260511 Indosat Luncurkan ”Indosat Mobile”

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat) meluncurkan  layanan  Indosat Mobile  untuk mendukung mobilitas dan memberikan solusi bagi pelanggan, khususnya para karyawan dan wirausahawan dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi yang lengkap untuk mendukung mereka meraih sukses dalam bekerja.

“Indosat Mobile, terobosan layanan terbaru bagi pelanggan sebagai wujud komitmen kami untuk terus berupaya memahami kebutuhan spesifik pelanggan, khususnya bagi kalangan karyawan dan wirausahawan. Kalangan karyawan dan wirausahawan tidak perlu khawatir dalam berkomunikasi dan membuat panggilan telepon ke semua operator di saat jam kantor untuk mendukung produktifitas pekerjaan mereka,” ungkap Director & Chief Commercial Officer Indosat Laszlo Imre Barta di Jakarta, Rabu (25/5).  .

Dijelaskannya, Indosat Mobile memberikan berbagai kenyamanan dan kelebihan seperti bebas nelpon dan SMS ke semua operator, bebas akses data, serta dapat memilih nomor sendiri yang diinginkan. Layanan Indosat Mobile berlaku untuk pelanggan prabayar maupun pascabayar dan dapat dimiliki dengan membeli  kartu Indosat.

Untuk paket prabayar, pelanggan diberikan kebebasan memilih salah satu dari tiga paket yang disediakan, yaitu paket Harian, paket Mingguan dan paket Bulanan. Pelanggan dapat memilih paket yang diinginkan dengan melakukan registrasi melalui *888# atau ketik: Harian/Mingguan/Bulanan kirim ke 888.

Bagi pelanggan pascabayar, disediakan paket bulanan dengan melakukan registrasi ke Galeri Indosat terdekat. Semua paket berlaku mulai pukul 05.00 sampai dengan pukul 17.00. Pelanggan pascabayar juga akan mendapatkan keistimewaan khusus yaitu diskon 50 persen dari biaya berlangganan Blackberry paket lengkap (BIS) yang berlaku hingga bulan Desember 2011.

Kelebihan lain yang diberikan Indosat Mobile adalah  layanan Indosat World, yaitu  portal terintegrasi yang memudahkan pelanggan untuk mengakses berbagai layanan seperti online registration, info balance/tagihan, news, info financial, m-banking dan games melalui ponsel. Untuk mendapatkan aplikasi Indosat World  dilakukan dengan cara mengunduh melalui *888# atau ketik iworld kirim ke 888.[dni]

260511 Pengembangan Solusi TI Butuh Kolaborasi

JAKARTA—Pengembangan solusi Teknologi Informasi (TI) yang bisa menggerakkan perekonomian nasional membutuhkan kolaborasi yang erat dari semua pemangku kepentingan seperti perusahaan penyedia solusi, operator telekomunikasi, pengguna, dan pemerintah.

“Pemanfaatan solusi TI  di negara berkembang masih kecil utilisasinya dan inefisien. Ini membuat biaya customer ownership menjadi tinggi,” ungkap  Director South Pacific Regional CIO Office Huawei Neo Teck Guan di Jakarta, Rabu (25/5).

Diungkapkannya, kolaborasi bisa dilakukan dalam bentuk Joint Innovation Center (JIC) yang melibatkan operator, penyedia solusi, dan pelanggan. Operator mengambil peran mendalami kebutuhan pengguna,  uji coba produk, dan optimalisasi saluran pemasaran.

Sementara penyedia solusi membagi pengalaman dan teknologi yang terjadi di pasar, menyediakan tenaga ahli untuk riset, peralatan, dan lainnya. “Di JIC itu digodok tentang platform dan semuanya. Setelah itu produk yang dihasilkan dilempar ke pasar,” katanya.

Menurutnya, hasil dari kolaborasi ini adalah adanya inovasi baru baik dari sisi solusi, aplikasi, perangkat, dan model bisnis, serta menekan Total Customer Ownership (TCO). “Pelanggan pun akan puas, dari sisi operator terjadi penghematan sementara produk yang ditawarkan memiliki nilai tambah,” jelasnya.

Masih menurutnya, konsep JIC ini bisa dijalankan di Indonesia mengingat pemerintah tengah mengembangkan enam koridor ekonomi di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali-NTT, dan Papua. “JIC bisa dibuat per koridor dan mendukung klaster ekonomi yang tengah dibangun. Ini akan menggerakkan perekonomian daerah,” tuturnya.

Disarankannya, pemerintah pun bisa mengadopsi solusi TI yang menjadi tren di dunia saat ini yakni cloud computing yang memberikan dampak dalam berinteraksi dengan masyarakat, pelaku usaha, pegawai, dan antara instansi pemerintahan.

“Jika menerapkan solusi TI dengan tepat maka pemerintah bisa memberikan one stop service ke masyarakat, meningkatkan iklim usaha dan menarik investor asing untuk datang. Sementara dari sisi produksi pegawai bisa diefisiensikan dan fokus pada layanan yang bernilai tambah. Sedangkan antar instansi terjadi kolaborasi yang bisa mengutilisasikan sumberdaya dimiliki,” jelasnya.[dni]

260511 Telkom Optimistis Manjakan UKM

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melalui Divisi Business Services (DBS) optimistis memanjakan kalangan usaha skala kecil dan menengah (UKM), serta koperasi dengan solusi teknologi informasi (TI) yang dimilikinya.

