260511 Indonesia Masih Kekurangan Pilot

JAKARTA—Indonesia dalam jangka waktu empat tahun ke depan diyakini masih kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) pilot karena posisi suplai tidak seimbang degan permintaan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP SDM) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bobby R Mamahit  memperkirakan kebutuhan penerbang (pilot) sepanjang 2011-2015 mencapai 4.000 orang. Namun, kemampuan suplai pilot di Tanah Air baru mencapai 320 orang per tahun atau 1.600 orang sampai 2015. Artinya, masih terjadi defisit pilot sebanyak 2.400 orang hingga 2015.

“Salah satu pemicu tingginya permintaan pilot karena adanya kewajiban pengoperasian pesawat minimal 10 unit bagi maskapai berjadwal dalam UU No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan per 12 Januari 2012. Atas dasar itu, hingga 2015 diprediksikan kebutuhan pilot secara nasional mencapai 4.000 orang,” jelasnya di Jakarta, Rabu (25/5)..

Diungkapkannya, kemampuan suplai pilot baru 120 orang per tahun melalui pasokan  STPI Curug. ”Kalau ditambah swasta mungkin jadi 320 pilot per tahun. Kami akan koordinasi dengan maskapai yang punya sekolah pilot agar produksi itu menjadi dobel ,” katanya.

Menurut Bobby, untuk menggenjot produksi pilot hingga dua kali lipat, pemerintah akan mendirikan sekolah penerbang baru di Papua dan Papua Barat. Kini, pendirian sekolah itu baru tahap studi. Juga tengah dijajaki di Palembang dan Surabaya. Di sisi lain, juga dengan meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana di STPI Curug.

Kapuslitbang BP SDM Kemenhub Yudhi Sari Sitompul mengatakan, pihaknya telah melakukan tender pesawat latih untuk kontrak multiyears sebanyak 18 unit hingga 2013. Pada September 2011 datang enam unit dengan harga  2-3 miliar rupiah  per unitnya. Saat ini, STPI Curug sudah mengoperasikan 36 unit pesawat latih sayap tetap, tiga unit pesawat latih sayap putar, dan tiga unit pesawat simulator (termasuk helikopter).

Menurut Yudhi, saat ini terdapat tujuh sekolah swasta yang ikut berkontribusi dalam produksi pilot di Tanah Air dengan kemampuan 200 pilot per tahun. Sekolah itu berada di Yogyakarta, Bali, dan Jakarta, yang umumnya milik maskapai penerbangan.

Bobby mengatakan, selain butuh 4.000 penerbangan sepanjang 2011-2015, RI juga butuh 7.500 teknisi pesawat dan 1.000 petugas lalu lintas penerbangan (air traffic controller/ATC). Kondisi yang sama juga terjadi di dunia. Pada 2020 diperkirakan kebutuhan penerbangan mencapai 42 ribu orang dan teknisi pesawat udara sebanyak 40 ribu orang, itu sejalan dengan pertumbuhan industri penerbangan global.

“BP SDM Kemenhub selain berupaya memenuhi kapasitas, juga kualitas. Kami juga ingin agar pilot-pilot di Indonesia itu handal dan memiliki kompetensi tinggi, sehingga kejadian human error dalam kecelakaan pesawat terbang bisa diminimalisasi,” ungkapnya.

SDM Pelaut
Sementara untuk SDM pelaut  Bobby mengungkapkan, sepanjang 2011-2015 kebutuhan pelaut secara nasional mencapai 43.806 orang, terdiri dari 18.774 perwira pelaut dan 25.032 pelaut dasar (rating).

Sementara itu, suplai pelaut dari sekolah pelaut pemerintah hanya 1.500 orang per tahun. Jika ditambah dengan sekolah pelaut swasta menjadi 2.000 orang per tahun. Diharapkan pada 2015, suplai itu bisa menjadi 3.000-4000 orang per tahun dengan program percepatan belajar menjadi hanya sekitar setahun. Khusus kebuthan perwira pelaut dunia hingga 2012 saja mencapai 83.900 orang.

