250611 Garuda Gandeng Korean Air

JAKARTA–PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (Garuda) menggandeng Korean Airline Co., Ltd (Korean Air) untuk mengembangkan layanan frequent flyer program (FFP) sebagai bagian dari upaya untuk terus meningkatkan layanan kepada para pengguna jasanya.

Juru bicara Garuda Indonesia Pujobroto mengungkapkan, kerjasama pengembangan FFP berlaku efektif sejak 21 Juni 2011, dan melalui kerjasama tersebut pelanggan Garuda anggota Garuda Frequent Flyer (GFF) menikmati keuntungan tambahan yaitu perolehan reward berupa mileage GFF jika melakukan penerbangan dengan menggunakan Korean Air maupun penerbangan code share Garuda – Korean Air.

“Fitur baru program GFF ini melengkapi keuntungan utama keanggotaan GFF yaitu perolehan mileage GFF dari penerbangan dengan Garuda dan dari aktivitas lainnya pada layanan partner GFF seperti berbelanja menggunakan kartu kredit, menabung, menginap di hotel, membeli barang-barang di pesawat, maupun pembicaraan telepon,” katanya di Jakarta, Jumaat (24/6).

Diungkapkannya,  dengan terjalinnya kerjasama ini maka anggota GFF juga dapat menukarkan mileage GFF dengan penerbangan gratis di Korean Air, dengan hanya membayar biaya pajak, service fee dan asuransi.

Dengan demikian maka kini mileage GFF dapat ditukarkan dengan penerbangan di Garuda dan Korean Air serta barang-barang merchandise di pesawat.

Saat ini Korean Air memiliki lebih dari 130 rute baik domestik maupun international yang memungkinkan anggota GFF memperoleh atau menukarkan mileage GFF-nya.

Sebaliknya, hal yang sama berlaku pula bagi anggota FFP Korean Air, yaitu SkyPass. Anggota SkyPass dapat memperoleh mileage dari penerbangan dengan Garuda dan bisa pula menukarkan mileage pada penerbangan Garuda.

Dengan demikian, kerjasama ini akan menambah keuntungan baik bagi anggota GFF maupun bagi anggota SkyPass.

Menurutnya, kerjasama FFP Garuda-Korean Air merupakan salah satu langkah awal peningkatan layanan kepada pelanggan Garuda sebelum bergabungnya Garuda dalam salah satu aliansi penerbangan global di tahun 2012.

Pada saat bergabung nanti, keanggotaan GFF akan memiliki fitur yang sangat kompetitif, dimana anggotanya akan dapat memperoleh mileage dan menukarkan mileage pada seluruh penerbangan partner Garuda. Saat ini Garuda Frequent Flier (GFF) memiliki keanggotaan lebih dari 500.000 orang.[Dni]

250611 Indosat Optimistis Raih Marjin EBITDA 48%

JAKARTA–PT Indosat Tbk (Indosat) optimistis mampu meraih marjin Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) sebesar 48 persen pada akhir tahun ini walaupun pada kuartal I lalu angka yang diraih hanya 45,6 persen.

“Kami optimistis marjin EBITDA pada akhir tahun nanti tetap di kisaran 48 persen seperti 2010. Sejumlah aksi korporasi terus dikaji jelang tutup kuartal II 2011 ini untuk merealisasikan target tersebut,” ungkap Direktur Utama Indosat
Harry Sasongko Tirtotjondro di Jakarta seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST, Jumaat (24/6).

Berdasarkan catatan, pada 2010 anak usaha Qatar Telecom (Qtel) tersebut mencatat EBITDA sebesar 9,625 triliun rupiah dengan marjin EBITDA 48,6 persen. Sedangkan pada kuartal I 2011 EBITDA perseroan  2.223,7 triliun rupiah  dengan  marjin EBITDA hanya  45,6 persen.

Indosat pada kuartal I 2011 mendapatkan 45,7 juta pelanggan dengan average revenue per user (ARPU) 28,8 ribu rupiah.

