270711 Pilot Senior Garuda Tolak Aksi Mogok

JAKARTA—Para pilot senior dari maskapai PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menolak wacana mogok yang digulirkan oleh Asosiasi Pilot Garuda (APG) pada Kamis, 28 Juli 2011  pukul 00.00 sampai 23.59 WIB karena bisa berpengaruh buruk pada citra perusahaan dan layanan bagi pelanggan.
“Kami para pilot senior akan tetap bekerja seperti biasa pada hari yang disebut-sebut akan ada mogok oleh APG itu. Bagi kami, hingga sekarang tidak ada alasan kuat dilakukan mogok, dan yang berpendirian seperti ini mencapai 50 persen dari sekitar 800-an pilot yang bekerja di Garuda,” tegas Capt Manotar Napitupulu di Jakarta, Selasa (26/7).
Menurutnya, para pengurus APG tidak berhak mengatasnamakan seluruh pilot Garuda dalam melancarkan aksinya karena wacana mogok itu sendiri tidak tersosialisasikan dengan baik di semua anggota APG.
“Kita pada prinsipnya mendukung perjuangan APG untuk meminta tidak timpangnya kesejahteraan pilot lokal dengan asing. Tetapi cara untuk mogok ini sangat tidak simpatik karena bisa merusak citra perusahaan dan menyengsarakan para pelanggan yang telah percaya pada Garuda,” katanya.
Masih menurutnya, jika benar terjadi pemogokkan pada Kamis nanti, dampaknya tidak hanya ditanggung oleh perseroan dalam waktu satu hari, tetapi bisa berbulan ke depan karena skedul penerbangan menjadi berantakan. “Dampaknya pada rotasi pesawat dan kru. Belum lagi kerugian lainnya. Karena itu kita menghimbau para pilot Garuda untuk tidak mogok. Masih banyak cara perjuangan yang bisa ditempuh. Komunikasi dengan manajemen harus terus dilakukan,” sarannya.
Diungkapkannya, sebenarnya masalah kesejahteraan antara pilot lokal dan asing lebih kepada cara melihat pendapatan yang diterima. Kompensasi  pilot asing sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pilot lokal di Garuda. Hal yang membedakan adalah strukturnya penggajian.  Pilot asing hanya digaji berupa paket 12 kali per tahun, temasuk di dalamnya jam terbang dalam satu bulan.
Sementara  pilot  tetap (lokal) sebanyak  14.5 kali per tahun, selain itu   masih ada flight allowance yang dibayar progresif  sesuai dengan jam terbang per bulan.  Belum lagi kompensasi dan benefit lainnya, seperti tunjangan pra pensiun, tunjangan pensiun, tunjangan kesehatan, dan kesehatan pensiun. Ditambah  hak cuti, hak konsesi terbang, dan lainnya.
“Untuk pilot senior sebenarnya pendapatannya sudah menyamai pilot asing. Sementara pilot lokal yang dikontrak seperti dari Mandala untuk menerbangkan Airbus itu, pendapatannya di bawah pilot Garuda,” ungkapnya.
Secara terpisah, Presiden APG Captain Stephanus Gerardus Rahadi  menegaskan, akan melanjutkan wacana mogok pada Kamis (28/7) nanti karena hingga semalam perundingan dengan manajemen menemui jalan buntu. “Masih ada waktu hingga Kamis nanti, tetapi jika masih jalan buntu, mogok tetap dilakukan, dan ini didukung oleh 650 anggota APG,” katanya.
Stephanus mengaku pesimistis dengan keinginan manajemen Garuda bernegosiasi dengan para pilot karena mulai munculnya politik adu domba antar sesama pilot. “Wacana mogok itu melalui pembahasan yang matang di asosiasi. Saya tidak habis pikir jika ada pilot yang bilang tidak setuju dengan wacana ini. Jika ada yang bersuara berbeda, ini adalah pilot yang menempati jabatan di manajemen,” tegasnya.
Permintaan APG adalah pilot Garuda berwarga negara Indonesia (WNI) harus diperlakukan sama dengan pilot asing yang merupakan karyawan kontrak. Menurutnya, pendapatan pilot asing jauh lebih besar dari kapten pilot lokal. Seorang kopilot asing digaji sebesar 7.200 dollar AS atau 61 juta rupiah, padahal kapten pilot lokal pendapatan totalnya 40 juta rupiah.
Sebelumnya, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menghimbau  APG dan manajemen Garuda  mengutamakan kepentingan publik dengan menempuh jalur perundingan dalam menyelesaikan persoalan yang tengah dihadapi keduabelah pihak.
“Saya berharap keduanya bisa duduk bersama untuk berunding. Kalau bisa jangan mogok. Tp kita ingin agar kepentingan publik tetap diutamakan apalagi sebentar lagi akan digelar pelaksanaan angkutan Lebaran, jangan sampai mengganggu perlehatan besar itu,” ujarnya.
Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan mengatakan berat bagi manajemen memenuhi tuntutan APG karena bisa membebani biaya operasi.“Kami punya kontrak dengan para pilot asing itu hanya satu tahun dan sebentar lagi akan berakhir.  Mereka ini hanya bridging untuk menutup kekosongan selama ini karena armada ditambah terus,” jelasnya.
Ditegaskannya, jika para pilot yang tergabung dalam APG bersikeras untuk melakukan mogok pada 28 Juli nanti, sesuai aturan, aksi itu   harus minta izin sehari sebelumnya.  “Kalau memang terjadi pemogokan dan kita tidak cukup pilot, penerbangan harus dibatalkan. Tetapi saya mengharapkan hal ini tidak terjadi,” katanya.
Direktur Operasional Garuda Capt Ari Sapari menambahkan,  perseroan tengah mengembangkan bisnis dengan menambah armada. “Kami harus bersiap menghadapi Asean Sky 2015. Pada masa itu, Garuda akan memiliki 154 armada, tentu ini akan membutuhkan banyak para penerbang,” katanya.
Diungkapkannya, sejalan dengan mulai datangnya pesawat-pesawat yang dipesan, untuk  memenuhi kebutuhan penerbang, Garuda telah melaksanakan kerjasama dan merekrut penerbang-penerbang baru dari sekolah seperti PLP Curug dan Bali International Flight Academy sebanyak 150 orang.
Garuda sendiri sebenarnya membutuhkan tambahan 150-200 pilot per tahun. Namun, persoalannya setiap tahun sekolah pilot di Indonesia hanya mampu meluluskan sekitar 300-400 penerbang.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s