240511 MA-60 Dilarang Lewati Tiga bandara di NTT

JAKARTA–Kementrian Perhubungan (Kemenhub) selaku otoritas penerbangan sipil  untuk sementara melarang PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) menggunakan pesawat MA-60 untuk menerbangi tiga bandara dengan tingkat kesulitan tertinggi di Indonesia.

Tiga bandara dan rutenya itu adalah  di Nusa Tenggara Timur yaitu bandara udara Ruteng, Ende dan Waingapu.

“MA-60 tidak dioperasikan  pada bandara udara yang memiliki obstacle (halangan)  cukup tinggi dan memerlukan high manuver. Pelarangan ini dilakukan sampai ada hasil evaluasi yang mendetail menunjukkan bandara tersebut aman untuk diterbangi pesawat MA-60,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti Singayudha Gumay di Jakarta, Senin (22/5).

Menurut Herry, Pulau Papua sendiri sebenarnya bandaranya tidak memiliki rintangan yang cukup tinggi. Untuk bandara yang bisa dilewati MA-60,  rata-rata berada di samping pantai sehingga mudah didarati.

Diungkapkannya, Kemenhub melakukan audit terhadap Merpati mulai 13 -15 Mei lalu dengan menurunkan 11 inspektur kelaikudaraan di enam bandara yaitu Surabaya, medan Denpasar, Kupang, Makassar dan Biak di mana menjadi basis pesawat-pesawat MA-60  Merpati.

Dari hasil audit tersebut, sebanyak 10 pesawat dianggap layak terbang, sementara dua pesawat lainnya dalam kondisi tidak dapat beroperasi

Dijelaskannya, pemeriksaan kelaikudaraan lanjutan dilakukan  meliputi pelaksanaan program perawatan pesawat udara,    pemenuhan perintah kelaikudaraan (aiworthiness directives),    pemenuhan mandatory service bulletin, status dan penggantian komponen pesawat udara,    penanganan permasalahan teknis yang berulang (repetitive trouble),   penanganan service difficulty reports/SDR,    konsistensi pelaksanaan MEL (Minimum Equipment List),    dokumen di pesawat udara (on board),    kelengkapan dokumen perbaikan besar dan modifikasi pesawat udara, dan   pengujian sistem-sistem di pesawat udara (functional check), dank.    pemeriksaan fisik pesawat udara.

Hasil dari pemeriksaan pesawat tersebut, tidak ditemukan adanya kelainan/kekurangan pada pesawat MA-60,  pesawat dirawat sesuai dengan maintenance program. Sehingga seluruh pesawat MA-60 dapat dioperasikan kembali, kecuali 2  pesawat MA-60 dengan registrasi PK-MZA dan PK-MZC karena pesawat tersebut dalam kondisi AOG (tidak dapat beroperasi).

Selanjutnya diungkapkan, Direktorat Jenderal Perhubungan  Udara pada tanggal 10 hingga  18 Mei 2011 melakukan special safety audit terhadap PT MNA terkait dengan pengoperasian pesawat MA-60.

Hasil dari special safety audit terhadap maskapai itu adalah keluarnya instruksi. agar     mengevaluasi kembali program pelatihan pilot (pilot training program) karena pilot MA-60 berasal dari berbagai crew qualification dan type rating (F-27, F 100, CASA 212, CN 235, Boeing 737, dan pilot yang baru lulus pendidikan).

Training Program yang perlu dievaluasi, meliputi :    Training syllabus untuk Ab-initio (pilot yang baru lulus dengan CPL single engine instrument rating),  Pelaksanaan line training termasuk route qualification kepada pilot yang sudah lama tidak terbang di daerah yang memerlukan visual approach (VFR), perlu penambahan line training (SOP PT. MNA hanya mengatur 75-100 jam line training),  Perlu adanya transition training yang cukup kepada pilot dari pesawat jet ke pesawat propeller.

MNA juga diminta segera mengadakan peralatan pendukung flight operation quality assurance (FOQA) dan continuous flight following system untuk memonitor pengoperasian pesawat,     meningkatkan pengawasan agar pilot tetap berpegang teguh/disiplin pada SOP visual flight rule (VFR) dan melaksanakan re-training yang menyangkut ALAR, CFIT, Stabilized Approach, serta memberikan sanksi tegas kepada pilot yang melanggar SOP.

Selain itu diminta memiliki simulator yang sesuai dengan pengoperasian pesawat MA-60 di Indonesia. “Apabila simulator tersebut belum tersedia maka simulator yang digunakan untuk training di Xian Aircraft Company-China agar dilengkapi dengan airport database yang diterbangi oleh pesawat MA-60 di Indonesia,” tegas Herry.[Dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s