“Minat untuk menjadi pelaut sebenarnya tinggi, kini rasio penerimaan sekolah pelaut negeri 1:5, karena kami ingin menampung lebih banyak pelaut di sekolah swasta kami ingin rasio itu menjadi 1:3. Kalaupun memang pelaut produksi dalam negeri ingin ke luar negeri juga tak maslaah, karena ini juga menyumbang devisi, per tahunnya bisa  16 triliun rupiah per tahun,” katanya.[dni]

260511 Indosat Luncurkan ”Indosat Mobile”

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat) meluncurkan  layanan  Indosat Mobile  untuk mendukung mobilitas dan memberikan solusi bagi pelanggan, khususnya para karyawan dan wirausahawan dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi yang lengkap untuk mendukung mereka meraih sukses dalam bekerja.

“Indosat Mobile, terobosan layanan terbaru bagi pelanggan sebagai wujud komitmen kami untuk terus berupaya memahami kebutuhan spesifik pelanggan, khususnya bagi kalangan karyawan dan wirausahawan. Kalangan karyawan dan wirausahawan tidak perlu khawatir dalam berkomunikasi dan membuat panggilan telepon ke semua operator di saat jam kantor untuk mendukung produktifitas pekerjaan mereka,” ungkap Director & Chief Commercial Officer Indosat Laszlo Imre Barta di Jakarta, Rabu (25/5).  .

Dijelaskannya, Indosat Mobile memberikan berbagai kenyamanan dan kelebihan seperti bebas nelpon dan SMS ke semua operator, bebas akses data, serta dapat memilih nomor sendiri yang diinginkan. Layanan Indosat Mobile berlaku untuk pelanggan prabayar maupun pascabayar dan dapat dimiliki dengan membeli  kartu Indosat.

Untuk paket prabayar, pelanggan diberikan kebebasan memilih salah satu dari tiga paket yang disediakan, yaitu paket Harian, paket Mingguan dan paket Bulanan. Pelanggan dapat memilih paket yang diinginkan dengan melakukan registrasi melalui *888# atau ketik: Harian/Mingguan/Bulanan kirim ke 888.

Bagi pelanggan pascabayar, disediakan paket bulanan dengan melakukan registrasi ke Galeri Indosat terdekat. Semua paket berlaku mulai pukul 05.00 sampai dengan pukul 17.00. Pelanggan pascabayar juga akan mendapatkan keistimewaan khusus yaitu diskon 50 persen dari biaya berlangganan Blackberry paket lengkap (BIS) yang berlaku hingga bulan Desember 2011.

Kelebihan lain yang diberikan Indosat Mobile adalah  layanan Indosat World, yaitu  portal terintegrasi yang memudahkan pelanggan untuk mengakses berbagai layanan seperti online registration, info balance/tagihan, news, info financial, m-banking dan games melalui ponsel. Untuk mendapatkan aplikasi Indosat World  dilakukan dengan cara mengunduh melalui *888# atau ketik iworld kirim ke 888.[dni]

260511 Pengembangan Solusi TI Butuh Kolaborasi

JAKARTA—Pengembangan solusi Teknologi Informasi (TI) yang bisa menggerakkan perekonomian nasional membutuhkan kolaborasi yang erat dari semua pemangku kepentingan seperti perusahaan penyedia solusi, operator telekomunikasi, pengguna, dan pemerintah.

“Pemanfaatan solusi TI  di negara berkembang masih kecil utilisasinya dan inefisien. Ini membuat biaya customer ownership menjadi tinggi,” ungkap  Director South Pacific Regional CIO Office Huawei Neo Teck Guan di Jakarta, Rabu (25/5).

Diungkapkannya, kolaborasi bisa dilakukan dalam bentuk Joint Innovation Center (JIC) yang melibatkan operator, penyedia solusi, dan pelanggan. Operator mengambil peran mendalami kebutuhan pengguna,  uji coba produk, dan optimalisasi saluran pemasaran.

Sementara penyedia solusi membagi pengalaman dan teknologi yang terjadi di pasar, menyediakan tenaga ahli untuk riset, peralatan, dan lainnya. “Di JIC itu digodok tentang platform dan semuanya. Setelah itu produk yang dihasilkan dilempar ke pasar,” katanya.

