300611 Akuisisi Penyedia Menara: Pemodal Besar Kian Dominan. Gairah Bisnis Penyewaan Menara

 

Hingga tutup semester I 2011, industri telekomunikasi tidak hanya dihebohkan oleh aksi para operator atau pengembang aplikasi. Bisnis penyediaan menara pun menunjukkan gairahnya untuk berekspansi.
Simak aksi dari pemain besar di sektor ini seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Pada minggu keempat Juni lalu, perusahaan yang  memiliki dan mengoperasikan lebih dari 3.370 site dengan lebih dari 5.085 penyewa itu mengakuisisi 100 persen kepemilikan saham PT Mitrayasa Sarana Informasi (Infratel).
Infratel memiliki 263 site menara dan 332 site shelter-only, dan melayani 672 tenants atau penyewaan secara keseluruhan. Sebanyak 92 persen dari total penyewa portofolio menara infrastel berasal dari empat operator telekomunikasi terbesar di Indonesia dan portofolionya memiliki rata-rata sisa masa perjanjian sewa di atas delapan tahun. Akuisisi ini diharapkan  dapat menambah pendapatan TBIG lebih dari 10 persen.
TBIG pada tahun lalu mencatatkan omset 671 miliar rupiah dengan 3.104 menara. Perseroan  menargetkan dapat memiliki 1.200 hingga 1.600 menara   pada akhir tahun nanti. Untuk mencapai target tersebut, di setiap kuartal perseroan menargetkan dapat membangun 300-400 menara.
 “Kami juga akan melanjutkan aksi akuisisi untuk mendukung pertumbuhan bisnis TBIG. Perusahaan yang akan dibidik memiliki  portofolio besar maupun kecil yang memenuhi kriteria risiko dan tingkat pengembalian investasi,” ungkap  Presiden Direktur yang juga Chief Operating Officer TBIG Herman Setya Budi di Jakarta, belum lama ini.
Pemain besar lainnya di sektor ini adalah  PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Melalui anak usahanya, PT Protelindo, Sarana Menara mengakuisisi 217 menara dari pembelian 1.000 menara milik operator  Hutchison CP Telecommunications (HCTP). Nantinya, HCPT akan menyewa kembali ke perusahaan ini dengan jangka waktu sewa selama 10 tahun.
Sebelumnya, Sarana Menara melalui Protelindo, sepakat membeli 1.000 menara  HCPT senilai 110 juta dollar AS atau sekitar 990 miliar rupiah. Bila berhasil, Sarana Menara akan memiliki 6.072 site dari 5.072 di akhir 2010.
Pasar Besar
Sekjen Asosiasi Pengembang Infrastuktur Menara Telekomunikasi (Aspimtel)  Peter Simanjuntak mengakui,  pasar penyewan menara   masih besar tahun ini karena diperkirakan ada 6 ribu BTS yang akan dibangun operator sehingga membutuhkan menara untuk penempatan. “Menurut riset, kebutuhan menara baru mencapai sekitar 3.000 unit per tahun,” jelasnya.
Diungkapkannya, saat ini jumlah menara telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia mencapai sekitar 54.200 unit yang menelan investasi 85 triliun rupiah. Investasi pembangunan menara rata-rata berkisar 1,5 miliar rupiah per menara, tergantung wilayah topografinya
Hingga 2012 nanti nilai bisnis sektor ini bisa mencapai  40 triliun rupiah. Biasanya rata-rata pendapatan dari bisnis sewa menara sekitar 171 juta rupiah per tahun per penyewa. Satu menara bisa disewa oleh beberapa penyewa dengan masing-masing kontrak sewa berjangka waktu 8-10 tahun sehingga pendapatan pelaku usaha di sektor ini  cenderung stabil.
