240511 Memperkaya Konten IPTV

Jasa TV berbayar di Indonesia pada tahun ini diproyeksikan tumbuh 30 persen atau mencapai 1,69 juta pelanggan. Sedangkan pada tahun lalu penetrasi TV berbayar hanya mencapai 1,3 juta sambungan.

Angka ini adalah yang terendah di kawasan Asia Tenggara  mengingat potensi pasar yang dimiliki Indonesia  adalah 40 juta rumah tangga pemilik TV. Seharusnya,  pengguna TV berbayar diestimasikan sebesar 12 juta pelanggan atau sekitar 30 persen dari total populasi TV nasional.

Di Indonesia pemain TV berbayar ada beberapa pemain seperti Indovision, Telkom Vision, Aora TV, First Media, Mega Vision, dan IM2. Tiga pemain menguasai pasar dengan jumlah pelanggan yang signifikan yakni Indovision (700 ribu pengguna), TelkomVision (300 ribu pelanggan), dan First Media (150 ribu pelanggan).

”TV berbayar di Indonesia tidak maju karena masalah konten. Di Indonesia ini konten asing sangat mendominasi sehingga membuat biaya operasional membengkak, akhirnya operator menjadi kelimpungan mencari keuntungan karena semua dana dialokasikan membeli konten,” ungkap Direktur Utama Telkom Vision Elvizar KH di Jakarta, Senin (23/5).

Menurutnya, sebagai operator TV berbayar yang paling lengkap media untuk meyalurkan konten mulai dari satelit, kabel, hingga Internet Protocol TV (IPTV), pihaknya harus kreatif menghadirkan konten yang menarik tanpa membebani biaya operasional.

”Kami akan meluncurkan IPTV secara komersial pada Juni nanti. Jika tidak digandeng banyak pemain konten lokal, bisa jadi layanan ini tidak berkembang karena keterbatasan konten. Kita mau jadikan IPTV sebagai sarana pendukung bagi kreator lokal, sehingga kolaborasi bisa saling menguntungkan,” jelasnya.

IPTV didefinisikan sebagai Interactive Personalize TV menggunakan kabel untuk bisa diakses pelanggan dan dijamin tingkat kerahasiaannya sehingga pelanggan bisa mereview menggunakan jaringan kabel telepon dan kabel broadband dalam satu waktu.

Untuk merealisasikan IPTV ini dibutuhkan dana  50 hingga 100 miliar rupiah. Hingga 2015, Telkom Vision optimis bisa meraih 1 juta pelanggan IPTV. Harapannya, setelah memperoleh 17.000 pelangggan tahun ini, jumlah pelanggan tersebut akan terus naik menjadi 200.000 tahun 2012, sebanyak 500.000 pelanggan di tahun 2013 hingga pada 2015 nanti menembus 1 juta pelanggan.

Fitur TV on Demand  (TvoD) dan Video on Demand (VoD) merupakan salah satu unggulan yang ditawarkan oleh IPTV, dimana melalui TVoD pengguna bisa melihat program TV yang sudah tayang sebelumnya, dengan flashback sampai 2 hari kebelakang. Sedangkan VoD sendiri memungkinkan pengguna menyewa film-film eksklusif dengan tambahan biaya per film.

“Kita sejak Februari lalu sudah melakukan ujicoba terhadap 300 pelanggan yang diantaranya pengguna internet Speedy dan komunitas seerta orang terkenal. Hasilnya sebagian besar dari mereka puas, terlebih fitur di IPTV seperti TV on Demand dan Video on Demand,”  jelas Elvizar.

Head of IP TV Telkomvision Bambang Lusmiadi mengungkapkan, layanan miliknya sangat mendukung dan mendorong adanya konten lokal.   “Jangan sampai kita kalah dengan tayangan luar atau bahkan tetangga yang mempunyai acara sendiri. Kita ingin IPTV ini menjadi platform baru bagi konten lokal. Langkah ini telah dimulai dengan  menggandeng 14 produsen film dan delapan perusahaan rekaman musik Indonesia untuk mengisi konten IPTV,” kata Bambang.

