090611 Inovasi Teknologi : Telkom Komersialkan IPTV. Babak Baru Menikmati Hiburan

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akhirnya mengkomersialkan secara resmi layanan  Internet Protocol Television (IPTV) dengan merek dagang  Groovia TV di Indonesia.

IPTV adalah layanan televisi layaknya penyiaran biasa, namun jaringannya berbasis kepada internet protocol (IP). Layanan ini didefinisikan sebagai Interactive Personalize TV menggunakan kabel untuk bisa diakses pelanggan dan dijamin tingkat kerahasiaannya sehingga pelanggan bisa mereview menggunakan jaringan kabel telepon dan kabel broadband dalam satu waktu.

Untuk tahap awal Groovia TV disasar bagi masyarakat di Jakarta Selatan, setelah itu dua hingga tiga bulan ke depan seluruh warga Jakarta bisa  menikmati layanan yang memiliki keunikan dimana pelanggan pemegang kontrol terhadap konten yang disiarkan berkat adanya  berbagai fitur yang memungkinkan pelanggan untuk record, pause, dan rewind tayangan TV favoritnya dalam jangka waktu tiga hari. Selain itu juga  ada fasilitas video on demand  (VoD), game on line  bahkan karaoke.

PT Indonusa Telemedia (TelkomVision) sebagai anak usaha Telkom di jasa TV berbayar (Pay TV) menargetkan IPTV bisa berkontribusi 30 persen terhadap omset perseroan pada 2015 nanti dengan satu juta pengguna.

Sedangkan pada tahun ini Telkom menargetkan IPTV bisa berkontribusi sekitar 50 miliar rupiah dengan 300 ribu pelanggan. Saat ini ada 40 channel hiburan yang mendukung Groovia TV. Beberapa diantaranya adalah  HBO, Max, Warner TV, Discovery Channel, TLC,  Diva Universal, Syfy Universal, Universal, Celestial, Disney Junior, dan lainnya.

Dimilikinya IPTV, menjadikan Telkom Vision sebagai  operator TV berbayar yang paling lengkap medianya untuk meyalurkan konten mulai dari satelit, kabel, hingga Internet Protocol.

Pasar yang disasar untuk layanan ini pada tahap pertama adalah segmen premium. Hal ini terlihat dari penawaran yang berlaku untuk pelanggan akses internet Speedy mulai 1 Mbps yang membayar sekitar 695 ribu rupiah. Jika pelanggan ingin berlangganan Groovia TV, maka cukup menambahkan biaya 50 ribu rupiah. Saat ini Speedy memiliki dua juta pelanggan dimana 12 persen diantaranya merupakan pelanggan dengan kecepatan akses 1 Mbps ke atas.

Dalam waktu enam bulan lagi layanan ini akan bisa dinikmati  melalui perangkat mobile,  komputer atau notebook berkat fitur three screens yang dimilikinya. Berikutnya Groovia TV dikembangkan  ke Kota Surabaya, Semarang, dan Denpasar.

Telkom sendiri membenamkan investasi sekitar 50-100 miliar rupiah untuk jasa yang dianggap penyelamat bisnis telepon kabel ini,  belum termasuk investasi untuk pengembangan jaringan akses true broadband yang menawarkan kecepatan 20-100 mbps.  Pada akhir tahun ini jaringan yang mampu menghantarkan true broadband sekitar 1 juta sambungan,  diharapkan 2015 nanti menjadi 13 juta sambungan. Investasi hingga 2015 itu  sekitar 21,198 triliun rupiah

“Harapan kami dengan adanya Groovia, penggunanya bisa lebih groovy dan meningkat kualitas hidupnya melalui hiburan yang didapat dari IPTV. Tahap pertama memang ditujukan untuk segmen premium, namun seiring bisa dipelajari respons pasar tentu disasar juga untuk kelas bawah,” ujar Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, belum lama ini.

Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo mengungkapkan, ide menyelenggarakan  IPTV sudah lama didiskusikan oleh manajemen. Namun mengingat  model sukses yang dilakukan operator telekomunikasi sangat minim, menjadikan Telkom berhati-hati mengimplementasikannya.

Hal ini karena IPTV adalah teknologi yang masih mahal dan terbatas, belum lagi   biaya konten yang mahal mengikuti model TV berlangganan. Belum lagi kebutuhan  infrastruktur broadband yang tinggi sebelum layanan ini digelar disamping belum ada model bisnis yang bisa menopang dan diterima oleh pasar

“Akibatnya, selama empat tahun belakangan ini Telkom  lebih fokus pada penyiapan infrastruktur backbone dan akes broadband. Mengkonvergensikan  layanan broadband  dengan baik baik, ketika setiap  layanan secara individual bagus. Dan harus diingat, IPTV  tidak bisa dijalankan dengan disiplin Telco karena  terbukti banyak yang gagal, harus dijalankan dengan disiplin bisnis media, sehingga  Telkom meluncurkannya   secara bertahap untuk  memastikan kualitas  dan pengalaman pelanggan,” jelasnya.

Pasar Besar
Direktur Pemasaran Aora TV Guntur S Siboro mengaku tidak gentar bersaing dengan Telkom Vision dalam menggarap pasar TV berbayar karena kuenya masih besar. “Penetrasi TV berbayar di Indonesia masih rendah, sekitar 3 persen dari 50 juta rumah tangga yang memiliki TV,” ungkapnya.

Diungkapkannya,  penyelenggara Pay TV yang ada saja saat ini belum berhasil meningkatkan penetrasi secara dramatis. Apalagi pengembangan IPTV berbasis kabel memerlukan waktu untuk perluasan coverage. ”Pengenalan IPTV baik untuk industri dalam meningkatkan awareness. Tantangannya adalah bandwitdh untuk penyaluran konten  masih relatif kecil dan tidak stabil,” katanya.

Direktur Utama TelkomVision Elvizar KH optimistis,  Groovia TV cepat diterima pasar   tidak selama di  Hongkong yang membutuhkan waktu tiga tahun atau Malaysia satu tahun untuk mengembangkan IPTV.  ”Saya optimistis di Indonesia bisa lebih cepat adopsi pasarnya karena kami sudah memiliki strategi yang tepat untuk masuk ke pasar. Pada tahun depan total pelanggan TelkomVision diperkirakan mencapai 1,5 juta pengguna dari semua produk,” tegasnya.

Praktisi telematika Mochammad James Falahuddin menyarankan, Telkom harus berani melakukan investasi di konten premium untuk mengembangkan IPTV mengingat pasar yang disasar kelas atas.

”Di jasa ini konten adalah rajanya.  Telkom sudah tepat memasarkan produk ini ke segmen tertentu dulu sambil memastikan akses Speedy yang diberikan sesuai janji. Diharapkan nantinya jika kualitas terjaga maka word of mouth di dapat, ujungnya produk ini bisa buzzing di pasar,” katanya.

Praktisi telematika lainnya, Raherman Rahanan mengakui, kala bermain sebagai penyelenggara jasa IPTV, operator telekomunikasi terkendala dalam penyediaan konten. Padahal, biaya konten ini bisa memakan banyak bujet operasional.

Menurutnya, kunci sukes menyelenggarakan IPTV terletak pada jaminan kualitas layanan, strategi harga,  ketersediaan akses, konten. ”Jika empat faktor ini bisa diberikan, bisa mengalahkan Pay TV yang ada mengingat berlangganan IPTV ada nilai tambahnya yakni  punya internet broadband yang cukup baik,” jelasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s