070611 Mandala Belum Bisa Mengangkasa

JAKARTA—Maskapai swasta, PT Mandala Airlines (Mandala), dipastikan belum bisa mengangkasa kembali pada Juni ini, walaupun telah berhasil menggandeng mitra investor baru yakni Saratoga Capital dan Tiger Airways mengingat otoritas penerbangan sipil  menilai  persyaratan teknis (technical requirements) berupa rencana bisnis (bussiness plan)  belum dipenuhi oleh operator tersebut.

“Mandala sepertinya belum akan terbang pada  Juni-Juli 2011,  karena kami masih evaluasi beberapa hal terkait technical requirement yang belum dipenuhi. Meski rute masih terbuka untuk diterbangi lagi oleh Mandala Airlines,” ungkap Menteri Perhubungan Freddy Numberi  di Jakarta, Senin (6/6).

Diakuinya, peluang Mandala untuk terbang lagi bagi maskapai itu  memang terbuka lebar. Hal ini karena  telah memiliki investor baru, yakni Saratoga Capital dan Tiger Airways, dan  rute yang ditinggalkan Mandala belum diambilalih oleh maskapai lain. “Meski izin rute telah dibekukan, sejatinya Mandala masih menjadi pemilik rute tersebut,” jelasnya.

Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Edward Alexander Silooy mengakui, hingga kini rencana bisnis terbaru Mandala belum sampai di Kemenhub. Padahal, rencana bisnis menjadi poin krusial bagi operasional sebuah maskapai. Dalam rencana bisnis tak hanya memuat tentang struktur dan komposisi pemodal baru, permodalan dari pemodal baru, pengadaan pesawat, hingga rencana operasional seperti rute yang diterbangi.

“Sampai saat ini rencana bisnis terbaru Mandala Airlines belum kami terima. Jadi terus terang kami belum bisa bicara apa-apa, kemarin itu baru lapor tentang adanya calon pemodal baru yang hendak menghidupkan maskapai itu, lainnya belum ada,” jelas Silooy.

Secara terpisah, Manajer Investasi Saratoga Capital Devin Wirawan mengatakan, Mandala Airlines memang tidak mungkin terbang pada Juni-Juli tahun ini. Pasalnya, saat ini saja proses uji tuntas (due dilligence) masih dilakukan antara manajemen Mandala Airlines dan Saratoga Capital serta Tiger Airways. Saratoga menargetkan Mandala bisa terbang kembali pada semester II-2011 sejalan dengan selesainya proses uji tuntas.

“Dari Saratoga menargetkan Mandala bisa terbang lagi pada tahun ini, tapi bukan Juni-Juli tidak keburu-lah. Karena saat ini masih saja uji tuntas, jadi Saratoga dan Mandala pada 19 Mei 2011 kemarin baru menyepakati term sheet yang dilanjutkan due dilligence,” jelasnya.

Devin juga  belum bisa memastikan nilai akuisis dari Mandala Airlines oleh Saratoga Capital, meski dipastikan Saratoga akan menguasai 51 persen saham Mandala Airlines dan Tiger Airways menguasai 33 persen. Nilai akuisisi baru akan diketahui setelah proses uji tuntas selesai yang akan dilanjutkan dengan penandatangan sales purchase agreement (SPA).

Selain nilai akuisisi, Saratoga juga belum bisa memastikan jumlah dan jenis pesawat, termasuk rute yang dilayani.

“Kalau layanan yang akan dipilih mungkin sudah bisa dipastikan. Dalam publikasi sebelumnya oleh pihak-pihak terkait memang Mandala akan mengikuti model bisnis yang dijalankan Tiger Airways selama ini, yakni low cost carrier (LCC),” ungkapnya.

Sebelumnya pada Kamis (19/5) Kantor berita Reuters  menyebutkan, maskapai berbiaya murah (low cost carrier) Tiger Airways dalam pernyataannya telah mengakui untuk menyetujui akuisisi 33 persen saham di PT Mandala Airlines. Namun nilai akuisisi atas jumlah saham itu tidak diungkapkan.

