230611 Telkom Sigma Bidik Pemain Global

JAKARTA–Telkom melalui anak usahanya, Telkom Sigma, membidik pemain global di bisnis internet untuk meningkatkan pasar cloud computing miliknya.

“Kami telah  mempersiapkan data center dengan investasi  400 miliar rupiah untuk mengembangkan lini bisnis berbasis cloud computing di Indonesia. Sasaran dari bisnis ini bukan hanya perusahaan dalam negeri, namun juga raksasa internet dunia  seperti Google dan Research in Motion (RIM),” ungkap  Presiden Direktur Telkom Sigma Rizkan Chandra di Jakarta, Rabu (22/6).

Diungkapkannya, ekspansifnya perseroan di pasar cloud computing untuk mendukung target omset pada tahun ini meraih angka 600 miliar rupiah.

Telkom Sigma sendiri menargetkan pertumbuhan pendapatan 16 persen  tahun ini melalui ekspansi di luar pasar keuangan dan perbankan.

Pada tahun lalu, anak usaha Telkom ini  berhasil meraih omset sebesar  500 miliar rupiah atau tumbuh 25 persen  dibandingkan 2009 sebesar  400 miliar rupiah.

“Kami sudah berbicara cukup jauh dengan Google, sejauh ini progress-nya baik. Kalau kami sudah bisa memenuhi kebutuhan sampai level tier-4-nya Google, maka kebutuhan lain seperti untuk RIM dengan BlackBerry tak ada masalah lagi,” ungkapnya.

Selanjutnya diungkapkan, selain dari pemain global, perseroan juga membidik  small medium business (SMB) dengan omset  100 miliar rupiah dari total pasar ini sebesar 108 miliar rupiah.

Diungkapkannya, kebanyakan pengguna cloud computing adalah dari segmen korporasi yang membutuhkan infrastruktur dan aplikasi teknologi informasi tanpa mesti menginvestasikan dana yang besar dengan tingkat keamanan yang tinggi.

Saat ini, pelanggan cloud computing terbesar dari Telkom Sigma adalah datang dari perbankan, yaitu Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di seluruh Indonesia.

“Untuk perbankan yang lain, terutama yang besar, mungkin akan menggunakan cloud computing dari sisi pemasarannya saja, bukan pada corebanking-nya,” jelasnya.

Masih menurutnya,  cloud computing pada dasarnya terdiri dari datacenter, aplikasi, infrastruktur TI, dan jaringan. Dari sisi datacenter, Sigma sudah memiliki sumber daya tersebut sejak 1980-an, sedangkan dari sisi jaringan, perusahaan tersebut jelas mengandalkan jaringan milik induk usahanya, yaitu Telkom grup.

Layanan cloud computing yang diselenggarakan Telkom Sigma saat ini merupakan pengembangan model yang sebenarnya sudah dilakukan sejak awal 2000 melalui IT Managed Services yang meliputi IT Operation, Management Services, Data Recovery Services, dan Data Center Infrastructure.

Layanan tersebut digunakan oleh lebih dari 60 perusahaan dari berbagai industri dan sebagian besar berasal dari industri keuangan yang sangat mementingkan security terhadap pengelolaan data yang mereka miliki.

“Kami sangat diandalkan Grup Telkom untuk menggenjot dari sisi aplikasi teknologi informasi, terutama cloud computing di tengah penurunan layanan voice yang cukup signifikan,” tuturnya.

Saat ini pertumbuhan cloud computing luar biasa besarnya, bahkan sampai ribuan persen di Indonesia, mengingat industri, terutama UKM, sangat berminat dalam menjalankan usahanya menggunakan IT, tapi berinvestasi rendah.

Berbagai model bisnis yang ditawarkan, keuntungan pengguna jasa menggunakan cloud computing, antara lain  pola bisnis membayar bulanan atau sesuai kebutuhan, mengurangi risiko investasi teknologi informasi  karena menggunakan infrastruktur sesuai kapasitas yang diperlukan, mengubah belanja modal menjadi biaya operasional karena cara membayar dengan metode berlangganan, dan sebagian besar pemeliharaan akan diberikan kepada penyedia layanan sehingga pengguna tidak direpotkan dengan pekerjaan rutinitas operasional dan pemeliharaan.[Dni]

230611 Garuda Akan Operasikan 153 pesawat

JAKARTA–PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan mengoperasikan sebanyak 153 pesawat dalam mewujudkan program Quantum Leap yang dicanangkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar melalui keterangan tertulisnya mengungkapkan, saat ini perseroan  mengoperasikan 44 pesawat B-737-800 NG dan 12 A330-300/200 dari total 87 pesawat yang dimilikinya saat ini .