Diungkapkannya, para penyedia menara dengan modal besar pun saat ini tengah membidik menara milik operator yang notabene adalah penguasa infrastruktur tersebut. Berdasarkan catatan, Telkomsel memiliki 18 ribu menara, Indosat (12 ribu menara)  sedangkan XL (10 ribu menara).
”Mengakuisisi lebih mudah dari sisi investasi bagi penyedia menara ketimbang membangun. Sayangnya, dalam proses jual beli menara yang melibatkan operator dengan penyedia menara terkesan tertutup sehingga mengapungkan aroma tak sedap,” sesalnya.
Menurutnya, operator menjual menara sebagai bagian dari meningkatkan pendapatan melalui saling menukar site dengan penyedia menara. Sementara pembangunan site baru diberikan penyedia menara untuk mengubah belanja modal menjadi biaya operasi.   ”Bagi penyedia menara hal ini menguntungkan karena meningkatkan asetnya dan   valuasi saham atau membuat perusahaannya kian seksi jika ingin masuk pasar modal,” katanya.
Masih menurutnya, seharusnya operator kala melepas menara miliknya memberikan  kesempatan bagi semua pemain untuk ikut serta. Caranya dengan memecah jumlah menara yang dilepas dan berbasis regionalisasi. Kontrol dari kualitas bisa dilakukan melalui Service Level Agreement (SLA) yang disepakati.
”Para penyedia menara dengan modal kecil bisa membuat konsorsium untuk ikut lelang tersebut. Perusahaan kecil ini memiliki menara dan tim operasi sendiri, sehingga secara manajemen organisasinya tidak terlalu sulit. Jika operator hanya melirik pemodal besar, dan tidak memberikan kesempatan pada yang kecil, kapan mereka akan besar,” keluhnya.
Masih Dikaji
Pada kesempatan lain, Direktur Wholesales & Enterprises Indosat Fadzri Sentosa mengungkapkan, masih mengaji penjualan menara milik perseroan. “Untuk penjualan menara   belum ada kesimpulan, karena kompleks dan terlalu luas. Kami tahu di luar telah ramai diperbincangkan masalah ini,” katanya.
Sebelumnya, Indosat santer diberitakan tengah berencana menjual sekitar 4 ribuan menara miliknya. Indosat sendiri dari bisnis penyewaan menara meraup omset  270 miliar rupiah akibat utilisasi aset.
Sementara Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E Marinto mengungkapkan, masalah akuisisi sekitar 10 ribu menara milik operator tersebut ke anak usaha Telkom lainnya, ke PT Daya Mitra Telekomunikasi (Mitratel), masih terkatung-katung.
“Soal akuisisi masih belum tuntas diskusinya dengan pemegang saham lainnya, SingTel. Sambil proses berjalan, kami jadikan Mitratel rekanan untuk mencarikan penyewa bagi menara milik Telkomsel.  Sebelumnya, dua ribu menara sudah disewakan  yang berkontribusi  2 persen bagi total  pendapatan Telkomsel  tahun lalu mencapai  45 triliun rupiah,” ungkapnya.
Direktur Jaringan XL Axiata Dian Siswarini mengungkapkan, dari bisnis penyewaan menara pada tahun lalu bisa meraup omset sekitar 850 miliar rupiah dan ditargetkan  naik menjadi satu triliun rupiah pada tahun ini. Hal ini karena jumlah menara yang disewakan meningkat dari   5200   menjadi 8.500 site. ”Kami juga terbuka jika ada yang mau membeli menara XL, tentunya harganya harus cocok dengan valuasi aset,” katanya.
Sedangkan Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengakui belum ada regulasi khusus untuk mengatur merger dan akuisisi di seluruh sektor telekomunikasi.
”Kami tengah mempersiapkannya karena ini akan menjadi penting ditengah arus konsolidasi yang kian kencang di semua sektor industri telekomunikasi. Kalau sekarang bagi kami, setelah adanya akuisisi untuk menara, masalah open access jangan diabaikan,” tegasnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s