140611 Aplikasi Lokal Mulai Unjuk Gigi

Indonesia boleh saja belum berbicara banyak dalam mengembangkan perangkat keras telekomunikasi. Tetapi tidak demikian halnya dalam membuat aplikasi. Produk aplikasi besutan anak negeri mulai  unjuk gigi di ajang International Communication Expo and Conference (ICC) 2011,

Simaklah aksi  inTouch Innovate Indonesia (inTouch) yang menggandeng Telkomsel menawarkan aplikasi Airewards. Memanfaatkan fitur-fitur yang terdapat di perangkat BlackBerry, Airewards berhasil menawarkan program retensi yang menguntungkan bagi semua pihak yakni merchant, operator, dan pengguna.

Airewards adalah program retensi yang memberikan hadiah menarik dan program diskon di 20 merchant bagi pelanggan yang mengaktifkan aplikasi ini di BlackBerry miliknya. Fitur yang terdapat adalah eStamps yang bisa ditukarkan di merchant mitra dengan cara men-scan barcode quick response (QR).

Berikutnya, fitur eCoupons yang memudahkan merchant untuk mendistribusikan kupon diskon, voucher hadiah, atau tiket gratis melalui layanan BlackBerry. Transaksi di merchant dengan memanfaatkan Airewards didukung oleh masterCard sebagai perusahaan penyedia jasa pembayaran jasa global.

Untuk enam bulan pertama  inTouch bekerjasama eksklusif dengan Telkomsel dan  menargetkan dalam setahun pertama ada satu juta dari lima juta pengguna BlackBerry di Indonesia yang mengunduh dan menggunakan aplikasi ini.

CEO inTouch Kendro Hendra menjelaskan, optimistis layanan ini akan disambut oleh pengguna BlackBerry dan calon merchant lainnya karena dari sisi pengguna tidak dituntut adanya biaya yang keluar kala berlangganan. Sementara dari sisi merchant bisa menghemat biaya operasional untuk promosi karena tidak perlu mencetak kupon diskon.

“Ke depan nantinya antar pengguna bisa saling bertukar kupon yang dimilikinya lintas merchant. Ini mungkin terjadi kala jumlah pengguna makin besar sehingga bisa menjadi media alternatif untuk berpromosi. Pasokan omset lainnya dari calon merchant yang ingin menjadi mitra,” katanya

Aplikasi lainnya yag menarik untuk dibahas adalah  Bouncity dibesut oleh PhaseDev. Memanfaatkan  Location Based Services (LBS), Bouncity menawarkan program retensi yang dikemas dalam  permainan sosial di internet dengan  perangkat BlackBerry.  Aplikasi ini  membantu proses pemasaran atau pengiklanan produk dan  optimis meraih 1.000 merek dagang  di 2011. Tak lama lagi aplikasi ini akan berjalan di platform iPhone dan Android. Untuk sementara, XL menjadi mitra dari PhaseDev.

Bouncity pada dasarnya merupakan alat pemasaran merchant di mana pemilik merek dagang dapat mengumpulkan insight dan analisis perilaku konsumen. Meskipun begitu,  konsumen tidak akan merasa seperti responden penelitian pasar ataupun survei karena Bouncity dirancang lebih menyenangkan dan eksperimental.

“Bouncity merupakan layanan berbasis lokasi dengan balutan permainan sosial. Misalnya, jika Anda berada di kawasan Pacific Place lalu sign-in di Bouncity, Anda akan diberikan beberapa tantangan permainan. Selanjutnya, Anda mendapat reward yang bisa ditukar dalam bentuk hadiah virtual maupun produk nyata. Diferensiasi kami di game, bukan hanya scanning barcode,” ungkap CEO PhaseDev Wenas Agusetiawan.

Wenas optimistis, Bouncity akan disukai oleh masyarakat mengingat pertumbuhan pengguna situs jejaring sosial berbasis lokasi meningkat 12,3 juta di 2009 menjadi 33,2 juta di 2010. “Dua hari pertama diluncurkan saja, aplikasi ini sudah diunduh 4.500 pengguna. Saat ini, kami bekerja sama dengan 12 merchant sehingga total toko mereka sekitar 200 unit,” katanya.

Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Informatika M. Budi Setyawan mengakui, para pelaku usaha lokal memiliki peluang berkembang dalam berjualan aplikasi ketimbang perangkat keras. Apalagi, di masa depan, semua aplikasi diletakkan di Cloud alias internet yang bisa digunakan banyak pihak.

”Indonesia memiliki keunggulan dalam rekayasa perangkat lunak. Sekarang tinggal dibantu dengan memberikan insentif atau inkubasi bisnis untuk berkembang. Operator pun harus memberikan kesempatan kepada pelaku usaha ini dengan tidak menuntut revenue sharing yang tinggi agar bisa tumbuh,” tegasnya.

Menurut Pengamat telekomunikasi Bayu Samudiyo, peluang bagi aplikasi lokal untuk tampil di permukaan lumayan besar karena masyarakat Indonesia menyukai sesuatu yang dekat dengan dirinya.

”Orang Indonesia itu suka sesuatu yang bersifat komuniitas dan menyangkut sekitarnya. Sekarang tinggal pengembang aplikasi memanfaatkan perangkat yang memungkinkan adanya ekosistem berinteraksi seperti iphone atau BlackBerry di utilisasi untuk aplikasi yang diciptakannya,” jelasnya.[dni]

140611 Operator Kuasai Infrastruktur Menara

JAKARTA—Operator telekomunikasi masih menguasai infrastruktur menara telekomunikasi sehingga ikut menjadi pemain utama di bisnis penyewaan menara bersama.

“Operator telekomunikasi masih menjadi penguasa dari sisi infrastruktur atau bisnis sewa menara. Telkomsel saja memiliki 18 ribu menara dengan penguasaan pangsa pasar 33 persen. Menara Telkomsel disewa oleh 1.170 tenant,” ungkap Ketua Umum Asosiasi Pengembang Infrastuktur Menara Telekomunikasi (Aspimtel) Sakti Wahyu Trenggono di Jakarta, Senin (13/6).

Diungkapkannya, pemain kedua terbesar adalah Indosat dengan 12 ribu menara yang menguasai 22 persen pangsa pasar, XL (10 ribu menara) dengan 18 persen pangsa pasar. Sementara perusahaan menara yang unjuk gigi adalah Protelindo dengan 5.100 menara yang menguasai 9 persen pangsa pasar dan Tower Bersama dengan 3 ribu menara sendiri dan dua ribu menara kolokasi yang menguasai 4 persen pangsa pasar.

“Pasar penyewan menara ini masih besar tahun ini karena diperkirakan ada 6 ribu BTS yang akan dibangun operator sehingga membutuhkan menara untuk penempatan. Menurut riset, kebutuhan menara baru mencapai sekitar 3.000 unit per tahun,” jelasnya.

Diungkapkannya, saat ini jumlah menara telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia mencapai sekitar 54.200 unit yang menelan investasi 85 triliun rupiah.  Sekitar 16.000 unit di antaranya adalah milik 23 perusahaan menara yang tergabung dalam anggota Aspimtel.

Investasi pembangunan menara rata-rata berkisar 1,5 miliar rupiah per menara, tergantung wilayah topografinya. Industri menara juga memicu pertumbuhan lapangan kerja atau mampu menyerap hingga sekitar 90.000 tenaga kerja.  .

Sekjen Aspimtel Peters M Simanjuntak mengeluhkan, di tengah tingginya konten lokal dalam pembangunan menara masih ada paradigma oleh pemerintah daerah yang ingin menjadikan pelaku usaha di sektor ini sebagai  sapi perahan ketimbang  mitra strategis untuk pembangunan daerah demi mempercepat pertumbuhan ekonomi.

“Harusnya pelaku usaha di bisnis menara yang banyak orang lokal  menjadi mitra Pemda sebagai sarana untuk menghidupkan seluruh aspek ekonomi, bukan justru dijadikan sapi perah,” keluhnya.