Disebutkan pula, Mandala tengah merestrukturisasi keuangannya sesuai proses hukum di Indonesia . Tiger Airways yang kini 33 persen  sahamnya dimiliki Singapore Airlines (SIA) akan menerapkan strategi perjalanan murah untuk rute domestik mapun internasional dengan waktu tempuh lima jam. Untuk masuk ke Mandala Airlines, Tiger Airways akan menggandeng Saratoga Group yang nantinya akan memiliki saham mayoritas sebesar 51 persen di Mandala.

Dengan pernyataan itu, komposisi saham Mandala yang dulu 51 persen dimiliki PT Cardig International Aviation dan 49 persen milik Indigo Indonesia Investment Sarl menjadi Saratoga Capital (51%), Tiger Airways (33%), dan kreditor konkuren Mandala (16%).

Mandala menghentikan operasional maskapainya sejak 13 Janurai 2011 lalu karena kesulitan keuangan, sehingga seluruh pesawat yang berjumlah tiga unit ditarik kembali oleh lessor (perusahaan penyewa pesawat). Total kewajiban Mandala saat itu mencapai 2,45 triliun rupiah kepada kreditur konkuren yang jumlahnya ratusan telah dikonversi ke dalam saham Mandala dan utang ke kreditur separatis yaitu Bank Victoria 54,14 miliar rupiah.[dni]

070611 Indonesia Usulkan Road Map Atasi Perompak Somalia

JAKARTA—Pemerintah Indonesia mengusulkan adanya peta jalan (road map) yang disepakati oleh dunia internasional dalam mengatasi perompak di perairan Somalia.

“Penanganan para perompak di Somalia tidak bisa dilakukan secara per negara. Ini perlu koordinasi semua pihak, sehingga perlu adanya road map untuk penyelesaian masalah ini. Kami akan usulkan road map itu dalam sidang  International Maritime Organisation (IMO) mendatang,” ungkap Menteri Perhubungan Freddy Numberi di Jakarta, Senin (6/6).

Dijelaskannya, Indonesia memiliki kepentingan dalam mengatasi para perompak ini karena sebanyak 70 ribu pelaut Indonesia bekerja di kapal berbendera lokal atau asing. “Ini sudah masalah kemanan manusia. karena itu perlu ada langkah tegas terhadap para perompak,” tuturnya.

Diungkapkannya,  di lapangan  banyak organisasi yang dibentuk untuk mengamankan kapal-kapal yang melintasi perairan Somalia,  tetapi dilakukan secara terpisah dan  tidak terkoordinasi penuh.  “Pada konferensi IMO bulan  September di London, Indonesia berinisiasi untuk bersama-sama lebih tegas lagi menangani pembajakan,” jelasnya.

Dikatakannya,  sebagai langkah awal untuk menangani pembajakan laut khususnya oleh perompak Somalia, diperkenalkan praktek manajemen industri terbaik (Best Management Practices to Deter Piracy off the Coast of Somalia and the Arabian Sea Area/BMP3). BMP3 ini bertujuan untuk membantu kapal-kapal menghindari, mencegah atau memperlambat serangan bajak laut di lepas Pantai Somalia, termasuk Teluk Aden, dan wilayah Arab.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perhubungan Bobby Mamahit mengatakan penyusunan best practice ini berdasarkan pengalaman yang didukung oleh data dari Angkatan Laut menjadi rekomendasi bagi para awak kapal maupun manajemen yang akan memberikan perbedaan yang signifikan dalam mencegah kapal menjadi korban pembajakan.

Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) Johnson W Sutjiipto mengungkapkan, pada 2010, terdapat 392 penyerangan kapal, 53 lolos dan 1180 pelaut yang disandera, 8 dibunuh. Dari pembajakan tersebut, 44 persen  terjadi di Perairan Somalia, dan merugikan dunia internasional sebesar 8 miliar-12 miliar dollar AS. Hingga 16 Mei 2011, terdapat 518 kasus pembajakan di Perairan Somalia.

Ketua Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Hanafi Rustandi mengatakan 70 persen transportasi dunia melalui kapal. Sebanyak 70.000 pelaut Indonesia bekerja di kapal. “Perlu diberi training kepada pelaut, mudah-mudahan BMP3 dapat menjadi solusi,” katanya.

