140611 ICC 201: Masih Sebatas Berjualan

Pameran International Communication Expo and Conference (ICC) 2011 yang digelar selama 5 hari di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC)  sejak 8 hingga 12 Juni lalu telah usai dilaksanakan.

ICC merupakan ekspansi dari pameran Indonesia Cellular Show (ICS) yang telah rutin diselenggarakan sejak tahun 2004. Modifikasi yang dilakukan  adalah menggabungkan konsep pameran retail atau business to consumer (B2C) dengan Business to business (B2B).

Ketua Umum  Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI)  Sarwoto Atmosutarno, mengatakan ICC merupakan salah satu bentuk dukungan bagi provider telekomunikasi untuk mewujudkan Indonesia siap memasuki era broadband society dan ekonomi di mana diharapkan inovasi ini  dapat menjadi salah satu penggerak roda ekonomi nasional.

“Pelaksanaan ICC mampu membuka peluang bisnis dan kerjasama di sektor Telekomunikasi Informasi Komunikasi (TIK), dengan mengumpulkan stakeholder potensial, seperti buyers, dan pihak pemerintah,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Ditambahkannya, ICC juga bertujuan untuk meningkatkan strategi bisnis, memperluas networking, mendorong penjualan, brand awareness serta meningkatkan pangsa pasar  sebuah perusahaan TIK di Indonesia. Lantas, benarkah tujuan ini terwujud.

Masih Berjualan
Jika memantau di setiap booth yang dihuni oleh operator atau vendor ponsel, bisa dikatakan belum ada perubahan yang terjadi. Semangat berjualan layaknya ajang ICS beberapa tahun lalu masih kental.

Alih-alih memamerkan teknologi baru, operator telekomunikasi  berlomba-lomba mengobral gadget bundling. Axis misalnya, menawarkan kesempatan kepada pengunjung untuk mendapatkan potongan harga hingga 50 persen untuk BlackBerry Curve 8520. Namun calon konsumen harus mengisi pulsa senilai  379 ribu rupiah.

Selain paket penawaran BlackBerry, operator yang dimiliki Saudi Telecom Company itu juga menawarkan paket bundling lain seperti Virtu-V38 seharga  199 ribu rupiah dan  Lenovo E156 seharga 199 ribu rupiah  dengan mengisi pulsa dengan mengisi pulsa  50 ribu rupiah.

Indosat  mencoba menarik perhatian pelanggan retail, korporat serta Usaha Kecil Menengah (UKM).  Untuk pelanggan retail, Indosat menyediakan bursa gadget smartphone dimana setiap pembelian handset BlackBerry akan mendapatkan free service layanan BlackBerry untuk 3 bulan pertama dan diskon 50 persen untuk 3 bulan berikutnya. Sedangkan untuk perangkat Android, setiap pembelian handset akan mendapatkan free service Blackberry On Request (BOR) unlimited senilai  100 ribu rupiah selama 6 bulan.

Bagi pelanggan korporat dan UKM, Indosat menawarkan Voice & Mobility Solutions, termasuk Closed-User-Groups & BlackBerry Enterprise solutions, Data Communication & Internet Solution (Domestic & Internasional), serta Managed Service & Convergence Solutions.

Hutchison CP Telecommunication  atau  Tri  menawarkan Olive Pad V-T100 dengan gratis kuota 1GB selama 6 bulan seharga  2.599 juta rupiah,  Vinzo Tablet PC + Modem Huawei E153 dengan gratis kuota 1Gb selama 6 bulan seharga  3.190 juta rupiah,  CSL MI 700 tab dengan gratis kuota 1GB selama 6 bulan seharga  2.999 juta rupiah,  serta ZTE Light dengan gratis kuota 1GB selama satu bulan seharga  2.99 juta rupiah.

