160611 Industri Kreatif: Operator Berikan Modal Ventura. Upaya Mencetak Teknoprenuer yang Andal

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki pertumbuhan perekonomian terpesat di dunia dalam satu dekade belakangan ini. Saat ini nilai perekonomian Indonesia  diperkirakan mencapai 750 miliar dollar AS dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa.

Sayangnya, jumlah pengusaha (enterprenuer) di Indonesia belum ideal. Tercatat, hanya 0,2 persen dari total populasi yang menjadi pengusaha, padahal jumlah ideal seharusnya dua persen. Negeri ini memiliki peluang untuk untuk meningkatkan jumlah pengusahanya karena 60 persen dari total populasi berisikan anak muda.

Saat ini banyak anak muda yang terjun di dunia teknologi, media dan telekomunikasi (TIK) dimana melalui ide kreatifnya menjadi pengusaha berbasis TIK (Teknoprenuer)  memanfaatkan  pertumbuhan pesat dari sektor ini.

Nilai pasar dari industri kreatif berbasis TIK ini sangat sulit diukur. Tetapi jika dilihat dari tiga sektor yang mendominasi pasar yakni musik, game, dan SMS Premium, nilainya lumayan menggurihkan yakni sekitar 8,96 triliun rupiah.

Operator telekomunikasi dan pemerintah pun sepertinya mulai menyadari potensi besar yang belum tergarap secara maksimal ini. Kendala yang dihadapi oleh para teknoprenuer atau perusahaan start up seperti pemodalan dan akses ke pasar pun diupayakan dibantu dengan program modal ventura.

Pemerintah sedang menggodok ICT Fund, sementara operator yang tak sabar dengan langkah pemerintah sudah memulai seperti Telkom sejak beberapa tahun lalu dengan Indigo Fellowship atau Bakrie Telecom yang memperkenalkan Nusantara Incubation Fund pada Senin (13/6).

Program Operator
Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo mengungkapkan, perusahaan start up yang telah diinkubasi melalui program Indigo sebanyak 25 dimana sekitar 5 inovasi telah berhasil dikomersialkan. “Setiap tahun kami mengalokasikan dana sekitar 15 miliar rupiah untuk program Indigo Fellowship. Rencananya dana ini akan membengkak karena dana  PKBL  sekitar 200 miliar rupiah  akan  diarahkan untuk UKM terkait TIK dan multimedia,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (15/6).

Dijelaskannya, dalam memberikan bantuan, dana yang disalurkan dianggap sebagai modal benih (seed capital) sekitar  50 hingga 500 juta rupiah. Selain itu ada bantuan dalam bentuk natura misalnya pemberian training, coaching, dan fasilitas infrastruktur produksi dan distribusi.  “Dalam memilih perusahaan start up yang akan diangkat dilihat dari kekuatan ide inovasi, cukup disruptive atau enriching produk. kelayakan bisnis dan  teknis, serta kemampuan eksekusi,” jelasnya.

Sementara Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya N Bakrie mengungkapkan, telah menyiapkan dana senilai  100 miliar rupiah untuk membina sekitar 20-30 perusahaan start up melalui Nusantara Incubation Fund agar gairah sillicon valley ala di Amerika Serikat pindah ke negeri ini.

“Kreativitas teknologi di Indonesia sangat luar biasa. Sayangnya, di perbankan itu ide dan kreatifitas tidak bisa dijaminkan untuk mendapatkan pinjaman dana. Inilah alasan diluncurkannya Nusantara Incubation Fund ,” katanya.
Menurutnya, paradigma  pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia bersumber pada kekayaan alam harus mulai diubah. Jika Indonesia terus bergantung pada sumber kekayaan alam tanpa mengembangkan sumber ekonomi lain, seperti industri kreatif, jasa dan teknologi informasi, maka Indonesia akan mengalami stagnasi.