“Kami memiliki solusi TI yang berbasis kepada komunitas. Jadi, setiap kebutuhan dari komunitas UKM dan Koperasi itu dipenuhi dengan sumber daya yang dimiliki Telkom,” ungkap EGM DBS Selamet Riyadi di Jakarta, Rabu (25/5).

Diungkapkannya, beberapa solusi TI yang ditawarkan DBS kepada kalangan usaha tersebut adalah e-Toko, e-Koperasi, e-Sekolah, e-Apotik, e-Radio,
e-Puskesmas, e-Campus (SIA), dan e-Bengkel. “Kami membagi segmen usaha ini berbasis manufaktur, services, dan trading,” jelasnya.

Selain itu untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga disediakan solusi BPR Satu yakni  solusi terpadu aplikasi inti perbankan (core banking) yang dipadukan dan dilengkapi dengan Customer Relationship Management (CRM) dan infrastruktur,  secara resource sharing berdasarkan konsep Software as a Service. DBS juga menyediakan Virtual Private Server (VPS) yang diberikan merek Telkom VPS.

“Saat ini kami memiliki 155 ribu pelanggan dari kalangan UKM, koperasi, dan BPR ini. Kita targetkan pada tahun ini dari penyediaan solusi TI untuk segmen usaha ini bisa memasukkan omset ke perseroan sekitar 2,3 triliun rupiah,” ungkapnya.

Menurutnya, pasar solusi TI  untuk segmen  usaha skala kecil dan menengah lumayan besar. Diperkirakan dalam kurun waktu empat tahun ke depan akan tumbuh 60,3 persen menjadi 18,6 triliun rupiah dengan rata-rata pertumbuhan per tahun 12,83 persen  dari nilai  11,6 triliun rupiah sejak 2010 lalu.

“UKM punya prospek bisnis yang sangat cerah jika semakin banyak yang mengimplementasikan solusi TI dengan tepat. Dengan solusi yang ditawarkan Telkom, kami perkirakan nilai bisnis TI dari kalangan UKM dan koperasi tahun 2011 ini sudah bisa tumbuh 10,9 persen  menjadi  12,87 triliun rupiah,” ungkapnya.

Masih menurutnya, pemicu dari besarnya nilai bisnis itu karena komunitas usaha  yang melek TI sedang tumbuh dan membutuhkan solusi serta mobilitas untuk menunjang kelancaran bisnis. “Pasar ini belum ada yang diseriusi oleh pemain lokal. Telkom sebagai operator kelas dunia ingin melayani segmen ini melalui divisi DBS, tidak hanya untuk memberikan solusi TI, tetapi membantu masyarakat memberdayakan ekonominya,” jelasnya.

DBS sendiri mulai dibentuk tahun lalu khusus oleh Telkom untuk melayani pelanggan bisnis yang sebagian besar merupakan segmen pengusaha UKM. Pada segmen ini, Telkom akan menawarkan beragam solusi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan bisnis melalui penerapan TI yang tepat, sehingga TI bisa menjadi bisnis enabler.[dni]

260511 Mencari Model Bisnis Melalui Komunitas

Teknologi cloud computing (komputasi awan) sudah menjadi tren global. Bahkan perusahaan sekelas Google, Microsoft, dan sejumlah raksasa teknologi lainnya, turut bertarung memperebutkan pasar ini.

Indonesia sebagai negara yang cepat mengadaptasi kemajuan teknologi tak ketinggalan mengadopsi tren ini.  Para pemain di bisnis ini  tidak hanya  perusahaan berbasis teknologi informasi (TI), tetapi juga operator telekomunikasi. Hal ini karena cloud computing menjadikan  sumber daya komputasi dan jaringan berada dalam satu sistem dengan solusi pendukungnya atau cloud enablement.

Munculnya dua kekuatan yang memiliki beda kutub yakni operator dan perusahan TI tentu perlu dijembatani agar kepentingan semua pihak bisa terpenuhi sehingga memiliki persepsi yang sama dalam mengembangkan inovasi, khususnya kala menemui hambatan dalam pengimplementasiannya.

Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala mengatakan,  sebagai sebuah paradigma baru dan belum menemukan bentuk bakunya, cloud computing  menawarkan berbagai keuntungan sekaligus juga sejumlah resiko, terutama yang terkait dengan IT Service Management.

”Tetapi kehadiran Cloud Computing ini tidak bisa dihindari lagi. Untuk meminimalkan resiko-resiko tersebut, perlu sebuah upaya  membuat sejumlah standar terhadap layanan berbasis cloud computing ini,” katanya di Jakarta, Rabu (25/5).

Diungkapkannya, LPPMI telah memulai dengan menggagas lahirnya  Indonesian Cloud Forum (ICF) dan situs http://www.indonesiacloud.org yang diharapkan dapat  menjembatani kepentingan semua pihak mulai  dari penyelenggara, regulator,  hingga pengguna cloud computing.

Praktisi senior telematika Teguh Prasetya yang juga penggagas situs http://www.indonesiacloud.org menjelaskan, latar belakang dibentuknya forum ini tak lain dari keinginan untuk menghidupkan ekosistem cloud computing di Indonesia, dimana setiap organisasi yang tergabung di dalamnya dapat bekerja sama untuk mengadopsi layanan-layanan cloud computing untuk diimplementasikan pada industri yang lebih luas.

