210711 Penatan Frekuensi 3G: Pemerintah Batalkan Pemberian Kanal Ketiga. Tarik Menarik Alokasi Frekuensi

 

Pelanggan data dari operator 3G di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan sepertinya akan mulai menghadapi penurunan kualitas layanan. Pasalnya, hampir semua pemilik lisensi 3G mengaku tengah berada dalam krisis spektrum frekuensi karena okupansi sudah mendekati puncaknya.
Para pemilik lisensi  3G adalah Telkomsel, Indosat, XL Axiata (XL),  Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPT/Tri), dan Axis Telekom Indonesia  (Axis). Di jaringan operator ini  telah  terjadi lonjakan trafik  hingga dua kali lipat dibandingkan beberapa tahun lalu.
Telkomsel, Indosat, dan XL telah memiliki dua kanal (10 Mhz) 3G, sementara Tri dan Axis baru memiliki satu kanal (5 Mhz), dimana saat ini dalam proses mendapatkan kanal kedua. Pemerintah mengalokasikan 60 MHz di pita 2,1 GHz yang digunakan untuk teknologi 3G. Saat ini 40 MHz telah terpakai, dan tersisa 20 Mhz.
Axis dan Tri menuntut diberikan secepatnya kanal kedua miliknya dengan posisi bersebelahan (Contigous) agar kualitas layanan dan investasi optimal sesuai dengan PM No 7/2006 tentang ketentuan Pengguna Pita 3G. Namun, pemberian kanal kedua tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, semua operator menginginkan posisi contigous dan makin pelik karena Telkomsel serta  XL mengajukan permintaan kanal ketiga mengingat trafik datanya sudah naik hingga 200 persen pada tahun ini.
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi mengungkapkan, hasil rapat pleno institusinya, agar terjadi optimalisasi spektrum setiap operator diusahakan mendapatkan alokasi yang contiguous.
”Dampaknya, Telkomsel  yang telah datang duluan di kanal 4 dan 5 diminta pindah ke kanal 5 dan  6 agar Tri bisa berada di kanal 1 dan 2, sedangkan Axis di 3 dan 4. Posisi  sekarang adalah Tri berada di kanal 1, NTS (3), Telkomsel (4 dan 5), Indosat (7 dan 8), XL (9 dan 10). Sementara kanal nomor 2, 6, 11, dan 12 lowong,” ungapnya di Jakarta, Rabu (20/7).
Ditegaskannya, adanya keputusan pleno tersebut menjadikan lima skenario yang digodok sebelumnya menjadi mentah. ”Pleno juga memutuskan merekomendasikan ke menkominfo  untuk sementara menolak pemberian kanal ketiga bagi Telkomsel dan XL. Kami tidak memberikan tenggat untuk penataan kanal ini, tetapi visinya jelas alokasi sebaiknya contigous agar penggunaan sumber daya menjadi optimal,” katanya.
Diungkapkannya, dalam pengambilan keputusan di  pleno juga diwarnai dissenting opinion.  Esensi dari yang berbeda pendapat ada suatu tanggal yaitu  1 sep 2010 yang sudah terlewat tanpa penetapan  kanal kedua sehingga perlu revisi Permen 268 dulu. Kedua, juga diinginkan penataan sekaligus dengan kanal ketiga  apabila menteri telah menetapkannya. Ketiga, diperlukan  bank garansi uuntuk jaminan pembayaran Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi.
Anggota Komite lainnya, Nonot Harsono mengatakan idealnya Telkomsel dan XL memang diberikan kanal ketiga jika dilihat kebutuhan dari kedua operator tersebut. ”Tetapi kalau keduanya diberikan kanal ketiga,  maka Indosat harus digeser dari kanal 7 ke 9. Nantinya Telkomsel mendapatkan kanal ke 4,5, dan 6, sementara XL kanal 10, 11, dan 12,” katanya.