Menurut Peters, salah satu kendala yang dihadapi penyelenggara menara di daerah adalah adanya peraturan Pemda yang tidak sejalan dengan semangat membangun wilayahnya.

“Sejumlah Pemda cenderung melihat bahwa menara sebagi obyek pungutan saja, tidak melihat bahwa keberadaan menara dan sarana telekomunikasi memiliki multiplier effect bagi perekonomian daerah,” katanya.[dni]

.

140611 First Media Bidik Pelanggan Tumbuh 28%

JAKARTA—PT First Media Tbk (First Media) membidik pengguna layanan Triple Play digunakan 435 ribu pelanggan atau tumbuh 28 persen dari posisi 2010 sebanyak 340 ribu pelanggan. Triple Play yang ditawarkan oleh First Media adalah layanan TV Kabel, akses internet, dan Saluran TV High Definition (HD).

“Pada kuartal I 2011 kami mendapatkan 360 ribu pelanggan. Kita baru saja mendapatkan 700 pelanggan baru seiring Triple Play First Media masuk ke apartemen Kemang Village Residence (KVR). Sedangkan jumlah apartemen yang dilayani di Jabodetabek sudah mencapai 104 yang berisikan sekitar 30 ribu unit,” ungkap Direktur First Media Dicky Moechtar di Jakarta, Senin (13/6).

Diungkapkannya, untuk di KVR adalah apartemen pertama yang dilayani dengan triple play
dimana selama satu tahun pertama pelanggan diberikan gratis selama 1 tahun. “Kami menginvestasikan dana sekitar 210 ribu dollar AS untuk menggelar kabel optik bagi 700 penghuni di KVR,” ungkapnya.

Selanjutnya diungkapkan, perseroan juga tengah menginvestasikan biaya sekitar
50 juta dollar AS (Rp 427 Miliar) untuk memperluas jaringan internet dan TV kabel ke rumah-rumah yang disasar untuk triple play sebanyak 150 ribu unit sambungan home pass.

“Pembangunan telah dimulai sejak awal 2011, tercatat hingga kuartal pertama telah tersedia 32 ribu home pass baru. Kami bekerja sama dengan Cisco untuk memberikan layanan premium akses internet cepat ini,” katanya.

Dijelaskannya, kolaborasi dengan Cisco  mengkombinasikan layanan pita lebar (broadband) FastNet dari First Media dengan produk router Linksys dan modem kabel dari Cisco. Kolaborasi ini akan memberikan keuntungan bagi konsumen yang membutuhkan akses internet berkecepatan tinggi, karena lebih dinamis, dan memungkinkan pengguna perangkat mobile mengakses internet dengan mudah.

Menurutnya, dari sisi akses, FastNet sudah sangat cepat, tetapi yang menjadi isu sekarang adalah bagaimana penggunaannya secara bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga, dengan berbagai device yang berbeda, serta sistem operasi yang berbeda pula.

Dalam hal ini, solusi yang harus diambil adalah melalui penggunaan WiFi router dari Cisco, dengan kemudahan pemasangan dan operasional, tanpa harus dilakukan oleh orang yang ahli di bidang teknologi informasi.

“Kerja sama ini sekaligus mendorong penggunaan router oleh pelanggan FastNet First Media yang sampai sekarang baru sekitar 10 persen. Diharapkan penggunaan router ini bisa lebih dimanfaatkan pelanggan mencapai 50 persen dari pengguna,” tuturnya.[dni]

140611 Operator Tekan Pindah Pelanggan

JAKARTA—Operator telekomunikasi mencoba menekan angka perpindahan pelanggan  atau  churn rate melalui  program pemasaran dan inovasi teknologi baru.

Hal itu dilakukan oleh Indosat yang menawarkan program IM3 Nonstop untuk memanjakan segmen pasar muda dan Axis yang meluncurkan inovasi High Speed Packet Access (HSPA) di Bandung untuk melayani pengakses data.