Beberapa penyedia konten lokal yang telah digandeng adalah  MovieStar, 13 Entertainment, Rapi Film, Indica Pictures, Kompas Gramedia Production, RPM, Trinity, Warner Music Indonesia, Musica Studio, dan StarVision.

Diungkapkannya, Telkom Vision telah menyiapkan berbagai konsep pola pembagian pendapatan dengan pemilik konten lokal agar mau mengisi IPTV mulai dari   50:50, 60:40 atau bahkan 30:70 tergantung kualitas konten yang ditawarkan.

Praktisi telamatika Mochammad James Falahuddin mengakui, memperkaya konten sebelum IPTV diluncurkan adalah langkah yang tepat dilakukan oleh Telkom Vision mengingat sebagai operator pertama yang memiliki layanan ini tantangannya lumayan berat. ”Telkom Vision adalah pionir sehingga harus mengedukasi pasar dengan tepat tentang layanan ini. Selain itu, operator ini juga harus pintar menentukan harga berlangganan agar pasar bisa merespons dengan positif,” sarannya.[dni]

240511 Layanan Operator : VAS Berbasis Suara dan SMS. Tetap Tumbuh Memoles Nilai Tambah Tradisional

Produk telekomunikasi dasar seperti suara dan SMS yang dianggap mulai memasuki masa jenuh ternyata juga memberikan pengaruh kepada penjualan layanan nilai tambah (Value Added Services (VAS) berbasiskan kedua jasa tersebut.

Produk VAS berbasis suara dan SMS yang dikenal di masyarakat selama ini adalah SMS Premium,  nada sambung (Ring Back Tone/RBT), dan  SMS Iklan. Kontribusi terbesar biasanya datang dari RBT dan SMS Premium.

Vice President Digital Music & Content Management Telkomsel Krish Pribadi menjelaskan, dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun mendatang layanan VAS berbasis suara dan SMS tetap akan menjadi primadona untuk berjualan karena kondisi masyarakat Indonesia mendukung hal itu terjadi.

“Jika diperhatikan dalam VAS berbasis broadband pun tetap saja yang text messaging diminati pengguna. Lihat saja BlackBerry Messenger, itu kan sebenarnya berbasis text tetapi jalannya di jaringan data,” jelasnya di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, sebagai operator pihaknya sebenarnya tidak membedakan antara aplikasi berbasis broadband dan telekomunikasi dasar karena konsep yang diusung adalah memberikan semua layanan nilai tambah ke masyarakat.

“Kami memiliki 3.500- 4 ribu layanan VAS, semua diberikan mulai dari yang sudah ada di pasar hingga yang belum terbayangkan oleh pelanggan. Kontribusi jasa ini sekitar 10-11 persen dari total omset 42 triliun rupiah tahun lalu. Tahun ini ditargetkan menjadi 13-15 persen,” jelasnya.

EGM Telkom Flexi Mas’ud Khamid menambahkan, tidak semua inovasi diterima pasar sehingga operator dalam berjualan VAS memiliki dua prinsip yakni menjadi inovator atau VAS Follower. Di Flexi sendiri layanan VAS berkontribusi sekitar 15-20 persen dari omset 3 triliun rupiah tahun lalu

“Telkom grup yang memiliki sumber daya paling lengkap mencoba mengkonversikan semua kekuatan untuk menggarap produk VAS ini. Salah satunya adalah dengan meluncurkan layanan Call My Name,” jelasnya.

Call My Name adalah layanan VAS  yang memungkinkan pelanggan Telkomsel dan Flexi memasukkan nama alias untuk melakukan panggilan atau mengirimkan SMS. Tidak perlu menekan nomor ponsel, pelanggan cukup mengirimkan SMS hanya dengan mengetik nama alias.