Menurutnya, hasil dari kolaborasi ini adalah adanya inovasi baru baik dari sisi solusi, aplikasi, perangkat, dan model bisnis, serta menekan Total Customer Ownership (TCO). “Pelanggan pun akan puas, dari sisi operator terjadi penghematan sementara produk yang ditawarkan memiliki nilai tambah,” jelasnya.

Masih menurutnya, konsep JIC ini bisa dijalankan di Indonesia mengingat pemerintah tengah mengembangkan enam koridor ekonomi di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali-NTT, dan Papua. “JIC bisa dibuat per koridor dan mendukung klaster ekonomi yang tengah dibangun. Ini akan menggerakkan perekonomian daerah,” tuturnya.

Disarankannya, pemerintah pun bisa mengadopsi solusi TI yang menjadi tren di dunia saat ini yakni cloud computing yang memberikan dampak dalam berinteraksi dengan masyarakat, pelaku usaha, pegawai, dan antara instansi pemerintahan.

“Jika menerapkan solusi TI dengan tepat maka pemerintah bisa memberikan one stop service ke masyarakat, meningkatkan iklim usaha dan menarik investor asing untuk datang. Sementara dari sisi produksi pegawai bisa diefisiensikan dan fokus pada layanan yang bernilai tambah. Sedangkan antar instansi terjadi kolaborasi yang bisa mengutilisasikan sumberdaya dimiliki,” jelasnya.[dni]

260511 Telkom Optimistis Manjakan UKM

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melalui Divisi Business Services (DBS) optimistis memanjakan kalangan usaha skala kecil dan menengah (UKM), serta koperasi dengan solusi teknologi informasi (TI) yang dimilikinya.

“Kami memiliki solusi TI yang berbasis kepada komunitas. Jadi, setiap kebutuhan dari komunitas UKM dan Koperasi itu dipenuhi dengan sumber daya yang dimiliki Telkom,” ungkap EGM DBS Selamet Riyadi di Jakarta, Rabu (25/5).

Diungkapkannya, beberapa solusi TI yang ditawarkan DBS kepada kalangan usaha tersebut adalah e-Toko, e-Koperasi, e-Sekolah, e-Apotik, e-Radio,
e-Puskesmas, e-Campus (SIA), dan e-Bengkel. “Kami membagi segmen usaha ini berbasis manufaktur, services, dan trading,” jelasnya.

Selain itu untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga disediakan solusi BPR Satu yakni  solusi terpadu aplikasi inti perbankan (core banking) yang dipadukan dan dilengkapi dengan Customer Relationship Management (CRM) dan infrastruktur,  secara resource sharing berdasarkan konsep Software as a Service. DBS juga menyediakan Virtual Private Server (VPS) yang diberikan merek Telkom VPS.

“Saat ini kami memiliki 155 ribu pelanggan dari kalangan UKM, koperasi, dan BPR ini. Kita targetkan pada tahun ini dari penyediaan solusi TI untuk segmen usaha ini bisa memasukkan omset ke perseroan sekitar 2,3 triliun rupiah,” ungkapnya.

Menurutnya, pasar solusi TI  untuk segmen  usaha skala kecil dan menengah lumayan besar. Diperkirakan dalam kurun waktu empat tahun ke depan akan tumbuh 60,3 persen menjadi 18,6 triliun rupiah dengan rata-rata pertumbuhan per tahun 12,83 persen  dari nilai  11,6 triliun rupiah sejak 2010 lalu.

“UKM punya prospek bisnis yang sangat cerah jika semakin banyak yang mengimplementasikan solusi TI dengan tepat. Dengan solusi yang ditawarkan Telkom, kami perkirakan nilai bisnis TI dari kalangan UKM dan koperasi tahun 2011 ini sudah bisa tumbuh 10,9 persen  menjadi  12,87 triliun rupiah,” ungkapnya.

Masih menurutnya, pemicu dari besarnya nilai bisnis itu karena komunitas usaha  yang melek TI sedang tumbuh dan membutuhkan solusi serta mobilitas untuk menunjang kelancaran bisnis. “Pasar ini belum ada yang diseriusi oleh pemain lokal. Telkom sebagai operator kelas dunia ingin melayani segmen ini melalui divisi DBS, tidak hanya untuk memberikan solusi TI, tetapi membantu masyarakat memberdayakan ekonominya,” jelasnya.