“Kami harus terus memanjakan pengguna muda yang menggunaka kartu IM3. Churn rate IM3 sedikit lebih tinggi yakni  13-15 persen dengan rata-rata penggunaan 26 ribu rupiah tiap bulan . Ini sudah lebih baik sejak kami terus meretensinya, dulu sempat mencapai 20 persen,” ungkap Group Head Marketing Indosat Insan Prakasa di Jakarta, akhir pekan lalu.

Churn rate merupakan nomor pelanggan yang hangus akibat tidak diperpanjang masa aktifnya. Ada banyak alasan mengapa pelanggan enggan terus menggunakannya, mulai dari layanan yang tidak menarik, tarif mahal, atau nomor hanya digunakan sebagai kartu panggil sekali pakai. Secara total industri, churn rate pelanggan rata-rata mencapai 15-20 persen .

Dijelaskannya, program Nonstop  menawarkan gratis telepon ke sesama Indosat, gratis SMS ke semua operator dengan ketentuan dan timeband tertentu, serta gratis mendownload musik sepuasnya.

Direktur Sales Axis  Syakieb A. Sungkar menjelaskan, diluncurkannya kartu perdana Axis Broadband  dengan teknologi HSPA untuk semakin memanjakan pengguna akses data di Indonesia. “Tahap pertama layanan HSPA diluncurkan di Bandung yang banyak anak muda dan suka mengakses internet,” jelasnya.

Dikatakannya, sejalan dengan ekspansi dan peningkatan kecepatan jaringan HSPA miliknya,  perusahaan juga akan menawarkan perangkat yang mampu digunakan di jaringan HSPA, termasuk smartphone, modem, tablet, dan produk-produk mobile broadband yang lain.

Dijelaskannya, fokus ekspansi Axis lima tahun ke depan adalah  mobile broadband serta meningkatkan cakupan layanan secara nasional seusai didapatkannya komitmen pembiayaan senilai 1,2 miliar dollar AS belum lama ini dari berbagai lembaga pembiayaan.

Saat ini Axis telah digunakan 11 juta pelanggan serta  tersedia di lebih 400 kota di seluruh Indonesia. Pada tahun ini perseroan berencana untuk membangun 9 ribu BTS 3G (Node B) memperkuat 4 ribu Node B yang telah ada. Jasa Data telah berkonribusi sekitar  30-35 persen bagi total omset Axis.[dni]

140611 ICC 201: Masih Sebatas Berjualan

Pameran International Communication Expo and Conference (ICC) 2011 yang digelar selama 5 hari di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC)  sejak 8 hingga 12 Juni lalu telah usai dilaksanakan.

ICC merupakan ekspansi dari pameran Indonesia Cellular Show (ICS) yang telah rutin diselenggarakan sejak tahun 2004. Modifikasi yang dilakukan  adalah menggabungkan konsep pameran retail atau business to consumer (B2C) dengan Business to business (B2B).

Ketua Umum  Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI)  Sarwoto Atmosutarno, mengatakan ICC merupakan salah satu bentuk dukungan bagi provider telekomunikasi untuk mewujudkan Indonesia siap memasuki era broadband society dan ekonomi di mana diharapkan inovasi ini  dapat menjadi salah satu penggerak roda ekonomi nasional.

“Pelaksanaan ICC mampu membuka peluang bisnis dan kerjasama di sektor Telekomunikasi Informasi Komunikasi (TIK), dengan mengumpulkan stakeholder potensial, seperti buyers, dan pihak pemerintah,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Ditambahkannya, ICC juga bertujuan untuk meningkatkan strategi bisnis, memperluas networking, mendorong penjualan, brand awareness serta meningkatkan pangsa pasar  sebuah perusahaan TIK di Indonesia. Lantas, benarkah tujuan ini terwujud.

Masih Berjualan
Jika memantau di setiap booth yang dihuni oleh operator atau vendor ponsel, bisa dikatakan belum ada perubahan yang terjadi. Semangat berjualan layaknya ajang ICS beberapa tahun lalu masih kental.

Alih-alih memamerkan teknologi baru, operator telekomunikasi  berlomba-lomba mengobral gadget bundling. Axis misalnya, menawarkan kesempatan kepada pengunjung untuk mendapatkan potongan harga hingga 50 persen untuk BlackBerry Curve 8520. Namun calon konsumen harus mengisi pulsa senilai  379 ribu rupiah.