Call My Name memanfaatkan direktori telepon berbasis jaringan, sehingga pelanggan tidak membutuhkan menu kontak atau buku telepon untuk melakukan panggilan maupun mengirimkan SMS. Layanan ini tersedia untuk semua tipe dan jenis ponsel. Dalam kerjasama ini anak usaha Telkom, Infomedia, digandeng sebagai penyedia direktori bisnis.

Untuk registrasi alias cukup ketik REG CMN_namaalias kemudian SMS ke 9787.
Adapun biaya untuk memperoleh nama alias sebesar Rp5.000, sementara untuk berlangganan dwi mingguan Rp3.000, dan mingguan Rp1.500. Sedangkan registrasi nama alias berikutnya, pelanggan dikenakan biaya berlangganan yang lebih murah yaitu Rp2.500 untuk bulanan dan Rp1.500 dwi mingguan, dan Rp 750 mingguan.

Krish mengungkapkan,  Telkomsel menargetkan hingga akhir tahun 2011, sebanyak 450.000-500.000 pelanggan akan aktif menggunakan layanan Call My Name. . “Kami pun menargetkan pendapatan Telkomsel dari Call My Name mencapai sekitar 8 miliar-10 miliar rupiah sampai akhir 2011 hanya dari proses pendaftaran dan berlangganan,” ungkap  Krish.

Presiden Direktur Infomedia Muhammad Awaluddin menjelaskan, khusus pelanggan korporasi yang ingin membuat nama alias akan ditangani langsung oleh Infomedia.”Hingga akhir tahun ini ditargetkan  sebanyak dua hingga tiga ribu perusahaan   yang terdaftar dalam Yellow Pages  memiliki nama alias,” jelasnya.

Menurutnya, Nama alias akan menjadi sangat efektif untuk berpromosi bagi suatu perusahaan, karena akan memudahkan masyarakat untuk mengakses layanan yang dibutuhkan.  Infomedia sendiri menargetkan layanan Call My Name bisa menciptakan pendapatan hingga sekitar 3 miliar rupiah  pada tahun ini.

Poles RBT
Jika Telkom Grup sibuk memoles layanan VAS berbasis teks, maka PT XL Axiata Tbk (XL) mendorong agar RBT tidak kalah pamor seiring mulai munculnya lagu berbasis Full Track Download yang berbasis broadband.

“RBT masih menjadi primadona di XL. Hingga kuartal I 2011, dari 39,3 juta pelanggan XL, sebanyak 9 juta di antaranya adalah pengguna aktif RBT,” ungkap Direktur Commerce XL Joy Wahjudi.

Diungkapkannya, XL mulai meluncurkan layanan  RBTPlus dimana mengubah pola menikmati jasa ini selama ini. Jika RBT yang biasa di pasar lagu didengarkan oleh pihak yang menelpon, maka RBTPlus menjadikan penelpon mendengarkan lagu yang dipilihnya sendiri.

“Selama ini RBT hanya didengarkan pelanggan di saat melakukan panggilan ke nomor lain, namun dengan RBTPlus pelanggan juga dapat mendengar sendiri lagu pilihannya,” kata Joy.

XL mengklaim layanan RBTPlus ini merupakan yang pertama di Indonesia dan telah 500 ribu pelanggan menggunakannya. Ditargetkan hingga akhir tahun ada 1,5 juta pelanggan yang akan memakai jasa ini. XL sendiri memiliki sekitar 55.000 lagu  sehingga memberi keleluasaan bagi pelanggan untuk memilih sendiri lagu yang dijadikan sebagai RBT.

Untuk mengakses RBTPlus, pelanggan dapat mengkuti pola berlanganan layanan playlist tiga buah lagu dengan tarif Rp7.700/30 hari. Selain pola berlangganan Alacarte dengan tarif Rp7.700 per konten. Sedangkan berlangganan selama 1 bulan dikenakan biaya Rp7.700, di mana tersebut sudah termasuk pajak dan baru akan dikenakan setelah 30 hari berlangganan.

