120611 ASDP Rencanakan Tambah Kapal

JAKARTA—PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) berencana membeli delapan unit untuk menambah fasilitas di tiga pelabuhan, yakni Merak-Bakauheni, Sibolga-Nias, dan Ketapang-Gilimanuk.

“Kami  telah menyiapkan anggaran sebesar  700 miliar rupiah untuk pengadaan kapal feri. Dana itu berasal dari internal perusahaan dan perbankan,” kata Direktur Usaha Pelabuhan ASDP Prasetyo Bhakti Utomo di Jakarta, Jumat (10/6).

Diungkapkannya, delapan unit terdiri dari kapal bekas dan kapal baru. Untuk Merak-Bakauheni, akan disediakan empat kapal bekas dan dua kapal baru. Sementara di dua pelabuhan, Sibolga-Nias dan Ketapang-Gilimanuk, akan disediakan dua kapal bekas.

Dikatakannya, perusahaan akan mendahulukan pengadaan kapal bekas karena bisa disediakan  lebih cepat.  “Setidaknya pada Oktober tahun ini, dua kapal sudah dapat didatangkan dan mulai dioperasikan di Pelabuhan Merak-Bakauheni. Untuk pengadaannya, kami serahkan kepada panitia tender. Yang pasti, kami akan mendatangkan kapal dari Jepang,” jelasnya.

Menurutnya, hingga kini  belum  diketahui jenis kapal feri  yang akan didatangkan karena menurutnya harus menentukan kapal yang cocok di setiap pelabuhan. Di Merak misalnya. Dalam mencari kapal untuk memenuhi karakteristik pelabuhan itu dirasa cukup sulit.  “Kalau untuk kapal baru, kemungkinan kami akan memilih kapal yang memiliki bobot 8-10 ribu GT,” katanya.

Direktur Lalu Lintas Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Kementerian Perhubungan Wiratno mengatakan, dalam membantu operator kapal  pemerintah telah menerapkan kebijakan tarif pengoperasian kapal setiap tahunnya.  “Kebijakan tarif itu dapat membantu operator berinvestasi untuk kapal. Kebijakan akuntansi di negara ini mengatur, setiap kepemilikan barang harus dibebani dengan penyusutan,” katanya.

Menurutnya,  adanya penyusutan pada setiap barang, menjadikan  operator  dapat membeli kembali barang baru jika barang lama rusak. “Tetapi kita akui  penerapan kebijakan tarif ini belum dapat memenuhi keinginan semua pihak untuk berinvestasi,” katanya.

Masih menurutnya,  operator hanya dapat memenuhi 65 persen dari harga pokok penjualan kapal. Contohnya untuk kapal feri Merak-Bakauheni suatu operator berinvestasi sekitar  45 miliar rupiah per kapal. Padahal kenyataannya di lapangan, harga kapal dapat mencapai 70 miliar rupiah. “Jadi masih ada sisa 35 persen yang harus ditutup,” jelasnya.

Untuk itu, katanya, pemerintah mengatur adanya kenaikan tarif pengoperasian kapal pada setiap enam bulan sekali. “Dengan naiknya tarif, komponen penyusutan pun dapat dinaikkan. Operator pun bisa lebih leluasa menabung untuk investasinya.”

Kenaikan tarif pengoperasian kapal feri di penyeberangan terakhir dinaikkan pada Desember 2010. Dalam waktu enam bulan, pemerintah dapat mengevaluasi harga tarif yang selama ini diterapkan. Dari evaluasi pun bisa tarif dapat berubah sesuai dengan kemampuan semua pihak.

Kenaikan tarif  tergantung dari keputusan Menteri Perhubungan. Penambahan tarif pengoperasian kapal selanjutnya dapat berkisar di angka 20-30 persen dari tarif saat ini.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s