Diungkapkannya, pada  Selasa (21/6) kemarin, perseroan  menandatangani nota kesepahaman (MOU) pembelian 50 pesawat jenis A320 Family dengan Airbus Industrie.

Sesuai nota kesepahaman, Garuda Indonesia akan mendatangkan sebanyak 50 pesawat jenis A-320 yaitu 25 pesawat berupa firmed order dan sebanyak 25 pesawat berupa option.

Dua puluh lima pesawat firmed order tersebut terdiri dari 15 A-320 Standar dan 10 pesawat A-320 Neo, dan akan bergabung dalam armada Garuda Citilink secara bertahap mulai tahun 2014 hingga 2018, masing – masing sebanyak 5 pesawat setiap tahun.

Di pasar, harga satu unit pesawat jenis ini adalah 84,98 juta dollar AS per unit untuk 2011, naik dibandingkan harga 2010 yang sebesar  81,4 juta dollar AS  per unit.

Pesawat pesawat tersebut nantinya akan digunakan oleh unit bisnis Garuda Citilink yang bergerak di bidang layanan penerbangan low cost.

“Pesawat A-320 sangat cocok bagi penerbangan low cost karena kehandalan dan kenyamanannya, serta lebih efisien,” jelas  Emir

Dikatakannya, mulai tahun ini juga secara bertahap Garuda Citilink akan meremajakan pesawatnya. Hingga akhir tahun 2011 Garuda Citilink akan mengoperasikan 4 Airbus A320 dengan kapasitas tempat duduk 180 kursi dan akan melayani rute-rute padat di domesik maupun regional.

Saat ini Garuda Citilink mengoperasikan enam pesawat jenis B-737-300 dan 400 dan melayani dan menghubungkan delapan kota tujuan di Indonesia yaitu yaitu : Jakarta, Surabaya, Denpasar, Batam, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar dan Medan.

Selanjutnya Emirsyah mengatakan, sejalan dengan pengembangan dan modernisasi armada yang dilaksanakan, perseroan juga membeli dua flight simulator masing – masing satu simulator jenis A330-200 dan satu simulator jenis B-737-800 NG dari CAE. Dua simulator tersebut merupakan jenis CAE 7000 Level D dan CAE Tropos 6000.

Pembelian simulator tersebut dimaksudkan untuk mendukung operasional penerbangan Garuda Indonesia khususnya untuk melaksanakan training bagi para pilot Garuda Indonesia.

Urus SIUP
Pada kesempatan lain, Direktur Angkutan Udara Kemenhub Edward Alexander Silooy menyarankan Garuda Indonesia untuk segera melakukan pemisahan (spin off) secepatnya terhadap Citilink agar unit usaha itu bisa mandiri dan leluasa  melakukan pengembangan.

Pemisahan bisa dimulai dengan segera mengurus Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP). untuk Citilink. Tujuannya, agar anak usaha Garuda tersebutr benar-benar menjadi sebuah maskapai penerbangan yang mandiri dan mampu bersaing dengan maskapai penerbangan lain yang sejenis.

“Tidak ada masalah, kalau memang Garuda mau membesarkan Citilink, menambah pesawat dan mengembangkannya sebagai anak perusahaannya. Tapi sebaiknya sebelum menambah armada, SIUP-nya diurus dulu supaya benar-benar menjadi anak perusahaan yang mandiri,”kata Silooy.

Diungkapkannya,  sejauh ini, Citilink masih beroperasi dengan mendompleng SIUP Garuda Indonesia selaku induknya.

Padahal, Citilink memiliki lini bisnis yang berbeda, yakni melayani kelas penerbangan murah (minimum/no-frills), sedangkan Garuda Indonesia melayani kelas penerbangan maksimum (full services).[Dni]

230611 XL Inkubasi Kreator Melalui IBA

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) melakukan kegiatan inkubasi para kreator yang bergerak di industri kreatif dalam program  Indonesia Berprestasi  Award (IBA) 2011.

