280611 Inovasi Teknologi: Telkom Sigma Bangun Data Center. Menggarap Bisnis Data Center

 

Penetrasi Internet di Indonesia yang kian tinggi  dengan akses yang makin cepat membuat bisnis penyimpanan data (Data Center)  makin menjanjikan di masa depan.
Data Center merupakan tempat meletakkan perangkat server (tempat berjalannya aplikasi) dan perangkat jaringan lainnya. Sebelumnya, infrastruktur ini biasanya lekat dengan dunia perbankan atau keuangan untuk menyimpan data base dari pelanggan dan transaksinya.
Tetapi, di era internet saat ini keberadaan data center di setiap simpul yang padat pengakses Internet semakin diperlukan demi kecepatan layanan berbagai informasi mulai dari permainan (games online), hiburan, berita dan pendidikan.
Semakin banyaknya aplikasi berbasis Internet Protocol (IP) kebutuhan akan data center multimedia untuk melayani aplikasi teks, suara, gambar/foto dan video menjadi semakin meningkat.
Menurut lembaga riset Frost & Sullivan  nilai pasar data center di Indonesia tahun 2010 diperkirakan mencapai  146,5 juta dollar AS. Lembaga riset Sharing Vision memprediksi Coumpound Annual Growth Rate (CAGR) bisnis ini sebesar  20 persen dengan nilai pasar pada tahun ini sekitar  1,1 triliun rupiah.
Bagi merek multinasional yang melihat pengakses Internet Indonesia sebagai pasar tentu memerlukan data center di Indonesia yang dekat dengan pengaksesnya. Pada skala regional, tumbuhnya berbagai data center di masing-masing daerah sebenarnya juga menjadikan perputaran uang bisnis digital kategori ini tidak perlu “lari” keluar daerah atau ke luar negeri.
Presiden Direktur Telkom Sigma Rizkan Chandra mengungkapkan, telah mempersiapkan data center seluas 15 ribu meter  dengan investasi  400 miliar rupiah untuk mengembangkan lini bisnis berbasis cloud computing di Indonesia.
Pembangunan ini melengkapi dua data center sebelumnya yang telah dibangun di Surabaya dan Serpong. Data center adalah kontributor utama pendapatan Telkom Sigma, besarannya mencapai 60 persen. “Kami tidak hanya menyasar perusahaan dalam negeri, namun juga raksasa internet dunia  seperti Google dan Research in Motion (RIM),” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.
Dijelaskannya, ekspansifnya perseroan di pasar cloud computing untuk mendukung target omset pada tahun ini meraih angka 600 miliar rupiah. Telkom Sigma sendiri menargetkan pertumbuhan pendapatan 16 persen  tahun ini melalui ekspansi di luar pasar keuangan dan perbankan. Pada tahun lalu, anak usaha Telkom ini  berhasil meraih omset sebesar  500 miliar rupiah atau tumbuh 25 persen  dibandingkan 2009 sebesar  400 miliar rupiah.
“Kami sudah berbicara cukup jauh dengan Google, sejauh ini progress-nya baik. Kalau kami sudah bisa memenuhi kebutuhan sampai level tier-4-nya Google, maka kebutuhan lain seperti untuk RIM dengan BlackBerry tak ada masalah lagi,” ungkapnya.
Selanjutnya diungkapkan, selain dari pemain global, perseroan juga membidik  small medium business (SMB) dengan omset  100 miliar rupiah dari total pasar ini sebesar 108 miliar rupiah.
Diungkapkannya, kebanyakan pengguna cloud computing adalah dari segmen korporasi yang membutuhkan infrastruktur dan aplikasi teknologi informasi tanpa mesti menginvestasikan dana yang besar dengan tingkat keamanan yang tinggi.
