140611 Bakrie Telecom Selesaikan Akuisisi Operator 4G

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) berhasil menyelesaikan akuisisi satu operator berbasis Broadband Wireless Access (BWA) yang mengusung teknologi 4G untuk memperkuat bisnis datanya.

“Kami sudah menyelesaikan proses negosiasi hingga tahap akhir dengan perusahaan yang dibidik. Pada akhir kuartal kedua atau awal kuartal ketiga 2011 akan diumumkan secara resmi,” ungkap Presiden Direktur  Bakrie Telecom Anindya N Bakrie di Jakarta, Senin (13/6).

Sayangnya, Anindya masih enggan mengungkapkan nama perusahaan yang dibidik atau basis teknologi BWA yang diusung oleh operator tersebut antara wireline atau wireless.

“Kesepakatan sudah sampai tahap akhir, kami tidak mau terburu-buru mengumumkan sampai semua proses selesai. Satu hal yang pasti ini adalah perusahaan BWA dan saham perusahaan ini akan diakuisisi secara penuh,” jelasnya.

Dijelaskannya, aksi perusahaan untuk mengakuisisi operator BWA karena melihat prospek yang menjanjikan dari bisnis data di masa depan. “Saat ini pendapatan dari Fixed Wireless Access (FWA) sekitar 9 triliun rupiah per tahun, sementara seluler 80 triliun rupiah per tahun. Dalam waktu lima tahun ke depan, nilai bisnis seluler akan menjadi 160 triliun rupiah per tahun dimana 80 triliun akan disumbang oleh jasa data,” katanya.

Diakuinya, dampak dari strategi perusahaan yang agresif dalam mengembagkan bisnis data akan berakibat pada tertekannya bottom line keuangan karena ada pengaruh penyusutan, membayar bunga, dan lainnya. “Tetapi BTEL akan tetap melanjutkan tren positif dari EBITDA margin dan omset,” katanya.

Sebelumnya, dikabarkan, Grup Bakrie atau perusahaan yang terafiliasi dengannya akan mengakuisisi dua operator yang mengusung teknologi 4G untuk mengembangkan bisnis jasa data di industri telekomunikasi.

Walau yang akan diakuisisi adalah perusahaan berbasis teknologi 4G, tetapi tidak ada kaitannya dengan 8 operator yang memenangkan tender BWA tiga tahun lalu. Dana untuk mengakuisisi dan memperkuat jaringan sebesar 100 juta dollar AS  untuk empat tahun ke depan yang berasal dari kas internal. Sedangkan untuk pengembangan BTEL belanja modal yang disiapkan sekitar 200 juta dollar AS.

IPO  Visi Media Asia
Berkaitan dengan aksi korporasi terhadap PT Visi Media Asia yang menjadi  holding bagi ANTV, tvOne, dan portal berita VIVAnews.com, Anindya mengungkapkan, terjadi perubahan besaran saham yang dilepas ke publik dari 20-30 menjadi  14,21 persen  atau 2,286 miliar lembar saham.

Perubahan besaran menjadikan target dana yang diraup mengkerut dari sekitar 1,2 triliun rupiah menjadi  600 miliar rupiah.

“Tadinya memang ditargetkan sebesar 20-30 persen, tetapi pada tahun lalu kami mendapatkan pinjaman dari Credit Suisse sebesar 53 juta dollar AS sehingga struktur pemodalan menjadi lebih kuat,” katanya.

Tentang isu raja media Rupert Murdoch akan memborong saham yang dilepas ke pasar, Anindya menjelaskan, pemodal inti tidak bisa membeli saham yang dilepas kala Initial Public Offering (IPO). “Kalau pun beliau akan masuk rasanya melalui secondary market. Tetapi saya tidak tahu itu akan dilakukan oleh Rupert atau tidak,” katanya.

Rupert Murdoch adalah salah satu pemegang saham di Visi Media Asia melalui Star TV sebesar 7,5 persen.

Presiden Direktur Visi Media Asia, Erick Thohir mengungkapkan, pihaknya mengutamakan investor lokal membeli saham perseroan  agar manfaatnya banyak dirasakan masyarakat.

Visi Media Asia merupakan salah satu perusahaan media terpadu di Indonesia yang berfokus pada penyampaian konten berita, penyediaan konten, khususnya konten olahraga dan gaya hidup melalui berbagai platform, termasuk stasiun televisi FTA (free to air), portal berita internet maupun telepon genggam.

Perseroan akan melepas 14,21 persen sahamnya ke publik atau 2,286 miliar lembar saham. Hasil pelepasan saham itu akan digunakan 40 persen untuk membayar sebagian utang kepada Credit Suisse AG.

Sedangkan 40 persen lainnya digunakan untuk belanja modal pengembangan usaha dan investasi baru untuk mendukung kegaitan usaha perseroan dan anak usaha yaitu tvOne, ANTV dan VIVAnews.com.

Sisanya, sebesar 20 persen, untuk modal kerja perseroan dan anak usaha, antara lain biaya operasional perseroan seperti biaya keuangan, biaya gaji karyawan, sewa ruang kantor dan pembayaran jasa konsultasi.

Dalam prospektus yang diterbitkan perseroan, masa penawaran awal (book building) akan dilakukan 13-21 Juni 2011. Diperkiraan izin efektif akan didapatkan pada 28 Juni 2011, sehingga diperkirakan masa penawaran berlangsung pada 1,4, 5 Juli 2011.

Proses penjatahan diperkirakan pada 7 Juli 2011, dan tanggal pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 11 Juli 2011. Dalam proses IPO ini, bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek yaitu PT Ciptadana Securities dan PT Danatama Makmur.

Kinerja perseroan pada 2010 untuk omset sebesar 889,1miliar rupiah meningkat 33 persen dibanding 2009 sebesar 668,4 miliar rupiah. Sedangkan Laba dibukukan 3,7 miliar dari rugi pada 2009 sebesar 152,7 miliar rupiah.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s