“Ada perbedaan dalam pelaksanaan program IBA tahun ini. Jika pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya kita mencari orang yang berprestasi untuk diberikan apresiasi, maka untuk tahun ini XL mencari warga Indonesia yang berprestasi untuk diberikan pembekalan materi, pengetahuan maupun keahlian untuk diinkubasi  sehingga bisa mendorong yang bersangkutan untuk bisa lebih mengembangkan prestasi yang sudah dimiliki tersebut,” ungkap Direktur Jaringan XL Axiata Dian Siswarini di Jakarta, Rabu (22/6).

Dijelaskannya, IBA 2011 terbuka bagi setiap warga negara Indonesia dengan ketentuan usia di bawah 40 tahun yang memiliki karya inovatif, menginspirasi, serta menawarkan solusi atas permasalahan sosial dan pembangunan.

Program ini terbuka untuk kandidat perorangan maupun kelompok yang terdiri dari 3 kategori, yaitu Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kewirausahaan Sosial, serta Seni dan Budaya. Pada setiap kategori akan dipilih satu orang yang akan menerima penghargaan IB Award 2011. Selain itu, XL juga akan menetapkan 1 kelompok peraih penghargaan. Dari semua peraih perorangan dan kelompok tersebut, juri akan memilih yang terbaik di antara mereka yang akan menjadi Best of The Best.

Pendaftaran dibuka hingga tanggal 31 Juli 2011. Setiap peraih penghargaan, XL akan memberikan dana insentif masing-masing sebesar 50 juta rupiah. Selain itu, XL juga memberikan trofi karya seniman Dolorosa, medali dan piagam penghargaan. Kepada masing-masing peraih IB Award, XL juga masih akan memberikan pembekalan berupa pelatihan dan pendampingan selama 3 bulan untuk mengimplementasikan program yang akan dijalankan peraih IB Award.

Sementara itu, untuk peraih Best of The Best (terbaik di antara 3 peraih perorangan dan 1 peraih kelompok cross category) akan mendapatkan dana insentif sebesar 100 juta rupiah.

IBA diselenggarakan kali pertama pada tahun 2007 yang lalu, dan selama ini telah berhasil menjaring beberapa anak bangsa yang telah berprestasi demi kemajuan bangsa.

Penghargaan IBA antara lain telah diberikan kepada  Masril Koto seorang petani di Agam yang mendirikan bank petani, Eko Suprianto penari kelas dunia yang tetap mengajarkan tari tradisional Indonesia kepada anak-anak, serta Alvin Leonardo siswa SMA yang menciptakan antivirus ampuh dan dipakai di seluruh dunia.[dni]

230611 Transformasi Indosat Dilanjutkan

JAKARTA—Manajemen Indosat diminta untuk melanjutkan transformasi yang tengah berlangsung sejak masuknya Qatar Telecom (Qtel) sebagai penguasa dengan memiliki 65 persen saham  operator itu tiga tahun lalu.

“Pergantian susunan direksi yang akan terjadi pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Jumat (24/6), diharapkan tidak mempengaruhi transformasi yang sedang berjalan di Indosat. Sekarang arah perusahaan sudah dalam jalur yang benar, masuknya darah baru di direksi harus memperkuat transformasi yang tengah terjadi,” tegas Ketua Serikat Pekerja Indosat Yoan Hardi di Jakarta, Rabu (22/6).

Diharapkannya, jika nanti akan ada pergantian personal di susunan direksi maka pemegang saham harus memprioritaskan kepada kalangan internal agar regenerasi pemimpin berjalan dengan baik. “Jangan lagi mengambil dari luar. Kalangan internal Indosat terbukti mampu bekerja dengan baik, jika tidak diberi kesempatan, sama saja kurang percaya pada kemampuan orang lokal,” tegasnya.

Head of Corporate Communication Indosat Djarot Handoko mengakui  agenda pergantian satu orang direksi dan komisaris merupakan isu hangat di sejumlah kalangan.”Kita mengetahui isu ini menarik semua kalangan. Bagi kami  ini menunjukkan kecintaan banyak orang kepada Indosat,” katanya.

