010811 INACA Bidik Enam Koridor Ekonomi Sebagai Hub

JAKARTA—Maskapai penerbangan nasional yang tergabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (INACA) membidik enam koridor ekonomi sebagai hub penerbangan untuk mensukseskan program pemerintah tersebut.

Enam koridor ekonomi yang dibidik adalah di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-NTT, dan Papua.

”Kami siap mendukung program pemerintah menumbuhkan perekonomian melalui pembangunan hub penerbangan di enam koridor ekonomi nasional. Hub yang dibangun bisa main hub atau secondary hub. Tetapi kita juga minta pemerintah membantu para pelaku usaha mendukung rencana ini,” kata Sekjen INACA Tengku Burhanuddin di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurutnya,  ada sejumlah catatan yang harus dilakukan pemerintah untuk mendukung rencana INACA tersebut  diantaranya soal akses ke bandara, pajak mesin pesawat, perizinan membuat hangar dan soal sumber daya manusia. Selain itu juga ada kebijakan dari pemerintah yang  masih sulit dalam pemenuhan proses pengajuan izin penerbangan khususnya bagi maskapai penerbangan sewa (charter).

“Kita melihat negara kita sudah padat dan perlu adanya pengaturan ulang mengenai izin penerbangannya, izin penerbangan harus cepat jika tidak kita akan tertinggal oleh maskapai asing,” katanya.

Permasalahan lain yang juga menurutnya masih membebani maskapai penerbangan nasional yaitu masih tingginya tarif pajak dan biaya masuk pesawat dan peralatan pendukung pesawat terbang. “Saat ini jika kita ingin membeli  spare part pesawat dikenakan pajak 5 persen, harusnya ini 0 persen karena kan ini termasuk barang mewah, jadi tinggi pajaknya,” ungkapnya.

Sedangkan masalah   akses ke bandara yang masih sulit, soal perizinan membuat hangar pesawat, soal ketersediaan sumber daya manusia, soal sekolah penerbang, soal pesawat untuk sekolah penerbang yang masih dikenakan pajak. “Kalau penerbangan kita lancar, maju, harga bahan pokok di daerah akan menjadi murah karena distribusinya lebih gampang. Dengan demikian pemerintah harus mendukung,” katanya.

Ditambahkannya,  regulator penerbangan yakni Kementerian Perhubungan juga harus menindaklanjuti soal kapasitas tampung bandara. “Bandara harus bisa menampung penumpang, khususnya di masing-masing koridor ekonomi, jangan tunggu over capacity hingga 200 persen  seperti di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta,” katanya.

Ketua Penerbangan Chater INACA Bayu Sutanto menyatakan ada dua hal yang terkait langsung oleh asosiasi mengenai pengembangan enam kooridor ekonomi. Kedua hal tersebut, yaitu peran serta asosiasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang terkonekfitas. Sisi lain yaitu potensi bisnis penerbangan, akan ada pertumbuhan yang ada dimasing-masing wilayah.

Diungkapkan Bayu,  dalam pertemuan tahunan INACA terakhir membahas bagaimana mendukung program pemerintah dari sisi maskapai penerbangan nasional. Selain itu juga dibahas mengenai isu internal anggota INACA yang terdiri dari 37 anggota. “Rapat tahunan ini diharapkan bisa memberikan solusi mengenai permasalahan antara anggota dan manajemen perusahaan masing-masing,” tuturnya.[dni]

010811 Garuda Segera Tender Pengadaan Pesawat Sub-100 seat

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan menenderkan pengadaan pesawat under Sub-100 seat untuk memperluas segmen perseroan menggarap pasar   penerbangan intra pulau. Pesawat Sub-100 seat dikenal dengan   angkutan dengan kapasitas di bawah 100 penumpang.

Direktur Utama Garuda, Emirsyah Satar mengungkapkan,  perseroan  membutuhkan sebanyak 18 unit pesawat tipe Sub-100 seat   sebagai pesawat feeder yang akan ditempatkan di pulau-pulau besar seperti Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi.

“Garuda akan menenderkan dua tipe  pesawat dari pabrikan   Bombardier dan Embraer. Akhir tahun ini akan ditentukan pesawat mana yang akan dioperasikan, tapi operasinya mungkin butuh waktu setahun kemudian,” kata Emirsyah di Jakarta, akhir pekan lalu.

Berdasarkan catatan, Embraer adalah pabrikan pesawat asal Brasil yang memiliki spesialisasi pembuatan pesawat jet untuk di bawah 100 penumpang. Sedangkan Bombardier yang buatan Kanada juga memiliki kemampuan yang sama dengan Embraer.

