210711 Kemenhub Bangun Transportasi Berbasis BRT

 

JAKARTA—Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mulai menggencarkan pembangunan transportasi publik berbasis bus rapid transit (BRT) di setiap daerah untuk menjamin ketersediaan angkutan umum massal di seluruh wilayah Indonesia.
“Kami telah  menyerahkan 68 bus operasional kepada 24 pemerintah daerah (pemda) kabupaten / kota senilai 43,3 miliar rupiah. Penyerahan bus operasional ini sebagai upaya pemerintah membangun transportasi publik berbasis  BRT di setiap daerah,” ungkap Menteri Perhubungan Freddy Numberi di Jakarta, Rabu (20/7).
Dijelaskannya, konsep dari BRT adalah  angkutan  harus berhenti di titik tertentu dengan keunggulan   bisa mengangkut penumpang dalam  jumlah besar. “Harapan kita, daerah bisa merealisasikan bus berbasis BRT ini, agar terintegrasi dengan program Kemenhub kedepan,” katanya.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Soeroyo Alimuso menambahkan, pihaknya telah menganggarkan dana untuk 68 bus operasional tersebut dengan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) Ditjen Perhubungan Darat pada tahun 2010 lalu. Namun, baru tahun ini serah terima bus baru bisa diserahkan kepada pemda.
“Hari ini kami menyerahkan 30 bus besar AC untuk bantuan bus BRT kepada tiga pemda yaitu Sumatra Selatan (Sumsel), Bali dan Tanggerang, selain itu ada 38 unit bus sedang non AC untuk angkutan sekolah kepada 21 pemda,” ujar Soeroyo.
Dikatakannya, sejak tahun 2002, melalui program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM (PKPS-BBM), hingga tahun 2010, Kemenhub telah menyerahkan bantuan bus sebanyak 637 unit bus sedang untuk 332 pemerintah kabupaten / kota dan 40 perguran tinggi.
“Selain itu kami juga telah memberikan bantuan bus untuk pengembangan sistem transit sejak 2005 hingga 2010 sebanyak 153 unit bus ukuran sedang AC dan 40 unit bus ukuran besar AC untuk 11 kota,” jelasnya.
Direktur Bina Transportasi Perkotaan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub Elly Sinaga menjelaskan, anggaran pembelian satu unit bus besar AC senilai hampir satu miliar rupiah. Sedangkan untuk bus sedang non AC untuk angkutan sekolah, menurut dia, senilai 350 juta rupiah. Dengan total 30 bus besar AC berjenis BRT dan 38 bus sedang non AC, anggaran yang dikeluarkan kementeriannya mencapai 43,3 miliar rupiah.
“Untuk anggaran tahun 2011 ini akan ada peningkatan, dari 38 bus sekolah pada tahun lalu, menjadi 50 bus sekolah, kotanya juga akan ditambah, namun masih belum bisa disebutkan kota mana saja,” kata Elly.
Menurut dia, masih-masing wilayah yaitu Sumsel, Bali dan Tanggerang memperoleh bus besar AC berbasis BRT sebanyak 10 unit. Hal ini karena ada pengembangan sistem transit angkutan kota yang diubah. Elly mencontohkan, untuk Provinsi Bali yang dioperasikan Trans Sarbagita akan melayani bus BRT lebih dari satu kota. “Jadi bukan pelayanan satu kota lagi,tapi pelayanannya untuk daerah kota itu dengan kota sekitarnya, misalnya Denpasar, Badung dan Gianyar,” katanya.
Hal ini membuat  pengoperasian bus besar berbasis BRT ini tidak dioperasikan di satu kota saja, namun melayani antar kota. Untuk wilayah Provinsi Sulsel, yang dioperasikan Trans Musi, tidak hanya melayani kota Palembang, namun juga Indralaya. “Karena kalau tidak dijadikan satu, mereka akan banyak berganti-ganti angkutan,” tuturnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s