Menurut Teguh, ICF mengemban misi utama sebagai organisasi yang netral dan terbuka bagi pemilik teknologi maupun konsumen yang didedikasikan untuk mendukung implementasi dan keberhasilan industri komputasi awan di Indonesia. ”Cloud computing ini juga wujud dari Green ICT sebagai salah satu new economic engineering yang bisa menggerakkan ekonomi nasional. Ini harus dibangun bersama agar pemain cloud lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya.

Dijelaskannya, ICF akan menggunakan forum terbuka, baik secara fisik maupun virtual, untuk memfokuskan diri pada pada pembangunan konsensus masyarakat, eksplorasi tren terbaru, best practice ataupun referensi arsitektural untuk keperluan standardisasi cloud computing di Indonesia.

Diharapkannya, dengan menggabungkan kekuatan dari komunitas vendor, industri, serta konsumen secara bersama-sama dalam suatu forum terbuka, maka ICF diharapkan akan mendorong interoperabilitas dan integrasi antara anggota organisasi.

“Proses ini nantinya akan difasilitasi oleh sebuah forum virtual, seminar dan workshop rutin. Seluruh aktivitas ICF juga akan diperkuat dengan adanya web forum yang memungkinkan komunikasi dalam antara anggota ICF terjalin lebih komprehensif,” jelas Teguh.

Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Ashwin Sasongko  menyambut gembira kehadiran ICF karena menyadari pengembangan inovasi selalu berawal dari komunitas. ”Kami sebagai regulator  mendukung penuh dibentuknya forum komunitas cloud ini. Suara dari komunitas akan menjadi masukan berharga bagi kami dalam membuat regulasi telematika yang kondusif,” kata Ashwin.

Diharapkannya, dalam finalisasi RUU Konvergensi Telematika  bisnis cloud computing  dapat dimasukkan sebagai salah satu isu yang dipertimbangkan untuk diatur  karena isu utama dari cloud computing adalah keamanan informasi.

“Pengaturan cloud computing tersebut  tetap mengutamakan faktor kehati-hatian dari kemungkinan kegagalan cloud computing dan  mengakomodasi kepentingan industri domestik dari kemungkinan ofensif industri asing dengan dalih lebih compatible, harga bersaing dan keandalannya. Kami yakin jika industri domestik memperoleh peran yang cukup signifikan namun tetap dalam batas koridor hukum yang ada, mereka tentu dapat menunjukkan kemampuannya. Yang kami inginkan adalah adanya kemitraan asing dan domestik secara proporsional,” tegasnya.[dni]

260511 Inovasi Teknologi: Pasar Cloud Computing Capai Rp 2,1 Triliun Menyambut Era Cloud Computing

Lembaga penelitian Springboard Research belum lama ini mengungkapkan Cloud Computing (Komputasi awan)  akan menjadi sebuah kebutuhan organisasi bisnis, pemerintah maupun nirlaba di Indonesia. Diperkirakan dalam waktu 12 hingga 18 bulan ke depan, inivasi  ini akan mencatat pertumbuhan penting di Indonesia.

Hasil riset lembaga ini menunjukkan  50 persen dari 114 organisasi di Indonesia  telah menggunakan atau dalam tahap perencanaan untuk inisiatif Cloud Computing. Di antara perusahaan-perusahaan skala besar di Indonesia, animo untuk beralih kepada Cloud Computing saat ini meningkat hingga 68 persen.

Cloud computing adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer dan pengembangan berbasis Internet. Awan (cloud) adalah metafora dari internet yang sering digambarkan dalam diagram jaringan computer, serta abstraksi dari infrastruktur kompleks yang disembunyikannya.

Sedangkan hasil penelitian dari Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) terhadap 100 perusahaan di Indonesia  mengungkapkan,  hal-hal utama yang menjadi kekhawatiran  ketika public cloud computing diimplementasikan, antara lain: masalah Security (31,9%), Reliability (27,65), Integrasi dengan legacy sistem (12,76%). Sementara untuk  private cloud computing prioritas beralih menjadi masalah Reliability (20%), Integrasi dengan legacy sistem (20%), Security (17,77%)

Menurut  Direktur LPPMI Kamilov Sagala  cloud computing dibutuhkan karena mampu menawarkan fleksibilitas dalam perspektif bisnis, mengurangi biaya operasional, dan alokasi sumber daya yang dinamis berdasarkan perspektif teknis.

President Director IBM Indonesia Suryo Suwignjo mengakui, sebagai agen perubahan cloud computing memang akan mengakselerasi kecepatan satu perusahaan untuk bersaing. Hal itu bisa dilihat dari terjadinya pengurangan biaya operasional sebesar 77  persen, lebih cepat dalam memberikan nilai tambah sebesar 72 persen dan meningkatkan reliabilits sebesar 50 persen.

“Kunci suksesnya cloud computing adalah Chief Information Officer (CIO) satu perusahaan harus menerapkannya dengan strategi yang tepat dan sesuai kebutuhan perusahaannya. Jika tidak bisa menjadi ancaman bagi kelangsungan TI di perusahaanitu,” katanya di Jakarta, Rabu (25/5).

