120711 Strategi Bisnis : STC Perkuat Dominasi di Axis .Transformasi ala Medioker

 

PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) akhirnya secara resmi berganti nama menjadi   PT Axis Telekom Indonesia (Axis) pada 7 Juni 2011 sesuai persetujuan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Perubahan nama ini merupakan buntut dari transaksi yang dilakukan oleh dua pemegang saham Axis yakni Saudi Telecom Company (STC) dan  Maxis Communications Berhad (MCB) yang dimulai sejak 12 Maret 2011 dan diselesaikan pada bulan berikutnya.
STC meningkatkan nilai sahamnya di Axis dari 51 menjadi 81 persen, sementara MCB menurunkan dari 44 menjadi 14,9 persen. Sementara investor lokal, PT Harmersha Investindo (PTHI) tetap menguasai  saham sebesar 5 persen.
Kantor  berita Reuters  mengatakan nilai transaksi yang dilakukan oleh STC dan Maxis mencapai 371 juta dollar AS dimana sebesar 81 juta dollar disetorkan oleh STC ke operator dari Malaysia itu, dan sisanya dibayarkan sesuai kebutuhan.  Transaksi ini juga menjadikan hutang NTS terhadap Maxis yang mencapai 412 juta dollar AS dibatalkan dan mengubah kepemilikan kedua operator di NTS. Pola swap saham ini diperkirakan bisa berlangsung mulus karena STC sendiri memiliki 17,5 persen saham Maxis.
 “Meningkatkan kepemilikan di Axis menjadikan STC bisa mengkontrol dan menetapkan strategi untuk perusahaan ini menghadapi pasar yang dinamis. Pengalaman STC dalam teknologi dan pemasaran akan berguna membantu Axis,” ujar CEO Grup STC  Eng. Saud Al Daweesh.
Menurut salah satu perusahaan investasi di Arab Saudi, NCB Capital, STC sangat bergantung kepada investasi yang dilakukan di luar negeri untuk berkembang. Nilai investasi operasi internasionalnya mencapai 6.7 miliar dollar AS.
Omset dari operasi internasionalnya berkontribusi 29 persen bagi total pendapatan pada 2009, namun untuk bottom line  masih menjadi beban dan meningkatkan belanja modal. Sedangkan pada 2010 omset STC sekitar 9,44 miliar saudi riyal atau turun 13 persen ketimbang 2009.
STC sendiri begitu menjadi penguasa dominan di Axis menunjukkan komitmennya mendukung pemilik 11 juta pelanggan ini. Hal itu terlihat dari didapatkannya  pembiayaan sebesar  1,2 miliar dollar AS dengan jangka waktu 7,5 tahun dari institusi keuangan lokal dan internasional untuk memperkuat pendanaan.
Angka ini diluar injeksi dana sebesar 440 juta dollar AS untuk mengembangkan Axis selama lima tahun ke depan. Axis sendiri kala pertama kali beroperasi pada 2008 menyiapkan dana   sebesar satu miliar dolar AS.
Lebih Cepat
Direktur Penjualan Axis Telekom Syakieb A Sungkar menjelaskan, adanya perubahan kepemilikan ini menjadikan pengambilan keputusan di perseroan lebih cepat sehingga dinamika di pasar langsung bisa diantisipasi. “Pasar di Indonesia sangat cepat sekali berubah. Sekarang kami bisa lebih cepat bergerak untuk bersaing dengan kompetitor lainnya,” katanya.
Kecepatan Axis untuk bergerak terlihat dari keberanian operator ini meluncurkan terlebih dulu komunikasi dan program pemasaran untuk Ramadan walaupun puasa masih satu bulan lagi.
Dibalut dalam kampanye “Berkah Blak-blakan AXIS”  ditawarkan tarif paling terjangkau untuk menelepon ke operator lain hanya dengan 390 rupiah per menit, namun para pelanggan tetap dapat menikmati manfaat gratis   ke semua operator dari jam 00.00 – 06.00. Selain itu juga ada penawaran gratis untuk Suara dan SMS  dengan  hanya menggunakan  300 rupiah.
