210711 Menguji Wibawa Regulator

 

Kisruh penataan frekuensi 3G sebenarnya bukan pertama kali ini terjadi. Kala tender 3G dilakukan beberapa tahun lalu ribut-ribut pun terjadi. Mulai dari harus digesernya layanan Fixed Wireless Access (FWA) milik Telkom (Flexi) dan Indosat (StarOne) dari spektrum 1.900 MHz ke 800 MHz atau dikembalikannya satu kanal milik Axis dan dua kanal  dari Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPT/Tri) ke pemerintah agar tender bisa terjadi.
Untuk diketahui, Telkomsel, XL dan Indosat mendapatkan kanal pertama 3G melalui proses tender. Sementara Axis dan Tri mendapatkannya secara gratis walau akhirnya harus membayar Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi berdasarkan harga terendah lelang yakni 160 miliar rupiah.
Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan menilai pemerintah tidak memiliki rencana jangka panjang terkait penataan frekuensi seperti masalah jumlah operator yang ideal atau antisipasi perubahan teknologi. “Kalau misalnya nanti ada Long Term Evolution (LTE), bagaimana? Saya tidak melihat ada rencana jangka panjangnya, sehingga selalu ada jatuh korban,” katanya di Jakarta, Rabu (20/7).
Disarankannya, pemerintah menata lebih baik frekuensi yang ada dengan melihat secara jelas posisi yang ada, prinisp nilai ekonomisnya, serta  beneficial party yang membayar. “Pemerintah itu mengatur bukan cuma memerintah. Visi ini harus dipahami oleh pejabat publik,” tegasnya.
Direktur Center For Indonesian Telecommunication Regulation Study (CITRUS) Asmiati Rasyid mengatakan, pemberian tambahan alokasi spektrum seharusnya dilakukan berdasarkan kriteria dan skala prioritas yang jelas. ”Bukan pembagian jatah. Jangan sampai spektrum hanya diperjualbelikan, seperti yang dilakukan banyak operator sekarang ini. Misalnya, 40MHz band spektrum yang dimiliki Axis, sudah tiga kali pindah tangan dalam 6 tahun terakhir,” ungkapnya.
Diingatkannya, hal yang  mengkhawatirkan  spektrum di Indonesia  sudah dikuasai oleh pihak  asing karena hampir semua operator seluler besar dan kecil sudah  dikuasai investor asing secara mayoritas. ”Investor asing mana ada yang mau membangun di daerah terpencil. Pemerintah harus memperhatikan hal ini,” tegasnya.
Sementara Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Deddie Martadisastra berjanji akan memantau penataan spektrum frekuensi 3G yang melibatkan operator dan regulator telekomunikasi agar tidak melanggar Undang-undang (UU) Np 5/99 tentang anti monopoli.
“Kami banyak mendapatkan masukan dari masyarakat tentang rencana penataan kanal frekuensi 3G tersebut. Kita sudah siapkan tim untuk memantau dan mencari tahu data serta fakta di lapangan agar tidak ada pelanggaran terhadap UU No 5/99,” ungkapnya.
Menurutnya, frekuensi adalah alat produksi di industri telekomunikasi sehingga tidak bisa penguasaan diberikan tanpa kontrol kepada pelaku usaha oleh pemerintah. Pelaku usaha pun tidak bisa semena-mena dengan alat produksi yang dikuasainya untuk menghambat pemain lainnya masuk di pasar. “Kita mau lihat penataan itu ada kemungkinan melanggar Pasal 17 dan 25 UU No 5/99 atau tidak,” katanya.
Masih menurutnya, jika ada pelaku usaha dominan menghambat masuknya pemain baru  jika mengacu pada Pasal 17 dan 25 UU No 5/99 bisa dianggap menimbulkan persaingan tidak sehat.
Pasal 25 ayat 1  menetapkan bahwa pelaku usaha dilarang menggunakan posisi dominan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk  membatasi pasar dan pengembangan teknologi atau  menghambat pelaku usaha lain yang berpotensi menjadi pesaing untukmemasuki pasar bersangkutan. Sedangkan Pasal 17 menyatakan pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli.
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi (BRTI) Heru Sutadi mengungkapkan, sebenarnya masalah bergeser kanal itu dapat dilakukan secara cepat karena yang terjadi perubahan minor bukan mayor. ”XL saja diminta bergeser mereka lakukan dengan cepat. Soalnya  pergeseran ini masih di spektrum yang sama,” tegasnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s