070711 Menata Uang Digital

 
Bank Indonesia (BI) mengungkapkan di awal tahun ini pengguna uang digital atau e-money meningkat cukup signifikan.
BI mencatat, pengguna e-money hingga kuartal I 2011 mencapai 9,4 juta orang atau meningkat 1,5 juta orang dibandingkan akhir 2010 yang hanya sebanyak 7,9 juta orang. Jumlah transaksi pada kuartal I 2011 mencapai 8,3 juta transaksi dengan nominal sebesar 176,56 miliar rupiah.

Dalam Data Perkembangan Transaksi Sistem Pembayaran Edisi Mei 2011, produk yang baru keluar pada April 2007 tersebut telah mencapai sekitar 9,4 juta kartu pada kuartal I tahun ini

Para pemain di produk ini terdiri atas bank dan operator telekomunikasi. Sebut saja   Bank DKI dengan JakCard, BCA  (Flazz Card), atau Bank BNI dengan Kartuku. Sementara dari operator ada Telkomsel (T-Cash), Telkom (Flexy Cash dan i-vas card), Indosat (Dompetku), dan XL Axiata (XL Tunai). Di sektor telekomunikasi, T-Cash mengklaim menguasai  43  persen pangsa pasar mikro payment operator dengan   5 juta pengguna.

Trend uang digital memang menjanjikan peluang bisnis. Pangsa pasar micro payment yang diperebutkan paling tidak mencapai 200 – 293 triliun rupiah, di mana pada saat ini 77 persen transaksi retail masih dilakukan secara cash.

Bank Indonesia menetapkan batas maksimum nilai uang digital yang tersimpan  yakni  un-registered maksimal satu juta rupiah, sedangkan teregistrasi maksimal 5 juta rupiah. Total nilai transaksi  dalam periode tertentu  adalah  20juta rupiah per bulan untuk  pembayaran, transfer,  dan transaksi lainnya.

Analis Senior Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Ida Nuryanti menjelaskan operator telekomunikasi menerbitkan e-money dalam bentuk server-based, sementara bank dalam bentuk chip-based.

Dijelaskannya, dalam rangka penerapan manajemen risiko, penerbit e-money non bank (operator) wajib menempatkan dana float dalam bentuk aset yang aman dan likuid untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang dan pedagang tepat waktu atau tidak dapat digunakan untuk pembiayaan operasional penerbit

”Dana float 100 persen wajib ditempatkan pada bank umum dalam bentuk rekening simpanan berupa tabungan, giro atau deposito,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, model bisnis e-money ada dua yakni bank based model dimana  bank sebagai penerbit dan  Telco based model  atau telco sebagai penerbit.

”Pada semua model bisnis, bank dan non bank memiliki peran masing-masing.  Bank terkait pengelolaan dana float dan sarana top-up, sementara Telco terkait penyediaan infrastruktur. Bank dan non bank perlu bersinergi dalam penyediaan layanan e-money,” sarannya.

Diungkapkannya, sebagai otoritas keuangan BI akan membuat arah kebijakan uang digital dimana terjadi keterhubungan (Interoperability) antar penerbit sehingga e-money dapat digunakan di merchant manapun demi mewujudkan less cash society.

Standardisasi dan interperobilitas
yang akan diutamakan adalah perangkat Electronic Data Capture (EDC) antar pemain bisa dipakai sehingga tidak memboroskan investasi walau satu unit harganya hanya 300 dollar AS.

Tahapan pun telah dibuat oleh BI dengan menetapkan batas waktu yakni tahun 2009-2010 untuk pemetaan industri, 2010-2011 membuat komitmen pihak terkait dan kesepakatan industri, 2011-2012, penyusunan standar dan implementasi interperobility, dan 2014 masa transisi dan implementasi standar uang digital.

”Penyusunan standar uang elektronik dengan melihat prasyarat interoperabilitas dan fairness yakni mengakomodir kepentingan berbagai pihak. Disini perlu adalanya standar kesepakatan industri yang menjadikan hanya ada standar agar penggunaannya menjadi optimal,” jelasnya.

Bank Khawatir
Mencermati uang digital menggarap segmen micro payment, terlihat adanya kekhawatiran dari kalangan perbankan, industri telekomunikasi akan menggurita.

