050711 Inovasi Teknologi: Modernisasi Sistem Pendukung Bisnis. Meningkatkan Daya Saing di Pasar

Lembaga riset Informa Telecoms & Media memperkirakan Indonesia akan memimpin penggunaan kartu Subscriber Identity Module (SIM) bersama Filipina, Laos, Vietnam, dan Kamboja pada tahun ini.
Diestimasi pada periode 2007-2013 jumlah pelanggan seluler akan bertambah sebanyak 1,9 miliar pengguna. Dari jumlah tersebut, sebanyak 47 persen merupakan pengguna dari India, China, Indonesia, Brazil, dan Rusia. Secara global, nilai pasar seluler dunia akan mencapai 1,03 triliun dollar AS di 2013 dengan jumlah pengguna 5,3 miliar nomor.
Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) memperkirakan penetrasi kartu SIM hingga Maret 2011 mencapai 99 persen dari total populasi atau sebanyak 235 juta nomor dari 237 juta penduduk Indonesia. Hingga akhir tahun  nanti diperkirakan jumlahnya melebihi populasi yakni 240 juta nomor karena   diizinkannya pengguna memakai multiple sim card.
Country Director Frost & Sullivan Indonesia Eugene van De Weerd menyarankan, untuk menghadapi kian tingginya penetrasi dan mengantisipasi turunnya pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) di jasa suara serta meningkatnya permintaan untuk mobile internet,  operator telekomunikasi  menjalankan tarnsformasi Operating System Software, Billing Software System (OSS/BSS).
“Operasi dan sistem pendukung bisnis (OSS/BSS) adalah kunci dari bisnis yang sukses mendukung operasi penyedia layanan sebagai  suatu badan usaha,” ungkapnya   di Jakarta, belum lama ini.
Menurutnya, sistem OSS/BSS mampu  menurunkan biaya dan menjaga efisiensi operasional, serta mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan mengingat  permintaan konsumen kian  dinamis.
“Pasar sedang mengalami masa transisi dan penyedia jasa telah ber-transformasi menjadi organisasi yang berorientasi pada konsumen (customer-centric) dengan jaringan dan infrastruktur yang lebih handal,” katanya.
Dikatakannya, layanan berbasis konsumen yang dikenal dengan istilah “life changing services” saat ini sedang berkembang. Layanan tersebut  merupakan kombinasi dari kemampuan jaringan, konten, dan fitur perangkat pengguna untuk memenuhi  kebutuhan konsumen akan fitur-fitur pendukung kegiatan bisnis, sosial maupun pribadi
Berbenah
Chief Technology Officer Smrtfren Telecom Merza Fachys  mengungkapkan, telah menyelesaikan proyek BSS dan VAS dengan menggandeng penyedia solusi dari China, ZTE.
“Selesainya proyek BSS dan VAS ini menjadikan Smartfren lebih kompetitif di pasar karena dalam membuat satu produk, masa masuk ke pasarnya (time to market) menjadi lebih cepat, dari biasanya 3-6 bulan dipangkas menjadi 1-3 minggu,” jelasnya.
Menurutnya, BSS dan VAS bagi operator yang memiliki sekitar 7 juta pelanggan ini adalah otak dari jaringan untuk memberikan layanan yang variatif bagi pelanggannya.
“Indonesia adalah negeri prabayar dimana sistem penagihan harus dilakukan secara akurat. BSS dan VAS terbaru yang mengkonvergensikan dua sistem milik Mobile-8 dan Smart Telecom ini akan mempercepat  peluncuran lebih dari sepuluh layanan VAS Smartfren ke pasar Indonesia,” ungkapnya.
Diharapkannya, adanya solusi baru yang memiliki kapasitas melayani 25 juta pelanggan ini bisa membantu perseroan untuk mencapai 10 juta pelanggan pada akhir tahun nanti dan meningkatkan Average Revenue Per User (ARPU) yang masih di kisaran 23 ribu rupiah.
