190711 Mengangkat Performa Sang Bintang

 

Krusell belum lama ini menghadirkan daftar bulanan terbaru ponsel paling laris di dunia, berdasarkan penjualan aksesoris pendukungnya. Menurut perusahaan produsen aksesoris untuk berbagai merek dan tipe ponsel di seluruh dunia itu   iPhone 4 besutan Apple,  Galaxy S II (Samsung) dan Sensation (HTC) adalah ponsel paling laris di dunia.
Sedangkan di Indonesia  susunan ponsel paling laris juga tidak berubah untuk urutan satu dan dua, tetapi di urutan ketiga Nexian Champion, berhasil merangsek di posisi ketiga. Sedangkan BlackBerry yang selama dua tahun ini menjadi bintang di penjualan ponsel karena selalu mencatat pertumbuhan penjualan yang tinggi berada di posisi buntut alias nomor 10 dengan varian  Onyx.
Melihat performa dari Samsung Electronics dan HTC, banyak analis memperkirakan kedua produsen ini akan  menjadi pemenang pasar ponsel global pada kuartal kedua karena  tingginya permintaan ponsel pintar mereka yang berbasis Google Android.
Fenomena sistem operasi Android memang mengerikan. Saat ini tercatat ada 550,000 ponsel berbasis Android  yang diaktifkan setiap hari di seluruh dunia, sehingga diperkirakan ada tambahan 99 juta pengguna baru pada akhir tahun nanti. Di dunia saat ini ada 130 juta perangkat berbasis Android.
Sedangkan untuk  volume pasar ponsel, Nokia masih memimpin pasar dengan 95.5 juta ponsel dan posisinya sangat kuat di pasar negara berkembang lalu diikuti Samsung dengan 73,7 juta. Namun, analis memperkirakan Samsung akan mempersempit kesenjangan di kuartal mendatang dan menyalip Nokia pada 2012.
Para analis mengatakan Samsung mungkin telah menjual 19 juta ponsel pintar pada kuartal kedua dan akan mudah bagi Samsung untuk menjual smartphone sebanyak 60 juta unit pada 2011.
Posisi BlackBerry
Lantas bagaimana posisi bintangnya ponsel pintar besutan Research In Motion (RIM), BlackBerry, yang sempat heboh selama dua tahun belakangan ini?  RIM mengumumkan omset perseroan   pada kuartal pertama tahun fiskal 2012 ini mencapai  4,9 miliar dollar AS atau tumbuh 16 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.
Namun jika skala pembandingnya adalah kuartal sebelumnya, maka pencapaian RIM tersebut malah menurun 12 persen. Sebab pada kuartal keempat tahun fiskal 2011, RIM berhasil membukukan  5,6 miliar dolar AS.
Para analis menilai  pencapaian RIM kali ini justru memperlihatkan  perusahaan asal Kanada ini berjuang keras dalam persaingannya dengan iPhone dan smartphone Android. Manajemen RIM   sudah wanti-wanti kalau di kuartal sekarang dan tahun fiskal ini perusahaannya bisa saja mengalami penurunan di bawah prediksi Wall Street.
Presiden Director RIM Indonesia Andrew S Cobham menegaskan, virus penurunan yang terjadi secara global tidak akan terjadi di Indonesia untuk penggunaan BlackBerry. ”Kami optimistis dengan pasar di Indonesia karena posisinya sangat strategis. Kita tidak bisa lagi membandingkan pertumbuhan yang ribuan persen tahun lalu dengan sekarang karena pasar mulai terbentuk. Kami akan terus bekerjasama dengan para mitra untuk membawa BlackBerry sebagai produk kuat di pasar Indonesia,” katanya di Jakarta, belum lama ini.
Berdasarkan catatan, BlackBerry pada tahun lalu digunakan 2,63 juta pengguna atau menguasai 50 persen pasar smartphone. Pada tahun ini enam operator yang menjadi mitra RIM memperkirakan akan ada 6 juta pengguna pada akhir tahun nanti. Saat ini Telkomsel memimpin dengan 2,5 juta pengguna, XL (1,2 juta pengguna), disusul Indosat ( 1 juta pengguna).
Masih Bergairah
