050711 Pertaruhan Bagi Medioker

Aliansi yang dilakukan oleh PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) dan PT Smart Telecom (Smart) tak terasa sudah memasuki tahun kedua. Walaupun kedua manajemen terkesan malu-malu menyatakan telah merger, kenyataan di lapangan tak bisa dipungkiri.
Lihat saja perubahan nama dari Mobile-8 menjadi PT Smartfren  Telecom Tbk di bursa saham setelah Mobile-8  mengumumkan  mengakuisisi mayoritas saham  Smart senilai 3,703 triliun rupiah. Sebenarnya, aksi akuisisi tersebut bukanlah aksi pengambilalihan Smart oleh Mobile- 8 karena akhirnya pemilik Smart Telecom-lah yang justru menguasai Mobile-8.
Pasalnya, tiga perusahaan milik Grup Sinarmas telah menjadi pembeli siaga (standby buyer) dalam rights issue Mobile-8 (Fren). Pembeli siaga yang otomatis menjadi pengendali di Fren tersebut adalah PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), PT Wahana Inti Nusantara (WIN), dan PT Global Nusa Data (GND). Ketiganya berpotensi menguasai 66,67 persen (seluruh saham baru) saham Mobile-8 yang hampir dipastikan tidak akan dibeli pemegang saham lama.
Lewat aksi korporasi ini  akhirnya Smart  yang dimiliki Grup Sinarmas  bisa melakukan aksi pencatatan jalur belakang (backdoor listing) Smart  ke lantai bursa.
Kinerja dari masa penjajakan dua operator ini selama  setahun belakangan    belum  menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Tercatat, SmartFren hanya meraup  6,5 jutaan pelanggan dimana  Smart memiliki  3,8 juta nomor dan  Fren 2,7 juta nomor. Saat koalisi diumumkan Smart mempunyai 2,5 juta pelanggan dan Fren 3,5 juta nomor.
Smartfren pada tahun ini menargetkan mampu meraih omset sebesar satu triliun rupiah yang didukung belanja modal sekitar 3,8 triliun rupiah dimana 95 persen di alokasikan untuk pengembangan jaringan seperti menambah jumlah BTS dari 1500 menjadi 4.500 site.
Hingga akhir 2011 Smartfren menargetkan meraih 12,4 juta pelanggan dimana akan ada dua juta pelanggan data yang berkontribusi sebesar 50 persen bagi total target omset.
“Bagi operator seperti Smartfren, tahun ini adalah pertaruhan hidup atau mati. Kami harus mencapai skala ekonomis dari sisi jumlah pelanggan yakni di atas 10 juta nomor agar bisa terus berkompetisi di pasar telekomunikasi Indonesia,” ungkap Chief Technology Officer Smrtfren Telecom Merza Fachys di Jakarta, belum lama ini.
Ditegaskannya, hingga sekarang belum ada merger resmi antara  Mobile-8 dengan Smart. Hal yang terjadi adalah aliansi kian mendalam tidak hanya sebatas di pemasaran, tetapi juga unifikasi jaringan. ”Kami harus bisa mengkonvergensikan semuanya agar semakin efisien dan kompetitif,” tegasnya.
Selesaikan Hutang
Sementara Juru bicara Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Gatot S Dewo Broto meminta agar pemilik Smart untuk menyelesaikan masalah tunggakan  Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) frekuensi dengan pemerintah senilai 737 miliar rupiah.
”Angka itu di luar denda setiap bulannya sebesar dua persen. Kami sudah membawa masalah ini ke kantor Menko Perekonomian dan ditarik ke Kantor Wakil Presiden untuk penyelesaiannya. Kita tunggu saja hasilnya,” tegasnya.
Selama ini terdapat perbedaan hitungan besaran BHP antara pemerintah dan Smart. Smart mengklaim pihaknya seharusnya hanya membayar 242 miliar rupiah sama seperti operator 3G di pita yang sama.
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono  meragukan adanya merger resmi antara Mobile-8 dengan Smart karena nantinya salah satu pihak harus memikul hutang satu perseroan yang mencapai satu triliun rupiah. ”Paling banter akuisisi aset oleh  Mobile-8 atas Smart agar  tidak tersangkut utang BHP,” katanya.
Hal yang dikhawatirkannya terjadi praktik dimana Sinar Mas Grup membeli  membeli Mobile-8 di belakang meja, lalu yang muncul dipermukaan perusahaan ini membeli aset Smart, sehingga  saat pemerintah menagih BHP, Smart menyatakan diri pailit.
Anggota Komite lainnya, Heru Sutadi mengungkapkan, saat ini Menkominfo Tifatul Sembiring sedang mengevaluasi aksi korporasi kedua operator tersebut. ”Ini kan  harus direvisi perijinannya karena  ada perubahan nama. Begitu juga dengan alokasi frekuensi yang dikuasai keduanya. Itu harus dikaji ulang,” tegasnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s