140711 Inovasi Teknologi: Google Luncurkan G+ Mengadang Laju Raksasa

 

Survei yang dilakukan oleh lembaga riset  ComScore hingga  Mei lalu mencatat sebanyak 157,2 juta orang di dunia aktif mengunjungi situs jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg, Facebook, selama rata-rata 375 menit per hari. Sebanyak 36 juta diantaranya berasal dari Indonesia.
Saat ini diperkirakan nilai dari situs ini  mencapai  50 miliar dollar AS, sehingga menjadikannya sebagai raksasa di bisnis jejaring sosial.
Angka-angka di atas ternyata membuat raksasa internet lainnya dari Amerika Serikat, Google, terangsang untuk menantang dominasi Facebook. Bayangkan,  tercatat 180 juta orang aktif mengunjungi situs Google, termasuk YouTube.  Namun pengunjung Google tidak seloyal Facebook yang rata-rata hanya menghabiskan waktu  231 menit per hari.
Pada 28 Juni lalu dimulailah langkah untuk mengadang raksasa jejaring social itu oleh Google dengan memperkenalkan Google + (Google Plus/G+)  yang menelan biaya sekitar 585 juta dollar AS.
Sebelumnya, Google juga telah memiliki beberapa proyek jejaring sosial bernama Google Buzz, Orkut, dan Google Wave, tetapi semuanya gagal di pasar.  Belajar dari kesalahan itu, pada tahap pertama, G+ diberikan dalam versi Beta atau Field Trial dimana hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas yang menerima undangan dari Google, setelah itu   para pengguna tersebut bisa mengirimkan undangan ke beberapa calon pengguna lain melalui email. Tak tanggung-tanggung Mark Zuckerberg pun diundang untuk mencicipi situs ini.
Secara umum, layanan yang disuguhkan Google+ hampir sama seperti Facebook, yakni tempat berbagi foto, link, dan video dengan teman online.
Tapi ada beberapa fitur yang membedakan Google+ dengan Facebook. G+  menyediakan Circle  di mana pengguna bisa menentukan siapa masuk kelompok mana. Dimungkinkan juga menambah kontak ke dalam Circle, meskipun orang itu belum menggunakan layanan Google.
Di dalamnya dapat dikelompokkan, misalnya teman kerja, teman sekolah, keluarga, atau kenalan.
Ide di balik fitur Circle ini dimulai dari keinginan untuk berbagi sesuatu dengan beberapa orang saja, bukan ke semua orang yang ‘nyantol’ di akun jejaring sosial. Ini juga bagian dari privasi melindungi pengguna.
G+ juga terintegrasi dengan berbagai layanan Google lainnya, kecuali Blog dan YouTube. Dari G+, pengguna juga bisa membuka data yang disimpan di layanan Google lainnya dengan   mengaktifkan fitur Data Liberation dari halaman pengaturan. Setelah itu,  bisa diunduh data dari Picasa web Albums, Google profile, Google+ stream, Buzz dan lainnya. Data Liberation ini hampir sama seperti fitur baru Facebook yang namanya new data download.
Situs ini  juga menawarkan fitur video chat dan pesan instan yang memungkinkan pengguna chatting dengan individu atau kelompok sampai sepuluh orang sekaligus.
Layanan ini  sudah bisa dinikmati oleh para pengguna Android (minimal versi 1.5.). Selanjutnya menyusul  untuk sistem operasi besutan Apple, iOS,   termasuk sistem operasi Windows Mobile dan Symbian. Untuk sistem operasi iOS dibutuhkan minimal versi 3.x dan untuk BlackBerry OS minimal versi 6.0.
Kerjasama
Operator telekomunikasi lokal pun menyambut gembira hadirnya G+ dan membuka diri untuk memperluas kerjasama dengan Google, khususnya mengembangkan platform baru ini.
”Kami sudah ada pembicaraan dengan Google untuk melakukan pre install aplikasi G+ di ponsel-ponsel bundling dari Telkomsel. Kita harus antisipasi tren baru ini,” ungkap VP Channel Management Telkomsel Gideon Edi Purnomo di Jakarta, Rabu (13/7).