Pada Juni lalu, Sriwijaya Air  secara resmi memesan 20 pesawat jet Embraer 190 (E 190) dengan hak untuk pembelian lebih dari 10 unit untuk memperkuat armadanya dan memperluas wilayah layanan hingga ke tingkat kabupaten di Indonesia.

Dijelaskannya, jika Garuda telah menentukan jenis yang akan dioperasikan, nantinya armada  tersebut akan menggantikan pesawat sub-100 seat yang saat ini dioperasikan  yaitu Boeing 737-500.  Pesawat ini telah dioperasikan untuk melayani penerbangan antar kota di luar Jawa, seperti di kota-kota di Sulawesi.

Plt Direktur Pemasaran dan Penjualan Garuda, Arief Wibowo menambahkan, saat ini Garuda telah memiliki hub untuk sub-100 seat di Makassar. Dari ibukota Sulawesi Selatan tersebut, Garuda terbang ke 13 kota diantaranya Singapura, Manado, Palu, Gorontalo, Ambon, Surabaya, Denpasar dan Kendari.

“Akhir tahun ini kita juga akan membuka hub di Kota Medan untuk terbang ke kota-kota sekitarnya seperti Penang (Malaysia), Pekanbaru, Batam, Aceh, Palembang, Lampung dan Jambi,” ujar Arif.

Dijelaskannya,  setelah menggarap kota-kota intra Sumatera, pulau berikutnya yang segera dimasuki adalah Kalimantan. Selama ini Garuda telah masuk ke Kalimantan, tetapi untuk penerbangan reguler dengan jenis pesawat dengan kapasitas di atas 100 kursi seperti Boeing 737-400 atau Boeing 737-800 NG.

Menurutnya,  pesawat  Sub-100 seat ini akan digunakan untuk antar kota dengan penumpang yang tidak banyak tapi menguntungkan. “Jadi mungkin rutenya bukan premium, tapi yieldnya premium. Beda seperti rute-rute premium seperti Jakarta-Surabaya yang yield-nya tidak premium,” kata Arif.

Direktur Keuangan Garuda  Elisa Lumbantoruan menjelaskan, digarapnya segmen sub 100- seat  untuk mengakomodasi tiga hal. Pertama, untuk melayani  rute yang memiliki landasan pendek dan tidak terlalu keras.

Kedua,  mengakomodasi rute-rute yang selama ini belum memiliki hak bypass domestik seperti  Medan-Denpasar yang selama ini harus dilewati melalui Jakarta.Adanya layanan ini membuat tercipta  pasar baru  karena benefit yang bisa dirasakan langsung oleh pengguna, yaitu kecepatan dan kemudahan dalam bepergian.

Ketiga,  menambah frekuensi di sejumlah slot kosong penerbangan. Selama ini ada sejumlah rute dengan frekuensi yang cukup tinggi masih memiliki jeda waktu atau slot kosong.  Contohnya,  Jakarta-Surabaya, masih ada slot yang kosong sekitar 1,5 jam, tidak ada penerbangan.[dni]

300711 2012, Garuda Spin Off Citilink

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan memisahkan unit bisnis strategis miliknya yang bergerak di jasa penerbangan biaya rendah (Low Cost Carrier), Citilink, pada tahun depan sebagai salah satu wujud  strategi perseroan meningkatkan omset dan pangsa pasar.
“Pemisahan Citilink dalam proses. Sekarang sedang diajukan Surat ijin Usaha Penerbangan (SIUP) ke Kementrian Perhubungan, setelah itu disusul keluarnya Air Operation Certificate (AOC). Kta prediksi pada tahun depan sudah berdiri PT Citilink Indonesia,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Jumat (29/7).
Diungkapkannya, nantinya pada Agustus 2011 Citilink akan di-relaunch ke pasar mengingat telah memiliki 10 pesawat yang terdiri atas 6 Boeing 737 seri klasik dan 4 Airbus 320. “Kami merevisi jumlah pesawat Citilink untuk tahap awal dari 15 menjadi 10 unit. Nantinya semua armada Citilink akan terdiri atas  A-320 dimana  25 pesawat sudah kita pesan beberapa bulan lalu dan kedatangannya bertahap,” katanya.
Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan mengungkapkan, sebelumnya perseroan berencana untuk memberikan Boeing klasik milik Garuda ke Citilink, tetapi mengingat di pasar LCC yang berbicara adalah kuantitas, maka tidak mungkin mengandalkan tipe pesawat tersebut. “Boeing klasik itu rata-rata mengangkut 180 penumpang, sedangkan A 320 bisa membawa 215 penumpang. Karena itu kita lebih memilih A 320 untuk Citilink,” katanya.
Garuda sendiri pada tahun ini akan menerima 11 pesawat baru terdiri dari 2 A330-200 dan 9 B737-800NG. Saat ini Garuda memiliki 86 pesawat.
Kinerja
Berkaitan dengan kinerja dari perseroan selama semester I 2011, Emirsyah mengungkapkan, Garuda   menderita rugi komprehensif yang diatribusikan ke pemilik entitas induk atau rugi bersih 186,57 miliar rupiah.
Hal ini berbanding terbalik dengan posisi yang sama tahun sebelumnya dimana Garuda  mendulang laba bersih 59,96 miliar rupiah.