DBS sendiri mulai dibentuk tahun lalu khusus oleh Telkom untuk melayani pelanggan bisnis yang sebagian besar merupakan segmen pengusaha UKM. Pada segmen ini, Telkom akan menawarkan beragam solusi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan bisnis melalui penerapan TI yang tepat, sehingga TI bisa menjadi bisnis enabler.[dni]

260511 Mencari Model Bisnis Melalui Komunitas

Teknologi cloud computing (komputasi awan) sudah menjadi tren global. Bahkan perusahaan sekelas Google, Microsoft, dan sejumlah raksasa teknologi lainnya, turut bertarung memperebutkan pasar ini.

Indonesia sebagai negara yang cepat mengadaptasi kemajuan teknologi tak ketinggalan mengadopsi tren ini.  Para pemain di bisnis ini  tidak hanya  perusahaan berbasis teknologi informasi (TI), tetapi juga operator telekomunikasi. Hal ini karena cloud computing menjadikan  sumber daya komputasi dan jaringan berada dalam satu sistem dengan solusi pendukungnya atau cloud enablement.

Munculnya dua kekuatan yang memiliki beda kutub yakni operator dan perusahan TI tentu perlu dijembatani agar kepentingan semua pihak bisa terpenuhi sehingga memiliki persepsi yang sama dalam mengembangkan inovasi, khususnya kala menemui hambatan dalam pengimplementasiannya.

Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala mengatakan,  sebagai sebuah paradigma baru dan belum menemukan bentuk bakunya, cloud computing  menawarkan berbagai keuntungan sekaligus juga sejumlah resiko, terutama yang terkait dengan IT Service Management.

”Tetapi kehadiran Cloud Computing ini tidak bisa dihindari lagi. Untuk meminimalkan resiko-resiko tersebut, perlu sebuah upaya  membuat sejumlah standar terhadap layanan berbasis cloud computing ini,” katanya di Jakarta, Rabu (25/5).

Diungkapkannya, LPPMI telah memulai dengan menggagas lahirnya  Indonesian Cloud Forum (ICF) dan situs http://www.indonesiacloud.org yang diharapkan dapat  menjembatani kepentingan semua pihak mulai  dari penyelenggara, regulator,  hingga pengguna cloud computing.

Praktisi senior telematika Teguh Prasetya yang juga penggagas situs http://www.indonesiacloud.org menjelaskan, latar belakang dibentuknya forum ini tak lain dari keinginan untuk menghidupkan ekosistem cloud computing di Indonesia, dimana setiap organisasi yang tergabung di dalamnya dapat bekerja sama untuk mengadopsi layanan-layanan cloud computing untuk diimplementasikan pada industri yang lebih luas.

Menurut Teguh, ICF mengemban misi utama sebagai organisasi yang netral dan terbuka bagi pemilik teknologi maupun konsumen yang didedikasikan untuk mendukung implementasi dan keberhasilan industri komputasi awan di Indonesia. ”Cloud computing ini juga wujud dari Green ICT sebagai salah satu new economic engineering yang bisa menggerakkan ekonomi nasional. Ini harus dibangun bersama agar pemain cloud lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya.

Dijelaskannya, ICF akan menggunakan forum terbuka, baik secara fisik maupun virtual, untuk memfokuskan diri pada pada pembangunan konsensus masyarakat, eksplorasi tren terbaru, best practice ataupun referensi arsitektural untuk keperluan standardisasi cloud computing di Indonesia.

Diharapkannya, dengan menggabungkan kekuatan dari komunitas vendor, industri, serta konsumen secara bersama-sama dalam suatu forum terbuka, maka ICF diharapkan akan mendorong interoperabilitas dan integrasi antara anggota organisasi.

“Proses ini nantinya akan difasilitasi oleh sebuah forum virtual, seminar dan workshop rutin. Seluruh aktivitas ICF juga akan diperkuat dengan adanya web forum yang memungkinkan komunikasi dalam antara anggota ICF terjalin lebih komprehensif,” jelas Teguh.

Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Ashwin Sasongko  menyambut gembira kehadiran ICF karena menyadari pengembangan inovasi selalu berawal dari komunitas. ”Kami sebagai regulator  mendukung penuh dibentuknya forum komunitas cloud ini. Suara dari komunitas akan menjadi masukan berharga bagi kami dalam membuat regulasi telematika yang kondusif,” kata Ashwin.

Diharapkannya, dalam finalisasi RUU Konvergensi Telematika  bisnis cloud computing  dapat dimasukkan sebagai salah satu isu yang dipertimbangkan untuk diatur  karena isu utama dari cloud computing adalah keamanan informasi.

“Pengaturan cloud computing tersebut  tetap mengutamakan faktor kehati-hatian dari kemungkinan kegagalan cloud computing dan  mengakomodasi kepentingan industri domestik dari kemungkinan ofensif industri asing dengan dalih lebih compatible, harga bersaing dan keandalannya. Kami yakin jika industri domestik memperoleh peran yang cukup signifikan namun tetap dalam batas koridor hukum yang ada, mereka tentu dapat menunjukkan kemampuannya. Yang kami inginkan adalah adanya kemitraan asing dan domestik secara proporsional,” tegasnya.[dni]

260511 Inovasi Teknologi: Pasar Cloud Computing Capai Rp 2,1 Triliun Menyambut Era Cloud Computing

Lembaga penelitian Springboard Research belum lama ini mengungkapkan Cloud Computing (Komputasi awan)  akan menjadi sebuah kebutuhan organisasi bisnis, pemerintah maupun nirlaba di Indonesia. Diperkirakan dalam waktu 12 hingga 18 bulan ke depan, inivasi  ini akan mencatat pertumbuhan penting di Indonesia.

Hasil riset lembaga ini menunjukkan  50 persen dari 114 organisasi di Indonesia  telah menggunakan atau dalam tahap perencanaan untuk inisiatif Cloud Computing. Di antara perusahaan-perusahaan skala besar di Indonesia, animo untuk beralih kepada Cloud Computing saat ini meningkat hingga 68 persen.

Cloud computing adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer dan pengembangan berbasis Internet. Awan (cloud) adalah metafora dari internet yang sering digambarkan dalam diagram jaringan computer, serta abstraksi dari infrastruktur kompleks yang disembunyikannya.

Sedangkan hasil penelitian dari Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) terhadap 100 perusahaan di Indonesia  mengungkapkan,  hal-hal utama yang menjadi kekhawatiran  ketika public cloud computing diimplementasikan, antara lain: masalah Security (31,9%), Reliability (27,65), Integrasi dengan legacy sistem (12,76%). Sementara untuk  private cloud computing prioritas beralih menjadi masalah Reliability (20%), Integrasi dengan legacy sistem (20%), Security (17,77%)

Menurut  Direktur LPPMI Kamilov Sagala  cloud computing dibutuhkan karena mampu menawarkan fleksibilitas dalam perspektif bisnis, mengurangi biaya operasional, dan alokasi sumber daya yang dinamis berdasarkan perspektif teknis.

President Director IBM Indonesia Suryo Suwignjo mengakui, sebagai agen perubahan cloud computing memang akan mengakselerasi kecepatan satu perusahaan untuk bersaing. Hal itu bisa dilihat dari terjadinya pengurangan biaya operasional sebesar 77  persen, lebih cepat dalam memberikan nilai tambah sebesar 72 persen dan meningkatkan reliabilits sebesar 50 persen.

“Kunci suksesnya cloud computing adalah Chief Information Officer (CIO) satu perusahaan harus menerapkannya dengan strategi yang tepat dan sesuai kebutuhan perusahaannya. Jika tidak bisa menjadi ancaman bagi kelangsungan TI di perusahaanitu,” katanya di Jakarta, Rabu (25/5).

Direktur Wholesales & Enterprises Telkom Arief Yahya mengungkapkan, di era Informasi, Media, dan Edutainment (IME) sebagai pendorong bisnis Telekomunikasi, maka empat sektor menjadi andalan perseroan untuk memasok omset. Empat sektor itu adalah mobile broadband, Cloud Computing, Home Digital Environment, dan Machine to Machine.

