030611 Kemenhub Proses SIUP Pacific Royale

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) tengah memproses Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) milik Pacific Royale Airways yang diajukan oleh calon maskapai penumpang berjadwal itu sejak April 2011.

“Direktorat angkutan udara sedang memproses SIUP milik perusahaan itu. Kami belum bisa bilang kapan bisa terbit, karena sekarang saja belum di saya. Kalau semuanya lengkap pasti bisa cepat, penerbitan SIUP itu kan tergantung kesiapan dari maskapai itu sendiri,” ungkap Direktur Angkutan Udara Kemenhub Edward Alexander Silooy di Jakarta, kemarin.

Dijelaskannya, penerbitan SIUP tidak bisa dibatasi dengan waktu, meski dari sisi  maskapai memiliki target tersendiri untuk mendapatkannya. ”Saya dengar Pacific Royale menargetkan akhir Juli bisa terbang,  itu tenggat waktu yang wajar. Tetapi harus dipahami untuk menerbitkan SIUP, regulator  akan melakukan pengecekan atas sejumlah persoalan yang juga harus dicek terlebih dahulu ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan Kementerian Hukum dan HAM,” jelasnya.

Hal yang diperiksa ulang adalah soal permodalan mengingat di perusahaan itu ada investor asing sehingga perlu berkoordinasi ke  BKPM. Begitu juga tentang datangnya arus modal yang memerlukan klarifikasi dari  PPATK.

”Kami tak ingin beli kucing dalam karung, kami tak mau modal dari hasil money laundry, kami juga tak ingin setelah diberi SIUP, haknya langsung dijual, jadi harus hati-hati,” tegasnya.

Sementara itu,  Project Director Pacific Royale Airways Samudra Sukardi megungkapkan, tengah melengkapi syarat-syarat administrasi SIUP dan lisensi terbang untuk maskapai yang mengoperasikan pesawat di atas 30 kursi (air operator certificate/AOC-121) untuk mengoperasikan 10 armada  dengan basis layanan penuh (Full Service).

“Kami belum bisa pastikan kapan terbangnya, karena ini tergantung seberapa cepat SIUP dan AOC-121 itu dikeluarkan oleh Kemenhub selaku regulator penerbangan. Kalau bisa akhir Juli bagus, tetapi kami target paling lambat akhir tahun sudah operasi,” jelasnya.

Diungkapkannya, pengurusan SIUP sudah hampir selesai, administrasi yang kurang adalah  menyerahkan dokumentasi bukti setor atas pengadaan pesawat.

“Pacific Royale Airways akan mengoperasikan 10 pesawat, yakni lima Fokker F-50, empat Airbus A320, dan satu Airbus A330. Sedangkan mayoritas saham dimiliki investor perorangan Indonesia yakni 51 persen  dan sisanya dimiliki investor perorangan asal India 49 persen,” katanya.[dni]

030611 Dukungan Penuh dari Pemerintah

Sebagai instalasi vital negara, pengelolaan bandar udara (bandara) tidak lepas dari kontrol dan pengawasan regulator. Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan pun menyadari  peran besar dalam kebijakan penyiapan infrastruktur untuk  jasa penerbangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bhakti S. Gumay mengungkapkan, pembangunan bandara baru serta pengembangan yang sudah eksisting menjadi salah satu prioritas agar  spek keterhubungan ini menjadi sangat penting, utamanya mendukung pergerakan manusia maupun barang demi menunjang perekonomian.

“Seiring dengan pertumbuhan ekonomi negeri yang mulai membaik, pertumbuhan penumpang maupun kargo dengan moda trannsportasi udara pun terus meningkat setiap tahun. Pertumbuhan bisa mencapai sekitar 15 hingga 20 persen per tahun. Sementara, kapasitas bandara-bandara kita semakin terbatas. Ini yang menjadi perhatian kita,” katanya di Jakarta belum lama ini.

Menurutnya, pengembangan bandara mutlak dilakukan guna mengatasi penurunan kapasitas (lack of capacity) di hampir semua bandara yang dikelola dua operator BUMN. Kapasitas bandara secara umum sudah tak sebanding dengan pertumbuhan penumpang yang mencapai 15 persen  per tahun, pergerakan pesawat 8 persen per tahun, dan kargo 9 persen per tahun.