“Sistem pembayaran dari perangkat ini melihat produktivitas dari setiap pelanggan Smartfren. Dari situ, sekitar di bawah lima persen akan dipotong untuk membayar ZTE. Sistem seperti ini kami gunakan untuk mengakali keadaan keuangan yang tidak memberatkan perseroan, karena itu kami butuh ARPU yang lebih tinggi,” jelasnya.
Operator lainnya yang juga membenahi BSS-nya adalah penguasa seluler dengan 100  juta pelanggan, Telkomsel. Operator ini memilih perangkat dari Amdocs  senilai 1,2  triliun rupiah  untuk OSS/BSS dan CRM  bernilai sekitar  1,8 triliun rupiah yang baru saja selesai tendernya.
Telkomsel memilih kerjasama dengan pola  Turn Key Principal  dengan mitranya  dimana perusahaan menerima hasil kerja dalam bentuk yang sudah siap pakai.   Bentuk kerjasama ini diyakini Telkomsel lebih memudahkan, karena pekerjaan lebih cepat diselesaikan dengan sumber daya yang sesuai dengan keperluan pekerjaan.
“Migrasi BSS merupakan salah satu upaya yang dilakukan Telkomsel untuk meningkatkan kualitas jaringan dan layanan kepada seluruh pelanggan dan masyarakat Indonesia. Tidak ada kendala yang terjadi, namun proses upgrade memerlukan waktu karena compability system dari yang lama ke yang baru. Setelah selesainya upgrade system, layanan menjadi lebih berkualitas,” jelas GM Corporate Comunication Telkomsel Ricardo Indra.
Menurutnya,  tidak terdapat perbedaan time to market produk kepada pelanggan, karena tidak ada korelasi langsung antara BBS dengan persiapan time to market suatu produk. “BSS merupakan elemen infrastruktur dasar, yang terpisah dari rancangan program            pemasaran,” jelasnya.
Direktur Jaringan XL Axiata Dian Siswarini mengungkapkan, perseroan telah meng-upgrade BSS-nya kala memiliki 25 juta pelanggan. Saat ini XL memiliki sekitar 40.5 juta pelanggan. “Kami melakukan migrasi sekitar 6-12 bulan. Ini sangat membantu dalam menawarkan program pemasaran yang personalisasi dan micro segmentasi karena jika  BSS-nya canggih, bisa meng-assess business performance dengan lebih cepat (real time) dan lebih granular,” jelasnya.
Pada kesempatan lain, Praktisi Telematika Raherman Rahanan mengatakan, memodernisasi OSS/BSS mutlak dilakukan oleh operator agar bisa memiliki daya saing. “Tetapi harus dilihat dulu, dalam modernisasi itu  mengandung Service Creation Envitonment (SCE) atau tidak. Jika ada, itu bisa membuat time to market satu produk menjadi lebih cepat,” jelasnya.
Diungkapkannya, tren dari operator di dunia dalam modernisasi OSS/BSS menggunakan model bisnis  Manage Service karena bias dihitung cash flow-nya. Konsep ini membuka peluang penyedia perangkat membangun jaringan, optimisasi dan mengoperasikan. Sedangkan pembayaran dengan pola bagi hasil, bisa dari sisi ARPU atau setiap jasa yang digunakan oleh pelanggan.
Sisi negatif dari model ini adalah operator bisa saja memiliki Total Customer Ownership (TCO) yang mahal di masa depan karena untuk setiap penambahan fitur dikenakan charge yang mahal. Sedangkan konsep   Turn Key Principal bisanya digunakan oleh operator yang baru implementasi BSS. Jika operator sudah memiliki BSS sebelumnya, pastilah vendornya dari merek yang sama. Sedangkan untuk solusi yang tidak dimiliki akan   di sub kontrak
“Biasanya rata-rata satu proyek modernisasi BSS itu memakan waktu 6 bulan. Paling lama di tahap migrasi online charging system (OCS) untuk integrasi tagihan prabayar. Sementara untuk konvergensi perangkat  yang lama di proses bisnisnya karena tahapan pengambilan keputusan di satu organisasi berbeda-beda,” jelasnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s