Joy mengungkapkan, perseroan menargetkan  kontribusi  layanan  VAS dan data internet terhadap total pendapatan pada 2011 mencapai 18-20 persen, naik dari tahun 2010 yang mencapai 13 persen dari total omset sekitar 17,6 triliun rupiah. Pada tahun lalu, sebesar 6 persen di antaranya disumbang dari pendapatan VAS, dan 7 persen data. Sedangkan pada tahun ini diharapkan  masing-masing meningkat berkisar 9-10 persen.

Praktisi telematika Andy Zain mengatakan, jasa VAS berbasis telekomunikasi dasar  bisa berhasil jika dijalankan   strategi segmentasi yang brillian dan komunikasi pemasaran yang tepat. “Biasanya yang suka dengan VAS tipe ini dari segmen C dan D. Sekarang tergantung penyedia konten bisa berinovasi dengan baik tanpa ada keserakahan ingin jalan pintas seperti SMS Premium yang marak dikritisi beberapa tahun lalu karena dianggap mengambil pulsa tanpa permisi,” jelasnya.

Praktis Telematika lainnya, Faizal Adiputra mengatakan selama jasa suara dan SMS masih memberikan kontribusi yang signifikan bagi total omset operator, maka jasa VAS berbasis kedua produk itu akan tetap diminati pasar. “Kalau untuk SMS Premium itu yang menarik berbasis Pull seperti   informasi tentang sesuatu yang dibutuhkan oleh pengguna,” jelasnya.[dni]

240511 Telkomsel Pilih Amdocs

JAKARTA—Telkomsel akhirnya memilih solusi  customer relationship management (CRM) dari Amdocs untuk meningkatkan kualitas layanannya ke pelanggan.
”Kami sudah melakukan tender sejak tahun lalu dan hasilnya sudah keluar. Pemenangnya secara resmi akan diumumkan oleh procurement. Pihak yang menang sama dengan lelang  Operating System Software, Billing Software System (OSS, BSS),” ungkap Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, kemarin.
Untuk diketahui, Amdocs memenangkan tender OSS,BSS senilai 1,2 triliun rupiah. Sedangkan untuk tender   CRM diperkirakan nilainya   sekitar  1,8 triliun rupiah.

Sarwoto menegaskan, proses tender berjalan secara transpran dan Amdocs dipilih karena sanggup menjalankan Direct Principle dan  telah mengerjakan  OCS, CBS, dan Billing melalui OSS,BSS sehingga  integrasi ke downstream system akan lebih mudah.

”Masalah ada pihak-pihak yang meragukan kualitas dari Amdocs itu hak mereka. Sebagai pengguna kami yang paling tahu apa yang dibutuhkan untuk mengembangkan layanan. Walaupun kala migrasi OSS,BSS sempat ada masalah, itu hal yang normal dalam penerapan teknologi baru,” jelasnya.

Ditegaskannya, Telkomsel tidak akan pernah mundur untuk mengembangkan sarana mendukung kualitas layanan bagi pelanggan seperti untuk purna jual akan dibuat beroperasi 24 jam di beberapa area. ”Kami menganggarkan lima persen dari belanja modal 5 triliun rupiah untuk kualitas layanan,” katanya.

Sebelumnya, proses migrasi  OSS,BSS yang dikerjakan  oleh Amdocs menjadi sorotan karena  molor penyelesaian dari April menjadi Juni 2011. Tidak hanya itu, kurang mulusnya migrasi membuat terjadi salah perhitungan pada pelanggan prabayar sehingga banyak pulsa terpotong tanpa sepengetahuan pelanggan. Dampaknya, Telkomsel dihujani surat pembaca di media-media.