“Kami memperkenalkan tarif retail baru untuk pembicaraan lintas operator (off nett) yakni 390 rupiah per 30 detik, setelah itu gratis. Dalam tarif baru ini  margin diberikan  ke pelanggan. Harapannya dengan strategi ini ada panggilan balik dari pelanggan operator lainnya, dan bisa kita akusisi pengguna tersebut,” katanya.
Dijelaskannya dengan strategi menggratiskan pembicaraan off nett, berhasil dicapai pertumbuhan pelanggan setiap bulannya sebesar 10 persen. Sedangkan penjualan setip bulannya mencapai dua juta sim card, dimana 50 persen berhasil teregister sebagai pelanggan. Pendapatan dari interkoneksi pun tetap terjaga dengan tumbuh sebesar 10 persen.
”Kami sebenarnya menginginkan biaya interkoneksi bisa turun mencapai 50 persen karena sewajarnya tarif panggilan ke sesama pelanggan (on nett) harus sama dengan off net. Apalagi infrastruktur untuk interkoneksi itu tidak butuh biaya besar hanya trunk dan switching,” jelasnya.
Berhati-hati
Pengamat telekomunikasi Guntur S. Siboro mengingatkan, operator harus berhati-hati menerapkan penawaran gratis off net karena terjadi kemungkinan penurunan pendapatan karena harus membayar biaya  interkoneksi tetapi tidak menerima  pendapatan dari pelanggan.
”Walaupun ini efektif mengambil pelanggan dari kompetitor, tetapi ini akan membuat pelakunya berdarah-darah secara keuangan,” jelasnya.
Pengamat telekomunikasi lainnya Bayu Samudiyo  mengatakan, Axis harus mulai berani menawarkan sesuatu yang inovatif ketimbang sibuk bermain di tarif murah untuk suara dan SMS. “Sayang sekali kalau komunikasi pemasarannya berbicara tarif murah karena semua pemain mengatakan hal yang sama. Seharusnya Axis dengan dukungan dana yang kuat bisa memakai komunikasi pemasaran yang lebih menarik,” katanya.
Diingatkannya, dalam kondisi pasar yang tengah jenuh membanting harga secara terus menerus akan membuat keuntungan yang didapat kian tipis. Peluang bagi semua operator ada di pelanggan data karena pertumbuhannya yang tinggi tetapi untuk akusisi di pasar terbatas mengingat persaingan sangat ketat.
“Saya melihat strategi Axis adalah menarik pelanggan dari pasar dulu baik itu melalui penawaran off nett gratis dan lainnya. Setelah menjadi pelanggan, akan diikat dengan bonus-bonus sehingga bertahan, tetapi biaya untuk akusisi ini sangat mahal. Semoga pendanaannya kuat,” katanya.
Disarankannya, agar pelanggan bisa bertahan tidak hanya mengandalkan bonus tetapi juga peningkatan kualitas jaringan apalagi jika yang dibidik pengguna jasa data.  “Sekarang ini masuk masa-masa sulit karena persaingan di telco sudah mulai saturated dan tidak sehat lagi. Bagi operator yang penting dapat pelanggan walau dikorbankan margin dan kualitas. Ini harus mulia dicermati oleh regulator,” katanya.
Sementara menurut Praktisi telematika Faizal Adiputra dominannya STC di Axis menunjukkan adanya komitmen dari operator Arab Saudi itu untuk memajukan anak usahanya. ”STC harus merekrut lebih banyak orang lokal,   expatriate cukup menjadi advisor saja. Bagaimanapun orang lokal lebih paham kondisi Indonesia ketimbang eksekutif asing,” tegasnya.
Dijelaskannya, Axis selama ini terkesan berani membanting harga karena dari sisi operasional berhasil melakukan efisiensi mengingat banyak infrastruktur di alih dayakan. Terbaru adalah domestik roaming hasil kerjasama dengan XL untuk area Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pola pembayaran untuk penggunaan jaringan ini adalah berdasarkan trafik yang terpakai. ”Saya rasa efisiensi biaya bisa didapat dari cara seperti itu, sehingga tinggal permainan pemasarannya saja untuk menarik pasar,” katanya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s