Selain paket penawaran BlackBerry, operator yang dimiliki Saudi Telecom Company itu juga menawarkan paket bundling lain seperti Virtu-V38 seharga  199 ribu rupiah dan  Lenovo E156 seharga 199 ribu rupiah  dengan mengisi pulsa dengan mengisi pulsa  50 ribu rupiah.

Indosat  mencoba menarik perhatian pelanggan retail, korporat serta Usaha Kecil Menengah (UKM).  Untuk pelanggan retail, Indosat menyediakan bursa gadget smartphone dimana setiap pembelian handset BlackBerry akan mendapatkan free service layanan BlackBerry untuk 3 bulan pertama dan diskon 50 persen untuk 3 bulan berikutnya. Sedangkan untuk perangkat Android, setiap pembelian handset akan mendapatkan free service Blackberry On Request (BOR) unlimited senilai  100 ribu rupiah selama 6 bulan.

Bagi pelanggan korporat dan UKM, Indosat menawarkan Voice & Mobility Solutions, termasuk Closed-User-Groups & BlackBerry Enterprise solutions, Data Communication & Internet Solution (Domestic & Internasional), serta Managed Service & Convergence Solutions.

Hutchison CP Telecommunication  atau  Tri  menawarkan Olive Pad V-T100 dengan gratis kuota 1GB selama 6 bulan seharga  2.599 juta rupiah,  Vinzo Tablet PC + Modem Huawei E153 dengan gratis kuota 1Gb selama 6 bulan seharga  3.190 juta rupiah,  CSL MI 700 tab dengan gratis kuota 1GB selama 6 bulan seharga  2.999 juta rupiah,  serta ZTE Light dengan gratis kuota 1GB selama satu bulan seharga  2.99 juta rupiah.

Operator berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) Smart Fren memanfaatkan ajang ini untuk memperkenalkan ponsel android Smartfren Wide  dan berjualan paket data Smartfren Connex serta  USB Modem Smartfren AC682

Tak mau kalah dengan para pesaingnya, XL memanfaatkan ajang ini untuk coba mengedepankan layanan BlackBerry 3 in 1 Unlimited, yang di dalam paketnya sudah termasuk Unlimited BlackBerry Full Service, Unlimited menelpon ke 3 orang pilihan, dan Unlimited SMS ke semua operator. Untuk semua itu, pelanggan cukup berlangganan  125 ribu rupiah per 30 hari.

Selain itu juga ada layanan berbasis komunitas yang sepertinya akan menjadi cikal bakal jasa Mobile Virtual Network Operation (MVNO) di Indonesia yakni  kartu seluler syariah, Hauraa.    Sedangkan produk bundling XL juga mengandalkan BlackBerry, Galaxy Tab, Nexus S, HTC Desire S & Mozart, Nokia E7, Motorola Defy, dan banyak lainnya yang tentunya dengan iming-iming harga lebih miring dari yang biasannya ada di pasaran.

Promosi Tablet
Hal  yang menarik disimak dari ajang ICC adalah fenomena munculnya komputer tablet berbasis sis tem operasi Android dengan harga miring. Rajanya ponsel merek lokal, Nexian, muncul dengan  Nexian Genius – NX A7500 berbasis Android 2.2 Froyo yang mirip dengan Samsung Galaxy Tab dengan banderol  2,9 juta rupiah.

Dari produk ponsel, Nexian menghadrikan  dua seri ponsel Journey yang juga berbasis  Android 2.2 Froyo. Tak hanya itu, dari sisi Touch Series, terdapat produk baru bernama: Champion, Capuccino, Snap, serta Tap. Keempat ponsel berbasis Java ini dihargai mulai dari bawah  satu  juta rupiah.

Di lini ponsel musik bertajuk Nexian Music Series, ada empat produk baru bernama: Thunder, Cherrio, Steel, dan Tap. Walau dipatok di bawah  satu juta rupiah, keempat ponsel berbasis Java ini dilengkapi teknologi SRS Virtual Surround.

