280611 Tidak Mudah Menggoda Pemain Global

 

Indonesia boleh saja memiliki segudang regulasi untuk memaksa pemain global menghadirkan pusat data (Data Center) di negeri ini. Namun, pada praktiknya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Masih ingat kasus di awal tahun ini antara Kementrian Komunikasi Informatika (Kemenkominfo) dengan Research In Motion (RIM) terkait permintaan pembangunan server di negeri ini? Walau sudah “ditakuti” dengan UU 36/1999 (Telekomunikasi) dan UU 11/2008 (ITE) yang bertujuan data dari pelanggan harus dilindungi dan data center wajib ada di Indonesia, hingga saat ini RIM tak jua bergeming.
Di sektor perbankan juga ada beleid   IT Business Continuity Plan (IT BCP)  berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI)  No. 9/15/PBI/2007  tentang Penerapan Manajemen Risiko dalam Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum. Adanya  IT BCP seharusnya  membuat  jasa  Disaster Recovery Center (DRC) dari perusahaan alih daya menjadi makin laris. Namun, bagaimana kenyataannya? Bank-bank asing masih setia menempatkan data center-nya di Singapura atau negara asalnya.
Direktur Teknologi Informasi Telkom    Indra Utoyo menjelaskan hal yang diperhatikan kala satu perusahaan memutuskan menggunakan data center dari pihak ketiga dilihat dari sisi biaya, fleksibilitas, keamanan, dan reliability.
“Pemain global itu jika ingin menggunakan data center lokal meminta persyaratan sekelas Tier-4 atau yang paling atas. Di Indonesia itu ada kendala pasokan listrik yang harus diatasi dengan cara inovatif.  Telkom dalam mendukung bisnis Telkom Sigma sudah mulai bicara dengan PLN dan PGN,” katanya di Jakarta, Senin (27/6).
Menurutnya, secara  secara regional saingan dari pemain lokal adalah penyedia data center dari Singapura dan Malaysia yang tidak memiliki masalah dengan pasokan listrik.
Pernyataan dari Indra ini diperkuat oleh data riset dari Lembaga konsultan  Frost & Sullivan yang mengungkapkan pemain besar data center di kawasan regional adalah Jepang, Australia, Singapura, Hong Kong dan diikuti oleh Cina, India dan Malaysia.  Jepang adalah negara terbesar dengan   memiliki nilai pasar  5.7 miliar dollar AS pada 2009.
Kebanyakan pertumbuhan di banyak negara ini dipicu oleh kuatnya permintaan domestik, dan didukung oleh para pembuat kebijakan melalui e-governance dan e-readiness. Di Asia, data center cenderung berpusat di kota-kota dengan biaya hidup tinggi, seperti Tokyo, Hong Kong, Singapura, Shanghai dan Sydney.
Menurut lembaga tersebut,  layanan  data center merupakan bisnis besar yang sedang berkembang dan merupakan salah satu bisnis yang bertahan dari resesi. Hal ini karena  sebanyak 2/5 dari total konsumsi energi suatu perusahaan dihabiskan untuk keperluan data center, dan hal tersebut membuat biaya pemeliharaan data center menjadi sangat mahal.
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah meminta pemerintah untuk konsisten  meminta keberadaan data center di Indonesia bagi perusahaan yang beroperasi di negeri ini untuk  menjaga keamanan dan pertahanan negara   sehingga data-data penting yang  bersifat rahasia mudah untuk dikelola keamanan dan kerahasiaanya.
Praktisi Telematika Mochammad James Falahuddin mengakui untuk pemain global jika memiliki server di Indonesia akan membuat akses lebih cepat  yang berdampak kepada kenyamanan bagi pelanggan dan membuka  peluang pengembangan produk atau konten diatas platform-nya   dengan citarasa lokal. Sedangkan dari sisi operator akan menghemat bandwitdh ke luar negeri.
Sementara Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menegaskan, Indonesia membutuhkan Grid Server agar terjadi perimbangan trafik antara keluar dan dalam negeri.  Grid server semacam pusat server untuk semua hal, baik data center, content center, atau data perusahaan.
“Singapura dan Malaysia sudah membangun Grid Server dengan dukungan serat optik nasionalnya. Kedua perusahaan ini berambisi menjadi tempat berkumpulnya data (hub) regional. Indonesia sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara harusnya tidak boleh ketinggalan,” katanya
Menurutnya, jika negeri ini memiliki infrastruktur tersebut maka operator dari luar negeri akan lebih tertarik untuk bekerjasama dengan Indonesia karena semua informasi bisa diakses melalui Grid Server. “Investor dari luar negeri itu butuh banyak informasi tentang Indonesia mulai  seni budaya,  pariwisata, national digital library, dan lainnya. Ini tentu membuat  trafik akses dari luar negeri menigkat sehingga ada devisa yang masuk,” katanya.
Masih menurutnya, investasi   membangun  Grid Server tidaklah mahal karena bisa dicicil server farm-nya. “Sayangnya banyak pemimpin operator belum tertarik dengan bisnis ini. Jika diserahkan ke vendor server, mereka tidak mau karena inginnya manage data saja Padahal ini adalah bisnis masa depan,” ketusnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s