Direktur Wholesales & Enterprises Telkom Arief Yahya mengungkapkan, di era Informasi, Media, dan Edutainment (IME) sebagai pendorong bisnis Telekomunikasi, maka empat sektor menjadi andalan perseroan untuk memasok omset. Empat sektor itu adalah mobile broadband, Cloud Computing, Home Digital Environment, dan Machine to Machine.

“Telkom siap menjadi pemain utama dan pemimpin di bisinis Cloud Computing karena perseroan telah memiliki jaringan infrastruktur yang solid di seluruh nusantara. Bandwidth yang dimiliki Telkom tidak perlu diragukan lagi,” tegasnya.

Diungkapkannya, untuk Indonesia nilai pasar dari  Cloud Computing  memang masih kecil. Namun, tahun depan diprediksi mencapai  2,1 triliun rupiah dengan sumbangan Software as a Services (SaaS) sebesar 40 persen. “Telkom sendiri menguasai pasar sekitar 70 persen,” tegasnya.

Nada optimistis menggarap inovasi ini juga dihembuskan Planning & Development Director PT Aplikanusa Lintasarta Yudi Rulanto, “Sebagai perusahaan yang biasa bermain di pasar retail dan korporasi juga siap menjadikan cloud computing sebagai salah satu alat mencari keuntungan. “Kami bisa menawarkan solusi Teknologi Informasi (TI) yang reliable dengan dukungan jaringan infrastruktur terpercaya bagi pengguna solusi dari Indosat grup,” katanya.

Country Director Cisco Indonesia  Ichawan F. Agus mengungkapkan dalam memberikan jasa Cloud Computing harus dilihat pola penerapan harga ditengah kondisi freemium di pasar. Freemium adalah permintaan pasar terhadap sesuatu dengan kualitas tinggi tetapi harga yang dibayar rendah. “Biasanya untuk pembeli informal dipikat dengan penggunaan gratis atau Ad Based, sedangkan untuk formal dengan kontrak. Jalan tengah dari kedua ini adalah membayar sesuai yang digunakan,” katanya.

Pasar Pemerintah
Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Ashwin Sasongko mengakui, fakta menunjukkan sektor pemerintah menjadi salah satu penentu kesuksesan bisnis cloud computing di Indonesia.

“Ini bukan maksud pemerintah untuk men-drive dari aspek bisnisnya.  Berbagai publikasi dari perusahaan sudah menunjukkan, bahwa selama ini belanja TI sektor pemerintahan masih mendominasi dan cenderung terus meningkat tajam sehingga menjadi potensi bagi cloud computing,” katanya.

Diungkapkannya, dalam finalisasi RUU Konvergensi Telematika diharapkan bisnis cloud computing  dapat dimasukkan sebagai salah satu bahan pertimbangan dan pengaturannya. Pengaturan diperlukan karena isu utama dari cloud computing adalah keamanan informasi.

“Hal yang menjadi perhatian  dari pengaturan  nantinya mengutamakan faktor kehati-hatian dari kemungkinan kegagalan cloud computing dan mengakomodasi kepentingan industri domestik dari kemungkinan ofensif industri asing dengan dalih lebih compatible, harga bersaing dan keandalannya. Kami yakin jika industri domestik memperoleh peran yang cukup signifikan namun tetap dalam batas koridor hukum yang ada, mereka tentu dapat menunjukkan kemampuannya. Kami menginginkan adanya kemitraan asing dan domestik secara proporsional,” tegasnya

Kepala Bidang Sistem Elektronika Pusat TIK BPPT  Mohammad Mustafa Sarinanto mengungkapkan, salah satu  tantangan dari cloud computing adalah ketersediaan akses. Apalagi dalam  lima tahun ke depan 25 persen perangkat untuk komputasi akan disominasi  wireless tablet atau netbook. “Di 2020, orang tidak akan bekerja dengan software yang berjalan di PC mereka, melainkan melalui internet dan aplikasi berbasis cloud dengan device mobile-nya,” katanya.

Praktisi telematika Mochamad James Falahuddin mengingatkan ditengah mulai maraknya layanan cloud computing maka mendesak hadirnya peran cloud auditor yang berperan memeriksa standar keamanan, mengukur layanan yang diselenggarakan, dan menghitung dampak pembajakan. “Peran regulator diharapkan dalam hal ini. Soalnya satu solusi itu  rentan ditiru layanannya kala dilempar  ke pasar,” tegasnya.[dni]

240511 Memperkaya Konten IPTV

Jasa TV berbayar di Indonesia pada tahun ini diproyeksikan tumbuh 30 persen atau mencapai 1,69 juta pelanggan. Sedangkan pada tahun lalu penetrasi TV berbayar hanya mencapai 1,3 juta sambungan.

Angka ini adalah yang terendah di kawasan Asia Tenggara  mengingat potensi pasar yang dimiliki Indonesia  adalah 40 juta rumah tangga pemilik TV. Seharusnya,  pengguna TV berbayar diestimasikan sebesar 12 juta pelanggan atau sekitar 30 persen dari total populasi TV nasional.

Di Indonesia pemain TV berbayar ada beberapa pemain seperti Indovision, Telkom Vision, Aora TV, First Media, Mega Vision, dan IM2. Tiga pemain menguasai pasar dengan jumlah pelanggan yang signifikan yakni Indovision (700 ribu pengguna), TelkomVision (300 ribu pelanggan), dan First Media (150 ribu pelanggan).