Operator berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) Smart Fren memanfaatkan ajang ini untuk memperkenalkan ponsel android Smartfren Wide  dan berjualan paket data Smartfren Connex serta  USB Modem Smartfren AC682

Tak mau kalah dengan para pesaingnya, XL memanfaatkan ajang ini untuk coba mengedepankan layanan BlackBerry 3 in 1 Unlimited, yang di dalam paketnya sudah termasuk Unlimited BlackBerry Full Service, Unlimited menelpon ke 3 orang pilihan, dan Unlimited SMS ke semua operator. Untuk semua itu, pelanggan cukup berlangganan  125 ribu rupiah per 30 hari.

Selain itu juga ada layanan berbasis komunitas yang sepertinya akan menjadi cikal bakal jasa Mobile Virtual Network Operation (MVNO) di Indonesia yakni  kartu seluler syariah, Hauraa.    Sedangkan produk bundling XL juga mengandalkan BlackBerry, Galaxy Tab, Nexus S, HTC Desire S & Mozart, Nokia E7, Motorola Defy, dan banyak lainnya yang tentunya dengan iming-iming harga lebih miring dari yang biasannya ada di pasaran.

Promosi Tablet
Hal  yang menarik disimak dari ajang ICC adalah fenomena munculnya komputer tablet berbasis sis tem operasi Android dengan harga miring. Rajanya ponsel merek lokal, Nexian, muncul dengan  Nexian Genius – NX A7500 berbasis Android 2.2 Froyo yang mirip dengan Samsung Galaxy Tab dengan banderol  2,9 juta rupiah.

Dari produk ponsel, Nexian menghadrikan  dua seri ponsel Journey yang juga berbasis  Android 2.2 Froyo. Tak hanya itu, dari sisi Touch Series, terdapat produk baru bernama: Champion, Capuccino, Snap, serta Tap. Keempat ponsel berbasis Java ini dihargai mulai dari bawah  satu  juta rupiah.

Di lini ponsel musik bertajuk Nexian Music Series, ada empat produk baru bernama: Thunder, Cherrio, Steel, dan Tap. Walau dipatok di bawah  satu juta rupiah, keempat ponsel berbasis Java ini dilengkapi teknologi SRS Virtual Surround.

Pabrikan lokal seperti Zyrex juga tak mau kalah dengan  memunculkan  dua komputer tablet sekaligus yakni  OnePad  yang dibekali prosesor dual core Nvidia Tegra 2  dengan banderol  3 jutaan rupiah dan  Waka Mini, sebuah tablet hybrid yang selain bisa berfungsi sebagai tablet, namun juga memiliki keyboard sehingga bisa diubah menjadi netbook.

Sementara Advan mengandalkan tablet Vandroid seharga  2,5 juta rupiah. A Note yang menjagokan produk A Note Cpad CP 701. dijual seharga  1,9 juta rupiah dan  merek lokal lain, Axioo,  mengeluarkan tablet PicoPad yang dibanderol  3,5 juta rupiah.

VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo mengungkapkan, ajang ICC dioptimalkan oleh perseroan untuk mengedukasi masyarakat tentang inovasi terbaru yang dimiliki perseroan. ”Kami tidak mau hard sale di ajang ini. Kita lebih memanfaatkan  Jakarta Fair untuk hard sale karena segmennya lebih cocok,” jelasnya.

Menurut Pengamat telekomunikasi Bayu Samudiyo perusahaan TIK tidak bisa disalahkan memanfaatkan ajang ICC sebagai tempat berjualan karena pengunjung yang datang didominasi oleh segmen retail. ”Bagi pelaku usaha ini kesempatan besar dimana massa bisa dikumpulkan secara banyak di satu lokasi. Bisa menghemat biaya promosi,” jelasnya.

Masih menurutnya,  jika kemasan dari ICC masih seperti sekarang agak sulit menarik animo pemain regional untuk datang dan ikut berpameran karena yang dimunculkan masih semangat berjualan. ”Ajang semacam ini harusnya bisa menjadi pesaing Communic Asia di Singapura. Sayangnya, peneyelenggara tidak berhasil mengemas sebagai satu kesatuan yakni pameran teknologi dan berbelanja di Jakarta, bukan hanya di JCC,” sesalnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s