Saat ini, pelanggan cloud computing terbesar dari Telkom Sigma adalah datang dari perbankan, yaitu Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di seluruh Indonesia. “Untuk perbankan yang lain, terutama yang besar, mungkin akan menggunakan cloud computing dari sisi pemasarannya saja, bukan pada corebanking-nya,” jelasnya.
Dijelaskannya,  cloud computing pada dasarnya terdiri dari data center, aplikasi, infrastruktur TI, dan jaringan. Dari sisi datacenter, Telkom Sigma sudah memiliki sumber daya tersebut sejak 1980-an, sedangkan dari sisi jaringan, perusahaan tersebut jelas mengandalkan jaringan milik induk usahanya, yaitu Telkom grup.
Layanan cloud computing yang diselenggarakan Telkom Sigma saat ini merupakan pengembangan model yang sebenarnya sudah dilakukan sejak awal 2000 melalui Information Technology (IT) Managed Services yang meliputi IT Operation, Management Services, Data Recovery Services, dan Data Center Infrastructure yang telah   digunakan oleh lebih dari 60 perusahaan dari berbagai industri.
Salah satu model bisnis yang dibangun dan dikembangkan oleh Telkom Sigma adalah layanan  Infrastructure as a Services (IaaS). IaaS dari Telkom Sigma bukan hanya sebagai penyedia server dan storage saja tapi juga dilengkapi dengan penyediaan struktur dan infrastruktur  yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu sistem dan diperkuat oleh jaringan komunikasi yang di dukung oleh induk usaha, Telkom.
Layanan ini akan meminimalisir investasi penyediaan sarana penyimpanan data ataupun menjalankan suatu aplikasi berupa mesin atau server. Perusahaan cukup membayar biaya sewa sesuai dengan ruang yang dibutuhkan beserta infrastruktur agar suatu aplikasi dapat dijalankan.
Telkom Sigma sejak 2009 juga telah menghadirkan layanan SATU yang merupakan aplikasi online banking yang dikolaborasikan dengan infrastruktur Teknologi Informasi (TI) yang menggunakan model bisnis SaaS (Software as a Service) khusus untuk BPR, koperasi dan BMT. Sebagai pengguna SATU , mereka tidak perlu melakukan investasi penyediaan infrastruktur berupa server, lisensi aplikasi, jaringan komunikasi, data center, serta operator yang akan melaksanakan proses end of day.
Model bisnis ini memungkinkan mereka hanya membayar biaya bulanan. Sehingga bank yang telah tergabung kedalam anggota Komunitas SATU, dapat melakukan operasi transaksi perbankannya tanpa harus dipusingkan memikirkan hal-hal terkait infrastruktur TI.
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengatakan bisnis yang dijalankan  Telkom Sigma   merupakan wujud implementasi dari transformasi bisnis ke Telecommunication, Information, Media, and Edutainment (TIME).
“Telkom Sigma adalah wujud bermain di bisnis Information. Jangan hanya melihat dari sisi omset yang dihasilkan Telkom Sigma, tetapi bagaimana dari aplikasi yang dihasilkan membuat utilisasi jaringan bisnis telekomunikasi terus terokupansi,” jelasnya.
Praktisi Telematika Andreas Surya mengingatkan, dalam menggaet pemain global, penyedia data center lokal jangan hanya terpukau dengan kesediaan menggunakan  infrastruktur miliknya sebatas co-location.
”Jika hanya  hosting (co-location, physical) tidak banyak nilainya.  Nilai yang besar itu jika ada kerjasama pengembangan  seperti mengelola data center hingga level aplikasi. Potensi paling besar memang ada di   dunia perbankan terutama bank-bank asing yang beroperasi di Indonesia, karena sesuai regulasi, data center-nya harus di negeri ini,” katanya.[dni]