Sebelumnya beredar informasi bahwa pergantian direksi di Indosat akan memasukkan mantan Wakil Direktur Utama Bidang Jaringan  Bakrie Telecom M. Danny Buldansyah sebagai Wakil Direktur Utama seiring bergabungnya pria itu dengan Qtel belum lama ini. Terdapat juga  kabar akan adanya pergantian direktur keuangan. Nama dari kalangan internal yang digadang-gadang untuk masuk kepada jajaran direksi adalah Chief Corporate Services SK Noor Devi.

Kinerja Indosat sendiri mulai menunjukkan sinyal positif sejak dilakukan efisiensi oleh manajemen yang ditunjuk Qtel tiga tahun lalu.  Pada kuartal I 2011 Indosat membukukan laba  bersih 453,9 miliar rupiah atau  meningkat 63,3 persen  dibandingkan periode yang sama  sebelumnya sebesar 278 miliar rupiah.  Omset yang diraup selama kuartal I 2011 sebesar 4,8778,8 triliun rupiah atau tumbuh 3 persen  dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai  4.877,8 triliun rupiah.[dni]

230611 Tata Ulang Industri Telekomunikasi

Sebuah kabar mengejutkan datang dari India. Regulator  di  negeri yang memiliki 800 juta pelanggan dengan jumlah 13 operator ini menyatakan tengah mempersiapkan sebuah kebijakan yang komprehensif untuk menata ulang industri telekomunikasinya agar semua pemangku kepentingan di sektor tersebut tidak dirugikan.

Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi India Kapil Sibal seperti dikutip Asia Wall Street Journal mengungkapkan, pemicu harus ditata ulangnya industri telekomunikasi di negerinya karena perang tarif antar operator yang mulai tak terkendali, menurunnya kualitas layanan, dan minimnya keinginan untuk konsolidasi antar pemain.

Rencananya, pada September di India nanti akan keluar kebijakan yang lebih lentur menerima konsolidasi, keringanan membayar frekuensi, dan berbagi infrastruktur. Regulasi ini diharapkan menjadikan jumlah pemain hanya tinggal enam per wilayah.

Untuk diketahui, kondisi industri telekomunikasi di India selama beberapa tahun ini mulai mengkerut karena persaingan yang sangat ketat.  Average revenue per user (ARPU) per bulan dari pemain besar seperti  Bharti Airtel Ltd yang turun dari  10 dollar AS pada empat tahun lalu menjadi 4 dollar AS di kuartal I 2011. Investasi operator pun menurun 42 persen dari 2008 ke 2010 menjadi  7.2 triliun rupiah.

Kondisi ini sebenarnya mirip dengan Indonesia. Industri telekomunikasi Indonesia secara perlahan tetapi pasti juga dalam proses ke jurang kehancuran jika tidak ada keberanian dan sinyal dari pemerintah untuk menata ulang layaknya di India.

Indonesia memiliki 12 operator yang menciptakan kondisi over crowded market alias situasi dimana pemain terlalu banyak di pasar sehingga membuat ruang untuk mendapatkan margin menjadi kian tipis.

Kompetisi mulai terasa liar  sejak 2007 ditambah dengan berlakunya formula interkoneksi berbasis biaya. Kondisi ini telah memicu perang tarif  dimana terjadi  penurunan Average Revenue Per Minute hingga 80 persen atau di kisaran 200 rupiah di tahun 2007-2009.

Nilai investasi operator pun di Indonesia sejak dua tahun lalu mulai menunjukkan penurunan secara signifikan. Hanya Telkom grup yang konsisten menggelontorkan investasi di kisaran 1,6 miliar dollar AS. Sementara operator seperti XL Axiata dan Indosat belanja modalnya cenderung tidak seagresif beberapa tahun lalu.

Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Johnny Swandi Sjam mengakui sudah saatnya pemerintah menata ulang pola alokasi dan penarikan biaya frekuensi serta jumlah pemain di sektor telekomunikasi agar industri ini tetap seksi di masa depan.

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P Santosa meminta pemerintah membuat peta jalan (Road Map) baru untuk industri telekomunikasi yang disepakati oleh semua pemangku kepentingan.

“Road map harus dibuat dengan hati-hati jangan sampai mengacaukan operator yang sudah ada. Sebaiknya freezing technologi, ditata lagi dengan profesional misalnya Wimax dikembalikan ke standar internasional karena sudah lebih dua  tahun terpasung  hanya karena kemauan yang tidak jelas tujuannya,” katanya.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno, negara ini dalam menjalankan konsolidasi menganut paham secara alami alias menanti adanya pihak yang merasa kalah dan mencari mitra untuk digandeng.