Sedangkan  rugi periode berjalan perseroan pada Januari-Juni 2011 sebesar 187,31 miliar rupiah, sementara pada Januari-Juni 2010 membukukan laba 55,68 miliar rupiah.

Adapun rugi per saham dasar dan dilusian seebsar  8,27 rupiah dari sebelumnya laba per saham 6.105,75 rupiah

Dari sisi pendapatan usaha Garuda  mencetak   sebesar 44,64 persen atau dari 7,75 triliun menjadi 11,21 triliun rupiah. Namun, beban usaha melonjak sebesar 40,51 persen menjadi 11,55 triliun dari sebelumnya 8,22 triliun rupiah. Sehingga, rugi usaha perseroan tercatat 340,78 miliar rupiah dibandingkan dengan sebelumnya rugi usaha 463,46 miliar rupiah.

Elisa menjelaskan, meningkatnya beban usaha dipengaruhi antara lain karena harga minyak dunia yang membumbung sepanjang enam bulan pertama tahun ini, sehingga beban dari operasional penerbangan naik signifikan 65 persen menjadi 6,32 triliun rupiah dari sebelumnya 3,83 triliun rupiah.

Sementara itu total liabilitas Garuda per 30 Juni 2011 tercatat 10,87 triliun rupiah, naik 6,67 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2010 sebesar 10,19 triliun rupiah.[dni]