Dampak lainnya beberapa produk bundling atau value added services  seperti Telkomsel Messenger yang akan ditanam di ponsel-ponsel lokal menjadi ditunda peluncurannya.  Belum lagi aplikasi seperti apps zone, mobile advertising, dan T-cash yang sangat tergantung pada sistem penagihan yang canggih harus mangkrak di atas meja menunggu migrasi selesai.   Bahkan di pusat pelayanan purna jual mulai terpengaruh pelayanannya karena sistem billing dan aktivasi menjadi bermasalah.

Amdocs sendiri tidak memiliki perwakilan resmi di Indonesia. Semua operasional  dikendalikan dari kantornya di Singapura. Hal ini tentu membuat pengembangan sumber daya manusia lokal  yang dilakukan Amdocs menjadi terbatas dan ujungnya Telkomsel menjadi sangat  bergantung dengan service dari perusahaan tersebut.

Amdocs   eksis di tak kurang 60 negara.  Dalam laporan keuangan Amdocs di tahun 2009 disebutkan 100 persen saham Amdocs Inc yang berdomisili di Missouri, AS, dimiliki Amdocs Ltd yang bermarkas di Ra’na, Israel. Amdocs Inc hanya berperan sebagai principal operating subsidiaries atau anak perusahaan operasional Amdocs Ltd di Israel.[dni]

240511 Indosat Selenggarakan IWIC

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat)  kembali menyelenggarakan ajang  Indosat Wireless Innovation Application Contest (IWIC) untuk  keenam kalinya   dengan tema  “Inovasi Aplikasi untuk Wujudkan Enterpreneurship”.

“IWIC 2011 mengajak seluruh generasi muda untuk bangkit dan kembali berkreasi dan berinovasi di bidang aplikasi wireless sehingga menjadikan Indonesia mampu hadir dalam kancah dunia wireless global, sesuai dengan semangat Kebangkitan Nasional,” ungkap Director & Chief Commercial Officer Indosat Laszlo Imre Barta di Jakarta, belum lama ini.

Diharapkannya,  generasi muda mau berkiprah dan menjadikan ajang IWIC sebagai titik kebangkitan inovator muda berlomba menciptakan karya kreatif dan inovatif bidang teknologi wireless yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

“Sesuai dengan tema IWIC 2011, kami juga ingin menumbuhkan jiwa enterpreneurship di industri telekomunikasi, yang diharapkan dapat merubah paradigma kita dari masyarakat pengguna menjadi masyarakat yang produktif, kreatif, dan inovatif,” katanya.

Menurutnya, selama  5 tahun berturut-turut IWIC telah sukses menarik minat ribuan generasi muda dan masyarakat untuk berinovasi di bidang teknologi wireless, IWIC 2011 yang merupakan penyelenggarakan ke-6 ini bertujuan tidak hanya mendorong generasi muda untuk kreatif dan inovatif, tetapi juga menumbuhkan kemampuan enterpreneurship (kewirausahaan) dalam industri telekomunikasi, sehingga industri wireless Indonesia bisa bangkit dan berkiprah di pasar wireless global.

Pengembangan inovasi aplikasi yang dikompetisikan dalam IWIC ini dapat menggunakan BlackBerry, Android dan device lainnya. Kompetisi aplikasi untuk pengembangan aktifitas komersial, seperti aktifitas mobile advertising, mobile tracking & navigation, mobile payment, mobile learning, maupun terkait dengan kegiatan traveler/roaming, masuk dalam kategori Business & Commerce.

Sedangkan kompetisi aplikasi untuk pengembangan terkait games atau permainan yang atraktif dan interaktif, jejaring sosial (social networking), instant messaging, video messaging dan lain-lain, masuk dalam  kategori Games & Entertainment.