”TV berbayar di Indonesia tidak maju karena masalah konten. Di Indonesia ini konten asing sangat mendominasi sehingga membuat biaya operasional membengkak, akhirnya operator menjadi kelimpungan mencari keuntungan karena semua dana dialokasikan membeli konten,” ungkap Direktur Utama Telkom Vision Elvizar KH di Jakarta, Senin (23/5).

Menurutnya, sebagai operator TV berbayar yang paling lengkap media untuk meyalurkan konten mulai dari satelit, kabel, hingga Internet Protocol TV (IPTV), pihaknya harus kreatif menghadirkan konten yang menarik tanpa membebani biaya operasional.

”Kami akan meluncurkan IPTV secara komersial pada Juni nanti. Jika tidak digandeng banyak pemain konten lokal, bisa jadi layanan ini tidak berkembang karena keterbatasan konten. Kita mau jadikan IPTV sebagai sarana pendukung bagi kreator lokal, sehingga kolaborasi bisa saling menguntungkan,” jelasnya.

IPTV didefinisikan sebagai Interactive Personalize TV menggunakan kabel untuk bisa diakses pelanggan dan dijamin tingkat kerahasiaannya sehingga pelanggan bisa mereview menggunakan jaringan kabel telepon dan kabel broadband dalam satu waktu.

Untuk merealisasikan IPTV ini dibutuhkan dana  50 hingga 100 miliar rupiah. Hingga 2015, Telkom Vision optimis bisa meraih 1 juta pelanggan IPTV. Harapannya, setelah memperoleh 17.000 pelangggan tahun ini, jumlah pelanggan tersebut akan terus naik menjadi 200.000 tahun 2012, sebanyak 500.000 pelanggan di tahun 2013 hingga pada 2015 nanti menembus 1 juta pelanggan.

Fitur TV on Demand  (TvoD) dan Video on Demand (VoD) merupakan salah satu unggulan yang ditawarkan oleh IPTV, dimana melalui TVoD pengguna bisa melihat program TV yang sudah tayang sebelumnya, dengan flashback sampai 2 hari kebelakang. Sedangkan VoD sendiri memungkinkan pengguna menyewa film-film eksklusif dengan tambahan biaya per film.

“Kita sejak Februari lalu sudah melakukan ujicoba terhadap 300 pelanggan yang diantaranya pengguna internet Speedy dan komunitas seerta orang terkenal. Hasilnya sebagian besar dari mereka puas, terlebih fitur di IPTV seperti TV on Demand dan Video on Demand,”  jelas Elvizar.

Head of IP TV Telkomvision Bambang Lusmiadi mengungkapkan, layanan miliknya sangat mendukung dan mendorong adanya konten lokal.   “Jangan sampai kita kalah dengan tayangan luar atau bahkan tetangga yang mempunyai acara sendiri. Kita ingin IPTV ini menjadi platform baru bagi konten lokal. Langkah ini telah dimulai dengan  menggandeng 14 produsen film dan delapan perusahaan rekaman musik Indonesia untuk mengisi konten IPTV,” kata Bambang.

Beberapa penyedia konten lokal yang telah digandeng adalah  MovieStar, 13 Entertainment, Rapi Film, Indica Pictures, Kompas Gramedia Production, RPM, Trinity, Warner Music Indonesia, Musica Studio, dan StarVision.

Diungkapkannya, Telkom Vision telah menyiapkan berbagai konsep pola pembagian pendapatan dengan pemilik konten lokal agar mau mengisi IPTV mulai dari   50:50, 60:40 atau bahkan 30:70 tergantung kualitas konten yang ditawarkan.

Praktisi telamatika Mochammad James Falahuddin mengakui, memperkaya konten sebelum IPTV diluncurkan adalah langkah yang tepat dilakukan oleh Telkom Vision mengingat sebagai operator pertama yang memiliki layanan ini tantangannya lumayan berat. ”Telkom Vision adalah pionir sehingga harus mengedukasi pasar dengan tepat tentang layanan ini. Selain itu, operator ini juga harus pintar menentukan harga berlangganan agar pasar bisa merespons dengan positif,” sarannya.[dni]

240511 Layanan Operator : VAS Berbasis Suara dan SMS. Tetap Tumbuh Memoles Nilai Tambah Tradisional

Produk telekomunikasi dasar seperti suara dan SMS yang dianggap mulai memasuki masa jenuh ternyata juga memberikan pengaruh kepada penjualan layanan nilai tambah (Value Added Services (VAS) berbasiskan kedua jasa tersebut.

Produk VAS berbasis suara dan SMS yang dikenal di masyarakat selama ini adalah SMS Premium,  nada sambung (Ring Back Tone/RBT), dan  SMS Iklan. Kontribusi terbesar biasanya datang dari RBT dan SMS Premium.

Vice President Digital Music & Content Management Telkomsel Krish Pribadi menjelaskan, dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun mendatang layanan VAS berbasis suara dan SMS tetap akan menjadi primadona untuk berjualan karena kondisi masyarakat Indonesia mendukung hal itu terjadi.

“Jika diperhatikan dalam VAS berbasis broadband pun tetap saja yang text messaging diminati pengguna. Lihat saja BlackBerry Messenger, itu kan sebenarnya berbasis text tetapi jalannya di jaringan data,” jelasnya di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, sebagai operator pihaknya sebenarnya tidak membedakan antara aplikasi berbasis broadband dan telekomunikasi dasar karena konsep yang diusung adalah memberikan semua layanan nilai tambah ke masyarakat.

