070611 Menakar Bisnis Masa Depan

Lembaga riset Nielsen dalam laporannya tentang  Global Online Consumer Confidence pada kuartal I 2011 lalu menempatkan India dan Indonesia sebagai dua negara yang paling optimistik dalam belanja secara online.

Hasil survei terhadap  28 ribu pengguna internet di seluruh dunia, menempatkan India pada posisi negara yang paling optimistik akan perkembangan bisnis ini dengan  index  131, Indonesia menempel di posisi ketiga dengan index 116. Angka ini kontras  rata-rata global sekitar  92.

India ditempatkan sebagai negara paling menyakinkan karena pertumbuhan ekonomi dan luasnya lapangan kerja. Sedangkan Indonesia, di luar pertumbuhan ekonominya, penggunaan social media yang tinggi juga menjadi salah satu yang diperhitungkan.

Country Manager Multiply Indonesia Daniel Tumiwa mengakui Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara social commerce  walaupun berbelanja secara online di Indonesia belum besar saat ini.

”Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mark Plus menunjukkan setiap orang yang berbelanja secara online per bulan sekitar 170 ribu rupiah atau sekitar 18,8 dollar AS, angka ini berbeda dengan di Amerika Serikat dimana rata-rata per orang mencapai 51 dollar AS,” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.

Namun, dengan populasi penduduk mencapai  240 juta jiwa dimana 45 juta adalah pengguna Internet, maka negara ini menjadi pasar yang potensial untuk pengembangan salah satu bisnis masa depan ini. Apalagi, pengguna social media di Indonesia lumayan menjanjikan, misalnya  untuk Facebook mencapai sekitar 35 juta jiwa atau 77 persen dari pengguna Internet.

”Kondisi Indonesia kian menjanjikan karena pemerintah memiliki target untuk menjadikan penterasi broadband mencapai 30 persen dan internet 50 persen dari total populasi,” jelasnya.

Diungkapkannya, kondisi e-commerce di Indonesia saat ini adalah masih terbatas dalam metode pembayaran. Sedangkan untuk pengembangannya dibutuhkan  kolaborasi,  harga produk yang ramah kantong, dukungan ekosistem, dan adanya kepercayaan.  ”Indonesia memiliki 180 juta sim card yang digunakan pelanggan mobile. Ini menjadi alat transaksi yang menjanjikan karena yang punya rekening bank itu hanya 90 juta jiwa,” jelasnya.

Dijelaskannya, social commerce adalah berbelanja dengan interaksi dalam e-commerce yang memberikan solusi secara komprehensif. Solusi itu adalah mencari, memilih, membayar, pengiriman, dan membagi informasi penjual-pembeli barang. “Di Social Commerce ini masalah sumber informasi yang kredibel memegang peranan selain  User generated content untuk membangun rasa kepemilikan,” katanya.

Industri Game
Sementara Direktur Utama Agate Studi Arief Widhiyasa mengungkapkan, bisnis masa depan di era Internet selain social commerce adalah industri game. “Game adalah masa depan dari industri ini jika melihat dari statistik dan investasi yang dibutuhkan dibandingkan dengan omset yang diraih,” ungkap pemilik sekitar 80 game ini.

Diungkapkannya, jika melihat apsar game di Amerika Serikat dan global terjadi peningkatan nilai pasar sekitar 20 persen. Pendapatan rata-rata dari game developer per tahun pun sekitar 72 ribu dollar AS.

“Untuk mengembangkan game itu dibutuhkan pasar, bakat, modal dan developer. Sayangnya, di Indoensia walau memiliki ini semua tetapi tidak diutiliasasi sehingga potensi pasar yang besar lari keluar negeri,” keluhnya.

Dijelaskannya, kondisi di Indonesia walau memiliki pasar besar tetapi hanya ada 30 publisher lokal dengan kondisi tenaga kreatif tidak dijaga, dan kurangnya dukungan pendanaan. Akibatnya, pertumbuhan dari pelaku usaha ini minim, bahkan ada perusahaan yang tutup. “Bagi pemain lokal yang cerdik akhirnya menggunakan jalan memutar dengan menaklukkan terlebih dulu pasar internasional untuk mendapatkan nama, setelah itu baru masuk ke dalam negeri,” katanya.

Hal lain yang menjadi sorotannya adalah masalah kerjasama dengan operator dalam mengembangkan mobile game karena sistem bagi hasil belum menjanjikan. “Biaya investasi bisa tidak balik jika hanya mengandalkan jumlah unduhan pengguna. Operator harus agak fleksibel dalam bekerjasama dengan pengembang game karena masa depan ada di game mobile mengingat tren perangkat ke sana,” jelasnya.

Head Of Service Architecture XL Axiata I Made Hartawijaya mengakui di era telekomunikasi bergeser dari jasa suara dan SMS ke data, maka operator pun sedang menakar bisnis yang bisa menjadi masa depan sehingga bisa membantu pertumbuhan.

“Sekarang ini industri telekomunikasi sedang masuk ke kurva kedua yakni data. Semua operator sedang menakar di kurva ketiga yakni derivatif jasa data, yang bisa menjadi andalan. Apakah mobile commerce atau payment,” jelasnya.

Dikatakannya, para pemain di social commerce, game, atau aplikasi lainnya tak akan bisa berkembang jika tidak didukung oleh operator telekomunikasi mengingat pasar potensial adalah di mobile. “Jika mau berkembang harus bermain di mobile, untuk monitize pasar. XL sendiri siap mendukung semua pemain dengan menjadi penyalur data yang baik,” tegasnya.

Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Kominfo Gatot S. Dewa Broto mengaku, pemerintah sudah menyadari pentingnya peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sehingga terus mendorong pembangunan infrastruktur dan memberikan rangsangan bagi industri kreatif berbasis TIK untuk berkembang.

“Kami baru saja meresmikan Balai Pelatihan dan Pengembangan TIK di kawasan industri Jababeka, Bekasi,  hasil hibah pemerintah Korea Selatan. Siapa saja bisa memanfaatkan infrastruktur ini.  Namun penggunaannya harus mengikuti aturan dalam Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) alias harus bayar. Tapi pungutannya berbeda dengan tempat komersil lainnya, tidak bisa berlebihan,” jelasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengingatkan, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar di era broadband dibutuhkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kuat dalam mengembangkan aplikasi-aplikasi sehingga bisa menjadi bisnis masa depan yang menjanjikan.

“Walaupun ditargetkan separuh penduduk Indonesia terkoneksi ke internet dan seluruh desa sudah broadband di 2015, tanpa SDM yang secara cerdas dapat memanfaatkan broadband untuk kemajuan pendidikan, kesehatan, layanan pemerintahan, bisnis, perdagangan dan lain-lain, maka  nampaknya kita hanya bisa bangga sebagai pengguna Facebook ke-2 di dunia saja, bukan pembuat aplikasi-aplikasi baru yang mendunia,” ketusnya.[dni]

Iklan

1 Komentar

  1. ya, social commerce dan social game, dua hal yang sudah mulai ramai di Indonesia sendiri. Setuju kalau payment yang menjadi masalah. Selama ini sudah ada beberapa online payment lokal di indonesia, terkait maslah mobile payment oprator masih ego dan masih terbentur regulasi

    Salam


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s