030611 Memoles Pintu Gerbang Negara

Bandar udara (bandara) adalah salah satu pintu gerbang dari  negara yang berdaulat. Kala warga negara asing mendaratkan kakinya di bandara, tentu sejuta impresi didapatnya untuk mencari konklusi singkat tentang keadaan dari negara yang dikunjunginya.

Untuk Indonesia,  Bandara Soekarno-Hatta (BSH) yang dikelola oleh  PT Angkasa Pura II (AP II) adalah salah satu bandara yang menjadi pintu gerbang negara.

Direktur Utama Angkasa Pura II Tri S Sunoko menyadari posisi strategis dari BSH sehingga berambisi  mewujudkannya menjadi bandara berkelas dunia.

“Tiga hal penting harus dilakukan untuk mewujudkan BSH sebagai bandara berkelas dunia. Pertama, penyediaan fasilitas yang berstandar baik di dalam dan luar terminal, sisi udara (air side) dan sisi darat (land side). Kedua, adanya standar operasional dan prosedur, dan ketiga, aspek sumber daya manusia,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, untuk mencapai tiga hal di atas maka harus ada  kelancaran aksesibilitas jalan menuju bandara,  kenyamanan calon penumpang saat memasuki lingkungan bandara. Mulai dari area drop off, parkiran, pemeriksaan x-ray, hingga antrean counter check-in.

Tak lupa juga aspek pendukung kebandarudaraan juga sangat krusial dalam mewujudkan berhasilnya pengelolaan bandara berkelas dunia, seperti layanan ground handling, akses transportasi dari dan ke bandara (taksi dan bus Damri), bea cukai, imigrasi, hingga ke layanan restoran di lingkungan bandara.

Diakuinya, untuk saat ini BSH belum ideal dengan  masih  banyak keberadaan taksi liar, ojek sepeda motor, calo tiket, pedagang asongan, tukang semir, porter liar, pemulung, pengemis, serakan sampah di lantai, penumpukan penumpang di konter check-in, banyaknya orang merokok di sembarang tempat, dan lainnya.

”Butuh peran banyak pihak untuk menjadikan Soekarno – Hatta yang ideal. Jika tidak ada dukungan semua pihak, maka sekeras apa pun kami bekerja dengan seluruh kemampuan yang dimiliki, pasti tak akan mampu membuahkan hasil maksimal,” katanya.

Pengembangan BSH
Bandara Soekarno-Hatta dengan tiga terminal di area seluas 285.908 meter per segi yang dimiliki saat ini, memiliki daya tampung hingga 22 juta penumpang per tahun. Jumlah tersebut 4 juta lebih tinggi dari kapasitas awal yang hanya didesain menampung maksimal 18 juta penumpang per tahun.

Sementara faktanya, jumlah penumpang yang dilayani BSH saat ini sudah mendekati angka 44,3 juta penumpang per tahun, dengan jumlah pergerakan pesawat di atas 270 ribu pergerakan.

”Ada lack of capacity (penurunan kapasitas) yang membuat bandara terlihat begitu padat dan semerawut, terutama pada hari dan jam-jam padat (peak). Ini juga masalah utama yang harus bisa diselesaikan secepatnya oleh PT AP II. Dalam grand design BSH  sudah selesai dirancang  penambahan kapasitas BSH dalam waktu dekat agar setidaknya bisa menampung hingga 65 juta penumpang per tahun,” ungkap Tri.

”Desain finalnya sudah selesai kami buat, tinggal menunggu persetujuan Wakil Presiden. Setelah disetujui, kami akan langsung membuat desain detail dan melakukan ground breaking pada 2012. Kami targetkan, 2014 nanti, Bandara Soekarno-Hatta tidak hanya hadir dengan wajah baru, tetapi juga dengan daya tampung hingga 65 juta penumpang per tahun,” tambah Direktur Operasi dan Teknik PT Angkasa Pura II Salahudin Rafi.

Kapasitas menjadi permasalahan umum, karena  sejak BSH lebih terbuka tahun 2002 silam, pertumbuhan penumpang di bandara ini rata-rata per tahunnya mencapai 10-15 persen. Karena itu pengelola bandara berupaya melakukan antisasi dan penyesuaian yang cepat.

Selama masa transisi, untuk mengatasi kepadatan penumpang,  berbagai upaya optimalisasi untuk meningkatkan kenyamanan pengguna jasa dilakukan seperti melakukan sentralisasi imigrasi di Terminal 2 dan memberikan ruang tambahan untuk lebih memudahkan proses pemeriksaan dokumen keimigrasian sehingga mampu memperlancar arus penumpang; membangun area komersial baru di Terminal 1A dan 1C; mengganti kursi di setiap ruang tunggu keberangkatan; memperbaiki toilet dan membenahi konter check-in; hingga penambahan troli bagasi.

Dalam grand design, pengembangan Soekarno-Hatta antara lain meliputi pembangunan Terminal 3 dan 4 (to build a modern/futuristic but local/existing flavor), pembangunan terminal khusus kargo baru (cargo village), perluasan area parkir kendaraan (building car-park), pengintegrasian pergerakan penumpang antar-terminal melalui Passenger Moving System (PMS), penambahan runway, multi modal transport dengan membangun stasiun kereta api dan terminal bus, sentralisasi check-in area di terminal 1 dan 2 untuk memperluas kapasitas dan pergerakan penumpang, ekspansi aksesibilitas dari/ke bandara, re-design lay out traffic lalu-lintas dalam area bandara, perluasan area komersial aviasi (Aero-tropolis area) dan lain-lain.

Satu hal penting dalam grand design, konsep airport city, yang bisa diartikan sebagai suatu kesatuan layanan bandara dengan kegiatan komersial dan hiburan dalam satu wilayah. ”Ini mengadopsi konsep kota mandiri. Dimana di lingkungan bandara terdapat hotel, mal, exhibition, pusat rekreasi, dan restoran dalam satu wilayah terpadu,” katanya.

Belajar dari terjadinya pemadaman listrik di BSH beberapa waktu lalu, AP II juga telah menaikkan status suplai tenaga cadangan {back up) pada fasilitas bandara yang tergolong non-prioritas di Bandara Soekarno-Hatta menjadi prioritas.

Saat ini Bandara Soetta memiliki total tenaga listrik cadangan sebesar 7.300 KVA. Dari jumlah tersebut, 3.000 KVA telah teralokasikan untuk mem-back up fasilitas yang selama ini masuk dalam kategori high priority dan priority, fasilitasyang masuk dalam kategori high priority adalah seluruh perangkat teknikal pada sisi udara (air side) dan berkaitan erat dengan sistem pengaturan lalu lintas pergerakan pesawat, seperti peralatan navigasi, landasan pacu, dan radar.

Sementara itu, pada kategori priority, perlengkapan operasional di dalam bandara, seperti fasilitas check in, imigrasi, bea dan cukai, karantina, x-ray, conveyor, dan lainnya.

Tidak hanya itu, guna meningkatkan kapasitas listrik cadangan di Bandara Soetta, perusahaanya juga telah menyewa pembangkit listrik (genset) secara berkala dalam dua tahap. Tahap pertama, genset berkapasitas 3×2 MVA, dan tahap kedua 5×2 MVA. Keseluruhan genset sewaan itu akan digunakan untuk mem-back up seluruh jalur penerangan, perkantoran, serta tenant.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s