Pabrikan lokal seperti Zyrex juga tak mau kalah dengan  memunculkan  dua komputer tablet sekaligus yakni  OnePad  yang dibekali prosesor dual core Nvidia Tegra 2  dengan banderol  3 jutaan rupiah dan  Waka Mini, sebuah tablet hybrid yang selain bisa berfungsi sebagai tablet, namun juga memiliki keyboard sehingga bisa diubah menjadi netbook.

Sementara Advan mengandalkan tablet Vandroid seharga  2,5 juta rupiah. A Note yang menjagokan produk A Note Cpad CP 701. dijual seharga  1,9 juta rupiah dan  merek lokal lain, Axioo,  mengeluarkan tablet PicoPad yang dibanderol  3,5 juta rupiah.

VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo mengungkapkan, ajang ICC dioptimalkan oleh perseroan untuk mengedukasi masyarakat tentang inovasi terbaru yang dimiliki perseroan. ”Kami tidak mau hard sale di ajang ini. Kita lebih memanfaatkan  Jakarta Fair untuk hard sale karena segmennya lebih cocok,” jelasnya.

Menurut Pengamat telekomunikasi Bayu Samudiyo perusahaan TIK tidak bisa disalahkan memanfaatkan ajang ICC sebagai tempat berjualan karena pengunjung yang datang didominasi oleh segmen retail. ”Bagi pelaku usaha ini kesempatan besar dimana massa bisa dikumpulkan secara banyak di satu lokasi. Bisa menghemat biaya promosi,” jelasnya.

Masih menurutnya,  jika kemasan dari ICC masih seperti sekarang agak sulit menarik animo pemain regional untuk datang dan ikut berpameran karena yang dimunculkan masih semangat berjualan. ”Ajang semacam ini harusnya bisa menjadi pesaing Communic Asia di Singapura. Sayangnya, peneyelenggara tidak berhasil mengemas sebagai satu kesatuan yakni pameran teknologi dan berbelanja di Jakarta, bukan hanya di JCC,” sesalnya.[dni]

140611 Bakrie Telecom Selesaikan Akuisisi Operator 4G

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) berhasil menyelesaikan akuisisi satu operator berbasis Broadband Wireless Access (BWA) yang mengusung teknologi 4G untuk memperkuat bisnis datanya.

“Kami sudah menyelesaikan proses negosiasi hingga tahap akhir dengan perusahaan yang dibidik. Pada akhir kuartal kedua atau awal kuartal ketiga 2011 akan diumumkan secara resmi,” ungkap Presiden Direktur  Bakrie Telecom Anindya N Bakrie di Jakarta, Senin (13/6).

Sayangnya, Anindya masih enggan mengungkapkan nama perusahaan yang dibidik atau basis teknologi BWA yang diusung oleh operator tersebut antara wireline atau wireless.

“Kesepakatan sudah sampai tahap akhir, kami tidak mau terburu-buru mengumumkan sampai semua proses selesai. Satu hal yang pasti ini adalah perusahaan BWA dan saham perusahaan ini akan diakuisisi secara penuh,” jelasnya.

Dijelaskannya, aksi perusahaan untuk mengakuisisi operator BWA karena melihat prospek yang menjanjikan dari bisnis data di masa depan. “Saat ini pendapatan dari Fixed Wireless Access (FWA) sekitar 9 triliun rupiah per tahun, sementara seluler 80 triliun rupiah per tahun. Dalam waktu lima tahun ke depan, nilai bisnis seluler akan menjadi 160 triliun rupiah per tahun dimana 80 triliun akan disumbang oleh jasa data,” katanya.

Diakuinya, dampak dari strategi perusahaan yang agresif dalam mengembagkan bisnis data akan berakibat pada tertekannya bottom line keuangan karena ada pengaruh penyusutan, membayar bunga, dan lainnya. “Tetapi BTEL akan tetap melanjutkan tren positif dari EBITDA margin dan omset,” katanya.