Presiden Direktur Bakrie Connectivity Erik Meijer mengaku terbuka dengan adanya platform baru tersebut karena operator pada prinsipnya di era data tidak rela hanya sebagai pipa penghantar saja. ”Jika bisa kerjasama langsung dengan Google mengembangkan G+ tentu akan membuat ada hal-hal lainnya yang bisa dikerjakan bukan sebatas memberikan akses kepada situs tersebut,” jelasnya.
Head of Corporate Communication XL Axiata Febriati Nadira mengakui perseroan bekerjasama dengan  Google untuk layanan lain dari raksasa internet tersebut. ”Sekarang G+ masih versi Beta. Kami  tidak menutup kemungkinan untuk kerjasama dengan mereka di masa depan ketika pihak Google telah siap untuk bekerja sama dengan pihak operator,” katanya.
Terlalu Dini
Praktisi telematika Abul A’la Almaujudy menilai masih terlalu dini membandingkan G+ dengan Facebook karena  platform besutan Google  masih bersifat beta dan  dalam mode invitation only.
”Sebagai ancaman bisa saja bagi Facebook karena platform ini terintegrasi dengan semua layanan   Google. Selain itu masalah security dan privacy  lebih terjamin dibandingkan Facebook dan adanya dukungan manajemen networking yang lebih baik,” jelasnya.
Menurutnya, untuk bisa melibas Facebook, akan sangat tergantung  dari aplikasi mobile dan mobile site yang nyaman. Saat ini mobile site G+ sudah bisa diakses, tetapi sangat terbatas fiturnya. Hanya bisa sekedar posting dan reply dengan struktur navigasi yang agak merepotkan
Diungkapkannya, Facebook berhasil di Indonesia karena peer pressure atau  karena tekanan dari kelompok. ”Apakah G+ akan juga seperti ini? Sepertinya menunggu waktu, karena sekarang yang pake adalah early adopter yang melek teknologi. Sedangkan bagi pengembang aplikasi lokal masih menunggu dulu arah dari G+ ini mau dibawa kemana oleh Google,” katanya.
Praktisi telematika lainnya, Bayu Samudiyo mengatakan, jika melihat berita terbaru, Facebook sepertinya mulai was-was dengan G+ karena baru saja menggandeng Skype untuk meluncurkan fitur Video Chat.  ”Di dunia digital, banyak  hal bisa berubah dengan cepat. Misalnya Friendster yang hilang dalam hitungan bulan atau    Bing yang tiba-tiba masuk dan   besar. Jika G+ bisa cepat penuhi keinginan user dan sediakan tool untuk migrasi seperti Facebook Friend Exporter, ini akan berbahaya bagi Facebook,” jelasnya.
Menurutnya, G+ jika ingin besar harus bisa memunculkan  Word of mouth dikalangan netizen dan bisa mempengaruhi  ke aktivitas digital orang sehari-sehari   karena G+ bukan layanan baru, tetapi hanya memberikan alternatif terhadap yang sudah ada.
“Senjata utama dari Google mengembangkan G+ adalah melalui akun Gmail dan sistem operasi android yang tengah naik daun. Langkah sinergi dengan sistem operasi  mobile itu telah dilakukan Twitter dengan  iOS 5  atau Facebook yang mengakuisisi    Snaptu agar diberikan akses ke ponsel dengan sistem operasi Java,” jelasnya.
Sedangkan praktisi konten Gunarto memperkirakan, G+  akan membutuhkan waktu 4-5 tahun untuk bisa mengejar Facebook, apalgi ekosistemnya untuk aplikasi mobile belum sematang penguasa pasar. Produsen ponsel itu mau pre install aplikasi kalau platform-nya sudah populer di pasar, masalahnya simbol G (Google) itu di pasar ponsel belum sekuat YM (Yahoo Mesenger), FB, atau  mig33
Disarankannya, melihat munculnya G+ sudah saatnya para pengembang aplikasi lokal berfikir membuat platform jejaring sosial ala Indonesia. ”Sebenarnya konsep RT/RW atau Banjar di Bali bisa dibuat platform jejaring sosial media yang lebih riil ala Indonesia.  Hanya kita yang lebih mengerti keinginan pengguna lokal,” katanya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s