Koordinator IMO untuk regional Asia Pasifik Brenda V. Pimentel menyambut positif langkah Indonesia mengambil kebijakan penanganan mengatasi pembajakan karena  sebagai salah satu negara pemasok tenaga pelaut utama dunia harus memperhatikan keselamatan warganya.[dni]

070611 Maxitech Luncurkan Me-Chat

JAKARTA— PT Max Interactives Technologies (Maxitech ) meluncurkan aplikasi Instant Messaging (IM) bertajuk Me-Chat yang siap berjalan di atas multi-platform dan multi-OS untuk segmen menengah ke bawah.

”Kami telah menggandeng  15 ponsel merek lokal untuk bekerja sama dengan Me-Chat seperti  BlueBerry, Lexus, dan HT Mobile. Aplikasi ini  akan tersedia di beragai merek dan tipe ponsel  mulai 15 Juni mendatang. Saat ini, kami masih mengembangkan kemitraan kami dengan merek-merek lokal yang ada, setelah itu  segera menjalin kerja sama dengan merek global,” ungkap  General Manager Maxitech Antonius A Susanto di Jakarta, Senin (6/6).

Dijelaskannya, aplikasi asal Thailand ini tidak dapat diunduh sehingga untuk ponsel-ponsel tipe lama, pelanggan harus datang ke service center merek lokal terkait. Sementara  untuk ponsel-ponsel tipe baru, Me-Chat akan secara otomatis hadir di dalamnya.

Menurutnya, sebagai IM pertama di Indonesia yang langsung terintegrasi dengan  sistem operasi alias  tidak berbasis Java menjadikan  dalam pengoperasiannya Me-Chat relatif lebih cepat, bahkan kinerjanya diklaim lebih cepat daripada BlackBerry Messenger (BBM) yang ditanamkan di dalam BlackBerry.

“Me-Chat lebih ringan daripada aplikasi-aplikasi sejenis yang berjalan di atas platform Java. Me-Chat tidak membutuhkan sumber daya memori dan prosesor yang besar. Dan, ia tetap berjalan tanpa mengganggu aplikasi lain yang berjalan. Kurang lebih sama seperti BBM. Bahkan ,” jelasnya.

Fitur yang dimiliki Me-Chat adalah chatting, meng-update Twitter dan Facebook,  Me-Pix untuk berbagi file gambar dan foto, Me-Audio yang bisa mengantarkan pesan suara (voice note), Me-Transalator yang bisa menerjemahkan SMS dengan mudah dalam 5 bahasa, dan Me-Mail untuk layanan push e-mail. Semua fitur di atas bisa peroleh dengan biaya seribu rupiah  per hari.

Kehadiran Me-Chat melengkapi aplikasi sejenis yang mencoba menggoyang BBM. Sebut saja WhatsApp Messenger atau aplikasi-aplikasi lokal seperti IM-ku, atau Nexian Messenger, Esia Messenger.[dni]

070611 Penjualan Ponsel Diprediksi Naik 20%

JAKARTA—Penjualan telepon seluler (Ponsel) pada tahun ini diprediksi mencapai 29 juta unit atau meningkat 20 persen dibandingkan 2010  sebesar  22 juta unit dengan total omset senilai 23 triliun rupiah.

“Pasar ponsel di Indonesia seperti di China dan India, sangat menjanjikan. Karena itu banyak bermunculan merek baru disamping pemain lama yang terus bertahan untuk merebutkan posisi teratas di pangsa pasar,” ungkap  GM Sales and Marketing eTouch Indonesia Hendru Susilo di Jakarta, Senin (6/6).

Diungkapkannya, sebagai  vendor ponsel asal Hongkong yang produknya telah tersebar di 10 negara di dunia, perseroan juga menaruh perhatian lebih terhadap Indonesia. “ Pada tahun 2011 ini eTouch Mobile akan lebih fokus terhadap pasar di Indonesia. Dan target kami di industri ini adalah mencapai posisi 5 besar pada akhir tahun 2012,”jelasnya.