“Kami memiliki 3.500- 4 ribu layanan VAS, semua diberikan mulai dari yang sudah ada di pasar hingga yang belum terbayangkan oleh pelanggan. Kontribusi jasa ini sekitar 10-11 persen dari total omset 42 triliun rupiah tahun lalu. Tahun ini ditargetkan menjadi 13-15 persen,” jelasnya.

EGM Telkom Flexi Mas’ud Khamid menambahkan, tidak semua inovasi diterima pasar sehingga operator dalam berjualan VAS memiliki dua prinsip yakni menjadi inovator atau VAS Follower. Di Flexi sendiri layanan VAS berkontribusi sekitar 15-20 persen dari omset 3 triliun rupiah tahun lalu

“Telkom grup yang memiliki sumber daya paling lengkap mencoba mengkonversikan semua kekuatan untuk menggarap produk VAS ini. Salah satunya adalah dengan meluncurkan layanan Call My Name,” jelasnya.

Call My Name adalah layanan VAS  yang memungkinkan pelanggan Telkomsel dan Flexi memasukkan nama alias untuk melakukan panggilan atau mengirimkan SMS. Tidak perlu menekan nomor ponsel, pelanggan cukup mengirimkan SMS hanya dengan mengetik nama alias.

Call My Name memanfaatkan direktori telepon berbasis jaringan, sehingga pelanggan tidak membutuhkan menu kontak atau buku telepon untuk melakukan panggilan maupun mengirimkan SMS. Layanan ini tersedia untuk semua tipe dan jenis ponsel. Dalam kerjasama ini anak usaha Telkom, Infomedia, digandeng sebagai penyedia direktori bisnis.

Untuk registrasi alias cukup ketik REG CMN_namaalias kemudian SMS ke 9787.
Adapun biaya untuk memperoleh nama alias sebesar Rp5.000, sementara untuk berlangganan dwi mingguan Rp3.000, dan mingguan Rp1.500. Sedangkan registrasi nama alias berikutnya, pelanggan dikenakan biaya berlangganan yang lebih murah yaitu Rp2.500 untuk bulanan dan Rp1.500 dwi mingguan, dan Rp 750 mingguan.

Krish mengungkapkan,  Telkomsel menargetkan hingga akhir tahun 2011, sebanyak 450.000-500.000 pelanggan akan aktif menggunakan layanan Call My Name. . “Kami pun menargetkan pendapatan Telkomsel dari Call My Name mencapai sekitar 8 miliar-10 miliar rupiah sampai akhir 2011 hanya dari proses pendaftaran dan berlangganan,” ungkap  Krish.

Presiden Direktur Infomedia Muhammad Awaluddin menjelaskan, khusus pelanggan korporasi yang ingin membuat nama alias akan ditangani langsung oleh Infomedia.”Hingga akhir tahun ini ditargetkan  sebanyak dua hingga tiga ribu perusahaan   yang terdaftar dalam Yellow Pages  memiliki nama alias,” jelasnya.

Menurutnya, Nama alias akan menjadi sangat efektif untuk berpromosi bagi suatu perusahaan, karena akan memudahkan masyarakat untuk mengakses layanan yang dibutuhkan.  Infomedia sendiri menargetkan layanan Call My Name bisa menciptakan pendapatan hingga sekitar 3 miliar rupiah  pada tahun ini.

Poles RBT
Jika Telkom Grup sibuk memoles layanan VAS berbasis teks, maka PT XL Axiata Tbk (XL) mendorong agar RBT tidak kalah pamor seiring mulai munculnya lagu berbasis Full Track Download yang berbasis broadband.

“RBT masih menjadi primadona di XL. Hingga kuartal I 2011, dari 39,3 juta pelanggan XL, sebanyak 9 juta di antaranya adalah pengguna aktif RBT,” ungkap Direktur Commerce XL Joy Wahjudi.

Diungkapkannya, XL mulai meluncurkan layanan  RBTPlus dimana mengubah pola menikmati jasa ini selama ini. Jika RBT yang biasa di pasar lagu didengarkan oleh pihak yang menelpon, maka RBTPlus menjadikan penelpon mendengarkan lagu yang dipilihnya sendiri.

“Selama ini RBT hanya didengarkan pelanggan di saat melakukan panggilan ke nomor lain, namun dengan RBTPlus pelanggan juga dapat mendengar sendiri lagu pilihannya,” kata Joy.

XL mengklaim layanan RBTPlus ini merupakan yang pertama di Indonesia dan telah 500 ribu pelanggan menggunakannya. Ditargetkan hingga akhir tahun ada 1,5 juta pelanggan yang akan memakai jasa ini. XL sendiri memiliki sekitar 55.000 lagu  sehingga memberi keleluasaan bagi pelanggan untuk memilih sendiri lagu yang dijadikan sebagai RBT.

Untuk mengakses RBTPlus, pelanggan dapat mengkuti pola berlanganan layanan playlist tiga buah lagu dengan tarif Rp7.700/30 hari. Selain pola berlangganan Alacarte dengan tarif Rp7.700 per konten. Sedangkan berlangganan selama 1 bulan dikenakan biaya Rp7.700, di mana tersebut sudah termasuk pajak dan baru akan dikenakan setelah 30 hari berlangganan.