“Tantangan kami sangat besar, bagaimana mengembalikan kepercayaan publik, industri, dan stake holder untuk mencapai kondisi yang diinginkan. Selama ini yang selalu saya tekankan adalah bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Ikuti dengan baik aturannya,” katanya.

Mengenai harapan menuju bandara berkelas dunia, Herry tidak menafikan bahwa sesungguhnya pengembangan bandara di tanah air terlambat. Dengan pertumbuhan penumpang rata-rata 15-20 persen per tahun dan pertumbuhan di Asia Pasifik sekitar 5-6 persen per tahun, maka gravitasi berada di Indonesia. “Mengapa kita tidak bisa bergerak lebih cepat, dan berpikir jauh ke depan. Kebutuhan dengan kapasitas bergerak dinamis, saling berkejaran terus. Kita butuh lompatan yang lebih besar,” katanya.

Diungkapkan, investasi yang dilakukan dua operator bandara untuk pengembangan sisi darat (land side), seperti terminal dan fasilitas penunjang bandara. Sedangkan pengembangan sisi udara (air side), seperti landas pacu (runway) dan peralatan navigasi, ditanggung pemerintah melalui APBN.

“Konsep investasi seperti itu memang yang digunakan untuk pengembangan bandara di Tanah Air, baik bandara eksisting maupun bandara baru. Untuk tahun ini, kami mendapat alokasi dana  4 triliun rupiah, lebih dari 2 triliun rupiah  untuk pengembangan infrastruktur bandara,” ungkapnya.

Dalam tatanan kebandarudaraan, diungkapkan Herry, pihaknya pun tengah melakukan kajian terhadap proyek pembangunan multi aiport untuk Greater Jakarta Metropolitan Area dengan lembaga donor asal Jepang, JICA. “Ini sedang dikaji, melihat kapasitas bandara yang semakin terbatas, ada arahan pengembangan bandara ke timur Jakarta, di kawasan industri Cikarang. Di sana kan banyak pabrik-pabrik, mungkin untuk perdana bisa fokus pada bandara kargo dulu,” jelasnya.

Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (Inaca) Tengku Burhanuddin mengakui diperlukan peningkatan sarana dan prasarana bandara agar Indonesia bisa bersaing kala Open Sky Asean 2015 diterapkan nantinya. “Masalah panjang landasan, kapasitas bandara, dan akses ke bandara itu hal yang klasik harus bisa diatasi oleh pengelola bandara,” tegasnya.

Sementara Anggota Komisi V DPR RI KH Abdul Hakim menilai pengelolaan bandara  di Indonesia dinilai belum efisien dan efektif sehingga pelayanan kepada pengguna prasarana tersebut  tidak optimal.

“Saya menilai hingga sekarang bandara-bandara udara di Indonesia mulai dari design dan pelayanannya belum efektif dan efisien. Akibatnya para pengguna dirugikan secara kenyamanan,” katanya.

Dicontohkannya, efisiensi dan efektifitas itu bisa dilihat dari banyaknya ruangan di bandara yang tidak optimal digunakan, proses ground handling yang lama, atau lalu lintas pesawat tidak optimal pengaturannya. “Bandara itu harusnya sebagai tempat penyaluran lalu lintas orang yang akan menggunakan angkutan udara. Bukan berlama-lama di bandara udara. Itu tidak efisien, bayangkan berapa kerugian yang diderita maskapai jika ground handling-nya lama,” ketusnya.

Disarankannya, pengelola bandara  dalam mengembagkan prasarana ke depan harus mengevaluasi infrastruktur yang sudah ada dan melakukan optimalisasi untuk tempat yang masih menganggur.

“Contohnya seperti Bandara Soekarno-Hatta. Sekarang sedang dibuat grand design untuk bisa menampung 65-70 juta penumpang empat tahun mendatang. Tetapi direksinya sudah memberikan ancar-ancar ada kemungkinan jumlah itu bisa tercapai lebih cepat dan mencari bandara pendukung. Ini seperti pemborosan,” katanya.

