300511 Kemenhub Benahi Infrastruktur Kereta Api di Sei Mangkei

JAKARTA—Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian akan membenahi infrastruktur kereta api di kawasan industri khusus Sei Mangkei Sumatera Utara untuk mengembangkan komoditi kelapa sawit mentah (CPO) dan turunannya di daerah tersebut.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengungkapkan, dana sebesar 500 miliar rupiah akan digunakan untuk pembenahan jalur existing sepanjang 18,25 km yang terbentang dari Stasiun Bandar Tinggi hingga Pelabuhan Kuala Tanjung.

“Pemerintah akan membantu infrastruktur, agar arus barang dari kebun kelapa sawit ke kawasan industri, hingga ke pelabuhan Kuala Tanjung tidak mengalami kendala,” ungkapnya di Jakarta, Jumat (27/5).

Diungkapkannya, PT Kereta Api (PT KA) juga ikut ambil bagian dengan mengalokasikan dana 40 miliar rupiah untuk membenahi jalur existing dari Stasiun Perlanaan hingga Sei Mangkei dengan panjang jalur 6,86 km.

Dikatakannya, selain jalur kereta api, jalur laut pun akan dibenahi diantaranya yaitu pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, Pelindo I sudah mengalokasikan dana sebesar 450 miliar rupiah untuk mendukung pengembangan jangka pendek dari 2011-2016. Pengembangan yang akan dilakukan Pelindo I di Kuala Tanjung diantaranya yaitu pembenahan terminal kargo, terminal curah cair, dan reklamasi pantai.

Kawasan industri Sei Mangkei yaitu kawasan industri berbasis kelapa sawit yang dibangun oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III. Proyek ini diharapkan menjadi proyek percontohan untuk pengembangan industri hilir kelapa sawit dan CPO.

Tahap awal pembangunan kawasan Sei Mangkei sebagai kawasan industri khusus akan dipakai untuk membangun pabrik refinery dan oleochemicals seluas 104 hektar. Kawasan industri khusus seluas 104 hektar ini secara bertahap akan ditingkatkan menjadi 600 hektar hingga 3000 hektar. Kawasan industri khusus Sei Mangkei dijadwalkan pelaksanaan pembangunannya 2010-2014. Pengembangan kawasan industri khusus Sei Mengkei membutuhkan investasi sedikitnya Rp 6,8 triliun termasuk untuk industri di dalamnya.

Sebelumnya, perusahaan asing asal Jerman, Ferrostaai AG sudah terlebih dahulu berinvestasi sekitar Rp 2,8 triliun untuk memproduksi biodiesel berbasis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Pemanufaktur asing itu akan menggandeng PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III untuk membangun pabrik biodiesel dan produk turunan CPO di Seimangkei.

Dirut PTPN III Chairul Muluk menjelaskan, Ferrostaal AG sudah menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia yang memiliki potensi perkebunan CPO, singkong, dan tebu. “Di sisi lain, pabrik-pabrik biodiesel di Eropa banyak yang shutdown. Ini keuntungan untuk kita. Mereka kemungkinan besar akan merelokasi pabriknya ke Indonesia,” kata Chairul.

Ferrostaal AG merupakan perusahaan besar Jerman yang telah menamamkan investasinya di lebih dari 60 negara dengan kompetensi utama di berbagai sektor antara lain industri biodieseD, petrokimia, gas, pembangkit listrik, energi surya, pulp dan kertas.[dni]

300511 Garuda Tambah Hub

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan menambah hub dengan menjadikan Makassar sebagai lokasi ketiga setelah sebelumnya Jakarta dan Denpasar menjadi tempat home base armada dan kru dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu.

“Mulai  1 Juni 2011, Garuda akan menambah hub dengan memilih Bandara Sultan Hasanudin (Ujungpandang) sebagai lokasi ketiga. Selama ini hub dari perseroan ada di Cengkareng (Jakarta) dan Denpasar (Ngurah Rai),” ungkap Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan di Jakarta, Jumat (27/5.

