300611 Berbenah Setelah Akusisi


Salah satu aksi akusisi yang masih menjadi sorotan di industri telekomunikasi adalah dibelinya saham Singapore Technologies Telemedia (STT) oleh Qatar Telecom (Qtel) tiga tahun lalu senilai  1,8 miliar dollar AS di Indosat.
Banyak kalangan menilai setelah dibeli Qtel, Indosat justru menunjukkan kinerja yang tidak menggembirakan. Walaupun operator ini masih menjadi pemain kedua terbesar dari sisi pelanggan dengan   45,7 juta nomor sehingga menguasai 22,3 pangsa pasar, namun sejak diakusisi kinerja keuangganya terlihat suram.
Kinerja negatif dari laba bersih perseroan mulai terlihat pada 2008 dimana terbukukan 1,879 triliun rupiah, setelah itu pada 2009 anjlok 20,2 persen atau hanya sebesar 1,498 triliun rupiah, dan pada tahun lalu melorot 56,8 persen atau sebesar 647 miliar rupiah.
Performa bottom line  yang anjlok dalam tiga tahun belakangan dipicu oleh banyak hal seperti masa transisi  setelah akuisisi sehingga terjadi stagnasi. Selain itu ada juga karena kerugian selisih kurs, depresiasi, dan biaya bunga.
Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko menjelaskan, hasil transformasi yang dilakukan oleh perseroan mulai menunjukkan hasil dengan  lebih cepatnya dicapai target free cash flow positif pada akhir tahun lalu sebesar 868 miliar rupiah, setelah selalu dalam keadaan negatif.
Pada 2012 diharapkan nantinya laba Indosat sudah positif dengan pendapatan sekitar 21,7 triliun rupiah. Strategi untuk mencapai target tersebut adalah menyiapkan belanja modal sekitar 6,5 triliun rupiah dimana 80 persen dialokasikan untuk pengembangan jaringan. Indosat juga berencana melunasi utang dengan bunga tinggi maksimal senilai 1,87 triliun rupiah.
Restrukturisasi organisasi  yang dimulai sejak tahun lalu  juga  telah mendekati tahap akhir.  Penerapan model bisnis baru melalui pembentukan empat  Strategic Business Unit (SBU) yakni Wholesales, Enterprises, Consumer, dan Broadband diharapkan bisa membuat operator ini lebih fokus melayani pelanggan.
Direktur Wholesales and Enterprises Indosat Fadzri Sentosa mengungkapkan, hasil dari restrukturisasi dapat dilihat penawaran produk baru seperti Indosat Mobile dan Internet.
”Sebelumnya  broadband ritel dikelola oleh   anak  usaha, Indosat Mega Media (IM2), kami akan tarik itu agar terjadi efisiensi. IM2 sendiri yang kuat sebagai Penyedia Jasa Internet (PJI), kemungkinan bisa menggarap segmen UKM,” katanya.
Manajemen Indosat boleh saja melakukan transformasi  tetapi dalam implementasinya harus siap menghadapi sejumlah hambatan. Misalnya,  produk Indosat Mobile yang merupakan cikal bakal  menuju sigle brand. Indosat harus membenahi dulu Business Support System (BSS) dan Customer Relationship Management (CRM) agar bisa menawarkan program yang variatif.
Petinggi Indosat harus berani berinvestasi besar untuk perangkat kedua solusi tersebut dan data storage agar dalam mensegmentasi pelanggan tidak salah sasaran. Penarikan produk broadband dari IM2 juga akan menjadi api dalam sekam karena karyawan di anak usaha itu mulai resah mengingat adanya ancaman pemutusan hubungan kerja.
Masalah lain yang harus dibenahi oleh manajemen Indosat adalah menekan beban usaha per pelanggan yang tidak kompetitif diantara pemain besar. Pada kuartal I 2011, XL mempunyai beban usaha per pelanggan 52.475 rupiah, Telkomsel (Rp 74.979), dan Indosat (Rp 92.143). Sementara Average Revenue Per User (ARPU) Indosat yang terkecil diantara tiga besar yakni 28 ribu rupiah.
Ancaman lain adalah negative working capital yang bisa terjadi karena pembayaran hutang menggunakan kas internal. Negative Working Capital Indosat dengan pembayaran hutang menjadi 10,37 dari 4,45 triliun rupiah per kuartal 2011. Working Capital digunakan untuk mengukur kesehatan keuangan perusahaan dala jangka pendek yang artiya aktiva lancar perusahaan dapat membayari kewajiban lancar perusahaan.
Executive Director of Group Communication Qtel Adel al-Mutawa menolak berkomentar banyak mengenai rencana besar yang akan dilakukan di Indosat. Namun menurutnya, Qtel sebagai pemegang saham mayoritas  ingin terus mempertahankan kekuasaannya selama mungkin di Indosat.
Adel  tentu wajar menegaskan hal itu, mengingat dalam kondisi yang sempoyongan saja  Indosat   mampu memberikan kontribusi signifikan bagi omset Qtel grup  yakni sekitar  30,08 persen. Tentu, jumlahnya kian membengkak jika transformasi berhasil di kemudian hari. Kita lihat saja nanti.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s