280611 Tidak Mudah Menggoda Pemain Global

 

Indonesia boleh saja memiliki segudang regulasi untuk memaksa pemain global menghadirkan pusat data (Data Center) di negeri ini. Namun, pada praktiknya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Masih ingat kasus di awal tahun ini antara Kementrian Komunikasi Informatika (Kemenkominfo) dengan Research In Motion (RIM) terkait permintaan pembangunan server di negeri ini? Walau sudah “ditakuti” dengan UU 36/1999 (Telekomunikasi) dan UU 11/2008 (ITE) yang bertujuan data dari pelanggan harus dilindungi dan data center wajib ada di Indonesia, hingga saat ini RIM tak jua bergeming.
Di sektor perbankan juga ada beleid   IT Business Continuity Plan (IT BCP)  berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI)  No. 9/15/PBI/2007  tentang Penerapan Manajemen Risiko dalam Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum. Adanya  IT BCP seharusnya  membuat  jasa  Disaster Recovery Center (DRC) dari perusahaan alih daya menjadi makin laris. Namun, bagaimana kenyataannya? Bank-bank asing masih setia menempatkan data center-nya di Singapura atau negara asalnya.
Direktur Teknologi Informasi Telkom    Indra Utoyo menjelaskan hal yang diperhatikan kala satu perusahaan memutuskan menggunakan data center dari pihak ketiga dilihat dari sisi biaya, fleksibilitas, keamanan, dan reliability.
“Pemain global itu jika ingin menggunakan data center lokal meminta persyaratan sekelas Tier-4 atau yang paling atas. Di Indonesia itu ada kendala pasokan listrik yang harus diatasi dengan cara inovatif.  Telkom dalam mendukung bisnis Telkom Sigma sudah mulai bicara dengan PLN dan PGN,” katanya di Jakarta, Senin (27/6).
Menurutnya, secara  secara regional saingan dari pemain lokal adalah penyedia data center dari Singapura dan Malaysia yang tidak memiliki masalah dengan pasokan listrik.
Pernyataan dari Indra ini diperkuat oleh data riset dari Lembaga konsultan  Frost & Sullivan yang mengungkapkan pemain besar data center di kawasan regional adalah Jepang, Australia, Singapura, Hong Kong dan diikuti oleh Cina, India dan Malaysia.  Jepang adalah negara terbesar dengan   memiliki nilai pasar  5.7 miliar dollar AS pada 2009.
Kebanyakan pertumbuhan di banyak negara ini dipicu oleh kuatnya permintaan domestik, dan didukung oleh para pembuat kebijakan melalui e-governance dan e-readiness. Di Asia, data center cenderung berpusat di kota-kota dengan biaya hidup tinggi, seperti Tokyo, Hong Kong, Singapura, Shanghai dan Sydney.
Menurut lembaga tersebut,  layanan  data center merupakan bisnis besar yang sedang berkembang dan merupakan salah satu bisnis yang bertahan dari resesi. Hal ini karena  sebanyak 2/5 dari total konsumsi energi suatu perusahaan dihabiskan untuk keperluan data center, dan hal tersebut membuat biaya pemeliharaan data center menjadi sangat mahal.
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah meminta pemerintah untuk konsisten  meminta keberadaan data center di Indonesia bagi perusahaan yang beroperasi di negeri ini untuk  menjaga keamanan dan pertahanan negara   sehingga data-data penting yang  bersifat rahasia mudah untuk dikelola keamanan dan kerahasiaanya.
Praktisi Telematika Mochammad James Falahuddin mengakui untuk pemain global jika memiliki server di Indonesia akan membuat akses lebih cepat  yang berdampak kepada kenyamanan bagi pelanggan dan membuka  peluang pengembangan produk atau konten diatas platform-nya   dengan citarasa lokal. Sedangkan dari sisi operator akan menghemat bandwitdh ke luar negeri.
Sementara Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menegaskan, Indonesia membutuhkan Grid Server agar terjadi perimbangan trafik antara keluar dan dalam negeri.  Grid server semacam pusat server untuk semua hal, baik data center, content center, atau data perusahaan.
“Singapura dan Malaysia sudah membangun Grid Server dengan dukungan serat optik nasionalnya. Kedua perusahaan ini berambisi menjadi tempat berkumpulnya data (hub) regional. Indonesia sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara harusnya tidak boleh ketinggalan,” katanya
Menurutnya, jika negeri ini memiliki infrastruktur tersebut maka operator dari luar negeri akan lebih tertarik untuk bekerjasama dengan Indonesia karena semua informasi bisa diakses melalui Grid Server. “Investor dari luar negeri itu butuh banyak informasi tentang Indonesia mulai  seni budaya,  pariwisata, national digital library, dan lainnya. Ini tentu membuat  trafik akses dari luar negeri menigkat sehingga ada devisa yang masuk,” katanya.
Masih menurutnya, investasi   membangun  Grid Server tidaklah mahal karena bisa dicicil server farm-nya. “Sayangnya banyak pemimpin operator belum tertarik dengan bisnis ini. Jika diserahkan ke vendor server, mereka tidak mau karena inginnya manage data saja Padahal ini adalah bisnis masa depan,” ketusnya.[dni]