“Memang ada baiknya pemerintah mendorong penataan ulang ini. Dalam konsolidasi hal yang harus diperhatikan masalah penguasaan sumber daya terbatas seperti frekuensi dan penomoran yang tak bisa diperdagangkan,” katanya.

Sarwoto juga meminta,  pemerintah harus memperhatikan masalah penarikan biaya frekuensi dengan tidak melihat hanya sebagai sumber pendapatan negara yang berujung memberatkan beban operasional operator. “Operator sudah dibebani dengan adanya pungutan jasa telekomunikasi, Universal Service Obligation (USO), dan Biaya Hak Penggunaan (BHP). Harus ada revolusi melihat industri ini dari kacamata pendorong ekonomi bukan hanya sumber pendapatan negara,” jelasnya.

Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika  M. B. Setyawan mengungkapkan, pemerintah sudah mengantisipasi tren konsolidasi di industri telekomunikasi dengan memfinalisasi aturan merger terutama tentang kepemilikan silang.

“Kalau masalah pengaturan tarif kita hanya memberikan formula dengan menghitung secara periodik biaya interkoneksi. Sedangkan masalah penarikan biaya frekuensi kita sedang studi banding ke negara yang menggratiskan tarikan sewanya,” katanya.[dni]

230511 Mencari Model Bisnis Ideal Mengembangkan Broadband

Lembaga riset  Frost & Sullivan memperkirakan pada tahun lalu total pendapatan dari jasa data bagi industri telekomunikasi Indonesia mencapai 2,86 miliar dollar AS atau tumbuh 17 persen dibandingkan 2009.

Pada tahun ini lembaga tersebut memperkirakan omset dari jasa data mencapai 3,4  miliar dollar AS atau naik 18 persen dibandingkan 2010. Dengan rata-rata Coumpound Annual Growth Rate (CAGR) 18,9 persen, pendapatan layanan ini pada 2014 diprediksi mencapai 5,74 miliar dollar AS, mendekati omset jasa suara 6,41 miliar dollar AS dengan CAGR 2,93 persen.

Jumlah total pendapatan data pada tahun 2010 mencerminkan total pendapatan nirkabel sebesar 33 persen. Kontribusi tersebut diperkirakan akan mencapai sekitar 54 persen pada tahun 2015.

Pendapatan yang berasal dari non-messaging yakni konten, browsing, dan pendapatan data lainnya akan memberikan kontribusi sebesar 15 persen dari pendapatan data dan diprediksi akan meningkat dua kali lipat hingga mencapai 30 persen pada  2015.

“Mobile Broadband  dan sektor industri  yang terkait diprediksi memiliki potensi untuk menghasilkan 9.01 miliar dollar AS atau sekitar 1.68 persen  PDB Indonesia pada tahun 2015. Prediksi ini sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Bank Dunia pada tahun 2009 dimana negara-negara berkembang yang meningkatkan penetrasi broadband sebesar 10 persen  akan mempengaruhi PDB negara tersebut sebesar 1.21 persen,” ungkap Vice President, ICT Practice Frost & Sullivan Asia Pacific Jayesh Easwaramony di Jakarta, belum lama ini.

Diprediksinya, pada 2015 penetrasi mobile broadband akan menjangkau  51.3 persen dari total populasi alias melesat dari 16,6 persen pada 2010. Dampak secara langsung meliputi perangkat dan jasa pada 2015  senilai  3.56  miliar dollar AS, dampak tidak langsung meliputi e-edukasi, e-health, akses ke kuangan, peningkatan produktifitas, akselerasi inovasi sosial, sekitar 5.45 miliar dollar AS.

Country Director Frost & Sullivan Indonesia mengungkapkan,  tantangan dari  operator dalam hal pelayanan data adalah menemukan optimum bisnis model memasarkannya  bersama dengan layanan tradisional (suara & SMS).
“Penambahan belanja modal  untuk pengembangan infrastruktur data cukup tinggi dan di sisi lainnya penambahan pendapatan (incremental revenue) dari layanan data ini masih kecil,” jelasnya.

