120711 Menanti Kelegawaan Penguasa


Di era jasa data, frekuensi menjadi alat persaingan bagi operator telekomunikasi. Pemerintah pun menyadari hal ini kala mempersiapkan kanal kedua untuk frekuensi 3G tiga tahun lalu. Sayangnya, kala pemerintah menawarkan kanal kedua bagi semua pemain 3G, pada awalnya hanya dua operator, Telkomsel dan Indosat, yang berminat.
Namun, setelah XL menyatakan minatnya, maka dua pemain (Axis dan Hutchison CP Telecom Indonesia/HCPT) ikut menyusul. Ramai-ramainya operator  menyatakan minat untuk kanal kedua ini membuat diperlukan penataan ulang karena semuanya menginginkan dalam  posisi bersebelahan (Contigous).
Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah menyiapkan lima opsi  untuk menata spektrum 2,1 GHz. Pertama, setiap pemain diberikan blok yang bersebelahan. Untuk mewujudkan ini, Telkomsel diminta pindah dari blok ke 4 ke 6 dengan konsekuensi operator itu harus mengeluarkan dana sekitar 34 miliar rupiah dan ada kendala kualitas layanan kala salah satu kanal dimatikan.
Kedua, Axis diberikan kanal kedua agar contigous. Dampaknya, blok milik HCPT tidak contigous. Ketiga, Axis diberikan kanal ke 6. Dampaknya, HCPT memiliki blok contigous, sementara Axis tidak. Keempat, Axis di blok ke 1 dan 2, HCPT di blok 3 dan 6. konsekuensinya blok milik HCPT akan terpakai sebagian untuk guard band. Kelima, disiapkan kajian refarming 2,1 GHz yang menyertakan tambahan blok ketiga.
Direktur Penjualan Axis Syakieb A Sungkar mengungkapkan, sebenarnya sudah ada surat keputusan (SK) dari Kemenkominfo yang menetapkan Axis mendapatkan kanal kedua untuk 3G. Atas dasar itulah Axis   membeli peralatan untuk mengembangkan 3G, tetapi sekarang  tidak bisa digunakan karena alokasi frekuensi belum ada dari pemerintah. Rencananya pada tahun ini perseroan  membangun 9 ribu BTS 3G (Node B) memperkuat 4 ribu Node B yang telah ada.
“Data telah berkonribusi sekitar  30-35 persen bagi total omset. Kita butuh tambahan blok frekuensi  walau kapasitas yang ada  masih  memadai  karena okupansinya baru mencapai 30 persen,” jelasnya.
Menurut Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono, SK yang dikeluarkan oleh regulator berisikan semua operator disediakan masing-masing dua blok.
“Disediakan atau dicadangkan, itu kalimat dalam SK tersebut. Jangan diplesetkan. Belum ditetapkan frekuensi yang mana karena mesti sepakat harga dan komitmen Biaya Hak Penggunaan Frekuensi (BHP)  hingga 10 tahun mendatang untuk yang berminat,” tegasnya di Jakarta, Senin (11/7)
Diungkapkannya, pemerintah saat ini sedang menunggu kelegawaan dari Telkomsel untuk menggeser posisi kanalnya agar penataan berjalan lancar. “Minggu ini ada konfirmasi tentang kepindahan dari Telkomsel. Kami tidak percaya masalah biaya menjadi kendala karena menurut analisa teknis ini hanya tinggal  tekan tombol,” tegasnya.
Direktur Pengendalian Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Ditjen Sumberdaya Perangkat Pos dan Informatika, Kemenkominfo Tulus Raharjo  menegaskan,  Telkomsel harus mau legawa pindah kanal karena sudah menyetujui penataan blok 3G. “Semua ini sesuai dengan regulasi karena itu tidak ada kompensasi yang diberikan dalam pemindahan,” tegasnya.
Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menegaskan tidak akan pindah alokasi karena sudah terlanjur berinvestasi. Tidak hanya itu, semacam menguji wibawa regulator,   Telkomsel berani mengajukan tambahan kanal ketiga dan harus bersebelahan
Dasar yang digunakan adalah sesuai aturan operator diberikan penambahan setelah dilakukan evaluasi baik dari sisi jumlah pelanggan dan pembangunan BTS 3G (Node B). “Kami  pertama kali yang mengajukan tambahan blok ketiga. Logikanya regulator hanya melakukan evaluasi saja untuk melihat siapa yang layak mendapatkan tambahan,” tegas Sarwoto.
Praktisi telekomunikasi Harry K Nugraha menjelaskan, jika operator ingin menaikkan kapasitas mutlak dibutuhkan tambahan kanal apalagi bagi yang telah mengimplementasikan High Speed Packet Accses (HSPA+).
Menurutnya, jika ada operator harus bergeser kanal memang akan terjadi  rekonfigurasi dan optimisasi ulang. Hal ini membutuhkan perencanaan dan wakut  pelaksanaan harus   supaya tidak terjadi gangguan ke pelanggan. “Jika berkaca pada Telkomsel yang ditimbang adalah luasnya jaringan, sehingga membutuhkan sumber daya manusia dan uang yang lumayan besar,” katanya.[dni]

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s