Dijelaskannya, tujuan untuk menambah  hub karena perseroan ingin mengembangkan kapasitas dan frekuensi di Indonesia Timur, serta mendukung pengembangan Koridor IV ekonomi yang dicanangkan oleh pemerintah. “Dengan jumlah penerbangan dari dan ke Ujungpandang, maka akan lebih efisien kalau ada hub di Ujungpandang,” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk tahap awal perseroan akan  menempatkan 2 pesawat Boeing 737-500 di ujungpandang  dengan target 12 jam aircraft utilization untuk masing-masing pesawat. “Ini sebagai tambahan dari semua penerbangan yang sudah ada selama ini ke ujungpandang,” jelasnya.

Vice President Marketing Garuda Indonesia  Don JP Bustan  menambahkan, Makassar lokasinya sangat strategis. Saat ini, banyak penerbangan Garuda di Makassar ke seluruh timur Indonesia. Sekarang benar-benar pindah ke Makassar karena menjadi strategi dari manajemen bagaimana kita bisa minimize cost daripada pesawat balik lagi ke Jakarta, “jelasnya.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengakui  pemerintah  mendorong Garuda untuk membuat home base di Makassar untuk menghidupkan penerbangan di Indoensia timur.” Garuda diharapkan menambah rute-rute di Makassar,  termasuk internasional,” jelasnya.

Berdasarkan catatam  Garuda  akan melayani penerbangan internasional perdana Makassar-Singapura dan Singapura-Makassar secara langsung (direct flight) mulai 1 Juni 2011. Garuda akan melayani rute pergi-pulang (PP) tersebut setiap hari selama sepekan dengan mempergunakan armada Boeing 737-500 berkapasitas 150 penumpang.

Sebelumnya, Garuda sudah memiliki rute penerbangan Makassar-Denpasar-Australia. Di timur Indonesia Garuda melayani rute penerbangan Ternate, Menado, Gorontalo, Ambon, Kendari, Palu, Poso, Papua, dan lainnya.

Garuda menjadi maskapai penerbangan kedua setelah maskapai AirAsia yang melayani rute penerbangan internasional, Makassar-Kuala Lumpur, tiga kali sepekan sejak 2010 lalu. Bahkan, tahun ini, AirAsia sudah berencana membuka rute penerbangan langsung dari Makassar ke empat negara di Asia yakni Makassar-Singapura, Makassar-Hongkong, Makassar-Manila (Filipina), dan Makassar-Brunei Darussalam.

Don menjelaskan,  pembukaan rute langsung itu karena melihat potensi penumpang Sulsel dan kawasan Indonesia Timur ke Singapura sangat menjanjikan begitupun sebaliknya.

“Hal yang  menarik karena kita belum terbang sudah ada penumpang dari Ujungpandang (Makassar) ke Singapura sudah 30 persen padahal belum launching. Ini cukup bagus. Dari Singapura ke Makassar juga cukup tinggi salah satu contoh Singapura Tourism Board sudah berkeinginan ke Makassar dan Kendari (Sultra),” jelasnya.

Don mengharapkan, dengan pembukaan rute penerbangan internasional itu diharapkan adanya  pembenahan custom imigration system menyesuaikan  segmen pasar itu.[dni]

260511 Indonesia Masih Kekurangan Pilot

JAKARTA—Indonesia dalam jangka waktu empat tahun ke depan diyakini masih kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) pilot karena posisi suplai tidak seimbang degan permintaan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP SDM) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bobby R Mamahit  memperkirakan kebutuhan penerbang (pilot) sepanjang 2011-2015 mencapai 4.000 orang. Namun, kemampuan suplai pilot di Tanah Air baru mencapai 320 orang per tahun atau 1.600 orang sampai 2015. Artinya, masih terjadi defisit pilot sebanyak 2.400 orang hingga 2015.

“Salah satu pemicu tingginya permintaan pilot karena adanya kewajiban pengoperasian pesawat minimal 10 unit bagi maskapai berjadwal dalam UU No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan per 12 Januari 2012. Atas dasar itu, hingga 2015 diprediksikan kebutuhan pilot secara nasional mencapai 4.000 orang,” jelasnya di Jakarta, Rabu (25/5)..

Diungkapkannya, kemampuan suplai pilot baru 120 orang per tahun melalui pasokan  STPI Curug. ”Kalau ditambah swasta mungkin jadi 320 pilot per tahun. Kami akan koordinasi dengan maskapai yang punya sekolah pilot agar produksi itu menjadi dobel ,” katanya.

