070711 Lampu Kuning Bagi e-Commerce

 

Lampu kuning bagi pelaku usaha di e-commerce mulai menyala seiring munculnya kasus penjualan iPad melalui salah satu forum komunitas yang dianggap melanggar regulasi oleh aparat hukum.
Kasus bermula ketika dua orang (Dian dan Randy)  menawarkan 2 iPad 3G Wi Fi 64 GB di forum komunitas. Polisi pun menyamar sebagai pembeli dan transaksi Cash On Delivery (COD) pun dilakukan pada 24 November 2010.
Apes bagi keduanya, aparat beranggapan mereka melanggar pasal 62 ayat (1) juncto pasal 8 ayat (1) huruf j UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen karena tidak memiliki manual book berbahasa Indonesia dan  pasal 52 juncto pasal 32 ayat (1) UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, karena IPad belum terkategori alat elektronik komunikasi resmi. Ancamannya pidana penjara paling lama 5 tahun penjara. Saat ini kasus itu masih berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan di kalangan praktisi e-commerce menjadi diskusi yang hangat.
Pihak kepolisian mengungkapkan pada tahun lalu terdapat kasus beberapa serupa dimana ditetapkan dua   tersangka WS dan MM dan berkasnya telah dinyatakan lengkap (P21). Pada November 2010 polisi menetapkan tersangka CM. 23 November polisi menetapkan F sebagai tersangka dan 24 November polisi menetapkan Dian dan Randy sebagai tersangka.
Pada 2011, ada 6 kasus yangs serupa. 4 kasus sudah ada pelakunya, BF ditetapkan tersangka pada 22 April, W alias C sudah P21 dengan barang bukti 8 iPad. RH ditetapkan sebagai tersangka pada Juni dengan barang bukti 5 iPad.
Juru bicara Kemenkominfo Gatot S Dewo Broto mengungkapkan, iPad 3G 64 Gb telah bersertifikasi sejak 24 November 2010. Ini adalah tanggal  Dian dan Randy melakukan COD dengan polisi.
Dijelaskannya, untuk iPad yang memiliki sejumlah tipe, masing-masing harus mendapat sertifikasi terlebih dulu sebelum dijual di Indonesia. Sertifikasi diajukan oleh importir atau pedagang yang kemudian diuji Kominfo.
Beberapa contoh iPad 1 16 gb wifi sertifikasinya telah keluar pada 1 Desember 2010, iPad 1 3G 64 gb telah ada sertifikasi sejak 24 November 2010. Sementara untuk iPad 2 16 gb, sertifikasi sudah keluar pada 15 Juni 2011 dan iPad 2 3G telah dikeluarkan sertifikasinya pada 15 Juni 2011.
“Hal yang saya khawatirkan dengan adanya aksi yang dilakukan oleh pihak aparat ini adalah bisa membuat tiarap para pelaku e-commerce. Seminggu ini saya dengar mereka itu semua pada tiarap,” jelasnya di Jakarta, Rabu (6/7).
Praktisi e-commerce Dolly Surya Wisaka mengakui, ada penurunan transaksi e-commerce karena kasus penjualan iPad secara online tersebut. “Sebenarnya penjualan gadget di e-commerce persentasinya sangat kecil dibanding transaksi offline, terutama untuk gadget yang sudah beredar dipasaran. Tetapi masalah psikologisnya ini bisa berdampak ke depan, buktinya sekarang jarang penjual  yang mau transaksi COD,” katanya.
Menurutnya, dampak yang paling terasa adalah bagi penjualan gadget  yang unik dan jarang di pasar. “Sebaiknya  pemerintah memberikan perlakuan khusus dulu buat e-commerce. Biarkan pasarnya berkembang,   jangan dulu main represif terhadap pasar yang kecil,” katanya.
Menurut Sekjen Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi munculnya kasus penjualan iPad yang dianggap melanggar ini tak bisa dilepaskan dari   kegagapan sosial yang muncul setelah pemanfatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)  bersinggungan dengan tatanan sosial budaya dan aspek hukum.
“Setelah sekian dekade TIK eksis seolah-olah tanpa bersentuhan dengan hukum, maka ketika hukum yang mengatur pemanfaatan TIK sudah tersedia dan berlaku, justru masyarakatnya yang belum siap menerima implementasi hukum terkait TIK tersebut. Dampaknya, munculnya kasus seperti yang dialami Ibu Prita atau  jual IPAD melalui forum komunitas online itu,” katanya.
Praktisi telematika  Rudi Rusdiah meminta pemerintah secepatnya menyelesaikan 8 Peraturan Pemerintah (PP) yang diamanatkan oleh UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)  agar ada rambu-rambu yang jelas kala beraktifitas di dunia internet.
Sementara menurut Pengamat telematika Abimanyu Wachjoewidajat munculnya kasus penjualan iPad ini  memperjelas bahwa  UU yang dimiliki Indonesia sifatnya sangat  jangka pendek dan terkesan menciptakan pasal-pasal “karet” yang hanya diaplikasikan bagi kepentingan pihak tertentu.
Masih menurutnya, kemajuan ilmu telematika itu sangat pesat. Bayangkan suatu teknologi yang maju lalu dalam 6 bulan saja sudah bisa dipatahkan dengan temuan teknologi lain, pada disiplin ilmu yang lain hal itu tidak mungkin. ”Harus dipahami oleh pembuat aturan telematika sebagai ilmu teknologi berbasis Informatika dan semi konduktor selalu menjadikan yang dulu tidak ada kini jadi ada, yang dulu tidak mungkin kini jadi mungkin, yang dulu tidak dapat terungkap kini lebih mudah terungkap,” jelasnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s