“Berharap pada pemerintah sepertinya susah karena lembaga birokrasi tidak akan mau investasi di sektor yang memiliki resiko tinggi. Saran saya jika akan ada ICT Fund versi pemerintah lebih baik fokus di pembangunan infrastruktur TIK. Modal ventura itu beda dengan microfinance. Di modal ventura, untung atau rugi ditanggung bersama, jadi bukan sekadar pinjaman,” jelasnya.

Dijelaskannya, dalam memberikan bantuan bagi perusahaan start up tidak hanya dana sebesar 3-5 miliar rupiah per perusahaan tetapi memberikan akses masuk ke jaringan usaha yang dimiliki grup Bakrie seperti Bakrie Telecom, Bakrie Connectivity, atau  grup media Visi Media Asia. Selain itu  juga diberikan pendamping eksekutif yang mahir di bidangnya untuk membimbing para teknoprenuer sebagai investment comitee.

Anggota Dewan Investasi Komite Nusantara Incubation Fund Erik Meijer mengharapkan 30-50 persen dari perusahaan yang mendapatkan dana dari organisasinya akan berhasil di pasar jika proses seleksi dijalankan dengan benar.

Secara terpisah, Juru Bicara Kemenkominfo Gatot S Dewo Broto mengungkapkan, instansinya menargetkan pada Desember 2011 telah ada persetujuan dari Kementrian Keuangan untuk penggunaan dana Universal Service obligation (USO) sebagai ICT Fund. Sumber dana dari ICT Fund rencananya berasal dari  USO sebesar  1,5 persen dari pendapatan operator. Saat ini saldo dana USO di rekening negara sekitar 3,2 triliun rupiah.

“Sekarang tengah dipersiapkan Rancangan Peraturan Menteri untuk ICT Fund yang membahas tentang alokasi penggunaan jika dana itu disetujui. Kami sendiri belum tahu berapa besaran dana yang dialokasikan,” ungkapnya.

Diungkapkannya, ICT Fund versi pemerintah nantinya akan diperuntukkan untuk membangun jaringan serat optik dalam proyek Palapa Ring,  pengembangan konten, pembangunan titik Wi-fi, dan infrastruktur TIK lainnya. “Kami juga tengah bahas pemberian modal ventura itu bagi para teknoprenuer, model bisnisnya sedang dimatangkan,” katanya.

Banyak Kendala
Pada kesempatan lain, praktisi telematika Andy Zain mengungkapkan, masalah utama yang menghambat para teknoprenuer adalah tidak ada dana, salah memilih pasar, serta  tidak bisa memonitize produk.

Praktisi lainnya Andi S. Boediman mengatakan, pola modal ventura akan semakin menolong para teknoprenuer jika  inkubatornya memiliki bank dan bisnis retail. ” Biasanya yang menjadi kendala perusahaan strat up itu adalah kondisi pasar, kompetisi, para pendiri, dan tren. Sebaiknya dalam memberikan funding itu dimulai dengan perusahaan yang  terbukti memiliki jiwa wiraswasta dan produk yang bagus agar bantuan keuangan yang diterima bisa dijadikan modal sebagai akses untuk masuk ke pasar,” katanya.

Praktisi konten Gunarto  mengungkapkan, dana yang dianggarkan oleh modal ventura milik para operator masih kecil untuk mengembangkan para teknoprenuer. ”Di bisnis ini banyak anomali. Kadang ide saja sudah dihargai mahal, sedangkan yang sudah eksis malah kembang kempis memperatahankan bisnisnya,” katanya.

Diungkapkannya, banyak terjadi ironi di dunia kreatif Indonesia dimana para kreator karena tidak sabar mengembangkan produknya berujung hanya menjadi tukang jahit alias membuat program sesuai pesanan dari pemodal besar. ”Umumnya para kreator tidak sabar dan senang dengan uang yang didapat sesaat, tetapi melupakan potensi keuntungan  besar yang bisa diterima di masa depan. Disinilah dibutuhkan para mentoring memberikan pengertian tentang cara berbisnis yang benar,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s