Dia optimistis target itu bisa diraih mengingat selama periode Januari-Mei 2011, penjualan produknya mengalami peningkatan sebesar 20 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. “Penerimaan pasar terhadap produk eTouch kian menjanjikan. Kami menjadi kian bersemangat menggarap pasar,” katanya.

Dijelaskannya, untuk menunjukan keseriusan bermain di pasar Indonesia, pada semester II 2011, eTouch menggandeng Nikita Willy sebagai Duta Produk eTouch Indonesia. “Selebritis ternama memiliki peran penting dalam melakukan pencitraan sebuah produk. Melalui duta produk terbaru ini kami yakin eTouch mobile akan lebih dikenal lagi oleh konsumen,” jelasnya.

Selain menggandeng selebritas, lanjutnya, perseroan juga meluncurkan lima produk baru untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kelima produk itu adalah  eTouch I-360 dan I-270 yang merupakan ponsel touchscreen,  eTouch D555 yang mengusung desain  slim candy bar,  eTouch D – 498PRO dengan  chrome design  bagi konsumen pencinta musik.

Terakhir,  eTouch 700PRO yang memiliki penampilan yang sangat stylish dengan kemampuan bergerak di Dual GSM, keypad QWERTY, kamera, MP3 player, fitur Blacklist, modem dan webcam.[dni]

070611 Wadirut Bakrie Telecom Hengkang

JAKARTA—Wakil Direktur Utama (Wadirut) Bidang Jaringan Bakrie Telecom, M. Danny Buldansyah, dikabarkan hengkang dari operator yang mengusung merek esia itu dan bergabung dengan Qatar Telecom  (Qtel).

“Danny baru kembali dari Qatar untuk bertemu dengan petinggi Qtel. Danny untuk sementara akan bergabung dengan Qtel grup. Setelah itu, tiga bulan kemudian akan ditugaskan menjadi Wadirut atau Chief Operating Officer (COO) di Indosat karena Qtel adalah pemilik 65 persen saham operator itu,” ungkap sumber Koran Jakarta, Senin (6/6).

Diungkapkannya, Danny nantinya di Indosat akan mengambil peran yang ditinggalkan mantan eksekutif Singapore Technologies Telemedia (STT), Kaizad B Heerjee, yang mengundurkan diri pada awal 2010. “Danny akan mengurusi pengembangan jaringan dan pemasaran dari Indosat nantinya,” katanya.

Mantan petinggi Indosat di era kepemilikan saham masih dikuasai oleh STT yang enggan disebutkan namanya, mengakui sosok Danny sudah didekati sejak beberapa tahun lalu untuk menempati posisi itu. “Ini sebenarnya isu lama karena setahu saya Danny memang sudah diincar sejak lama oleh Indosat. Jika kali ini terealisir, ini tentu kabar gembira bagi Indosat agar bisa lebih kompetitif setelah banyak eksekutifnya yang hengkang,” katanya.

Berdasarkan catatan, Danny yang lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1988 memang akrab dengan pengembangan jaringan operator baik ketika bergabung dengan AT&T, Lucent Technologies Indonesia, XL Axiata, dan terakhir di Bakrie Telecom sejak 2007.

Sayangnya, Danny ketika dikonfirmasi enggan memberikan keterangan. Sikap serupa juga ditunjukkan oleh  Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi.

Sedangkan Head Of Corporate Communication Indosat Djarot Handoko mengakui pada 24 Juni 2011 akan digelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa Indosat. “Masalah ada isu  urusan penggantian direksi  atau komisaris adalah urusan pemegang saham. Agenda  terkait RUPST/LB Indosat akan disampaikan dalam waktu dekat,” katanya.

Sementara menurut Pengamat Ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiscus Paschalis derasnya arus bajak-membajak eksekutif di industri telekomunikasi disebabkan dua hal yang saling terkait.