300711 Operator Akui Pasar Sudah Jenuh

JAKARTA—Operator telekomunikasi mengakui pasar  sudah mulai jenuh seiring tercapainya penetrasi sebesar 100 persen dari semua pemain baik berbasis teknologi Global System for Mobile (GSM) atau Code Division Multiple Access (CDMA).
“Pasar sudah tersaturasi, sangat sulit mencari pelanggan yang benar-benar baru,” ungkap Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi di Jakarta, Jumaat (29/7).
Dijelaskannya, akibat kondisi pasar yang jenuh, operator lebih mengejar pelanggan yang berkualitas dan memberikan produk  baru ke pelanggan yang ada. “Inilah yang terjadi di XL selama semester I 2011. Pada akhir 2010, XL memiliki 40,1 juta pelanggan, kuartal I 2011 menjadi 39,3 juta pengguna, dan semester I 2011 tinggal 38,9 juta pelanggan,” jelasnya.
Menurutnya, walau pelanggan berkurang karena adanya churn (pindah layanan ke operator lain) tetapi tidak menganggu pendapatan perseroan yang masih menunjukkan pertumbuhan diatas rata-rata industri. “Ini karena produk yang ditawarkan diminati oleh pelanggan. Dampaknya bisa dilihat pada kinerka selama semester I 2011 dari XL,” katanya.
Diungkapkannya, pada   semester pertama 2011 perseroan  memiliki  pendapatan usaha 9,1 triliun rupiah atau meningkat 8 persen dibandingkan periode sama 2010 sebesar 8,5 triliun rupiah.  Sedangkan   normalisasi laba bersih sebesar  1,6 triliun rupiah atau naik 18 persen dibandingkan periode sama 2010 sebesar 1,3 triliun rupiah.
Sementara Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortizatiobn (EBITDA) mencapai  4,8 triliun rupiah atau naik 7 persen dibandingkan periode sama 2010  dan EBITDA margin stabil di level 52 persen pada akhir Juni 2011.  1.
 ”Peningkatan pendapatan kami terutama diperoleh dari  layanan data, yang meningkat sebesar 47 persen jika dibandingkan periode sama 2010 dan memberikan kontribusi sebesar 21 persen terhadap total pendapatan atau sekitar 1,91 trilun rupiah,” katanya.
Dikatakannya, perseroan  melihat adanya potensi besar di bisnis layanan data terkait perubahan perilaku pelanggan dari penggunaan layanan tradisional (layanan percakapan dan SMS) menuju layanan data sehingga di masa mendatang,  XL akan lebih fokus dalam mengembangkan bisnis layanan data dengan cara memperkuat organisasi  secara keseluruhan.
Selama 12 bulan terakhir,XL   telah menambah BTS sebanyak 4.084 BTS (2G/3G) di seluruh Indonesia, dimana 1.220 merupakan 3G BTS .  Total BTS (2G/3G)  pada akhir Jun’11 berjumlah 24.971 BTS. Pada tahun ini dianggarkan belanja modal sekitar 6 triliun rupiah.
“Sekarang ini adalah masa transisi dari perubahan organisasi di XL sehingga publik melihat seperti  ada gangguan.  Setelah seluruh pengembangan dan masa transisi selesai, kinerja   akan meningkat pesat,” tegasnya.
Berkaitan dengan kondisi dari hutang perseroan, Hasnul mengungkapkan, pada kuartal dua, XL mencairkan fasilitas pinjaman dalam rupiah sebesar  500 miliar rupiah serta fasilitas pinjaman dollar AS yang baru diterima di bulan Juni 2011 sebesar  59 juta dollar AS.
Selain itu, selama semester I, XL melakukan pembayaran pinjaman dipercepat sebesar  900 miliar rupiah dan juga pembayaran pinjaman yang sudah jatuh tempo sebesar 24,1 juta dollar AS menggunakan arus kas internal, sehingga saldo pinjaman menurun dari  11,4 triliun rupiah  di Juni 2010 menjadi  9,9 triliun rupiah  di Juni 2011 dengan rasio Hutang Bersih (Hutang berbunga dikurangi Kas)/EBITDA sebesar 1,0x.
Kinerja Telkom
Pada kesempatan lain, Direktur Utama  Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan, pendapatan usaha perseroan  pada semester I 2011 sebesar 34,46 triliun rupiah atau naik  2,2 persen dari periode sama 2010 sebesar 33,71 triliun rupiah.
Sedangkan EBITDA mengalami penurunan 3,7 persen dari sebelumnya 18,76 triliun menjadi 18,07 triliun rupiah.  Sementara laba bersih  turun sebesar 1,5 persen dari 6,03 triliun menjadi 5,94 triliun rupiah.
“Melihat kinerja keuangan lebih detil pada triwulan II/2011 dibandingkan dengan  triwulan I/2011,  kami masih optimistis bahwa TelkomGroup  tetap mampu bersaing di tengah-tengah persaingan yang sangat tajam dalam industri telekomunikasi dan informasi. Lihat saja dari harga saham Telkom yang naik 50 rupiah pada sore ini, itu buktinya pasar merespons positif kinerja Telkom,” tegasnya.
Diungkapkannya,  angka pertumbuhan pendapatan operasi, EBITDA dan laba bersih pada triwulan II dibanding triwulan I 2011  untuk  pendapatan operasi tumbuh  6,3 persen menjadi 17,7 triliun rupiah dari sebelumnya 16,7 triliun rupiah,   EBITDA tumbuh sebesar 9,1 persen menjadi  9,4 triliun rupiah dari sebelumnya 8,64 triliun rupiah, dan laba bersih  tumbuh sebesar 10 persen menjadi Rp 3,11 Triliun dari sebelumnya 2,82 triliun rupiah.
Dijelaskannya, laba bersih dari perseroan tertekan pada semester I 2011 tak bisa dilepaskan dari aktifitas noncash dimana biaya personal naik akibat Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang baru diimplementasikan. Faktor lainnya adalah pola penarikan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi yang berubah dari biasanya dimulai Juli, menjadi Januari-Juni. “Kami justru optimistis jika melihat kinerja bottom line seperti ini pada akhir tahun nanti laba Telkom grup bisa positif dengan posisi single digit,” katanya.
Sementara untuk kinerja dari top line yang hanya tumbuh kecil, Rinaldi menjelaskan, tak bisa dilepaskan dari bisnis warisan yang masih dikelola Telkom yakni telepon kabel. “Kalau bicara Telkomsel dengan pertumbuhan pendapatan secara tahunan sebesar 5 persen, itu artinya mulai membaik. Telkomsel itu yang paling kuat pertumbuhan pendapatan broadband-nya di industri,” katanya.[dni]