Menurut Bobby, untuk menggenjot produksi pilot hingga dua kali lipat, pemerintah akan mendirikan sekolah penerbang baru di Papua dan Papua Barat. Kini, pendirian sekolah itu baru tahap studi. Juga tengah dijajaki di Palembang dan Surabaya. Di sisi lain, juga dengan meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana di STPI Curug.

Kapuslitbang BP SDM Kemenhub Yudhi Sari Sitompul mengatakan, pihaknya telah melakukan tender pesawat latih untuk kontrak multiyears sebanyak 18 unit hingga 2013. Pada September 2011 datang enam unit dengan harga  2-3 miliar rupiah  per unitnya. Saat ini, STPI Curug sudah mengoperasikan 36 unit pesawat latih sayap tetap, tiga unit pesawat latih sayap putar, dan tiga unit pesawat simulator (termasuk helikopter).

Menurut Yudhi, saat ini terdapat tujuh sekolah swasta yang ikut berkontribusi dalam produksi pilot di Tanah Air dengan kemampuan 200 pilot per tahun. Sekolah itu berada di Yogyakarta, Bali, dan Jakarta, yang umumnya milik maskapai penerbangan.

Bobby mengatakan, selain butuh 4.000 penerbangan sepanjang 2011-2015, RI juga butuh 7.500 teknisi pesawat dan 1.000 petugas lalu lintas penerbangan (air traffic controller/ATC). Kondisi yang sama juga terjadi di dunia. Pada 2020 diperkirakan kebutuhan penerbangan mencapai 42 ribu orang dan teknisi pesawat udara sebanyak 40 ribu orang, itu sejalan dengan pertumbuhan industri penerbangan global.

“BP SDM Kemenhub selain berupaya memenuhi kapasitas, juga kualitas. Kami juga ingin agar pilot-pilot di Indonesia itu handal dan memiliki kompetensi tinggi, sehingga kejadian human error dalam kecelakaan pesawat terbang bisa diminimalisasi,” ungkapnya.

SDM Pelaut
Sementara untuk SDM pelaut  Bobby mengungkapkan, sepanjang 2011-2015 kebutuhan pelaut secara nasional mencapai 43.806 orang, terdiri dari 18.774 perwira pelaut dan 25.032 pelaut dasar (rating).

Sementara itu, suplai pelaut dari sekolah pelaut pemerintah hanya 1.500 orang per tahun. Jika ditambah dengan sekolah pelaut swasta menjadi 2.000 orang per tahun. Diharapkan pada 2015, suplai itu bisa menjadi 3.000-4000 orang per tahun dengan program percepatan belajar menjadi hanya sekitar setahun. Khusus kebuthan perwira pelaut dunia hingga 2012 saja mencapai 83.900 orang.

“Minat untuk menjadi pelaut sebenarnya tinggi, kini rasio penerimaan sekolah pelaut negeri 1:5, karena kami ingin menampung lebih banyak pelaut di sekolah swasta kami ingin rasio itu menjadi 1:3. Kalaupun memang pelaut produksi dalam negeri ingin ke luar negeri juga tak maslaah, karena ini juga menyumbang devisi, per tahunnya bisa  16 triliun rupiah per tahun,” katanya.[dni]

260511 Indosat Luncurkan ”Indosat Mobile”

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat) meluncurkan  layanan  Indosat Mobile  untuk mendukung mobilitas dan memberikan solusi bagi pelanggan, khususnya para karyawan dan wirausahawan dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi yang lengkap untuk mendukung mereka meraih sukses dalam bekerja.

“Indosat Mobile, terobosan layanan terbaru bagi pelanggan sebagai wujud komitmen kami untuk terus berupaya memahami kebutuhan spesifik pelanggan, khususnya bagi kalangan karyawan dan wirausahawan. Kalangan karyawan dan wirausahawan tidak perlu khawatir dalam berkomunikasi dan membuat panggilan telepon ke semua operator di saat jam kantor untuk mendukung produktifitas pekerjaan mereka,” ungkap Director & Chief Commercial Officer Indosat Laszlo Imre Barta di Jakarta, Rabu (25/5).  .

