan patungan yang bergerak di bidang Digital Content Exchange Hub (DCEH) dengan SK Telecom pada akhir tahun lalu yang menelan investasi sekitar 100 miliar rupiah.
Di bisnis musik digital Telkom menguasai 60-70 persen pangsa pasar penjualan dengan nilai sekitar 770 miliar rupiah. Pada tahun ini perseroan mengharapkan penjualan musik digital yang ditawarkan ke pasar   melalui berbagai platform itu  dapat tumbuh 100 persen pada tahun ini atau mencapai angkat 1,5 triliun rupiah.
Dari berbagai platform yang dimiliki oleh Telkom, baru langit musik yang penjualannya menggembirakan. Dalam sebulan, situs itu  mencatat angka 100 juta rupiah. Pada tahun ini Telkomsel menargetkan  langit musik bisa mencapai penjualan tiga hingga  4 miliar rupiah  atau naik 50-100 persen dari 2010  yang hanya 2 miliar rupiah.
Lantas bagaimana dengan Melon?  hingga Maret  pendapatannya baru sekitar 100 juta rupiah  dengan 6 ribu pengguna aktif. Posisi situs ini di Indonesia juga bikin miris hati yakni di ranking  1.712
Berikutnya ada Bakrie Telecom yang menawarkan lagu digital   melalui aplikasi di ponsel. Melalui penawaran  seribu per hari untuk download dan mendengarkan 30 lagu  terjerat  sekitar 100 ribu pelanggan. Terakhir, XL Axiata yang tengah menggodok music play yang dalam tahap uji coba telah menjaring  20 ribu pelanggan.
Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo  menegaskan perseroan adalah music company karena menjadi penguasa pangsa pasar. Kondisi ini membuat Telkom harus membangun   ekosistem secara  end to end mulai dari mencari bakat, membuat event, master label bank  jutaan lagu, hingga distribusi melalui  termasuk portal dan  perangkat bergerak.
”Kita harus akui masyarakat itu menyukai yang ilegal dan gratis.  Survei  mengatakan  mayoritas anak muda memandang musik di internet memang gratis dan tidak paham masalah ilegal atau tidak.  Perlu diberi pemahaman “free” dengan “ilegal” adl dua hal yang berbeda. Esensinya harus didorong ke yang legal, mau free atau berbayar,” katanya.
Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengungkapkan, sejauh ini perseroan menggunakan sistem  Digital Rights Management (DRM) untuk menghindari ilegal download. ”Saya rasa kalau pemerintah benar-benar  serius memberantas illegal download dan pembajakan, bisa  membuat musik digital  memiliki  bisnis yang sehat dan baik,” katanya.
Praktisi Telematika Mochammad James Falahuddin meragukan sistem DRM yang diusung oleh operator sebagai alat menjual musik digital legal. ”iTunes sebagai toko inline terbesar tidak menggunakan DRM. Pendekatan yang ideal saat ini melegalisir lagu bajakan seperti yang dilakukan Apple dengan iCloud,” katanya.
Disarankannya, operator harus serius membangun ekosistem musik digital mulai dari menjadi label rekaman hingga mendsitribusikannya dengan  resiko berperang  melawan mafia industri rekaman.
”Pemain besar seperti Telkom punya kekuatan untuk melakukan hal ini karena memiliki nama besar.  Telkom tinggal memperbaiki pemasaran, misalnya berfikir bagaimana menaikkan ranking Melon yang di posisi 1.712 menjadi 10 besar situs paling dikunjungi. Hal ini karena di internet itu masalah ranking adalah nomor satu,” katanya.
Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (IDSIRTII) M. S. Manggalanny mengakui  DRM bukan solusi utama mendongkrak lagu legal  karena sifatnya yang proprietary milik vendor tertentu dan  sifat penggunaannya yang dibatasi  sehingga tidak disukai dan dianggap merugikan pengguna.
”DRM itu hanya menguntungkan kapitalis besar. Dan di dunia internet jika ada yang seperti ini muncul ide-ide kreatif untuk melawannya,” katanya.[dni]

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s