210511 Kemenhub Tunggu Laporan Perkembangan Mandala

JAKARTA—Kementerian Perhubungan (Kemenhub) hingga saat ini masih menunggu laporan resmi dari PT Mandala Airlines (Mandala) mengenai masuknya dua investor baru yang akan mengakusisi maskapai tersebut untuk menghidupkan kembali maskapai yang telah menghentikan operasionalnya sejak beberapa bulan lalu.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bhakti S Gumay mengatakan hingga saat ini, pihaknya masih belum menerima laporan resmi mengenai masuknya dua investor yang akan menyuntikan dana segar agar Mandala bisa kembali terbang.

“Saya tahu kelompok usaha Saratoga Capital dan maskpai penerbangan asing Tiger Airways telah mengakusisi saham Mandala. Kami masih menunggu surat pengajuan resmi dari Mandala yang berisi business plan (rencan bisnis) kedepan, siapa saja investornya, rute yang akan diambil dan berapa armada  yang akan digunakan, itu semua harus dilaporkan kepada Kemenhub,” ungkapnya di Jakarta, Jumat (20/5).

Dijelaskannya, setelah mengajukan rencana bisnis tersebut, Kemenhub sebagai regulator akan melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap rencana bisnis Mandala kedepannya. Sebagai pengawas dari pemerintah, pihaknya tidak akan serta merta menyetujui rencana bisnis Mandala, namun ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi oleh Mandala.

“Mandala harus bisa memenuhi regulasi yang ada, contohnya Undang-undang No 1 / 2009 tentang Penerbangan yang menyatakan seluruh maskapai penerbangan harus memiliki lima pesawat milik dan lima pesawat sewa mulai 1 Januari 2012 mendatang,” jelasnya.

Berkaitan izin rute penerbangan Mandala yang telah hangus, pihaknya membenarkan hal tersebut, namun menurut Herry, jika Mandala ingin mengajukan izin rute kembali, Kemenhub memperbolehkan hal tersebut.

“Surat Ijin Usaha Penerbangan (SIUP) Mandala masih ada. Tinggal mengurus rute baru dan siapkan pesawat untuk terbang lagi,” katanya.

Namun, SIUP ini kemungkinan direvisi  karena masuknya investor baru. “SIUP mungkin akan direvisi karena dilampiran SIUP ada nama-nama jajaran direksi, bisa jadi Saratoga menempatkan orang-orangnya dan menggantikan direksi yang lama,” tuturnya.

Menurutnya, masukknya Saratoga Group sebagai investor mayoritas yakni 51 persen sudah  sesuai dengan peraturan, yakni mayoritas saham dipegang investor lokal. “Tidak usah dikhawatirkan kemungkinan Tiger Airways selaku investor pemegang 33 persen  yang akan menguasai Mandala. Mana bisa dia (Tiger) monopoli, yang mayoritas saja Saratoga, kita kan sudah tahu siapa pemilik Saratoga,” katanya.  .

Sementara itu Direktur Utama Mandala Airlines Diono Nurjadin menjelaskan, kerjasama dengan Saratoga Group dan Tiger Airways masih berupa kesepakatan awal yang akan dilanjutkan dengan finalisasi perjanjian investasi.

“Mandala baru tanda tangan kesepakatan awal dengan Saratoga dan Tiger yang akan dilanjutkan dengan finalisasi perjanjian investasi. kepastian dan nilai investasi akan ditentukan setelah due diligence (uji tuntas),” jelasnya.

Sebelumnya pada Kamis (19/5) Kantor berita Reuters  menyebutkan, maskapai berbiaya murah (low cost carrier) Tiger Airways dalam pernyataannya telah mengakui untuk menyetujui akuisisi 33 persen saham di PT Mandala Airlines. Namun nilai akuisisi atas jumlah saham itu tidak diungkapkan.

Disebutkan pula, Mandala tengah merestrukturisasi keuangannya sesuai proses hukum di Indonesia .

Tiger Airways yang kini 33 persen  sahamnya dimiliki Singapore Airlines (SIA) akan menerapkan strategi perjalanan murah untuk rute domestik mapun internasional dengan waktu tempuh lima jam. Untuk masuk ke Mandala Airlines, Tiger Airways akan menggandeng Saratoga Group yang nantinya akan memiliki saham mayoritas sebesar 51 persen di Mandala.

Dengan pernyataan itu, komposisi saham Mandala yang dulu 51 persen dimiliki PT Cardig International Aviation dan 49 persen milik Indigo Indonesia Investment Sarl menjadi Saratoga Capital (51%), Tiger Airways (33%), dan kreditor konkuren Mandala (16%).

Mandala menghentikan operasional maskapainya sejak 13 Janurai 2011 lalu karena kesulitan keuangan, sehingga seluruh pesawat yang berjumlah tiga unit ditarik kembali oleh lessor (perusahaan penyewa pesawat). Total kewajiban Mandala saat itu mencapai 2,45 triliun rupiah kepada kreditur konkuren yang jumlahnya ratusan telah dikonversi ke dalam saham Mandala dan utang ke kreditur separatis yaitu Bank Victoria 54,14 miliar rupiah.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s