210611 BRTI Evaluasi DPI Incumbent

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengevaluasi Daftar Penawaran Interkoneksi (DPI) milik dua operator incumbent agar tidak terjadi distorsi di pasar yang bisa menimbulkan persaingan tidak sehat.

Kedua operator incumbent yang dievaluasi DPI-nya adalah Telkom untuk telepon tetap lokal, Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), serta Sambungan Langsung Internasional (SLI) dan Telkomsel  untuk seluler. Keduanya dinyatakan sebagai operator dominan  berdasarkan pendapatan kotor (gross revenue) lebih dari 25 persen secara industri.

“Kami telah mempublikasikan DPI kedua operator itu untuk mendapat tanggapan dari publik, khususnya penyelenggara telekomunikasi lainnya. DPI ini merupakan daftar yang berisi tata cara mendapatkan interkoneksi, waktu serta biaya yang dikenakan terhadap operator lain jika ingin berinterkoneksi dengan operator tersebut,” ungkap Anggota Komite BRTI Heru Sutadi di Jakarta, Senin (20/6).

Dijelaskannya,  setelah mendapat tanggapan dari publik, BRTI akan mengevaluasi kembali DPI keduanya, sebelum kemudian menetapkan  sebagai pegangan DPI operator dominan. Setelah proses ini selesai, operator dominan juga berkewajiban menghitung tarif dasar telekomunikasi yang dilayani untuk kemudian juga dievaluasi oleh BRTI.

“Kami  mengharapkan dengan penurunan biaya  interkoneksi, hal itu tercermin juga dalam tarif dasar yang nantinya disampaikan operator ke BRTI mengingat formula tarif ritel yang ditetapkan adalah biaya interkoneksi + retail service activity cost + margin, sehingga ada korelasi antara biaya interkoneksi dan tarif ritel,” katanya.

Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E Marinto mengungkapkan, dalam DPI terbaru yang diserahkan terjadi penurunan sekitar 3-12 persen dibandingkan 2008 sesuai perhitungan pemerintah. Penurunan 3 persen terjadi untuk panggilan lokal, 12 persen untuk SLJJ.

Head of Corporate Communication Telkom Eddy Kurnia mengatakan, DPI baru tentu ada pengaruhnya terhadap bisnis Telkom. “Kami adalah pionir di bisnis ini, kita harapkan regulator mempertimbangkan secara komprehensif berbagai pengaruh terhadap kesehatan industri,” katanya.

Berdasarkan catatan, pendapatan interkoneksi berkontribusi hanya 5 persen bagi total omset Telkom. Pada kuartal I 2011 dari interkoneksi bersih Telkom membukukan sekitar 40 miliar rupiah, sedangkan pada tahun lalu sekitar 647 miliar rupiah.

Di negara lain yang memiliki tarif retail kompetitif mengusung konsep interkoneksi sebagai biaya jaringan ditekan serendah mungkin, sebab interkoneksi merupakan beban jaringan dari trafik telekomunikasi ke operator lain. Kala penetapan biaya interkoneksi untuk 2011, operator kecil banyak meminta penurunan biaya interkoneksi setara dengan 2008 yakni sekitar 40 hingga 60 persen, namun ditentang oleh pemain besar yang cenderung memilih angka 3-12 persen.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s