“Telkom siap menjadi pemain utama dan pemimpin di bisinis Cloud Computing karena perseroan telah memiliki jaringan infrastruktur yang solid di seluruh nusantara. Bandwidth yang dimiliki Telkom tidak perlu diragukan lagi,” tegasnya.

Diungkapkannya, untuk Indonesia nilai pasar dari  Cloud Computing  memang masih kecil. Namun, tahun depan diprediksi mencapai  2,1 triliun rupiah dengan sumbangan Software as a Services (SaaS) sebesar 40 persen. “Telkom sendiri menguasai pasar sekitar 70 persen,” tegasnya.

Nada optimistis menggarap inovasi ini juga dihembuskan Planning & Development Director PT Aplikanusa Lintasarta Yudi Rulanto, “Sebagai perusahaan yang biasa bermain di pasar retail dan korporasi juga siap menjadikan cloud computing sebagai salah satu alat mencari keuntungan. “Kami bisa menawarkan solusi Teknologi Informasi (TI) yang reliable dengan dukungan jaringan infrastruktur terpercaya bagi pengguna solusi dari Indosat grup,” katanya.

Country Director Cisco Indonesia  Ichawan F. Agus mengungkapkan dalam memberikan jasa Cloud Computing harus dilihat pola penerapan harga ditengah kondisi freemium di pasar. Freemium adalah permintaan pasar terhadap sesuatu dengan kualitas tinggi tetapi harga yang dibayar rendah. “Biasanya untuk pembeli informal dipikat dengan penggunaan gratis atau Ad Based, sedangkan untuk formal dengan kontrak. Jalan tengah dari kedua ini adalah membayar sesuai yang digunakan,” katanya.

Pasar Pemerintah
Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Ashwin Sasongko mengakui, fakta menunjukkan sektor pemerintah menjadi salah satu penentu kesuksesan bisnis cloud computing di Indonesia.

“Ini bukan maksud pemerintah untuk men-drive dari aspek bisnisnya.  Berbagai publikasi dari perusahaan sudah menunjukkan, bahwa selama ini belanja TI sektor pemerintahan masih mendominasi dan cenderung terus meningkat tajam sehingga menjadi potensi bagi cloud computing,” katanya.

Diungkapkannya, dalam finalisasi RUU Konvergensi Telematika diharapkan bisnis cloud computing  dapat dimasukkan sebagai salah satu bahan pertimbangan dan pengaturannya. Pengaturan diperlukan karena isu utama dari cloud computing adalah keamanan informasi.

“Hal yang menjadi perhatian  dari pengaturan  nantinya mengutamakan faktor kehati-hatian dari kemungkinan kegagalan cloud computing dan mengakomodasi kepentingan industri domestik dari kemungkinan ofensif industri asing dengan dalih lebih compatible, harga bersaing dan keandalannya. Kami yakin jika industri domestik memperoleh peran yang cukup signifikan namun tetap dalam batas koridor hukum yang ada, mereka tentu dapat menunjukkan kemampuannya. Kami menginginkan adanya kemitraan asing dan domestik secara proporsional,” tegasnya

Kepala Bidang Sistem Elektronika Pusat TIK BPPT  Mohammad Mustafa Sarinanto mengungkapkan, salah satu  tantangan dari cloud computing adalah ketersediaan akses. Apalagi dalam  lima tahun ke depan 25 persen perangkat untuk komputasi akan disominasi  wireless tablet atau netbook. “Di 2020, orang tidak akan bekerja dengan software yang berjalan di PC mereka, melainkan melalui internet dan aplikasi berbasis cloud dengan device mobile-nya,” katanya.

Praktisi telematika Mochamad James Falahuddin mengingatkan ditengah mulai maraknya layanan cloud computing maka mendesak hadirnya peran cloud auditor yang berperan memeriksa standar keamanan, mengukur layanan yang diselenggarakan, dan menghitung dampak pembajakan. “Peran regulator diharapkan dalam hal ini. Soalnya satu solusi itu  rentan ditiru layanannya kala dilempar  ke pasar,” tegasnya.[dni]