Dijelaskannya, Indosat Mobile memberikan berbagai kenyamanan dan kelebihan seperti bebas nelpon dan SMS ke semua operator, bebas akses data, serta dapat memilih nomor sendiri yang diinginkan. Layanan Indosat Mobile berlaku untuk pelanggan prabayar maupun pascabayar dan dapat dimiliki dengan membeli  kartu Indosat.

Untuk paket prabayar, pelanggan diberikan kebebasan memilih salah satu dari tiga paket yang disediakan, yaitu paket Harian, paket Mingguan dan paket Bulanan. Pelanggan dapat memilih paket yang diinginkan dengan melakukan registrasi melalui *888# atau ketik: Harian/Mingguan/Bulanan kirim ke 888.

Bagi pelanggan pascabayar, disediakan paket bulanan dengan melakukan registrasi ke Galeri Indosat terdekat. Semua paket berlaku mulai pukul 05.00 sampai dengan pukul 17.00. Pelanggan pascabayar juga akan mendapatkan keistimewaan khusus yaitu diskon 50 persen dari biaya berlangganan Blackberry paket lengkap (BIS) yang berlaku hingga bulan Desember 2011.

Kelebihan lain yang diberikan Indosat Mobile adalah  layanan Indosat World, yaitu  portal terintegrasi yang memudahkan pelanggan untuk mengakses berbagai layanan seperti online registration, info balance/tagihan, news, info financial, m-banking dan games melalui ponsel. Untuk mendapatkan aplikasi Indosat World  dilakukan dengan cara mengunduh melalui *888# atau ketik iworld kirim ke 888.[dni]

260511 Pengembangan Solusi TI Butuh Kolaborasi

JAKARTA—Pengembangan solusi Teknologi Informasi (TI) yang bisa menggerakkan perekonomian nasional membutuhkan kolaborasi yang erat dari semua pemangku kepentingan seperti perusahaan penyedia solusi, operator telekomunikasi, pengguna, dan pemerintah.

“Pemanfaatan solusi TI  di negara berkembang masih kecil utilisasinya dan inefisien. Ini membuat biaya customer ownership menjadi tinggi,” ungkap  Director South Pacific Regional CIO Office Huawei Neo Teck Guan di Jakarta, Rabu (25/5).

Diungkapkannya, kolaborasi bisa dilakukan dalam bentuk Joint Innovation Center (JIC) yang melibatkan operator, penyedia solusi, dan pelanggan. Operator mengambil peran mendalami kebutuhan pengguna,  uji coba produk, dan optimalisasi saluran pemasaran.

Sementara penyedia solusi membagi pengalaman dan teknologi yang terjadi di pasar, menyediakan tenaga ahli untuk riset, peralatan, dan lainnya. “Di JIC itu digodok tentang platform dan semuanya. Setelah itu produk yang dihasilkan dilempar ke pasar,” katanya.

Menurutnya, hasil dari kolaborasi ini adalah adanya inovasi baru baik dari sisi solusi, aplikasi, perangkat, dan model bisnis, serta menekan Total Customer Ownership (TCO). “Pelanggan pun akan puas, dari sisi operator terjadi penghematan sementara produk yang ditawarkan memiliki nilai tambah,” jelasnya.

Masih menurutnya, konsep JIC ini bisa dijalankan di Indonesia mengingat pemerintah tengah mengembangkan enam koridor ekonomi di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali-NTT, dan Papua. “JIC bisa dibuat per koridor dan mendukung klaster ekonomi yang tengah dibangun. Ini akan menggerakkan perekonomian daerah,” tuturnya.

Disarankannya, pemerintah pun bisa mengadopsi solusi TI yang menjadi tren di dunia saat ini yakni cloud computing yang memberikan dampak dalam berinteraksi dengan masyarakat, pelaku usaha, pegawai, dan antara instansi pemerintahan.