Pertama, bermunculannya pemain baru yang banyak melakukan proyek ekspansi, sehingga perusahaan itu membutuhkan banyak SDM. Kedua, tingginya kebutuhan tidak didukung suplai pasar, terutama pasokan dari perguruan tinggi yang kurang.  “Biasanya penyebab utama turnover ini adalah gaji, di samping reputasi perusahaan, suasana, dan fasilitas kerja,” jelasnya.[dni]

070611 Liriklah Produk Lokal

Geliat untuk menikmati kue industri telekomunikasi tidak hanya dimonopoli oleh pemain aplikasi yang identik dengan dunia kreatif. Para penyedia perangkat pun bernafsu untuk mencicipi gurihnya industri yang terus menunjukkan geliatnya dalam berkontribusi bagi perekonomian negara ini.

Salah satunya adalah produsen kabel optik nasional, PT Communication Cable Systems Indonesia (CCSI) yang baru saja berhasil meraih sertifikat  lulus uji kabel optik dasar laut  hingga kedalaman 1.500 meter di bawah permukaan laut dari Universal Joint Consortium (UJC) belum lama ini.

“Kami mengalokasikan investasi kabel optik dasar laut sekitar 300 juta dollar AS dengan target ekspansi 500.000 km dari posisi 300.000 km tahun ini. Pasar kabel optik dasar laut ini lumayan besar karena kondisi geografis Indonesia ideal menjadikan perangkat ini sebagai backbone dari jaringan operator,” ungkap Direktur Utama CCSI Peter Djatmiko di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan China,  penetrasi kabel optik di Indonesia masih rendah.  Setiap tahunnya negeri Tirai Bambu itu  membentangkan 50 juta km serat optik, sementara Indonesia baru 1,5 juta km serat optik. Padahal dari sisi perbandingan populasi seharusnya Indonesia membentangkan 3-4 juta km serat optik setiap tahunnya.

”Indonesia memang sudah memulai beberapa proyek mercu suar terkait kabel, khususnya di dasar laut dengan Palapa Ring. Sayangnya, kontribusi pemain lokal di proyek ini sangat minim. Penyerapan kabel optik oleh operator nasional juga  masih sangat kecil. Telkom, Indosat, dan XL menyerap sekitar 1.000 km. Saat ini di kabel darat 90 persen  sudah dapat dipenuhi lokal. Kami menguasai 25 persen pangsa pasar di darat dan di kabel laut kami masih menjadi satu-satunya,” jelasnya.

Direktur Sales dan Marketing CCSI Julian Sudarno mengungkapkan, secara umum, belanja untuk serat optik dari suatu proyek biasanya berkisar 20-30 persen  dari nilai total investasi. “Kami memiliki harapan besar agar diikutsertakan dalam proyek Palapa Ring II yang akan digelar oleh Telkom. Selama ini, selain  operator telekomunikasi  produk kami juga dipakai  Perusahaan Gas Negara, Caltex, Amerada Heiss, Pegaskom, Total Indonesia, dan Maxus,” katanya.

Untuk diketahui, selain  CCSI, pemain di perangkat ini adalah  PT Prysmian Cable Indonesia, PT BICC Berca, PT Furukawa-Supreme, PT Jembo, PT Sumi-Indo, PT Voksel. Sementara proyek Palapa Ring I yang dijalankan oleh Telkom dimenangkan tendernya oleh Huawei Global Marine dari China.

Masih menurut Peter, jika operator menggunakan  produk lokal  sejumlah penghematan dapat terjadi seperti pengiriman ongkos kirim yang memakan investasi 2 juta dollar AS dan  dari sisi biaya operasional 35 persen untuk instalasi. Sedangkan  dari segi harga, bisa lebih murah 10 persen ketimbang  produk impor.
”Pemicu utama barang impor masih dilirik itu adalah proses pengadaan di operator telekomunikasi yang menggunakan e-auction  belum berpihak pada industri lokal. Misalnya, ada syarat pernah menggelar 10 ribu km serat optik, bagaimana kita bisa ikuti kalau kesempatan untuk menggelar sepanjang itu tidak pernah ada.  Jika kami lulus teknis pun harganya belum dapat mengikuti, dan kualitas kerap kurang diperhatikan lagi,” keluhnya.