Terdapat kategori baru di tahun 2011 yaitu kategori khusus Ibu dan Anak, yaitu kompetisi aplikasi yang mendukung pembelajaran bagi Ibu dan Anak dari berbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan, hobi, dan lain-lain. Sedangkan kategori khusus Olahraga adalah kompetisi aplikasi yang berhubungan dengan kegiatan dan informasi di dunia olah raga yang menggunakan teknologi wireless sebagai pendukungnya.[dni]

240511 BTEL Luncurkan SP Esia Kuat

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) meluncurkan kartu perdana  “SP Esia Kuat” yang menawarkan  tarif murah tidak hanya ke sesama pelanggan esia, tetapi juga lintas operator.

“Sudah saatnya masyarakat memahami betul kualitas layanan yang diberikan setiap operator. Ada operator yang menonjolkan murahnya tarif, bahkan gratis. Tapi sebenarnya banyak syaratnya dan hanya berlaku di jam-jam tertentu. SP Esia Kuat mencoba menawarkan tarif yang transparan,” ungkap,” Executive Vice President  Bakrie Telecom Ridzki Kramadibrata di Jakarta, Senin (23/5).

Dijelaskannya,  melalui kartu perdana baru ini BTEL mengajak masyarakat untuk melek tarif, sadar sinyal. “Msyarakat harus cermati betul seberapa murah dan sederhananya tarif telepon yang ditawarkan operatornya. Disamping tarif, masyarakat juga semestinya menyadari seberapa bagus kualitas sinyal operator tersebut. Tarif murah itu bagus, tapi juga harus dibarengi kualitas jaringan yang prima,” tegasnya.

Diungkapkannya, selain menawarkan tarif yang transparan terdapat berbagai bonus di dalam SP Esia Kuat yang berlaku hingga bulan Desember 2011. Pertama, masyarakat yang membeli SP Esia Kuat akan mendapatkan bonus harian berupa gratis SMS ke sesama Esia sepuasnya dan gratis 1000 karakter SMS ke semua operator. Bonus harian ini dapat dinikmati langsung pelanggan setelah ada pemakaian dua ribu rupiah pada hari yang sama.

Ada pula bonus bulanan berupa gratis akses internet 15 MB per bulan. Bonus ini diberikan akan dapat dinikmati pelanggan pada bulan berikutnya setelah ada pemakaian telepon dan sms 35 ribu rupiah.

Sementara itu, Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala meminta pelanggan untuk mencermati penawaran yang diberikan oleh operator karena bahasa pemasaran biasanya tidak semanis kala produk digunakan. ”Penawaran dari BTEL memang menarik dengan adanya jaminan sinyal tidak putus. Tetapi jika untuk panggilan lintas operator kalau terputus, apakah akan diganti juga,” katanya.

Wakil Direktur Utama Bidang Jaringan Bakrie Teelcom M. Danny Buldansyah mengungkapkan, program jaringan kuat akan diganti jika panggilan yang bermasalah terjadi di pihak BTEL. ”Penggantian pulsa akan diperiksa dulu siapa pemicu putusnya sambungan. Kalau yang bermasalah BTEL, tentu akan diganti,” kilahnya.[dni]

240511 MA-60 Dilarang Lewati Tiga bandara di NTT

JAKARTA–Kementrian Perhubungan (Kemenhub) selaku otoritas penerbangan sipil  untuk sementara melarang PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) menggunakan pesawat MA-60 untuk menerbangi tiga bandara dengan tingkat kesulitan tertinggi di Indonesia.

Tiga bandara dan rutenya itu adalah  di Nusa Tenggara Timur yaitu bandara udara Ruteng, Ende dan Waingapu.

“MA-60 tidak dioperasikan  pada bandara udara yang memiliki obstacle (halangan)  cukup tinggi dan memerlukan high manuver. Pelarangan ini dilakukan sampai ada hasil evaluasi yang mendetail menunjukkan bandara tersebut aman untuk diterbangi pesawat MA-60,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti Singayudha Gumay di Jakarta, Senin (22/5).