280611 Operator TV Berlangganan Perkuat Layanan

JAKARTA—Dua operator TV berlangganan memperkuat layanannya agar pelanggan semakin menikmati siaran yang dipancarkannya melalui kabel. Kedua operator itu adalah Telkom Vision yang memiliki 300 ribu pelanggan dan First Media dengan 360 ribu pelanggan.
Direktur Utama Telkom Vision Elvizar KH mengungkapkan baru saja menunjuk  Ericsson untuk menyediakan solusi yang bisa menghadirkan layanan  dari saluran baru berteknologi High Definition (HD).
“Kami baru saja memilih sistem kompresi Video Processor Chassis (VPC), EN8130 MPEG 4 AVC encoders dan MX8400 multiplexers dari Ericsson yang memungkinkan diberikan 36 saluran baru untuk meningkatkan kualitas layanan bagi pelanggan,” katanya di Jakarta, Senin (27/6).
Sementara itu, Division Head Content & Programing First Media, Ario B. Widyatmiko
 First Media  mengungkapkan, bersama HBO Asia menggelar pelatihan berkala bagi jajaran karyawannya   yang terkait dengan acuan tayangan andalan yang dapat dinikmati oleh pelanggan dalam beberapa waktu kedepan.
“Pelatihan tengah tahun  ini untuk memberikan informasi terkini mengenai program-program HBO Asia, sehingga tim First Media akan selalu memiliki pengetahuan yang baik dan cekatan dalam menjawab setiap pertanyaan pelanggan sehubungan dengan program yang disediakan oleh First Media,” katanya.
First Media merupakan penyedia televisi kabel pertama di Asia yang menghadirkan tayangan HBO HITS HD dan yang pertama pertama pula menghadirkan saluran televisi ini di Indonesia. Teknologi HomeCable  HD dari First Media ini dapat digunakan di perangkat Sony seperti Internet TV dan HD TV .
“First Media akan terus memperkuat layanan HD demi kepuasan konsumen, baik dalam hal teknologi maupun konten,” kata Ario.[dni]

280611 Qtel Bidik Masuk 20 Besar Dunia

 

