260511 Pengembangan Solusi TI Butuh Kolaborasi

JAKARTA—Pengembangan solusi Teknologi Informasi (TI) yang bisa menggerakkan perekonomian nasional membutuhkan kolaborasi yang erat dari semua pemangku kepentingan seperti perusahaan penyedia solusi, operator telekomunikasi, pengguna, dan pemerintah.

“Pemanfaatan solusi TI  di negara berkembang masih kecil utilisasinya dan inefisien. Ini membuat biaya customer ownership menjadi tinggi,” ungkap  Director South Pacific Regional CIO Office Huawei Neo Teck Guan di Jakarta, Rabu (25/5).

Diungkapkannya, kolaborasi bisa dilakukan dalam bentuk Joint Innovation Center (JIC) yang melibatkan operator, penyedia solusi, dan pelanggan. Operator mengambil peran mendalami kebutuhan pengguna,  uji coba produk, dan optimalisasi saluran pemasaran.

Sementara penyedia solusi membagi pengalaman dan teknologi yang terjadi di pasar, menyediakan tenaga ahli untuk riset, peralatan, dan lainnya. “Di JIC itu digodok tentang platform dan semuanya. Setelah itu produk yang dihasilkan dilempar ke pasar,” katanya.

Menurutnya, hasil dari kolaborasi ini adalah adanya inovasi baru baik dari sisi solusi, aplikasi, perangkat, dan model bisnis, serta menekan Total Customer Ownership (TCO). “Pelanggan pun akan puas, dari sisi operator terjadi penghematan sementara produk yang ditawarkan memiliki nilai tambah,” jelasnya.

Masih menurutnya, konsep JIC ini bisa dijalankan di Indonesia mengingat pemerintah tengah mengembangkan enam koridor ekonomi di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali-NTT, dan Papua. “JIC bisa dibuat per koridor dan mendukung klaster ekonomi yang tengah dibangun. Ini akan menggerakkan perekonomian daerah,” tuturnya.

Disarankannya, pemerintah pun bisa mengadopsi solusi TI yang menjadi tren di dunia saat ini yakni cloud computing yang memberikan dampak dalam berinteraksi dengan masyarakat, pelaku usaha, pegawai, dan antara instansi pemerintahan.

“Jika menerapkan solusi TI dengan tepat maka pemerintah bisa memberikan one stop service ke masyarakat, meningkatkan iklim usaha dan menarik investor asing untuk datang. Sementara dari sisi produksi pegawai bisa diefisiensikan dan fokus pada layanan yang bernilai tambah. Sedangkan antar instansi terjadi kolaborasi yang bisa mengutilisasikan sumberdaya dimiliki,” jelasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s