310511 Strategi Operator: Transformasi Telkomsel Hadapi Era Broadband. Menjaga Singgasana di Kurva Kedua

Penguasa pasar seluler Indonesia, Telkomsel,  merayakan ulang tahun ke-16 pada 26 Mei lalu. Hadiah istimewa bagi anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) ini adalah ditasbihkan sebagai salah satu operator di dunia  yang mengelola 100 juta pelanggan.

Sebelumnya, hanya ada enam operator di dunia yang memiliki pelanggan di atas 100 juta nomor yakni China Mobile (600 juta pelanggan), China Unicom (174 juta pelanggan), Bharti Airtel (162 juta pelanggan), Reliance Communications (135 juta pelanggan), Vodafone Essar (134 juta pelanggan), dan Verizon Wireless (104 juta pelanggan).

“Operator seluler yang berhasil melayani 100 juta pelanggan itu sedikit di dunia. Bagi Telkomsel dengan raihan 100 juta pelanggan, saatnya bertaransformasi dimana  harus bisa memberikan layanan baru yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan,” ungkap Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, layanan baru itu adalah jasa broadband yang akan menjadi tren setelah era beyond telecommunication mencapai titik jenuh. “Beyond telecommunication yang saya maksud adalah jasa dasar seperti suara dan SMS yang teledensitasnya telah melebihi populasi. Pertaruhan baru adalah di Broadband ini,” tegasnya.

Dijelaskannya, saat ini Telkomsel memiliki 23 juta pelanggan yang aktif menggunakan jasa broadband yang ditargetkan menjadi 30 juta pelanggan pada akhir tahun nanti. Jasa ini pada 2009 berkontribusi 7 persen bagi total omset dan tumbuh menjadi 12 persen pada 2010. “Pada tahun ini ditargetkan kontribusi broadband sekitar 19 persen bagi total omset Kuartal I 2011 kontribusi broadband sudah 14 persen terhadap omset atau sekitar 1,6 triliun rupiah,” ungkapnya.

Strategi
Sejumlah strategi pun sudah disiapkan oleh manajemen Telkomsel untuk mempertahankan singgasananya di era masuknya industri telekomunikasi pada kurva kedua di industri atau era broadband ini.

Pertama, menjadikan 40 kota berbasis broadband yang menelan investasi sekitar 6,6 triliun rupiah atau 60 persen dari total belanja modal 2011 sebesar 11 triliun rupiah. Telkomsel kini didukung tidak kurang dari 38 ribu BTS, yang 8.300 di antaranya adalah BTS 3G (Node B). Rencananya tahun ini akan ditambah 4.000 Node B.

Kedua, mensinergikan titik layanan bagi pelanggan dengan induk usaha sehingga menjadi  1,3 juta titik pelayanan. ”Kami menyadari di era broadband ini perangkat makin rumit sehingga pelanggan harus diedukasi dengan tepat. Menyebarnya titik layanan yang didukung oleh petugas yang memiliki pengetahuan produk lengkap adalah kebutuhan utama,” jelasnya.

Ketiga, mengalokasikan dana sebesar 1,2 triliun rupiah  untuk mengembangkan sistem informasi (TI) dalam menangani pelanggan. Pengembangan teknologi informasi meliputi sistem tagihan (billing system), customer relationship management (CRM), dan mesin data base storage (mesin penyimpan data). Kapasitas dari sistem ini akan menampung data sebesar 4 Pentabyte. ”Investasi untuk sistem TI meningkat 400 miliar rupiah dibandingkan tahun lalau sebesar 800 miliar rupiah,” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk sistem penagihan dan CRM, Amdocs, ditunjuk menangani dengan dana yang digelontorkan secara multiyears mencapai tiga triliun rupiah. Sedangkan proyek Service Delivery Platform (SDP) untuk menangani layanan konten akan dilelang pada pertengahan tahun ini.
”Amdocs cukup berhasil mengerjakan proyek sistem penagihan karena itu menang di CRM.  Kemungkinan Juni, Amdocs mulai menggarap CRM,” katanya.

Efisiensi
Praktisi Telematika Bayu Samudiyo mengingatkan, Telkomsel harus mulai melakukan efisiensi dari setiap aksinya baik  untuk pemasaran atau investasi perangkat karena jasa suara dan SMS sudah masuk era saturasi. ”Suara dan SMS itu akan tetap menjadi pemasok utama omset operator dalam waktu lima tahun ke depan. Telkomsel harus pintar menyeimbangkan perhatiannya antara jasa dasar dan broadband. Terlalu fokus kepada broadband yang belum menghasilkan dana signifikan bagi omset itu bisa beresiko,” jelasnya.

Menurutnya, investasi yang besar dikeluarkan untuk mengembangkan jasa broadband belum akan dipetik hasilnya oleh operator dalam kurun waktu lima tahun mendatang apalagi ada tantangan mulai terjadinya perang tarif di jasa ini. ”Konsumen Indonesia terlanjur dimanjakan dengan tarif murah untuk broadband sehingga esensi jasa ini sebagai generator revenue  tidak didapat karena trafik melonjak tanpa diimbangi pendapatan yang siginifikan,” katanya.

Masih menurut Bayu, jika dilihat dari besaran investasi yang dikeluarkan oleh Telkomsel dikomparasi dengan pertumbuhan kontribusi jasa data dari pesaing terdekat, seperti XL,  maka efisiensi belum tercapai.

Berdasarkan catatan, XL pada tahun ini menargetkan kontribusi jasa data  mencapai 18-20 persen, naik dari tahun 2010 yang mencapai 13 persen dari total omset sekitar 17,6 triliun rupiah. Operator ini hanya mengalokasikan belanja modal sebesar lima triliun rupiah dimana 30 persen akan digunakan untuk pengembangan jaringan 3G.

Secara pertumbuhan performansi keuangan, XL memang memimpin industri pada  tahun lalu. XL mengalami pertumbuhan omset 27 persen, Indosat (5%), dan Telkomsel (3%). Sedangkan Earning Before Interest Tax Depereciation, and Amortization (EBITDA), XL (50%), Indosat (10%), dan Telkomsel (-3%).

Sementara Praktisi Telematika Teguh Prasetya menyarankan, bagi operator sekelas Telkomsel sudah saatnya masuk ke segmen yang penggunanya bukan lagi “orang” akan tetapi “peralatan” atau  machine  dan  devices untuk langkah akuisisi. Sedangkan  untuk pelanggan lama  diperlukan upaya inovatif untuk meretensi dan mempertahankan bahkan kalau memungkinkan  menaikkan Average Revenue Per User (ARPU).

“Telkomsel untuk pasar suara dan SMS komunikasi pemasarannya jangan terjebak dengan langkah pesaing. Penguasa pasar harusnya mengedepankan kualitas bukan berbalas pantun dalam beriklan dengan pesaing,” tegasnya.

Pengamat telekomunikasi Guntur S Siboro menyarankan, Telkomsel jangan terpancing dengan aksi pemasaran yang dilakukan kompetitor yang berujung pada penderitaan dalam meraup omset.

”Kekurangan Telkomsel sekarang adalah tidak ada figur lokal untuk mengkomunikasikan pemasaran dan penjualan. Padahal, dunia pemasaran Indonesia selalu membutuhkan icon sehingga informasi yang diberikan tidak generik ke pasar,” jelasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s