140611 Aplikasi Lokal Mulai Unjuk Gigi

Indonesia boleh saja belum berbicara banyak dalam mengembangkan perangkat keras telekomunikasi. Tetapi tidak demikian halnya dalam membuat aplikasi. Produk aplikasi besutan anak negeri mulai  unjuk gigi di ajang International Communication Expo and Conference (ICC) 2011,

Simaklah aksi  inTouch Innovate Indonesia (inTouch) yang menggandeng Telkomsel menawarkan aplikasi Airewards. Memanfaatkan fitur-fitur yang terdapat di perangkat BlackBerry, Airewards berhasil menawarkan program retensi yang menguntungkan bagi semua pihak yakni merchant, operator, dan pengguna.

Airewards adalah program retensi yang memberikan hadiah menarik dan program diskon di 20 merchant bagi pelanggan yang mengaktifkan aplikasi ini di BlackBerry miliknya. Fitur yang terdapat adalah eStamps yang bisa ditukarkan di merchant mitra dengan cara men-scan barcode quick response (QR).

Berikutnya, fitur eCoupons yang memudahkan merchant untuk mendistribusikan kupon diskon, voucher hadiah, atau tiket gratis melalui layanan BlackBerry. Transaksi di merchant dengan memanfaatkan Airewards didukung oleh masterCard sebagai perusahaan penyedia jasa pembayaran jasa global.

Untuk enam bulan pertama  inTouch bekerjasama eksklusif dengan Telkomsel dan  menargetkan dalam setahun pertama ada satu juta dari lima juta pengguna BlackBerry di Indonesia yang mengunduh dan menggunakan aplikasi ini.

CEO inTouch Kendro Hendra menjelaskan, optimistis layanan ini akan disambut oleh pengguna BlackBerry dan calon merchant lainnya karena dari sisi pengguna tidak dituntut adanya biaya yang keluar kala berlangganan. Sementara dari sisi merchant bisa menghemat biaya operasional untuk promosi karena tidak perlu mencetak kupon diskon.

“Ke depan nantinya antar pengguna bisa saling bertukar kupon yang dimilikinya lintas merchant. Ini mungkin terjadi kala jumlah pengguna makin besar sehingga bisa menjadi media alternatif untuk berpromosi. Pasokan omset lainnya dari calon merchant yang ingin menjadi mitra,” katanya

Aplikasi lainnya yag menarik untuk dibahas adalah  Bouncity dibesut oleh PhaseDev. Memanfaatkan  Location Based Services (LBS), Bouncity menawarkan program retensi yang dikemas dalam  permainan sosial di internet dengan  perangkat BlackBerry.  Aplikasi ini  membantu proses pemasaran atau pengiklanan produk dan  optimis meraih 1.000 merek dagang  di 2011. Tak lama lagi aplikasi ini akan berjalan di platform iPhone dan Android. Untuk sementara, XL menjadi mitra dari PhaseDev.

Bouncity pada dasarnya merupakan alat pemasaran merchant di mana pemilik merek dagang dapat mengumpulkan insight dan analisis perilaku konsumen. Meskipun begitu,  konsumen tidak akan merasa seperti responden penelitian pasar ataupun survei karena Bouncity dirancang lebih menyenangkan dan eksperimental.

“Bouncity merupakan layanan berbasis lokasi dengan balutan permainan sosial. Misalnya, jika Anda berada di kawasan Pacific Place lalu sign-in di Bouncity, Anda akan diberikan beberapa tantangan permainan. Selanjutnya, Anda mendapat reward yang bisa ditukar dalam bentuk hadiah virtual maupun produk nyata. Diferensiasi kami di game, bukan hanya scanning barcode,” ungkap CEO PhaseDev Wenas Agusetiawan.

Wenas optimistis, Bouncity akan disukai oleh masyarakat mengingat pertumbuhan pengguna situs jejaring sosial berbasis lokasi meningkat 12,3 juta di 2009 menjadi 33,2 juta di 2010. “Dua hari pertama diluncurkan saja, aplikasi ini sudah diunduh 4.500 pengguna. Saat ini, kami bekerja sama dengan 12 merchant sehingga total toko mereka sekitar 200 unit,” katanya.

Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Informatika M. Budi Setyawan mengakui, para pelaku usaha lokal memiliki peluang berkembang dalam berjualan aplikasi ketimbang perangkat keras. Apalagi, di masa depan, semua aplikasi diletakkan di Cloud alias internet yang bisa digunakan banyak pihak.

”Indonesia memiliki keunggulan dalam rekayasa perangkat lunak. Sekarang tinggal dibantu dengan memberikan insentif atau inkubasi bisnis untuk berkembang. Operator pun harus memberikan kesempatan kepada pelaku usaha ini dengan tidak menuntut revenue sharing yang tinggi agar bisa tumbuh,” tegasnya.

Menurut Pengamat telekomunikasi Bayu Samudiyo, peluang bagi aplikasi lokal untuk tampil di permukaan lumayan besar karena masyarakat Indonesia menyukai sesuatu yang dekat dengan dirinya.

”Orang Indonesia itu suka sesuatu yang bersifat komuniitas dan menyangkut sekitarnya. Sekarang tinggal pengembang aplikasi memanfaatkan perangkat yang memungkinkan adanya ekosistem berinteraksi seperti iphone atau BlackBerry di utilisasi untuk aplikasi yang diciptakannya,” jelasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s