GM Device Bundling Management Telkomsel Heru Sukendro mengungkapkan, penjualan BlackBerry di Indonesia pada 2011 sebenarnya masih bergairah, namun karena varian baru yang dimiliki RIM terbatas, maka gebyar program pemasarannya tidak begitu terdengar gaungnya.
”Bayangkan, kami bisa mendapatkan 900 ribu pengguna selama lima bulan pertama 2011, itu artinya masih ada minat masyarakat. Harus diingat, segmen smartphone kelas premium ini sangat terbatas pasarnya,” katanya.
Diungkapkannya, saat ini operator mengandalkan tiga segmen untuk mendapatkan pelanggan layanan BlackBerry yakni menjual perangkat baru, mengutilisasi pemilik BlackBerry yang belum mengaktifkan layanannya, atau mengakuisisi pelanggan kompetitor.
”Ada sekitar 20 persen pemilik BlackBerry itu belum mengaktifkan layanannya. Jadi, selama enam bulan ini karena belum ada produk baru, operator lebih  mengoptimalkan pasar yang ada,” tuturnya.
Dijelaskannya, untuk membuat pengguna BlackBerry bisa menjadi semakin lama menggunakan jaringan Telkomsel yang memiliki kapasitas ke RIM sebesar 2,4 Gbps, maka diluncurkan paket layanan BlackBerry Extreme di mana pelanggan  dapat menikmati layanan streaming unlimited   dengan tarif bulanan 99 ribu rupiah.
”’Paket ini tidak hanya untuk BlackBerry Playbook, tetapi semua pengguna BlackBerry. Paket ini menjadikan pengguna BlackBerry bisa menikmati pengalaman sama seperti Android dimana tidak ada lagi pembatasan untuk akses semua fitur di internet. Saya optimistis dengan paket ini Average Revenue Per User (ARPU) pengguna BlackBerry dari 350 ribu rupiah bisa lebih terangkat,” katanya.
GM Marketing Access XL Axiata Riza Rachmadsyah menegaskan, perseroan masih memberikan penawaran yang lebih baik ke pasar untuk pengguna BlackBerry. Dicontohkannya, untuk PlayBook  mendapatkan  gratis layanan XL BlackBerry Full Service selama 3 bulan serta bundling
dengan handset BlackBerry mulai  1,9 jutaan rupiah..
”Nilai yang kami tawarkan gratis itu setara 300 ribu rupiah.  Jika kompetitor menawarkan 99 ribu rupiah untuk 100 Mbps, dibulan berikutnya menjadi 120 ribu rupiah, tentu lebih mahal. Untuk mereka yang suka mengakses streaming, 100 Mbps itu cepat habisnya,” tegasnya.
Diakuinya, saat ini pasar BlackBerry tengah dalam tekanan ponsel Android sehingga operator  harus berhati-hati menawarkan program pemasaran. ”Misalnya, untuk Playbook yang pasarnya kecil, tidak mungkin langsung jor-joran. Harus diingat produk Playbook ini unik karena untuk akses ke internet berpasangan dengan handset BlackBerry. Jadi, jika ada yang menawarkan paket untuk Playbook bisa digunakan oleh semua pengguna BlackBerry itu hanya bahasa pemasaran,” ketusnya.
Secara terpisah, Direktur Penjualan Axis Telekom Syakieb A Sungkar mengaku belum tertarik untuk menawarkan paket layanan BlackBerry dengan akses streaming karena harus menghitung dulu harga dengan profitabilitas yang didapat.  ”Pasar  BlackBerry mulai tergerus itu kenyataan. Sekarang pangsa pasarnya di smartphone tinggal 14 persen, sementara Android 35 persen,” katanya.
Presiden Direktur Bakrie Connectivity Erik Meijer mengakui tren teknologi telah berganti dari smartphone berbasis QWERTY menjadi layar sentuh yang identik dengan Android. Apalagi, aplikasi Instant Messenger selain BlackBerry Messenger mulai marak dengan tingkat interperobilitas yang semakin baik.
”Setiap  tahun terjual sekitar 25-30 juta ponsel di Indonesia. Jumlah Smartphone hanya 3-5 juta diantaranya. Walau kami menawarkan layanan BlackBerry, tetapi harus diakui pasar utama ada di segmen bawah. Jadi, kita lihat dulu perkembangan pasar jika ingin mengubah penawaran berlangganan layanan BlackBerry,” katanya.[dni]

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s