JAKARTA— Induk perusahaan Indosat, Qatar Telecom (Qtel), berambisi untuk masuk dalam 20 besar perusahaan telekomunikasi di dunia pada tahun 2020 dengan perluasan daerah operasi di Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Tenggara.
“Kami akan tetap agresif untuk menuju visi yang ditetapkan di masa depan tersebut. Peningkatan organisasi bagi setiap anak usaha akan dilakukan, seperti yang terjadi di Indosat karena kami memiliki 65 persen sahamnya,” ungkap   Executive Director of Group Communication Qtel Adel al-Mutawa, di Jakarta, Senin (27/6).
Dijelaskannya, bagi Qtel ketika sudah memutuskan untuk berinvestasi di satu negara maka itu merupakan komitmen jangka panjang. Hal itu ditunjukkan dengan terus  memperbaiki kinerja anak usaha dan membantu negara yang menjadi sasaran investasi sebagai bentuk dukungan yang berkelanjutan.
“Kami di Indonesia tidak hanya berinvestasi, tetapi juga membantu bangsa Indonesia ketika menghadapi bencana alam. Aksi sosial terbaru dari Qtel adalah   membangun Qtel Village untuk masyarakat korban gunung merapi dengan menyediakan sekitar 100 rumah layak tinggal yang memakan investasi sejauh ini sebesar 1 juta dollar AS,” katanya.
Diungkapkannya, pada pembangunan tahap pertama ini, Qtel membangun komplek perumahan yang terdiri dari 56 rumah, satu buah sumur artesis dan masjid berkapasitas 240 jamaah, beserta infrastruktur seperti jalan raya, fasilitas kesehatan dan taman bermain anak-anak. Proyek ini dibangun di tanah seluas 7450 M2 yang dibeli langsung oleh Qtel. Program ini akan berlangsung dalam enam tahap yang didistribusikan setiap bulannya selama bulan Mei hingga Oktober, waktu selesainya pembangunan rumah.
Komisaris Indosat Rakhmat Gobel mengatakan, langkah dari Qtel untuk berinvestasi di Indonesia harus diapresiasi oleh semua pihak dengan memberikan dukungan yang nyata berupa kenyamanan berusaha. “Kita harus manfaatkan investor asing yang masuk untuk mengembangkan potensi lokal, baik itu sumber daya alam atau manusianya. Investor asing ini kita harapkan bisa membantu alih teknologi agar bangsa ini semakin maju,” katanya.
Berdasarkan catatan, dengan memiliki  65 persen  saham  Indosat sejak tiga tahun lalu, operator nomor dua terbesar di Indonesia ini dari sisi pelanggan seluler telah memberikan   kontribusi pendapatan  bagi Qtel  Group sebesar 30,08 persen.[dni]

280611 Lintasarta Garap Bisnis Contact Center

JAKARTA— PT Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) mulai menggarap bisnis Contact Center untuk segmen perusahaan distribusi dalam melayani supplier maupun end user-nya dengan paradigma Unified Contact Center yang mengintegrasikan semua komponen penting teknologi komunikasi ke dalam satu sistem.

“Hingga  saat ini, pelanggan Lintasarta di industri distributor telah mencapai lebih dari 250 pelanggan. Adanya solusi ini ditargetkan akan terus bertambah,” ungkap Senior Vice President Corporate Sales Lintasarta Herry Waldi Wilmar di Jakarta, Senin (27/6).

Dijelaskannya, Contact Center yang dikembangkannya juga mampu berperan sebagai Customer Relationship Management dengan pengembangan mini CRM yang dapat disediakan oleh Lintasarta, sehingga agent dapat mengakses informasi CRM yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan secara cepat.
“Salah satu diferensiasi untuk produk ini karena, Lintasarta adalah pelopor  hosted Contact Center yang mengubah  model bisnis  dan cara pembiayaan di pelanggan yang tadinya sebagai investasi berubah menjadi utility,” jelasnya.

Sementara itu, anak usaha Lintasarta,  Lintas Media Danawa (LMD), semakin serius  menggeluti  cloud computing di Indonesia. Setelah bulan lalu meluncurkan layanan on demand cloud server, Cozy,  LMD meluncurkan cloud software as a service, yaitu aplikasi ERP dan CRM dengan menggandeng Netsuite Inc.

“Model bisnis ini  akan membuat biaya pengoperasian aplikasi ERP  turun hingga 50 persen dan perusahaan juga tidak perlu mengeluarkan belanja modal yang besar di awal, di mana tentunya ini akan mengurangi resiko bagi perusahaan,” kata Direktur Utama LMD Arief R. Yulianto.

