090611 Kebebasan Menjadi Andalan

Studi di beberapa negara menunjukkan jasa Internet Protocol TV (IPTV) menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Pada 2011 diperkirakan jumlah pengguna IPTV mencapai 46 juta jiwa dengan potensi pendapatan 26 miliar dollar AS. Pada tahun lalu jumlah pengguna 11,5 juta jiwa dengan omset 17 miliar dollar AS.

Revenue stream bisnis dari IPTV bisa datang melalui  beberapa cara, antara lain   iuran pelanggan (subscription fee) yang dapat dibuat bervariatif, sesuai dengan variasi layanan yang diberikan, misalnya jumlah, tipe dan kualitas program yang dapat disajikan kepada  pelanggan. Cara lainnya adalah melalui jenis layanan yang bisa dibuat sesuai kebutuhan pelanggan (on demand).

Disamping itu ada pilihan Pay Per View (PPV). Bahkan, karena sifatnya yang interaktif,  dimungkinkan datangnya pendapatan dari layanan lainnya berupa home shopping, game  interaktif, atau tutorial, course.

Dari sisi pelanggan, kemudahan yang dirasakan adalah  mengakses jasa berbasis Quadruple Play dimana suara (VoIP),  Video (film, snetron, TV dll), layanan data, dan broadband internet berada  dalam satu operator, sehingga  memudahkan dalam membayar biaya langganan dan jaminan purnajualnya.

Layanan sesuai kebutuhan yang menawarkan kebebasan bagi penonton  seperti video on demand (VoD) berteknologi high definition (HD) juga menjadi andalan TV berbayar (Pay TV) biasa seperti yang ditawarkan oleh First Media untuk 150 ribu pelanggannya.

VOD memungkinkan pelanggan untuk memilih sendiri program video dan klip yang ingin ditonton. Layanan ini juga memungkinkan pelanggan menyimpan program siaran TV yang diinginkannya untuk ditonton saat waktu luang dan berulang kali.

“Kami berusaha  terus berada di garis depan teknologi baru dan menjadi pionir siaran digital.   Pengenalan VOD merupakan langkah besar First Media guna menyediakan pengalaman baru bagi pelanggan,” kata Presiden Direktur First Media Hengkie Liwanto di Jakarta, belum lama ini.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengaku tidak gentar dengan langkah   pesaing yang juga menawarkan layanan on demand walaupun tidak berbasis IPTV.  ”Jasa Groovia TV akan kalah bersaing. Pesaing boleh saja sama-sama menawarkan VoD. Tetapi, hanya Telkom yang memiliki jaringan luas dan komitmen memberikan layanan terbaik,” tegasnya.

Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo menjelaskan, jika berbicara menonton TV, haruslah dengan suasana batin orang yang berhadapan dengan layar kaca bukan monitor komputer. “Layanan sesuai kebutuhan mengubah konsep menonton TV dimana penonton dijajah oleh jadwal acara.  On demand menjadikan  primetime ditentukan penonton sehingga hidupnya dalamberkeluarga menjadilebih berkualitas karena bisa mengatur waktu,” jelasnya.

Dijelaskannya, salah satu yang menjadi keunggulan IPTV dibandingkan Pay TV biasa walaupun sama-sama menawarkan layanan on demand  adalah efisiensi sumber daya.

“Kalau model penyiaran,   seluruh channel misalnya 100, dikirim ke semua satu arah terlepas ditonton atau tidak sehingga boros frekuensi. Sementara IPTV hanya menyalurkan channel atau video  secara on-demand sesuai pilihan.  VoD di Groovia memiliki  fitur sosial, sharing dan kirim file video atau gambar yang akan ditawarkan secara bertahap,” jelasnya.

Direktur Pemasaran Aora TV Guntur S Siboro mengakui fitur  on demand sebagai killer application yang harus dikembangkan oleh TV berbayar terlepas dari teknologi yang diusungnya.

“Menonton sesuai ketersediaan waktu penonton memang menjadi kebutuhan bagi pelanggan yang berada di perkotaan. Layanan  On demand akan menarik untuk pelanggan existing dan   premium. Tinggal bagaimana mengemasnya dalam bahasa pemasaran   dan menyediakan akses yang mudah untuk menggunakannya,” jelasnya.

Sementara menurut Praktisi telematika Mochammad James Falahuddin VoD untuk di Indonesia tidak akan semenarik TV On Demand (TvoD) karena derasnya arus pembajakan film. “Kalau hanya ingin menonton film, masyarakat lebih suka cara mudah yakni membeli DVD. TVoD akan lebih menarik terutama bagi penggila olahraga yang susah mengatur jadwal menonton pertandingan langsung karena perbedaan waktu. Sayangnya, untuk membeli hak siar satu pertandingan olahraga itu mahal sekali. Solusinya mungkin pemain Pay TV berkolaborasi dengan penyelenggara TV Free to air,” jelasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s