“Jika menerapkan solusi TI dengan tepat maka pemerintah bisa memberikan one stop service ke masyarakat, meningkatkan iklim usaha dan menarik investor asing untuk datang. Sementara dari sisi produksi pegawai bisa diefisiensikan dan fokus pada layanan yang bernilai tambah. Sedangkan antar instansi terjadi kolaborasi yang bisa mengutilisasikan sumberdaya dimiliki,” jelasnya.[dni]

260511 Telkom Optimistis Manjakan UKM

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melalui Divisi Business Services (DBS) optimistis memanjakan kalangan usaha skala kecil dan menengah (UKM), serta koperasi dengan solusi teknologi informasi (TI) yang dimilikinya.

“Kami memiliki solusi TI yang berbasis kepada komunitas. Jadi, setiap kebutuhan dari komunitas UKM dan Koperasi itu dipenuhi dengan sumber daya yang dimiliki Telkom,” ungkap EGM DBS Selamet Riyadi di Jakarta, Rabu (25/5).

Diungkapkannya, beberapa solusi TI yang ditawarkan DBS kepada kalangan usaha tersebut adalah e-Toko, e-Koperasi, e-Sekolah, e-Apotik, e-Radio,
e-Puskesmas, e-Campus (SIA), dan e-Bengkel. “Kami membagi segmen usaha ini berbasis manufaktur, services, dan trading,” jelasnya.

Selain itu untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga disediakan solusi BPR Satu yakni  solusi terpadu aplikasi inti perbankan (core banking) yang dipadukan dan dilengkapi dengan Customer Relationship Management (CRM) dan infrastruktur,  secara resource sharing berdasarkan konsep Software as a Service. DBS juga menyediakan Virtual Private Server (VPS) yang diberikan merek Telkom VPS.

“Saat ini kami memiliki 155 ribu pelanggan dari kalangan UKM, koperasi, dan BPR ini. Kita targetkan pada tahun ini dari penyediaan solusi TI untuk segmen usaha ini bisa memasukkan omset ke perseroan sekitar 2,3 triliun rupiah,” ungkapnya.

Menurutnya, pasar solusi TI  untuk segmen  usaha skala kecil dan menengah lumayan besar. Diperkirakan dalam kurun waktu empat tahun ke depan akan tumbuh 60,3 persen menjadi 18,6 triliun rupiah dengan rata-rata pertumbuhan per tahun 12,83 persen  dari nilai  11,6 triliun rupiah sejak 2010 lalu.

“UKM punya prospek bisnis yang sangat cerah jika semakin banyak yang mengimplementasikan solusi TI dengan tepat. Dengan solusi yang ditawarkan Telkom, kami perkirakan nilai bisnis TI dari kalangan UKM dan koperasi tahun 2011 ini sudah bisa tumbuh 10,9 persen  menjadi  12,87 triliun rupiah,” ungkapnya.

Masih menurutnya, pemicu dari besarnya nilai bisnis itu karena komunitas usaha  yang melek TI sedang tumbuh dan membutuhkan solusi serta mobilitas untuk menunjang kelancaran bisnis. “Pasar ini belum ada yang diseriusi oleh pemain lokal. Telkom sebagai operator kelas dunia ingin melayani segmen ini melalui divisi DBS, tidak hanya untuk memberikan solusi TI, tetapi membantu masyarakat memberdayakan ekonominya,” jelasnya.

DBS sendiri mulai dibentuk tahun lalu khusus oleh Telkom untuk melayani pelanggan bisnis yang sebagian besar merupakan segmen pengusaha UKM. Pada segmen ini, Telkom akan menawarkan beragam solusi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan bisnis melalui penerapan TI yang tepat, sehingga TI bisa menjadi bisnis enabler.[dni]

260511 Mencari Model Bisnis Melalui Komunitas

Teknologi cloud computing (komputasi awan) sudah menjadi tren global. Bahkan perusahaan sekelas Google, Microsoft, dan sejumlah raksasa teknologi lainnya, turut bertarung memperebutkan pasar ini.

Indonesia sebagai negara yang cepat mengadaptasi kemajuan teknologi tak ketinggalan mengadopsi tren ini.  Para pemain di bisnis ini  tidak hanya  perusahaan berbasis teknologi informasi (TI), tetapi juga operator telekomunikasi. Hal ini karena cloud computing menjadikan  sumber daya komputasi dan jaringan berada dalam satu sistem dengan solusi pendukungnya atau cloud enablement.