Dikatakannya, jika operator berpihak kepada perangkat lokal, maka  Indonesia bisa membuat core kabel optik secara mandiri, tidak terbatas hanya jacketing karena skala ekonomis bisa dicapai. ”China itu juga tidak memiliki kemampuan mengembangkan serat optik. Raksasa China itu membeli saham perusahaan yang sudah ahli membuat core untuk dijual kembali produknya dengan label China,” jelasnya.

Sementara Presdir  Moratelindo Galumbang Menak mengungkapkan, pihaknya adalah yang pertama  berani memakai produk dalam negeri karena harga kabel optik dasar laut lokal dengan kualitas internasional lebih kompetitif dibandingkan dengan produk impor.

”Jika menggunakan produk asing, untuk  pengiriman  sudah memakan satu bulan. Pemasangan  tidak masalah menggunakan kapal asing walau biaya operasinya tinggi karena mereka punya teknologi dan keahlian,” ujarnya.

Moratelindo tengah membangun jalur Batam-Jakarta dan melakukan survei penggelaran kabel optik Dumai-Malaka bersama Huawei Marine. Saat ini proyek yang sedang berjalan lainnya adalah penggelaran kabel laut Jakarta-Singapura. Operator itu pernah menyewa Global Marine untuk membangun jalur Batam-Dumai.[dni]

070611 Menakar Bisnis Masa Depan

Lembaga riset Nielsen dalam laporannya tentang  Global Online Consumer Confidence pada kuartal I 2011 lalu menempatkan India dan Indonesia sebagai dua negara yang paling optimistik dalam belanja secara online.

Hasil survei terhadap  28 ribu pengguna internet di seluruh dunia, menempatkan India pada posisi negara yang paling optimistik akan perkembangan bisnis ini dengan  index  131, Indonesia menempel di posisi ketiga dengan index 116. Angka ini kontras  rata-rata global sekitar  92.

India ditempatkan sebagai negara paling menyakinkan karena pertumbuhan ekonomi dan luasnya lapangan kerja. Sedangkan Indonesia, di luar pertumbuhan ekonominya, penggunaan social media yang tinggi juga menjadi salah satu yang diperhitungkan.

Country Manager Multiply Indonesia Daniel Tumiwa mengakui Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara social commerce  walaupun berbelanja secara online di Indonesia belum besar saat ini.

”Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mark Plus menunjukkan setiap orang yang berbelanja secara online per bulan sekitar 170 ribu rupiah atau sekitar 18,8 dollar AS, angka ini berbeda dengan di Amerika Serikat dimana rata-rata per orang mencapai 51 dollar AS,” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.

Namun, dengan populasi penduduk mencapai  240 juta jiwa dimana 45 juta adalah pengguna Internet, maka negara ini menjadi pasar yang potensial untuk pengembangan salah satu bisnis masa depan ini. Apalagi, pengguna social media di Indonesia lumayan menjanjikan, misalnya  untuk Facebook mencapai sekitar 35 juta jiwa atau 77 persen dari pengguna Internet.

”Kondisi Indonesia kian menjanjikan karena pemerintah memiliki target untuk menjadikan penterasi broadband mencapai 30 persen dan internet 50 persen dari total populasi,” jelasnya.

Diungkapkannya, kondisi e-commerce di Indonesia saat ini adalah masih terbatas dalam metode pembayaran. Sedangkan untuk pengembangannya dibutuhkan  kolaborasi,  harga produk yang ramah kantong, dukungan ekosistem, dan adanya kepercayaan.  ”Indonesia memiliki 180 juta sim card yang digunakan pelanggan mobile. Ini menjadi alat transaksi yang menjanjikan karena yang punya rekening bank itu hanya 90 juta jiwa,” jelasnya.

Dijelaskannya, social commerce adalah berbelanja dengan interaksi dalam e-commerce yang memberikan solusi secara komprehensif. Solusi itu adalah mencari, memilih, membayar, pengiriman, dan membagi informasi penjual-pembeli barang. “Di Social Commerce ini masalah sumber informasi yang kredibel memegang peranan selain  User generated content untuk membangun rasa kepemilikan,” katanya.