Sedangkan dari sisi pemerintah, Hakim menyarankan, pemilihan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk menduduki posisi otoritas bandara. “Walaupun Pegawai Negeri Sipil (PNS) tetapi tidak memiliki kompetensi seperti diminta regulasi, tidak berhak individu itu dududk di posisi itu. Soalnya otoritas bandara memegang peranan penting di aspek keselamatan,” katanya.[dni]

030611 Memoles Pintu Gerbang Negara

Bandar udara (bandara) adalah salah satu pintu gerbang dari  negara yang berdaulat. Kala warga negara asing mendaratkan kakinya di bandara, tentu sejuta impresi didapatnya untuk mencari konklusi singkat tentang keadaan dari negara yang dikunjunginya.

Untuk Indonesia,  Bandara Soekarno-Hatta (BSH) yang dikelola oleh  PT Angkasa Pura II (AP II) adalah salah satu bandara yang menjadi pintu gerbang negara.

Direktur Utama Angkasa Pura II Tri S Sunoko menyadari posisi strategis dari BSH sehingga berambisi  mewujudkannya menjadi bandara berkelas dunia.

“Tiga hal penting harus dilakukan untuk mewujudkan BSH sebagai bandara berkelas dunia. Pertama, penyediaan fasilitas yang berstandar baik di dalam dan luar terminal, sisi udara (air side) dan sisi darat (land side). Kedua, adanya standar operasional dan prosedur, dan ketiga, aspek sumber daya manusia,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, untuk mencapai tiga hal di atas maka harus ada  kelancaran aksesibilitas jalan menuju bandara,  kenyamanan calon penumpang saat memasuki lingkungan bandara. Mulai dari area drop off, parkiran, pemeriksaan x-ray, hingga antrean counter check-in.

Tak lupa juga aspek pendukung kebandarudaraan juga sangat krusial dalam mewujudkan berhasilnya pengelolaan bandara berkelas dunia, seperti layanan ground handling, akses transportasi dari dan ke bandara (taksi dan bus Damri), bea cukai, imigrasi, hingga ke layanan restoran di lingkungan bandara.

Diakuinya, untuk saat ini BSH belum ideal dengan  masih  banyak keberadaan taksi liar, ojek sepeda motor, calo tiket, pedagang asongan, tukang semir, porter liar, pemulung, pengemis, serakan sampah di lantai, penumpukan penumpang di konter check-in, banyaknya orang merokok di sembarang tempat, dan lainnya.

”Butuh peran banyak pihak untuk menjadikan Soekarno – Hatta yang ideal. Jika tidak ada dukungan semua pihak, maka sekeras apa pun kami bekerja dengan seluruh kemampuan yang dimiliki, pasti tak akan mampu membuahkan hasil maksimal,” katanya.

Pengembangan BSH
Bandara Soekarno-Hatta dengan tiga terminal di area seluas 285.908 meter per segi yang dimiliki saat ini, memiliki daya tampung hingga 22 juta penumpang per tahun. Jumlah tersebut 4 juta lebih tinggi dari kapasitas awal yang hanya didesain menampung maksimal 18 juta penumpang per tahun.

Sementara faktanya, jumlah penumpang yang dilayani BSH saat ini sudah mendekati angka 44,3 juta penumpang per tahun, dengan jumlah pergerakan pesawat di atas 270 ribu pergerakan.

”Ada lack of capacity (penurunan kapasitas) yang membuat bandara terlihat begitu padat dan semerawut, terutama pada hari dan jam-jam padat (peak). Ini juga masalah utama yang harus bisa diselesaikan secepatnya oleh PT AP II. Dalam grand design BSH  sudah selesai dirancang  penambahan kapasitas BSH dalam waktu dekat agar setidaknya bisa menampung hingga 65 juta penumpang per tahun,” ungkap Tri.

”Desain finalnya sudah selesai kami buat, tinggal menunggu persetujuan Wakil Presiden. Setelah disetujui, kami akan langsung membuat desain detail dan melakukan ground breaking pada 2012. Kami targetkan, 2014 nanti, Bandara Soekarno-Hatta tidak hanya hadir dengan wajah baru, tetapi juga dengan daya tampung hingga 65 juta penumpang per tahun,” tambah Direktur Operasi dan Teknik PT Angkasa Pura II Salahudin Rafi.

Kapasitas menjadi permasalahan umum, karena  sejak BSH lebih terbuka tahun 2002 silam, pertumbuhan penumpang di bandara ini rata-rata per tahunnya mencapai 10-15 persen. Karena itu pengelola bandara berupaya melakukan antisasi dan penyesuaian yang cepat.