”Kita harapkan segala sesuatu serahkan pada ahlinya. Telekomunikasi itu ahlinya operator, kalau untuk uang serahkan kepada bank. Kami khawatir jika operator dominan, maka uang float di masyarakat akan terserap sehingga bisa mempengaruhi suku bunga kredit bank,”  jelas Direktur Utama BNI  Gatot Suwondo.

Ketua Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono menyarankan harus ada regulator di kedua belah pihak yakni di pihak telekomunikasi dan bank agar perand an tanggung jawab masing-masing pihak jelas.

Diakuinya, kedepan penggunaan micropayment akan dominan, apalagi transaksi yang sifatnya kecil seperti belanja kecil-kecilan, bayar parkir, bayar kereta api.”Permasalahannya nanti bukan pada persoalan nilai per  transaksi, tetapi pengalihannya. Jika penggunanya ada puluhan juta, nilai uangnya juga besar sehingga akan ada kemungkinan ada potensi meningkatnya permintaan pengguna, makanya pemain kedua industri   harus diatur. Ekstensinya ke depan, disputenya, dan hukumnya ke depan,” jelasnya.

Menurut VP T-Cash Management Bambang Supriogo seharusnya kalangan perbankan tidak perlu khawatir dengan sepak terjang pada operator di micro payment karena penyimpanan uang tetap saja di bank. Apalagi, operator sendiri lebih cenderung akan menggarap pasar-pasar yang niche seperti pembayaran Electronic Road Pricing (ERP) atau masyarakat di area rural dimana cabang bank tidak mampu menjangkaunya.

”Kami harapkan adanya sinergi dari kalangan perbankan, seperti bisa memanfatkan ATM untuk Cash in dan Cash out atau fitur-fitur lainnya di uang digital operator bisa dimaksimalkan agar semuanya berkembang,” katanya.

Diungkapkannya, T-Cash baru saja memiliki inovasi baru yakni Sim Card dengan teknologi Radio Frequency Identification (RFID). Chip dan antena yang tertanam pada Sim Card memungkinkan pelanggan untuk melakukan transaksi pembayaran dengan menyentuhkan ponsel ke alat pembaca.

“Kami harapkan produk yang dinamakan Tap-Izy ini bisa meraih 400 ribu pelanggan pada akhir tahun nanti. Sejauh ini baru ada 8 merchant mendukung Tap-Izy,” jelasnya

Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo mengatakan, masalah terbesar mengembangkan uang digital adalah membangun ekosistemnya mulai dari tempat cash in dan out, serta edukasi.

”Kami memiliki produk pengiriman uang digital yakni Delima. Untuk mempersiapkan bisa transaksi Person to Person membangun ekosistemnya sangat lama, baru akan diluncurkan pada 27 Juli nanti. Jika ada sinergi antara bank dan operator tentu akan memudahkan penetrasi,” katanya.

Senior Manager Business Development XL Axiata Dony Yuliardi  mengungkapkan kendala yang dihadapi dalam mengembangkan uang digital adalah untuk pengembangan merchant diperlukan dua lisensi yaitu remittance dan e-money agar dapat menyelenggarakan layanan yang bersifat full function, seperti P to P (Peer to Peer) dan cash out.

Belum lagi proses penambahan merchant yang harus melalui proses pelaporan 30 hari sebelum operasional. Sementara untuk penyediaan dan penyelenggaraan layanan cash out dilakukan baru sebatas oleh para pemegang lisensi remittance. Tantangan lainnya masalah edukasi pelanggan yang harus simultan oleh semua pemangku kepentingan.

”Kami mencoba mengembangkan e-money untuk segmen yang unik. Misalnya, menggarap payment e –commerce. Beberapa pemilik situs e-commerce sedang diajak berdiskusi,” ungkapnya.

Praktisi e-commerce Dolly Surya Wisaka mengakui, menggarap pembayaran untuk e-commerce bisa menjadi lahan menarik bagi operator karena komunitasnya bersinggungan dengan pengguna jasanya.

”Masalahnya interperobilitas sistem pemilik situs dengan operator itu akan menjadi kendala teknis. Soalnya, pemilik situs maunya pembayaran harus bisa dilakukan secara mobile dan sederhana penggunaannya. Ini memaksa operator berhitung nilai investasi karena transaksi e-commerce masih kecil, walau di masa depan akan besar,” katanya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s