310511 Truk Tua Akan Dinonaktifkan

JAKARTA— Pemerintah akan menonaktifkan truk yang berumur tua dan tidak memenuhi ketentuan karena selama ini dinilai sebagai pemicu  kemacetan di jalan tol.

“Kita akan menyuruh truk tersebut tidak beroperasi, dan akan menghimbau perusahaan yang memiliki truk tersebut untuk melakukan peremajaan armada,” kata Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Suroyo Alimoeso di Jakarta, Senin (30/5).

Dikatakannya, untuk menyukseskan program ini pemerintah juga akan akan membantu peremajaan truk dengan  mengupayakan kebijakan fiskal. “Nanti kita akan bantu secara fiskal kalau memang dalam proses pemberlakuan ini banyak merugikan mereka, soalnya truk enyokong ekonomi sehingga perlu kita bantu,” jelasnya.

Sebelumnya, Ditjen Darat dan Organda  menyepakati beberapa poin terkait pembatasan truk masuk tol. Poin kesepakatan tersebut diantaranya mengatur kecepatan truk di tol yakni minimal 60 km/jam dan maksimal 80 km/jam. Bagi yang kecepatannya kurang dari ketentuan, akan ditindak.

Poin selanjutnya yakni Organda harus mematuhi ketentuan berat tonase yakni maksimal 10 ton. Poin ketiga yakni hanya truk dengan berat kosong maksimal 5.500 kg yang boleh masuk tol.

Sementara Ketua Forum Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno mengatakan truk yang tidak layak dilarang operasi, harus diadakan uji petik terhadap muatan lebih yang kerap menghambat perjalanan, sehingga memacetkan kendaraan dibelakangnya.

“Jadi kalau mau atasi kemacetan lalu lintas, revolusi perbaikan transportasi massal. Jangan beri subsidi BBM kepada kendaraan pribadi,” kata Djoko.

Ketua Umum organisasi pengusaha nasional angkutan bermotor di jalan (Organda) Eka Sari Lorena Surbakti mengatakan keinginan pemerintah untuk meremajakan kendaraan dapat dilakukan pada saat yang sama dengan adanya insentif fiskal untuk peremajaan kendaraan truk dan adanya dukungan finansial yang memadai untuk meremajakan kendaraan.

Hal ini karena di Indonesia memerlukan investasi mahal untuk meremajakan kendaraan dibandingkan dengan tarif yang ada di lapangan, sehingga kendaraan umum sulit bersaing dengan kendaraan pribadi yang membuat kendaraan pribadi lebih diminati dari kendaraan umum.

“Inilah yang membuat macet di Jakarta, terlalu banyak kendaraan pribadi, infrastruktur jalan raya yang pembangunannya lambat sehingga tidak bisa mengejar pertambahan kendaraan pribadi yang diatur oleh regulator,” kata Eka.

Presiden Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Masita  mendukung keputusan pemerintah untuk menertibkan operasional truk. “Kita memang sudah sejak 3 tahun lalu meminta kepada pemerintah untuk menindak lanjuti truk yang angkutannya melebihi tonase,” ujarnya.

Dikatakannya, truk yang mengangkut muatan melebihi kapasitas telah membuat kemacetan. “Kemacetan itu yang justru selama ini membuat kami rugi,” ujarnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s