Selama masa transisi, untuk mengatasi kepadatan penumpang,  berbagai upaya optimalisasi untuk meningkatkan kenyamanan pengguna jasa dilakukan seperti melakukan sentralisasi imigrasi di Terminal 2 dan memberikan ruang tambahan untuk lebih memudahkan proses pemeriksaan dokumen keimigrasian sehingga mampu memperlancar arus penumpang; membangun area komersial baru di Terminal 1A dan 1C; mengganti kursi di setiap ruang tunggu keberangkatan; memperbaiki toilet dan membenahi konter check-in; hingga penambahan troli bagasi.

Dalam grand design, pengembangan Soekarno-Hatta antara lain meliputi pembangunan Terminal 3 dan 4 (to build a modern/futuristic but local/existing flavor), pembangunan terminal khusus kargo baru (cargo village), perluasan area parkir kendaraan (building car-park), pengintegrasian pergerakan penumpang antar-terminal melalui Passenger Moving System (PMS), penambahan runway, multi modal transport dengan membangun stasiun kereta api dan terminal bus, sentralisasi check-in area di terminal 1 dan 2 untuk memperluas kapasitas dan pergerakan penumpang, ekspansi aksesibilitas dari/ke bandara, re-design lay out traffic lalu-lintas dalam area bandara, perluasan area komersial aviasi (Aero-tropolis area) dan lain-lain.

Satu hal penting dalam grand design, konsep airport city, yang bisa diartikan sebagai suatu kesatuan layanan bandara dengan kegiatan komersial dan hiburan dalam satu wilayah. ”Ini mengadopsi konsep kota mandiri. Dimana di lingkungan bandara terdapat hotel, mal, exhibition, pusat rekreasi, dan restoran dalam satu wilayah terpadu,” katanya.

Belajar dari terjadinya pemadaman listrik di BSH beberapa waktu lalu, AP II juga telah menaikkan status suplai tenaga cadangan {back up) pada fasilitas bandara yang tergolong non-prioritas di Bandara Soekarno-Hatta menjadi prioritas.

Saat ini Bandara Soetta memiliki total tenaga listrik cadangan sebesar 7.300 KVA. Dari jumlah tersebut, 3.000 KVA telah teralokasikan untuk mem-back up fasilitas yang selama ini masuk dalam kategori high priority dan priority, fasilitasyang masuk dalam kategori high priority adalah seluruh perangkat teknikal pada sisi udara (air side) dan berkaitan erat dengan sistem pengaturan lalu lintas pergerakan pesawat, seperti peralatan navigasi, landasan pacu, dan radar.

Sementara itu, pada kategori priority, perlengkapan operasional di dalam bandara, seperti fasilitas check in, imigrasi, bea dan cukai, karantina, x-ray, conveyor, dan lainnya.

Tidak hanya itu, guna meningkatkan kapasitas listrik cadangan di Bandara Soetta, perusahaanya juga telah menyewa pembangkit listrik (genset) secara berkala dalam dua tahap. Tahap pertama, genset berkapasitas 3×2 MVA, dan tahap kedua 5×2 MVA. Keseluruhan genset sewaan itu akan digunakan untuk mem-back up seluruh jalur penerangan, perkantoran, serta tenant.[dni]

030611 Produksi Angkutan Udara Meningkat

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) optimistis produksi angkutan udara dalam mengangkut penumpang pada sisa tiga kuartal tahun ini akan meningkat seiring banyaknya libur nasional yang terjadi.

“Saya optimistis produksi akan terus naik. Pada bulan Mei saja  banyak liburan akhir pekan panjang yang dimanfaatkan masyarakat, sehingga meningkatkan permintaan tiket pesawat. Puncak kenaikan jumlah penumpang akan terjadi di kuartal III dan IV, ketika lebih banyak lagi masyarakat yang bepergian untuk liburan Natal dan Tahun Baru,” ungkap Direktur Angkutan Udara Kemenhub Edward Alexander Silooy di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan catatan, produksi angkutan udara  Indonesia sepanjang kuartal I 2011  mencapai 15,56 juta penumpang. Angka ini terdiri dari 13,68 juta penumpang domestik dan 1,87 juta penumpang internasional. Jumlah tersebut tumbuh 17,96 persen dibanding periode yang sama 2010  sebesar 13,19 juta penumpang.