Joy mengungkapkan, perseroan menargetkan  kontribusi  layanan  VAS dan data internet terhadap total pendapatan pada 2011 mencapai 18-20 persen, naik dari tahun 2010 yang mencapai 13 persen dari total omset sekitar 17,6 triliun rupiah. Pada tahun lalu, sebesar 6 persen di antaranya disumbang dari pendapatan VAS, dan 7 persen data. Sedangkan pada tahun ini diharapkan  masing-masing meningkat berkisar 9-10 persen.

Praktisi telematika Andy Zain mengatakan, jasa VAS berbasis telekomunikasi dasar  bisa berhasil jika dijalankan   strategi segmentasi yang brillian dan komunikasi pemasaran yang tepat. “Biasanya yang suka dengan VAS tipe ini dari segmen C dan D. Sekarang tergantung penyedia konten bisa berinovasi dengan baik tanpa ada keserakahan ingin jalan pintas seperti SMS Premium yang marak dikritisi beberapa tahun lalu karena dianggap mengambil pulsa tanpa permisi,” jelasnya.

Praktis Telematika lainnya, Faizal Adiputra mengatakan selama jasa suara dan SMS masih memberikan kontribusi yang signifikan bagi total omset operator, maka jasa VAS berbasis kedua produk itu akan tetap diminati pasar. “Kalau untuk SMS Premium itu yang menarik berbasis Pull seperti   informasi tentang sesuatu yang dibutuhkan oleh pengguna,” jelasnya.[dni]

240511 Telkomsel Pilih Amdocs

JAKARTA—Telkomsel akhirnya memilih solusi  customer relationship management (CRM) dari Amdocs untuk meningkatkan kualitas layanannya ke pelanggan.
”Kami sudah melakukan tender sejak tahun lalu dan hasilnya sudah keluar. Pemenangnya secara resmi akan diumumkan oleh procurement. Pihak yang menang sama dengan lelang  Operating System Software, Billing Software System (OSS, BSS),” ungkap Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, kemarin.
Untuk diketahui, Amdocs memenangkan tender OSS,BSS senilai 1,2 triliun rupiah. Sedangkan untuk tender   CRM diperkirakan nilainya   sekitar  1,8 triliun rupiah.

Sarwoto menegaskan, proses tender berjalan secara transpran dan Amdocs dipilih karena sanggup menjalankan Direct Principle dan  telah mengerjakan  OCS, CBS, dan Billing melalui OSS,BSS sehingga  integrasi ke downstream system akan lebih mudah.

”Masalah ada pihak-pihak yang meragukan kualitas dari Amdocs itu hak mereka. Sebagai pengguna kami yang paling tahu apa yang dibutuhkan untuk mengembangkan layanan. Walaupun kala migrasi OSS,BSS sempat ada masalah, itu hal yang normal dalam penerapan teknologi baru,” jelasnya.

Ditegaskannya, Telkomsel tidak akan pernah mundur untuk mengembangkan sarana mendukung kualitas layanan bagi pelanggan seperti untuk purna jual akan dibuat beroperasi 24 jam di beberapa area. ”Kami menganggarkan lima persen dari belanja modal 5 triliun rupiah untuk kualitas layanan,” katanya.

Sebelumnya, proses migrasi  OSS,BSS yang dikerjakan  oleh Amdocs menjadi sorotan karena  molor penyelesaian dari April menjadi Juni 2011. Tidak hanya itu, kurang mulusnya migrasi membuat terjadi salah perhitungan pada pelanggan prabayar sehingga banyak pulsa terpotong tanpa sepengetahuan pelanggan. Dampaknya, Telkomsel dihujani surat pembaca di media-media.

Dampak lainnya beberapa produk bundling atau value added services  seperti Telkomsel Messenger yang akan ditanam di ponsel-ponsel lokal menjadi ditunda peluncurannya.  Belum lagi aplikasi seperti apps zone, mobile advertising, dan T-cash yang sangat tergantung pada sistem penagihan yang canggih harus mangkrak di atas meja menunggu migrasi selesai.   Bahkan di pusat pelayanan purna jual mulai terpengaruh pelayanannya karena sistem billing dan aktivasi menjadi bermasalah.

Amdocs sendiri tidak memiliki perwakilan resmi di Indonesia. Semua operasional  dikendalikan dari kantornya di Singapura. Hal ini tentu membuat pengembangan sumber daya manusia lokal  yang dilakukan Amdocs menjadi terbatas dan ujungnya Telkomsel menjadi sangat  bergantung dengan service dari perusahaan tersebut.

Amdocs   eksis di tak kurang 60 negara.  Dalam laporan keuangan Amdocs di tahun 2009 disebutkan 100 persen saham Amdocs Inc yang berdomisili di Missouri, AS, dimiliki Amdocs Ltd yang bermarkas di Ra’na, Israel. Amdocs Inc hanya berperan sebagai principal operating subsidiaries atau anak perusahaan operasional Amdocs Ltd di Israel.[dni]

240511 Indosat Selenggarakan IWIC

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat)  kembali menyelenggarakan ajang  Indosat Wireless Innovation Application Contest (IWIC) untuk  keenam kalinya   dengan tema  “Inovasi Aplikasi untuk Wujudkan Enterpreneurship”.