300711 Manajemen Garuda Janjikan Masalah Pilot Selesai di Ramadan

JAKARTA—Manajemen PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menjanjikan masalah tuntutan pilot lokal yang tergabung dalam Asosiasi Pilot Garuda (APG) akan selesai di bulan Ramadan nanti.
“Beberapa isu yang terkait masalah pilot akan  segera diselesaikan  selama Ramadan nanti. Misalnya,  soal pilot asing, pendapatan pilot, dan hal-hal lainnya. Kami harapkan momentum Ramadan juga mewarnai perundingan dengan APG dimana lebih banyak semangat kebersamaan menuntaskan masalah,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Jumaat (29/7).
Diungkapkannya, mulai hari ini (Jumat, 29/7) penerbangan Garuda telah kembali normal karena para pilot sudah kembali bekerja seperti biasanya. Pilot cadangan yangdisiapkan sebanyak 130 orang ternyata hanya terpakai 10 orang untuk menutup aksi mogok yang dilakukan pilot APG.
“Jika ada delay itu karena alasan operasional mengingat ada rotasi dampak dari kejadian Kamis (28/7). Garuda juga tidak mengalami kerugian karena aksi kemarin mengingat semuanya telah diantisipasi seperti menggabungkan penerbangan atau mengalihkan ke maskapai lain,” katanya.
Ditegaskannya, manajemen tak akan mengubah rencana jangka panjang yang telah ditetapkan dalam rangka mencapai Quantum Leap seperti yang sudah dicanangkan dalam aksi jangka panjang perseroan.
“Saya merasa tidak ada miss management atau perencanaan yang kurang matang seperti ditudingkan banyak pihak kepada manajemen. Kalau saya melihat kejadian kemarin itu lebih kepada masalah komunikasi dimana belum terjadi (komunikasi) dua arah,” katanya.
Dikatakannya, manajemen telah siap untuk bertemu dengan APG dan membahas masa depan perusahaan dengan semangat memajukan Garuda. “Kita sudah punya solusi-slousi dari masalah yang ada. Tetapi belum bisa diungkap sekarang,” jelasnya.
Presiden  APG Captain Stephanus Geraldus Rahardi mengharapkan,  kesepakatan antara manajemen Garuda dengan APG bisa memberikan hasil yang terbaik bagi perusahan maupun bagi para pilot.
 “Hal yang penting kami sudah ada kesepakatan dan akan diselesaikan bersama. Penghentian mogok bukan karena ada menang-menangan atau kalah-kalahan, tetapi untuk yang terbaik bagi perusahaan dan pekerjanya,” tegas Stephanus.
Seperti diketahui, APG menuntut ada kewajaran kompensasi antara pilot lokal dan asing di Garuda, serta meminta manajemen untuk lebih matang dalam perencanaan armada dengan melihat ketersediaan kru. APG mengungkapkan selama ini pilot-pilot di Garuda sudah overload jam terbang karena mengejar frekuensi penerbangan sehingga bisa berdampak kepada aspek keselamatan mengingat jadwal istirahat tidak ideal. Garuda sendiri melalui Quantum Leap berencana memiliki154 pesawat hingga 2015 nanti.
Perseroan   telah melaksanakan kerjasama dan merekrut penerbang-penerbang baru dari sekolah seperti PLP Curug dan Bali International Flight Academy sebanyak 150 orang. Garuda sendiri sebenarnya membutuhkan tambahan 150-200 pilot per tahun. Namun, persoalannya setiap tahun sekolah pilot di Indonesia hanya mampu meluluskan sekitar 300-400 penerbang.
Berdasarkan data dari manajemen Garuda, gaji pilot lokal perbulan 47,7 juta rupiah sedangkan pilot asing 68,8 juta rupiah. Flight allowance untuk pilot lokal 10 juta rupiah dengan asumsi 60 jam terbang, namun penerbang asing tidak dapat.
Selain itu, masih ada benefit cash seperti THR dan lain-lain untuk pilot lokal sebesar 3,5 x gaji per tahun atau 13,9 juta rupiah per bulan. Sementara  pilot asing tak mendapatkannya.
Total monthly cash 71 juta rupiah (pilot lokal) dan sebesar 68,8 juta rupiah (pilot asing). Sedangkan annual cash senilai 860 juta rupiah diperuntukkan untuk penerbang lokal, tetapi yang asing mendapat lebih kecil sebesar 826 juta rupiah.
Masih ada lagi benefit non cash seperti Jamsostek, tunjangan pensiun, kesehatan dan lain-lain sebesar 12,3 juta rupiah setiap bulan untuk pilot lokal. Dan pilot asing cuma mendapat 2,25 juta rupiah perbulannya.
Khusus untuk pilot asing memang diberi tunjangan perumahan atau tempat tinggal sebanyak 10 juta rupiah per bulan. Kendati pilot lokal tak mendapatkan tapi pilot asing hanya dikontrak selama 12 kali gaji (satu tahun).[dni]