Di pasar domestik, Lion Air menguasai 36,63 pangsa pasar dengan mengangkut  5,7 juta penumpang. Posisi Lion Air dikuntit  Garuda Indonesia  dengan  pangsa pasar 18,95 persen atau mengangkut  2,95 juta penumpang. Posisi ketiga ditempati oleh  Sriwijaya Air yang menerbangkan 1,78 juta penumpang atau menguasai  pangsa pasar 11,43 persen.

Sedangkan di rute internasional, Indonesia Air Asia  (IAA) menjadi jawara dengan  memiliki pangsa pasar  43,55 persen atau  menerbangkan 818.453 penumpang. Posisi kedua untuk ditempati Garuda Indonesia yang menerbangkan 690.336 penumpang atau  memiliki pangsa pasar 36,73 persen dan ketiga oleh  Lion Air yang menerbangkan 207.119 penumpang, setara 11,02 persen  pangsa pasar.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengakui, produksi perseroan menunjukkan tren positif berkat kekuatan armada dan rute yang bertambah. ”Kami makin optimistis menyambut tahun ini,” katanya.

Presiden Direktur Indonesia AirAsia Dharmadi mengungkapkan, perseroan akan lebih agresif menggarap pasarnya seiring telah dimulainya penerbangan komersial dengan  Airbus A320 dari Bandung menuju ke destinasi-destinasi internasional pada 2 Juni 2011.

Dijelaskannya, Airbus A320 ini akan melayani warga Bandung untuk penerbangan rute-rute internasional. Rute Bandung – Kuala Lumpur akan dilayani sebanyak 2 kali penerbangan per hari, dan rute Bandung – Singapura akan dilayani sebanyak 1 kali penerbangan per hari.

Pada kesempatan lain, General Manager Singapore Airlines Indonesia David Lau mengungkapkan, guna meningkatkan penjualan maskapianya  meluncurkan promosi harga  “The Early Bird All – In Fare Promo”.

Promosi ini mencakup penerbangan dari Jakarta menuju beberapa destinasi di Jepang, Korea, Australia, Eropa dan Amerika. Periode keberangkatan antara 04 September sampai dengan 30 November 2011, dan tanggal penerbitan tiket sebelum tanggal 14 Juni 2011.

“Promo ini  untuk memudahkan para pelanggan kami melakukan perjalanan ke beberapa destinasi penting di jaringan rute global kami. Kami berharap para pelanggan dapat menikmati layanan dalam pernerbangan (inflight service) terbaik dari Singapore Airlines,” jelasnya .

Ditegaskannya, melalui promosi ini, Singapore Airlines menjamin bahwa harga yang ditawarkan merupakan harga terbaik. Sebagai bentuk penghargaan bagi pelanggan yang mengikuti program ini, Singapore Airlines akan memberikan souvenir gratis edisi terbatas “SIA Birdie” kepada 100 pelanggan pertama selama promo “Early Bird”. Koleksi ini dapat diperoleh di kantor penjualan Singapore Airlines Jakarta mulai tanggal 15 Juni 2011 dengan  menunjukkan tanda bukti pembelian.

Harga promosi yang ditawarkan oleh Singapore Airlines melalui Early Bird All – In Fare ini antara lain sebagai berikut: Tiket pulang pergi dari Jakarta menuju Jepang dan Korea, mulai dari  588 dollar AS. Untuk penerbangan ke Australia (Brisbane, Melbourne dan Sydney) tiket ditawarkan mulai dari  688 dollar AS. Penerbangan dari Jakarta ke Istanbul harga mulai dari  888 dollar AS. Dari Jakarta ke Eropa ditawarkan mulai dari  998 dollar AS. Sedangkan untuk harga penerbangan ke Amerika Serikat (Los Angeles dan San Fransisco) dimulai dari  1.188 dollar AS

Harga Early – Bird All – in Fare Promo tersebut berlaku untuk tiket penerbangan kelas ekonomi untuk satu orang, sudah termasuk pajak, fuel surcharge per 27 April 2011 dengan minimal keberangkatan 2 orang untuk pergi dan pulang secara bersama.[dni]