020611 Merpati Bidik Sertifikasi IOSA

JAKARTA—PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) tengah mempersiapkan diri untuk mendapatkan sertifikat keselamatan dari IATA Operational Safety Audit (IOSA) untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap kemampuan operasional dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

“Kami bekerjasama dengan konsultan MARSH untuk mempersiapkan diri mendapatkan sertifikat IOSA. Sekarang persiapannya sudah 80 persen untuk memenuhi persyaratan yang pengajuan sertifikat. Rencananya pada akhir Desember 2011, akan diajukan secara resmi ke International Air Transport Association (IATA),” ungkap Sardjono Jhoni Tjitrokusumo di Jakarta, Rabu (31/5).

IOSA adalah sistem audit keselamatan dari IATA yang dikembangkan dari sistem keselamatan penerbangan beberapa negara. Dua tahun lalu,  IATA menganggarkan 8 juta dollar AS untuk mengaudit keselamatan penerbangan seluruh anggotanya.  Di Indonesia, hanya ada dua maskapai yang dapat sertifikat IOSA yaitu Garuda Indonesia dan Mandala Airlines. Namun, hanya Garuda Indonesia yang terdaftar sebagai anggota IATA.

Jhoni mengungkapkan, untuk mendapatkan sertifikasi IOSA, perseroan tidak mengeluarkan biaya karena ditanggung oleh asuransi yang digandengnya.  “Kami memilih IOSA dulu baru dari Federal Aviation Administration (FAA). Tidak ada perbedaan antara IOSA dan FAA, yang membedakan hanya tempat asal lisensi itu dikeluarkan, IOSA dari Eropa, FAA dari Amerika. Keduanya  memiliki standar yang sama,” jelasnya.

Berkaitan degan kedatangan  dua armada MA-60 buatan Xian Aircraft China yang molor dari rencana awal yakni 19 Mei 2011, Jhoni mengungkapkan, pesawat tersebut hanya tertunda kedatangannya karena menunggu izin dari  direktorat Direktorat Kelayakan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan.

”Pada  3 Juni dan 4 Juni nanti kedua pesawat itu akan sampai di Indonesia.  Saat ini 12 pesawat MA-60 tetap dioperasikan dengan dukungan 77 pilot yang memiliki kompetensi di bidangnya,” tegasnya.

Sedangkan adanya himbauan dari Kemenhub untuk tidak mengoperasikan MA-60 di tiga bandara  di Nusa Tenggara Timur yaitu bandara udara Ruteng, Ende dan Waingapu,  Jhoni mengatakan telah disiapkan  pesawat  CASA 212 sebagai pengganti.

Pembayaran Asuransi
Selanjutnya Jhoni mengungkapkan, terkait tunggakan kepada asuransi Jasa Raharja senilai 49 miliar rupiah selama lima tahun terakhir akan melakukan restrukturisasi dengan mencicil hutangnya. Sementara untuk pembayaran berjalan akan tetap dilakukan. Asuransi yang ditunggak adalah Iiuran wajib penumpang umum (IWPU).

“Tunggakan itu terjadi sejak lima tahun lalu, waktu itu bukan saya dirutnya. Saya tidak tahu kenapa, tetapi Merpati hanya bisa mengangsurnya,” jelasnya.

Isu adanya tunggakan ini dilontarkan oleh  pengurus Serikat Karyawan (Sekar) Merpati yang menyatakan perusahaan tersebut terus menunggak kewajiban membayar asuransi Jasa Raharja sebesar  49 miliar rupiah  selama lima tahun terakhir.

Dijelaskannya, pada lima tahun lalu, Merpati memang mendapatkan kucuran banyak dana  yaitu mulai dari  75 miliar rupiah, lalu  450 miliar rupiah, subsidi avtur  270 miliar rupiah dan kemudian
mendapatkan kucuran  300 miliar rupiah  lagi.
Ditengah derasnya kucuran dana,  manajemen saat itu tidak berusaha membayar dana IWPU yaitu lima ribu rupiah  per penumpang yang harusnya disetorkan ke Jasa Raharja sehingga utang ke perusahaan asuransi sesama BUMN tersebut terus membengkak.

Pada 30 Mei 2010 tercatat tunggakan sebesar  44,6 miliar rupiah dan posisi 1 Juni 2011 sebesar 49 miliar rupiah.

“Untunglah Jasa Raharja tetap mau bekerjasama dengan Merpati karena kita tetap menunjukkan hubungan dan itikad baik dengan cara mengangsur. Itu dibuktikan dengan santunan untuk korban di Kaimana dibayar oleh Jasa Raharja,” katanya.[dni]