Munculnya dua kekuatan yang memiliki beda kutub yakni operator dan perusahan TI tentu perlu dijembatani agar kepentingan semua pihak bisa terpenuhi sehingga memiliki persepsi yang sama dalam mengembangkan inovasi, khususnya kala menemui hambatan dalam pengimplementasiannya.

Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala mengatakan,  sebagai sebuah paradigma baru dan belum menemukan bentuk bakunya, cloud computing  menawarkan berbagai keuntungan sekaligus juga sejumlah resiko, terutama yang terkait dengan IT Service Management.

”Tetapi kehadiran Cloud Computing ini tidak bisa dihindari lagi. Untuk meminimalkan resiko-resiko tersebut, perlu sebuah upaya  membuat sejumlah standar terhadap layanan berbasis cloud computing ini,” katanya di Jakarta, Rabu (25/5).

Diungkapkannya, LPPMI telah memulai dengan menggagas lahirnya  Indonesian Cloud Forum (ICF) dan situs http://www.indonesiacloud.org yang diharapkan dapat  menjembatani kepentingan semua pihak mulai  dari penyelenggara, regulator,  hingga pengguna cloud computing.

Praktisi senior telematika Teguh Prasetya yang juga penggagas situs http://www.indonesiacloud.org menjelaskan, latar belakang dibentuknya forum ini tak lain dari keinginan untuk menghidupkan ekosistem cloud computing di Indonesia, dimana setiap organisasi yang tergabung di dalamnya dapat bekerja sama untuk mengadopsi layanan-layanan cloud computing untuk diimplementasikan pada industri yang lebih luas.

Menurut Teguh, ICF mengemban misi utama sebagai organisasi yang netral dan terbuka bagi pemilik teknologi maupun konsumen yang didedikasikan untuk mendukung implementasi dan keberhasilan industri komputasi awan di Indonesia. ”Cloud computing ini juga wujud dari Green ICT sebagai salah satu new economic engineering yang bisa menggerakkan ekonomi nasional. Ini harus dibangun bersama agar pemain cloud lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya.

Dijelaskannya, ICF akan menggunakan forum terbuka, baik secara fisik maupun virtual, untuk memfokuskan diri pada pada pembangunan konsensus masyarakat, eksplorasi tren terbaru, best practice ataupun referensi arsitektural untuk keperluan standardisasi cloud computing di Indonesia.

Diharapkannya, dengan menggabungkan kekuatan dari komunitas vendor, industri, serta konsumen secara bersama-sama dalam suatu forum terbuka, maka ICF diharapkan akan mendorong interoperabilitas dan integrasi antara anggota organisasi.

“Proses ini nantinya akan difasilitasi oleh sebuah forum virtual, seminar dan workshop rutin. Seluruh aktivitas ICF juga akan diperkuat dengan adanya web forum yang memungkinkan komunikasi dalam antara anggota ICF terjalin lebih komprehensif,” jelas Teguh.

Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Ashwin Sasongko  menyambut gembira kehadiran ICF karena menyadari pengembangan inovasi selalu berawal dari komunitas. ”Kami sebagai regulator  mendukung penuh dibentuknya forum komunitas cloud ini. Suara dari komunitas akan menjadi masukan berharga bagi kami dalam membuat regulasi telematika yang kondusif,” kata Ashwin.

Diharapkannya, dalam finalisasi RUU Konvergensi Telematika  bisnis cloud computing  dapat dimasukkan sebagai salah satu isu yang dipertimbangkan untuk diatur  karena isu utama dari cloud computing adalah keamanan informasi.

“Pengaturan cloud computing tersebut  tetap mengutamakan faktor kehati-hatian dari kemungkinan kegagalan cloud computing dan  mengakomodasi kepentingan industri domestik dari kemungkinan ofensif industri asing dengan dalih lebih compatible, harga bersaing dan keandalannya. Kami yakin jika industri domestik memperoleh peran yang cukup signifikan namun tetap dalam batas koridor hukum yang ada, mereka tentu dapat menunjukkan kemampuannya. Yang kami inginkan adalah adanya kemitraan asing dan domestik secara proporsional,” tegasnya.[dni]