Arief  mengungkapkan, sejak diluncurkan Mei lalu Cozy digunakan 54 pengguna eksisting dan 180 pengguna trial. “Kami menargetkan pengguna Cozy mencapai 300 perusahaan nantinya.,” katanya.

Lintasarta saat ini memiliki 250 pelanggan dari industri perdagangan dan distribusi. Hingga akhir tahun perusahaan menargetkan menambah jumlah pelanggan hingga seribu perusahaan. LMD yang menawarkan solusi cloud computing akan dijadikan andalan.[dni]

270611 AP I Akan Kembangkan 8 Bandara

JAKARTA—PT Angkasa Pura I (Persero) berencana akan mengembangkan delapan bandara yang berada di bawah pengelolaannya untuk meningkatkan layanan bagi pengguna jasanya.

Delapan bandara itu adalah Bandara Sepinggan Balikpapan, Ngurah Rai Bali, Juanda Surabaya, Sultan Hasanuddin Makasar, Adi Sucipto Yogyakarta, Adi Sumarmo Semarang, Ahmad Yani Semarang.

“Kami baru saja memperoleh komitmen pinjaman sebesar
5 triliun rupiah dari Bank Mandiri. Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan delapan bandara selama empat tahun ke depan,” ungkap Direktur Utama Angkasa Pura I Tommy Soetomo di Jakarta, akhir pekan lalu.

Diperkirakannya, dana pinjaman itu
kemungkinan besar akan cair pada kuartal I 2012. Adanya fasilitas pinjaman tersebut, bisa menutup kekurangan belanja modal perseroan.

Saat ini, belanja modal perseroan yang berasal dari kas internal untuk pengembangan bandara hanya 2,6 triliun rupiah, dimana
Sebagian telah digunakan untuk mengembangkan bandara Sepinggan dan Ngurah Rai.

Diungkapkannya, Angkasa Pura I membutuhkan 1,50 triliun rupiah
untuk mengembangkan terminal dan fasilitas penunjang Bandara Sepinggan, Balikpapan dari kapasitas 1,05 juta penumpang per tahun menjadi 10 juta penumpang per tahun (1 juta penumpang terminal internasional dan 9 juta penumpang terminal domestik).

Sepinggan perlu dikembangkan karena jumlah penumpang yang melalui bandara tersebut sudah melebihi kapasitas, pada 2010 bandara tersebut melayani 5,10 juta penumpang. Perkiraan kebutuhan dana untuk mengembangkan Sepinggan mencapai 1,57 triliun rupiah.

Perseroan akan membiayai pembangunan Sepinggan menggunakan kas internal serta pinjaman dari bank. Pada 2011 ini, alokasi untuk Sepinggan sebesar
250 miliar rupiah dari total belanja modal yang disiapkan.

Dana sebesar 250 miliar rupiah diambil dari anggaran tahun ini sementara pengembangan Sepinggan dibiayai secara tahun jamak sampai 2013, jadi sisanya akan dikeluarkan tahun berikutnya

Sebagian besar belanja modal lainnya dialokasikan untuk membiayai pengembangan Ngurah Rai Denpasar 1,77 triliun rupiah dan terminal 2 Juanda Surabaya 400 miliar rupiah.

Lebih lanjut diungkapkan, saat ini Angkasa Pura I juga sedang fokus untuk mengembangkan 13 anak usaha yang mengurus bisnis hotel transit, properti dan realty. Targetnya kuartal III sudah beroperasi karena harus ada pengesahan ke Menteri BUMN.

Perseroan mengalokasikan dana sebesar 100 miliar rupiah yang berasal dari kas internal. Sementara sepuluh anak usaha lain diantaranya akan bergerak di bidang kargo dan logistik, periklanan, jet fuel, perparkiran, aviation training, keamanan, lounges, event organizing, ritel bandara dan tol bandara.