Menurut Herry, Pulau Papua sendiri sebenarnya bandaranya tidak memiliki rintangan yang cukup tinggi. Untuk bandara yang bisa dilewati MA-60,  rata-rata berada di samping pantai sehingga mudah didarati.

Diungkapkannya, Kemenhub melakukan audit terhadap Merpati mulai 13 -15 Mei lalu dengan menurunkan 11 inspektur kelaikudaraan di enam bandara yaitu Surabaya, medan Denpasar, Kupang, Makassar dan Biak di mana menjadi basis pesawat-pesawat MA-60  Merpati.

Dari hasil audit tersebut, sebanyak 10 pesawat dianggap layak terbang, sementara dua pesawat lainnya dalam kondisi tidak dapat beroperasi

Dijelaskannya, pemeriksaan kelaikudaraan lanjutan dilakukan  meliputi pelaksanaan program perawatan pesawat udara,    pemenuhan perintah kelaikudaraan (aiworthiness directives),    pemenuhan mandatory service bulletin, status dan penggantian komponen pesawat udara,    penanganan permasalahan teknis yang berulang (repetitive trouble),   penanganan service difficulty reports/SDR,    konsistensi pelaksanaan MEL (Minimum Equipment List),    dokumen di pesawat udara (on board),    kelengkapan dokumen perbaikan besar dan modifikasi pesawat udara, dan   pengujian sistem-sistem di pesawat udara (functional check), dank.    pemeriksaan fisik pesawat udara.

Hasil dari pemeriksaan pesawat tersebut, tidak ditemukan adanya kelainan/kekurangan pada pesawat MA-60,  pesawat dirawat sesuai dengan maintenance program. Sehingga seluruh pesawat MA-60 dapat dioperasikan kembali, kecuali 2  pesawat MA-60 dengan registrasi PK-MZA dan PK-MZC karena pesawat tersebut dalam kondisi AOG (tidak dapat beroperasi).

Selanjutnya diungkapkan, Direktorat Jenderal Perhubungan  Udara pada tanggal 10 hingga  18 Mei 2011 melakukan special safety audit terhadap PT MNA terkait dengan pengoperasian pesawat MA-60.

Hasil dari special safety audit terhadap maskapai itu adalah keluarnya instruksi. agar     mengevaluasi kembali program pelatihan pilot (pilot training program) karena pilot MA-60 berasal dari berbagai crew qualification dan type rating (F-27, F 100, CASA 212, CN 235, Boeing 737, dan pilot yang baru lulus pendidikan).

Training Program yang perlu dievaluasi, meliputi :    Training syllabus untuk Ab-initio (pilot yang baru lulus dengan CPL single engine instrument rating),  Pelaksanaan line training termasuk route qualification kepada pilot yang sudah lama tidak terbang di daerah yang memerlukan visual approach (VFR), perlu penambahan line training (SOP PT. MNA hanya mengatur 75-100 jam line training),  Perlu adanya transition training yang cukup kepada pilot dari pesawat jet ke pesawat propeller.

MNA juga diminta segera mengadakan peralatan pendukung flight operation quality assurance (FOQA) dan continuous flight following system untuk memonitor pengoperasian pesawat,     meningkatkan pengawasan agar pilot tetap berpegang teguh/disiplin pada SOP visual flight rule (VFR) dan melaksanakan re-training yang menyangkut ALAR, CFIT, Stabilized Approach, serta memberikan sanksi tegas kepada pilot yang melanggar SOP.

Selain itu diminta memiliki simulator yang sesuai dengan pengoperasian pesawat MA-60 di Indonesia. “Apabila simulator tersebut belum tersedia maka simulator yang digunakan untuk training di Xian Aircraft Company-China agar dilengkapi dengan airport database yang diterbangi oleh pesawat MA-60 di Indonesia,” tegas Herry.[Dni]