“IWIC 2011 mengajak seluruh generasi muda untuk bangkit dan kembali berkreasi dan berinovasi di bidang aplikasi wireless sehingga menjadikan Indonesia mampu hadir dalam kancah dunia wireless global, sesuai dengan semangat Kebangkitan Nasional,” ungkap Director & Chief Commercial Officer Indosat Laszlo Imre Barta di Jakarta, belum lama ini.

Diharapkannya,  generasi muda mau berkiprah dan menjadikan ajang IWIC sebagai titik kebangkitan inovator muda berlomba menciptakan karya kreatif dan inovatif bidang teknologi wireless yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

“Sesuai dengan tema IWIC 2011, kami juga ingin menumbuhkan jiwa enterpreneurship di industri telekomunikasi, yang diharapkan dapat merubah paradigma kita dari masyarakat pengguna menjadi masyarakat yang produktif, kreatif, dan inovatif,” katanya.

Menurutnya, selama  5 tahun berturut-turut IWIC telah sukses menarik minat ribuan generasi muda dan masyarakat untuk berinovasi di bidang teknologi wireless, IWIC 2011 yang merupakan penyelenggarakan ke-6 ini bertujuan tidak hanya mendorong generasi muda untuk kreatif dan inovatif, tetapi juga menumbuhkan kemampuan enterpreneurship (kewirausahaan) dalam industri telekomunikasi, sehingga industri wireless Indonesia bisa bangkit dan berkiprah di pasar wireless global.

Pengembangan inovasi aplikasi yang dikompetisikan dalam IWIC ini dapat menggunakan BlackBerry, Android dan device lainnya. Kompetisi aplikasi untuk pengembangan aktifitas komersial, seperti aktifitas mobile advertising, mobile tracking & navigation, mobile payment, mobile learning, maupun terkait dengan kegiatan traveler/roaming, masuk dalam kategori Business & Commerce.

Sedangkan kompetisi aplikasi untuk pengembangan terkait games atau permainan yang atraktif dan interaktif, jejaring sosial (social networking), instant messaging, video messaging dan lain-lain, masuk dalam  kategori Games & Entertainment.

Terdapat kategori baru di tahun 2011 yaitu kategori khusus Ibu dan Anak, yaitu kompetisi aplikasi yang mendukung pembelajaran bagi Ibu dan Anak dari berbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan, hobi, dan lain-lain. Sedangkan kategori khusus Olahraga adalah kompetisi aplikasi yang berhubungan dengan kegiatan dan informasi di dunia olah raga yang menggunakan teknologi wireless sebagai pendukungnya.[dni]

240511 BTEL Luncurkan SP Esia Kuat

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) meluncurkan kartu perdana  “SP Esia Kuat” yang menawarkan  tarif murah tidak hanya ke sesama pelanggan esia, tetapi juga lintas operator.

“Sudah saatnya masyarakat memahami betul kualitas layanan yang diberikan setiap operator. Ada operator yang menonjolkan murahnya tarif, bahkan gratis. Tapi sebenarnya banyak syaratnya dan hanya berlaku di jam-jam tertentu. SP Esia Kuat mencoba menawarkan tarif yang transparan,” ungkap,” Executive Vice President  Bakrie Telecom Ridzki Kramadibrata di Jakarta, Senin (23/5).

Dijelaskannya,  melalui kartu perdana baru ini BTEL mengajak masyarakat untuk melek tarif, sadar sinyal. “Msyarakat harus cermati betul seberapa murah dan sederhananya tarif telepon yang ditawarkan operatornya. Disamping tarif, masyarakat juga semestinya menyadari seberapa bagus kualitas sinyal operator tersebut. Tarif murah itu bagus, tapi juga harus dibarengi kualitas jaringan yang prima,” tegasnya.

Diungkapkannya, selain menawarkan tarif yang transparan terdapat berbagai bonus di dalam SP Esia Kuat yang berlaku hingga bulan Desember 2011. Pertama, masyarakat yang membeli SP Esia Kuat akan mendapatkan bonus harian berupa gratis SMS ke sesama Esia sepuasnya dan gratis 1000 karakter SMS ke semua operator. Bonus harian ini dapat dinikmati langsung pelanggan setelah ada pemakaian dua ribu rupiah pada hari yang sama.

Ada pula bonus bulanan berupa gratis akses internet 15 MB per bulan. Bonus ini diberikan akan dapat dinikmati pelanggan pada bulan berikutnya setelah ada pemakaian telepon dan sms 35 ribu rupiah.

Sementara itu, Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala meminta pelanggan untuk mencermati penawaran yang diberikan oleh operator karena bahasa pemasaran biasanya tidak semanis kala produk digunakan. ”Penawaran dari BTEL memang menarik dengan adanya jaminan sinyal tidak putus. Tetapi jika untuk panggilan lintas operator kalau terputus, apakah akan diganti juga,” katanya.

Wakil Direktur Utama Bidang Jaringan Bakrie Teelcom M. Danny Buldansyah mengungkapkan, program jaringan kuat akan diganti jika panggilan yang bermasalah terjadi di pihak BTEL. ”Penggantian pulsa akan diperiksa dulu siapa pemicu putusnya sambungan. Kalau yang bermasalah BTEL, tentu akan diganti,” kilahnya.[dni]