250611 Indosat Optimistis Raih Marjin EBITDA 48%

JAKARTA–PT Indosat Tbk (Indosat) optimistis mampu meraih marjin Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) sebesar 48 persen pada akhir tahun ini walaupun pada kuartal I lalu angka yang diraih hanya 45,6 persen.

“Kami optimistis marjin EBITDA pada akhir tahun nanti tetap di kisaran 48 persen seperti 2010. Sejumlah aksi korporasi terus dikaji jelang tutup kuartal II 2011 ini untuk merealisasikan target tersebut,” ungkap Direktur Utama Indosat
Harry Sasongko Tirtotjondro di Jakarta seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST, Jumaat (24/6).

Berdasarkan catatan, pada 2010 anak usaha Qatar Telecom (Qtel) tersebut mencatat EBITDA sebesar 9,625 triliun rupiah dengan marjin EBITDA 48,6 persen. Sedangkan pada kuartal I 2011 EBITDA perseroan  2.223,7 triliun rupiah  dengan  marjin EBITDA hanya  45,6 persen.

Indosat pada kuartal I 2011 mendapatkan 45,7 juta pelanggan dengan average revenue per user (ARPU) 28,8 ribu rupiah.

EBITDA merupakan salah satu faktor penting bagi pasar dalam melihat kinerja dan prospek suatu perusahaan, selain laba bersih.

Indikator EBITDA menggambarkan aliran kas operasional tanpa memperhitungkan beban non-operasional, sehingga bisa lebih memperlihatkan kinerja operasional perusahaan yang sesungguhnya.

Biaya bunga dan pajak merupakan beban non-operasional, sementara depresiasi dan amortisasi termasuk beban non-kas yang tidak mengeluarkan dana tunai.

Diungkapkannya, perseroan sudah menyiapkan belanja modal sebesar 5,8 hingga 6,5 triliun rupiah untuk merealisasikan target tersebut. Angka ini tak beda jauh dengan besaran tahun lalu sekitar 650 juta dollar AS.

“Belanja modal akan banyak digunakan untuk meneruskan langkah transformasi menuju laba yang positif,” katanya.

Seperti diketahui, Indosat memiliki target pada 2012 nanti  akan mencatat laba  positif setelah tiga tahun belakangan anjlok dalam kisaran dobel digit.

Tercatat, kinerja negatif dari laba bersih perseroan mulai terlihat pada 2008 dimana terbukukan 1,879 triliun rupiah, setelah itu pada 2009 anjlok 20,2 persen atau hanya sebesar 1,498 triliun rupiah, dan pada tahun lalu melorot 56,8 persen atau sebesar 647 miliar rupiah.

Kinerja laba bersih yang anjlok dalam tiga tahun belakangan dipicu oleh banyak hal seperti masa transisi perseroan setelah akuisisi dilakukan oleh QTel dalam periode 2008-2009 sehingga terjadi stagnasi. Selain itu ada juga karena kerugian selisih kurs, depresiasi, dan biaya bunga.

Saat ini dari  sisi keuangan Indosat sudah mulai menunjukkan kebangkitan seiring lebih cepatnya dicapai target free cash flow positif pada akhir tahun lalu.  Pada 2008 free cash flow emiten dengan kode ISAT ini berada di posisi negatif sebesar 3,773 triliun rupiah, pada 2009 mengalami penurunan 75,4 persen menjadi 6,619 triliun rupiah. Baru pada tahun lalu free cash flow pada posisi positif yaitu sebesar 868 miliar rupiah.

Hasil RUPST
Lebih lanjut Harry mengungkapkan, hasil RUPST menyetujui perubahan pada susunan direksi Indosat per  1 September 2011 nanti adalah direktur utama Harry Sasongko Tirtotjondro, direktur keuangan
Curt Stefan Carlsson, Direktur Jaringan Hans Christiaan Moritz, Direktur Wholesale & Enterprise Fadzri Sentosa, dan Direktur pemasaran Laszlo Imre Barta.

“Kami merasa susunan direksi dengan kekuatan lima orang ini sudah cukup sesuai dengan semangat efisiensi yang dicanangkan. Karena itu jabatan wakil direktur utama yang lowong sejak 2009 tidak akan diisi lagi,” katanya.

Harry menegaskan, walaupun dari susunan direksi didominasi oleh eksekutif asing, pemegang saham Indosat tetap memiliki komitmen untuk memberikan ruang bagi anak bangsa baik dari kalangan internal Indosat atau luar untuk berkiprah di operator itu asalkan memenuhi standar yang diinginkan.

“Saat ini Indosat dalam masa transformasi sehingga keahlian dari eksekutif asing masih dibutuhkan. Tetapi pemegang saham tidak melupakan potensi anak bangsa karena dengan menempatkan pada posisi sesuai kompetensinya secara prudent,” tegasnya.

Masih berkaitan dengan hasil RUPST, Harry mengungkapkan juga disetujui alokasi penggunaan laba bersih untuk modal kerja dan dividen sebesar 59,55 rupiah    per saham. [Dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s