260511 Mencari Model Bisnis Melalui Komunitas

Teknologi cloud computing (komputasi awan) sudah menjadi tren global. Bahkan perusahaan sekelas Google, Microsoft, dan sejumlah raksasa teknologi lainnya, turut bertarung memperebutkan pasar ini.

Indonesia sebagai negara yang cepat mengadaptasi kemajuan teknologi tak ketinggalan mengadopsi tren ini.  Para pemain di bisnis ini  tidak hanya  perusahaan berbasis teknologi informasi (TI), tetapi juga operator telekomunikasi. Hal ini karena cloud computing menjadikan  sumber daya komputasi dan jaringan berada dalam satu sistem dengan solusi pendukungnya atau cloud enablement.

Munculnya dua kekuatan yang memiliki beda kutub yakni operator dan perusahan TI tentu perlu dijembatani agar kepentingan semua pihak bisa terpenuhi sehingga memiliki persepsi yang sama dalam mengembangkan inovasi, khususnya kala menemui hambatan dalam pengimplementasiannya.

Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala mengatakan,  sebagai sebuah paradigma baru dan belum menemukan bentuk bakunya, cloud computing  menawarkan berbagai keuntungan sekaligus juga sejumlah resiko, terutama yang terkait dengan IT Service Management.

”Tetapi kehadiran Cloud Computing ini tidak bisa dihindari lagi. Untuk meminimalkan resiko-resiko tersebut, perlu sebuah upaya  membuat sejumlah standar terhadap layanan berbasis cloud computing ini,” katanya di Jakarta, Rabu (25/5).

Diungkapkannya, LPPMI telah memulai dengan menggagas lahirnya  Indonesian Cloud Forum (ICF) dan situs http://www.indonesiacloud.org yang diharapkan dapat  menjembatani kepentingan semua pihak mulai  dari penyelenggara, regulator,  hingga pengguna cloud computing.

Praktisi senior telematika Teguh Prasetya yang juga penggagas situs http://www.indonesiacloud.org menjelaskan, latar belakang dibentuknya forum ini tak lain dari keinginan untuk menghidupkan ekosistem cloud computing di Indonesia, dimana setiap organisasi yang tergabung di dalamnya dapat bekerja sama untuk mengadopsi layanan-layanan cloud computing untuk diimplementasikan pada industri yang lebih luas.

Menurut Teguh, ICF mengemban misi utama sebagai organisasi yang netral dan terbuka bagi pemilik teknologi maupun konsumen yang didedikasikan untuk mendukung implementasi dan keberhasilan industri komputasi awan di Indonesia. ”Cloud computing ini juga wujud dari Green ICT sebagai salah satu new economic engineering yang bisa menggerakkan ekonomi nasional. Ini harus dibangun bersama agar pemain cloud lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya.

Dijelaskannya, ICF akan menggunakan forum terbuka, baik secara fisik maupun virtual, untuk memfokuskan diri pada pada pembangunan konsensus masyarakat, eksplorasi tren terbaru, best practice ataupun referensi arsitektural untuk keperluan standardisasi cloud computing di Indonesia.

Diharapkannya, dengan menggabungkan kekuatan dari komunitas vendor, industri, serta konsumen secara bersama-sama dalam suatu forum terbuka, maka ICF diharapkan akan mendorong interoperabilitas dan integrasi antara anggota organisasi.

“Proses ini nantinya akan difasilitasi oleh sebuah forum virtual, seminar dan workshop rutin. Seluruh aktivitas ICF juga akan diperkuat dengan adanya web forum yang memungkinkan komunikasi dalam antara anggota ICF terjalin lebih komprehensif,” jelas Teguh.

Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Ashwin Sasongko  menyambut gembira kehadiran ICF karena menyadari pengembangan inovasi selalu berawal dari komunitas. ”Kami sebagai regulator  mendukung penuh dibentuknya forum komunitas cloud ini. Suara dari komunitas akan menjadi masukan berharga bagi kami dalam membuat regulasi telematika yang kondusif,” kata Ashwin.

Diharapkannya, dalam finalisasi RUU Konvergensi Telematika  bisnis cloud computing  dapat dimasukkan sebagai salah satu isu yang dipertimbangkan untuk diatur  karena isu utama dari cloud computing adalah keamanan informasi.

“Pengaturan cloud computing tersebut  tetap mengutamakan faktor kehati-hatian dari kemungkinan kegagalan cloud computing dan  mengakomodasi kepentingan industri domestik dari kemungkinan ofensif industri asing dengan dalih lebih compatible, harga bersaing dan keandalannya. Kami yakin jika industri domestik memperoleh peran yang cukup signifikan namun tetap dalam batas koridor hukum yang ada, mereka tentu dapat menunjukkan kemampuannya. Yang kami inginkan adalah adanya kemitraan asing dan domestik secara proporsional,” tegasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s