Telkomsel Enggan
Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menegaskan enggan untuk pindah kanal karena sudah terlanjur berinvestasi. Jika pun dipaksakan pindah, ada konsekuensi penurunan kulaitas layanan dan harus mengeluarkan dana sekitar 34 miliar rupiah.
“Kami bukan memaksakan kehendak, tetapi frekuensi harus dikelola oleh operator yang benar-benar serius memanfaatkan spektrum untuk kepentingan masyarakat. Kanal yang sudah ada saja belum dimanfaatkan secara optimal oleh satu operator, lantas minta tambahan.  Regulator harus bijaksana dan memikirkan kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Direktur Center For Indonesian Telecommunication Regulation Study (CITRUS) Asmiati Rasyid  mendukung langkah yang diambil   Telkomsel karena menilai operator ini membutuhkan alokasi  yang besar guna melayani pelanggan dan posisinya sebagai bagian dari anak usaha Telkom yang notabene Flag Carrier di industri telekomunikasi harus dilindungi.
“Saya malah prediksi Telkomsel butuh empat kanal nantinya untuk melayani pelanggan data. Indonesia harus meniru kebijakan pemerintah India yang memberikan keistimewaan bagi flag carrier dalam menghadapi pemain global,” tegasnya.
Disarankannya,  jika memang pemerintah mau melakukan penataan band spektrum secara terencana untuk jangka panjang, sebaiknya Axis yang dipindahkan ke blok yang bersebelahan dengan XL.  Solusi ini akan lebih menarik buat Axis mengingat kerjasama bisnis seperti adanya domestic roaming antara Axis dan XL selama ini
”Audit spektrum harus dilakukan secepatnya  untuk menentukan tambahan alokasi spektrum  benar-benar sudah dibutuhkan oleh Axis sekarang ini.  Karena dengan jumlah pelanggannnya yang masih sekitar 10 jutaan, apakah wajar diberikan blok kedua itu?  Dikhawatirkan, permintaan tambahan spektrum ini hanya ditujukan untuk menaikkan harga perusahaan itu sebelum dijual lagi,” ketusnya.
Secara terpisah,  Direktur Government Relations HCPT Sidarta Sidik mengungkapkan, Tri harus mendapatkan tambahan kanal pada tahun ini agar kualitas layanannya tidak menurun. ”Kami sudah mengirimkan surat kepada regulator tentang kesediaan membayar kanal kedua untuk 10 tahun mendatang,” katanya.
Berdasarkan catatan, Tri menganggarkan dana 373 miliar rupiah untuk mendapatkan blok kedua. Selain itu perseroan berencana menambah 6 rbu BTS dimana 60 persen adalah BTS 3G (Node B).
Direktur Penjualan Axis Syakieb A Sungkar mengaku tak habis pikir dengan cara Telkomsel yang enggan untuk pindah dan balik menuding kompetitor tidak serius mengembangkan 3G. ”Pada tahun ini perseroan berencana untuk membangun 9 ribu Node B, memperkuat 4 ribu Node B yang telah ada. Peralatan telah dibeli, tetapi tidak bisa dipakai. Tingkat okupansi juga telah mencapai 60 persen. Kalau itu namanya tidak serius, saya tidak mengerti,”  ketusnya.
Sementara Head Of Corporate Communication Indosat Djarot Handoko meminta regulator untuk berkerja lebih taktis dengan menyelesaikan terlebih dulu alokasi untuk kanal kedua, sebelum berfikir memberikan kanal ketiga. ”Harus ada diskusi dengan operator dulu. Kita harus ambil hikmah dari kejadian sekarang ini, agar operator bisa mempersiapkan segala sesuatunya,” katanya.
Direktur Jaringan XL Axiata Dian Siswarini  mengaku tidak keberatan jika kanal ketiga belum diberikan pada tahun ini. ”Dalam perencanaan jaringan perseroan, kanal ketiga itu memang diperuntukkan untuk antisipasi trafik tahun depan,” tuturnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s