Sebelumnya, dikabarkan, Grup Bakrie atau perusahaan yang terafiliasi dengannya akan mengakuisisi dua operator yang mengusung teknologi 4G untuk mengembangkan bisnis jasa data di industri telekomunikasi.

Walau yang akan diakuisisi adalah perusahaan berbasis teknologi 4G, tetapi tidak ada kaitannya dengan 8 operator yang memenangkan tender BWA tiga tahun lalu. Dana untuk mengakuisisi dan memperkuat jaringan sebesar 100 juta dollar AS  untuk empat tahun ke depan yang berasal dari kas internal. Sedangkan untuk pengembangan BTEL belanja modal yang disiapkan sekitar 200 juta dollar AS.

IPO  Visi Media Asia
Berkaitan dengan aksi korporasi terhadap PT Visi Media Asia yang menjadi  holding bagi ANTV, tvOne, dan portal berita VIVAnews.com, Anindya mengungkapkan, terjadi perubahan besaran saham yang dilepas ke publik dari 20-30 menjadi  14,21 persen  atau 2,286 miliar lembar saham.

Perubahan besaran menjadikan target dana yang diraup mengkerut dari sekitar 1,2 triliun rupiah menjadi  600 miliar rupiah.

“Tadinya memang ditargetkan sebesar 20-30 persen, tetapi pada tahun lalu kami mendapatkan pinjaman dari Credit Suisse sebesar 53 juta dollar AS sehingga struktur pemodalan menjadi lebih kuat,” katanya.

Tentang isu raja media Rupert Murdoch akan memborong saham yang dilepas ke pasar, Anindya menjelaskan, pemodal inti tidak bisa membeli saham yang dilepas kala Initial Public Offering (IPO). “Kalau pun beliau akan masuk rasanya melalui secondary market. Tetapi saya tidak tahu itu akan dilakukan oleh Rupert atau tidak,” katanya.

Rupert Murdoch adalah salah satu pemegang saham di Visi Media Asia melalui Star TV sebesar 7,5 persen.

Presiden Direktur Visi Media Asia, Erick Thohir mengungkapkan, pihaknya mengutamakan investor lokal membeli saham perseroan  agar manfaatnya banyak dirasakan masyarakat.

Visi Media Asia merupakan salah satu perusahaan media terpadu di Indonesia yang berfokus pada penyampaian konten berita, penyediaan konten, khususnya konten olahraga dan gaya hidup melalui berbagai platform, termasuk stasiun televisi FTA (free to air), portal berita internet maupun telepon genggam.

Perseroan akan melepas 14,21 persen sahamnya ke publik atau 2,286 miliar lembar saham. Hasil pelepasan saham itu akan digunakan 40 persen untuk membayar sebagian utang kepada Credit Suisse AG.

Sedangkan 40 persen lainnya digunakan untuk belanja modal pengembangan usaha dan investasi baru untuk mendukung kegaitan usaha perseroan dan anak usaha yaitu tvOne, ANTV dan VIVAnews.com.

Sisanya, sebesar 20 persen, untuk modal kerja perseroan dan anak usaha, antara lain biaya operasional perseroan seperti biaya keuangan, biaya gaji karyawan, sewa ruang kantor dan pembayaran jasa konsultasi.

Dalam prospektus yang diterbitkan perseroan, masa penawaran awal (book building) akan dilakukan 13-21 Juni 2011. Diperkiraan izin efektif akan didapatkan pada 28 Juni 2011, sehingga diperkirakan masa penawaran berlangsung pada 1,4, 5 Juli 2011.

Proses penjatahan diperkirakan pada 7 Juli 2011, dan tanggal pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 11 Juli 2011. Dalam proses IPO ini, bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek yaitu PT Ciptadana Securities dan PT Danatama Makmur.

Kinerja perseroan pada 2010 untuk omset sebesar 889,1miliar rupiah meningkat 33 persen dibanding 2009 sebesar 668,4 miliar rupiah. Sedangkan Laba dibukukan 3,7 miliar dari rugi pada 2009 sebesar 152,7 miliar rupiah.[dni]