EBITDA merupakan salah satu faktor penting bagi pasar dalam melihat kinerja dan prospek suatu perusahaan, selain laba bersih.

Indikator EBITDA menggambarkan aliran kas operasional tanpa memperhitungkan beban non-operasional, sehingga bisa lebih memperlihatkan kinerja operasional perusahaan yang sesungguhnya.

Biaya bunga dan pajak merupakan beban non-operasional, sementara depresiasi dan amortisasi termasuk beban non-kas yang tidak mengeluarkan dana tunai.

Diungkapkannya, perseroan sudah menyiapkan belanja modal sebesar 5,8 hingga 6,5 triliun rupiah untuk merealisasikan target tersebut. Angka ini tak beda jauh dengan besaran tahun lalu sekitar 650 juta dollar AS.

“Belanja modal akan banyak digunakan untuk meneruskan langkah transformasi menuju laba yang positif,” katanya.

Seperti diketahui, Indosat memiliki target pada 2012 nanti  akan mencatat laba  positif setelah tiga tahun belakangan anjlok dalam kisaran dobel digit.

Tercatat, kinerja negatif dari laba bersih perseroan mulai terlihat pada 2008 dimana terbukukan 1,879 triliun rupiah, setelah itu pada 2009 anjlok 20,2 persen atau hanya sebesar 1,498 triliun rupiah, dan pada tahun lalu melorot 56,8 persen atau sebesar 647 miliar rupiah.

Kinerja laba bersih yang anjlok dalam tiga tahun belakangan dipicu oleh banyak hal seperti masa transisi perseroan setelah akuisisi dilakukan oleh QTel dalam periode 2008-2009 sehingga terjadi stagnasi. Selain itu ada juga karena kerugian selisih kurs, depresiasi, dan biaya bunga.

Saat ini dari  sisi keuangan Indosat sudah mulai menunjukkan kebangkitan seiring lebih cepatnya dicapai target free cash flow positif pada akhir tahun lalu.  Pada 2008 free cash flow emiten dengan kode ISAT ini berada di posisi negatif sebesar 3,773 triliun rupiah, pada 2009 mengalami penurunan 75,4 persen menjadi 6,619 triliun rupiah. Baru pada tahun lalu free cash flow pada posisi positif yaitu sebesar 868 miliar rupiah.

Hasil RUPST
Lebih lanjut Harry mengungkapkan, hasil RUPST menyetujui perubahan pada susunan direksi Indosat per  1 September 2011 nanti adalah direktur utama Harry Sasongko Tirtotjondro, direktur keuangan
Curt Stefan Carlsson, Direktur Jaringan Hans Christiaan Moritz, Direktur Wholesale & Enterprise Fadzri Sentosa, dan Direktur pemasaran Laszlo Imre Barta.

“Kami merasa susunan direksi dengan kekuatan lima orang ini sudah cukup sesuai dengan semangat efisiensi yang dicanangkan. Karena itu jabatan wakil direktur utama yang lowong sejak 2009 tidak akan diisi lagi,” katanya.

Harry menegaskan, walaupun dari susunan direksi didominasi oleh eksekutif asing, pemegang saham Indosat tetap memiliki komitmen untuk memberikan ruang bagi anak bangsa baik dari kalangan internal Indosat atau luar untuk berkiprah di operator itu asalkan memenuhi standar yang diinginkan.

“Saat ini Indosat dalam masa transformasi sehingga keahlian dari eksekutif asing masih dibutuhkan. Tetapi pemegang saham tidak melupakan potensi anak bangsa karena dengan menempatkan pada posisi sesuai kompetensinya secara prudent,” tegasnya.

Masih berkaitan dengan hasil RUPST, Harry mengungkapkan juga disetujui alokasi penggunaan laba bersih untuk modal kerja dan dividen sebesar 59,55 rupiah    per saham. [Dni]