Industri Game
Sementara Direktur Utama Agate Studi Arief Widhiyasa mengungkapkan, bisnis masa depan di era Internet selain social commerce adalah industri game. “Game adalah masa depan dari industri ini jika melihat dari statistik dan investasi yang dibutuhkan dibandingkan dengan omset yang diraih,” ungkap pemilik sekitar 80 game ini.

Diungkapkannya, jika melihat apsar game di Amerika Serikat dan global terjadi peningkatan nilai pasar sekitar 20 persen. Pendapatan rata-rata dari game developer per tahun pun sekitar 72 ribu dollar AS.

“Untuk mengembangkan game itu dibutuhkan pasar, bakat, modal dan developer. Sayangnya, di Indoensia walau memiliki ini semua tetapi tidak diutiliasasi sehingga potensi pasar yang besar lari keluar negeri,” keluhnya.

Dijelaskannya, kondisi di Indonesia walau memiliki pasar besar tetapi hanya ada 30 publisher lokal dengan kondisi tenaga kreatif tidak dijaga, dan kurangnya dukungan pendanaan. Akibatnya, pertumbuhan dari pelaku usaha ini minim, bahkan ada perusahaan yang tutup. “Bagi pemain lokal yang cerdik akhirnya menggunakan jalan memutar dengan menaklukkan terlebih dulu pasar internasional untuk mendapatkan nama, setelah itu baru masuk ke dalam negeri,” katanya.

Hal lain yang menjadi sorotannya adalah masalah kerjasama dengan operator dalam mengembangkan mobile game karena sistem bagi hasil belum menjanjikan. “Biaya investasi bisa tidak balik jika hanya mengandalkan jumlah unduhan pengguna. Operator harus agak fleksibel dalam bekerjasama dengan pengembang game karena masa depan ada di game mobile mengingat tren perangkat ke sana,” jelasnya.

Head Of Service Architecture XL Axiata I Made Hartawijaya mengakui di era telekomunikasi bergeser dari jasa suara dan SMS ke data, maka operator pun sedang menakar bisnis yang bisa menjadi masa depan sehingga bisa membantu pertumbuhan.

“Sekarang ini industri telekomunikasi sedang masuk ke kurva kedua yakni data. Semua operator sedang menakar di kurva ketiga yakni derivatif jasa data, yang bisa menjadi andalan. Apakah mobile commerce atau payment,” jelasnya.

Dikatakannya, para pemain di social commerce, game, atau aplikasi lainnya tak akan bisa berkembang jika tidak didukung oleh operator telekomunikasi mengingat pasar potensial adalah di mobile. “Jika mau berkembang harus bermain di mobile, untuk monitize pasar. XL sendiri siap mendukung semua pemain dengan menjadi penyalur data yang baik,” tegasnya.

Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Kominfo Gatot S. Dewa Broto mengaku, pemerintah sudah menyadari pentingnya peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sehingga terus mendorong pembangunan infrastruktur dan memberikan rangsangan bagi industri kreatif berbasis TIK untuk berkembang.

“Kami baru saja meresmikan Balai Pelatihan dan Pengembangan TIK di kawasan industri Jababeka, Bekasi,  hasil hibah pemerintah Korea Selatan. Siapa saja bisa memanfaatkan infrastruktur ini.  Namun penggunaannya harus mengikuti aturan dalam Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) alias harus bayar. Tapi pungutannya berbeda dengan tempat komersil lainnya, tidak bisa berlebihan,” jelasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengingatkan, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar di era broadband dibutuhkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kuat dalam mengembangkan aplikasi-aplikasi sehingga bisa menjadi bisnis masa depan yang menjanjikan.

“Walaupun ditargetkan separuh penduduk Indonesia terkoneksi ke internet dan seluruh desa sudah broadband di 2015, tanpa SDM yang secara cerdas dapat memanfaatkan broadband untuk kemajuan pendidikan, kesehatan, layanan pemerintahan, bisnis, perdagangan dan lain-lain, maka  nampaknya kita hanya bisa bangga sebagai pengguna Facebook ke-2 di dunia saja, bukan pembuat aplikasi-aplikasi baru yang mendunia,” ketusnya.[dni]