Untuk melengkapi proses pengembangan anak usahanya, perseroan bekerjasama dengan Accor Indonesia untuk menjadi operator dua hotel bandara yang ada di Makasar dan Surabaya. Dalam lima tahun, perseroan menargetkan mamapu memiliki 1.000 kamar dari seluruh hotel yang ada di bandara AP I.

Konstruksi akan dilakukan tahun ini dengan target dalam setahun akan selesai. Untuk tahap awal, perseroan mengalokasikan dana sebesar 50 miliar rupiah untuk dua hotel tersebut. Dua hotel tersebut berjenis budget hotel, dengan merek Formula 1.[dni]

270611 Tender Kali Baru Banjir Peminat

 

JAKARTA—Tender Kali Baru yang tengah dijalankan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) banjir peminat. Hal itu ditandai dengan adanya 15 perusahaan yang menyatakan minat mengikuti tender dalam proses prakualifikasi pada 15 Juni 2011.
“Sejak tender prakualifikasi dibuka, sudah 15 perusahaan yang menyatakan minatnya, 5 diantaranya perusahaan asing,” ungkap Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono di Jakarta akhir pekan lalu.
Diungkapkannya,  tender terbuka untuk umum asal memenuhi persyaratan peserta diantaranya berbadan hukum Indonesia dan memiliki izin badan usaha pelabuhan (BUP). Untuk asing bisa berupa badan usaha patungan sesama BUP, atau konsorsium antar sesama BUP dengan leading partner konsorsium adalah badan hukum Indonesia.
Persyaratan lainnya adalah memiliki pengalaman mengoperasikan terminal peti kemas dengan kapasitas minimal 1 juta TEUs per tahun selama 5 tahun terakhir di Indonesia atau di luar negeri. Atau memiliki jaringan angkutan peti kemas global termasuk Indonesia, Selat Malaka dan Asia minimum 1 juta TEUs selama 5 tahun terakhir serta didukung oleh perusahaan yang memiliki pengalaman dalam pembangunan fasilitas pelabuhan dan pengadaan peralatan pelabuhan.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan sudah memberikan kompensasi khusus kepada  Pelindo II berupa hak right match atau hak memberikan penawaran terhadap penawar terbaik. Pengelola perlabuhan Tanjung Priok ini mendapat kompensasi karena merupakan inisiator untuk proyek pengembangan pelabuhan tersibuk di Tanah Air itu.
“Dalam tender proyek wajar ada pemberian kompensasi kepada inisiator, karena kita menghargai apa yang sudah mereka lakukan untuk proyek tersebut. Calon peserta tender lainnya tidak akan terpengaruh,” jelas Bambang.
Wamenhub  menjelaskan, saat ini instansinya memberikan tiga pola kerja sama dengan pihak swasta untuk tiga proyek, yakni right to match untuk proyek Kalibaru Utara, kedua yakni untuk pembangungan Pelabuhan Tanah Ampo, pengerjaan bangunan sudah dilakukan pemerintah dengan dana dari APBN sedangkan tender untuk pengelolaan dan pengembangan. Pola ketiga yakni proyek Cilamaya yang murni kerjasama pemerintah dengan swasta.
Kawasan Kali Baru rencananya akan dikembangkan dalam tiga tahap. Tahap pertama menelan investasi sekitar 8,8 triliun rupiah, di mana 50 persen akan ditanggung oleh Jakarta International Cooperation Agency (JICA). Pengembangan tahap I ini diharapkan  memiliki kapasitas sekitar 1,9 juta teus dan selesai pembangunannya pada 2014.
Pelabuhan Kali Baru harus dikembangkan karena Pelabuhan Tanjung Priok terancam mengalami stagnasi dalam kurun tiga tahun mendatang. Sinyal stagnasi bisa dilihat dari pertumbuhan peti kemas internasional pada 2009-2010 sebesar 23 persen dan domestik 26 persen. Saat ini kapasitas Tanjung Priok sekitar 4 juta teus.[dni]