Penyebabnya,  secara umum disebabkan model bisnis data yang secara umum masih free artinya  operator menawarkan aplikasi atau  konten secara gratis untuk kemudian pelanggan hanya membayar jika perlu penambahan fitur dan konten lainnya. Sementara dari sisi tarif, pasar Indonesia juga cukup sensitif terhadap harga seperti sudah ditunjukkan di layanan tradisional.

President, Asia Pacific Alcatel-Lucent Rajeev Singh-Molares menyarankan diperlukan pemikiran ulang untuk agar broadband bisa mencapai tujuannya di masa depan. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah  pemikiran ulang infrastruktur  dimana untuk mencapai pemerataan secara cepat, model-model bisnis baru dan teknologi perlu diciptakan untuk memungkinkan akses pada harga terjangkau dan yang juga memiliki tanggung-jawab terhadap lingkungan.

“Selain itu juga perlu diciptakan  skala aplikasi yang  relevan dengan  pertumbuhan ekonomi dan sosial. Terakhir, memberikan solusi terjangkau. Kami  menyarankan total biaya komunikasi selular harus di bawah dari 5 persen dari dana rumah tangga, agar menjadi sebuah opsi realistik bagi kebanyakan masyarakat di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah,” katanya.

Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan mengungkapkan, konten yang akan menjadi pendorong terbesar trafik mobile broadband pada 2015 nanti adalah video yakni 62 persen konsumsinya melesat dari posisi 40 persenpada 2010. ”Dua pertiga trafik internet di dunia pada 2015 akan dikuasai konten video. Tantangannya di masa depan adalah bagaimana operator bisa bertahan ditengah tuntutan pelanggan yang menginginkan pengalama lebih baik, sedangkan saat ini tarif broadband itu sudah kadung dibanting murah,” jelasnya.

Mengubah Peran
Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno menjelaskan, dalam era broadband operator  mulai mengubah peranya dari sekadar media komunikasi menjadi platform provider agar tetap selamat.

“Ini harus dilakukan oleh operator karena kondisi di lapangan adalah sebagian pelanggan mengokupansi jaringan secara dominan di era broadband ini. Sekarang kita harus monetize yang sebagian itu menjadi omset agar operator tidak menjadi penyalur data saja,” katanya.

Diungkapkannya, untuk mengembangkan diri menjadi platform provider operator mulai membuka diri masuk ke area baru yang bisa terkoneksi dengan broadband seperti keuangan, penyiaran, dan lainnya. Selain itu juga akan terjadi konsolidasi antar opperator baik dari sisi penggunaan infrastruktur atau merger agar terjadi efisiensi dalam pembiayaan.

”Operator telekomunikasi memiliki keunggulan pada basis pelanggan yang besar sebagai modal awal sehingga memiliki posisi yang kuat dalam menarik partner bisnis untuk bekerjasama. Ini akan menjadi modal yang kuat sebagai platform provider,” katanya.

Sementara menurut Chief Operational  Officer Tiket Network Natali Ardianto tantangan yang terjadi di era broadband adalah mensinergikan antara profit dengan pengalaman yang didapat pelanggan dalam menggunakan jasa ini.

”Operator dan pengembang aplikasi harus bisa menciptakan sesuatu yang menjadikan bandwitdh dikelola dengan baik. Untuk saat ini aplikasi berbasis location based salah satu yang patut dipertimbangkan,” katanya.

Diharapkannya, operator di era broadband dimana konten akan menjadi pendorong trafik mengubah pola pikirnya dimana tidak menarik biaya dari pengembang aplikasi tetapi kepada pelanggan.

”Jangan hanya memberikan akses gratis kepada pelanggan, tetapi para pengembang aplikasi dibiarkan. Operator harus menjadi enabler bukan pengontrol terhadap konten,” tegasnya.

Menurutnya, suplai yang ideal untuk era broadband adalah pelanggan menggunakan layanan, pengembang mendapatkan omset, biaya bulanan, dan minimum penggunaan, sementara operator menerima pembayaran. Sedangkan untuk permintaan adalah pelanggan menggunakan layanan, operator menerima pendapatan. Pengembang aplikasi menerima pembayaran dengan fasilitas gratis ke akses tanpa harus memikirkan rating sukses.

”Kita sedang bergeser dari macro ke micro payment. Operator harus mendukung pengembang aplikasi untuk mengurangi ancaman sengsara sebagai penyalur pipa saja,” katanya.[dni]