190511 Sumber Daya Frekeunsi: Regulator Selesaikan Penataan Frekuensi 3G Tambahan Blok untuk Bersaing

Lonjakan trafik data di Indonesia tak bisa dipungkri lagi kenyataannya. Bagi pemiliki lisensi  3G seperti Telkomsel, Indosat, XL Axiata,  Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPT), dan Natrindo Telepon Seluler (NTS/Axis) di jaringannya telah  terjadi lonjakan hingga dua kali lipat dibandingkan beberapa tahun lalu.

Walau kontribusi dari jasa data belum dominan bagi total omset perseroan, namun operator mulai melakukan langkah antisipasi dengan memperkuat kapasitas jaringan melalui permintaan tambahan blok frekuensi 3G ke pemerintah.

Tiga operator, Telkomsel, Indosat, dan XL, telah mendapatkan tambahan blok kedua sebesar 5 MHz pada tahun lalu. Bahkan, Telkomsel dan XL, pada tahun ini kembali mengajukan permintaan blok ketiga walau sadar di spektrum 2,1 GHz hanya tersisa satu blok yang ideal untuk digunakan mengingat satu blok lagi diperlukan sebagai guardband dari  frekuensi milik Smart Telecom.

“Kami harus mengajukan tambahan frekuensi karena trafik sudah naik 200 persen dan tren teknologi ke depan adalah konsumsi data. Apalagi sebanyak 24,5 juta pengguna Telkomsel itu aktif mengakses jasa data,” ungkap Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, belum lama ini.

Sarwoto pun mendesak tambahan blok frekuensi yang diberikan untuk perseroan harus bersebelahan (Contigous) karena sesuai aturan operator diberikan penambahan setelah dilakukan evaluasi baik dari sisi jumlah pelanggan dan pembangunan BTS 3G (Node B). “Kami  pertama kali yang mengajukan tambahan blok ketiga. Logikanya regulator hanya melakukan evaluasi saja untuk melihat siapa yang layak mendapatkan tambahan,” tegasnya.

Sarwoto pun terkesan enggan memindahkan blok frekuensi yang telah dimiliki perseroan untuk memberikan ruang bagi HCPT mendapatkan frekuensi yang contigous karena terlanjur telah menanam investasi yang besar. “Ada jalan keluar yang lebih baik ketimbang dipindahkan. Kami terus berdiskusi dengan regulator,” kilahnya.

Direktur Jaringan XL Dian Siswarini mengaku siap jika terjadi lelang bagi tambahan blok ketiga untuk 3G. “Kami siap untuk lelang. Soalnya lebih murah investasinya menambah frekuensi ketimbang harus merapatkan pembangunan BTS. Apalagi jika didapat blok yang contigous, kapasitas yang diinginkan bisa efisien ” jelasnya.

Untuk diketahui, mendapatkan satu blok frekuensi 3G tidaklah murah.  Telkomsel mengeluarkan dana sebesar 320 miliar rupiah untuk  Upfront fee,  selain Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi  tahun pertama sebesar 160 miliar rupiah. Sementara Indosat mengeluarkan dana sebesar 352 miliar rupiah ( upfront fee + BHP tahunan) dan XL menguras kantongnya sebesar 487,6 miliar rupiah (upfront fee+BHP).

Sementara VP Sales and Distribution Axis Syakieb A. Sungkar mengungkapkan, pada tahun ini perseroan berencana untuk membangun 9 ribu BTS 3G (Node B) memperkuat 4 ribu Node B yang telah ada. “Data telah berkonribusi sekitar  30-35 persen bagi total omset. Kita butuh tambahan blok frekuensi  walau kapasitas yang ada  masih  memadai  karena okupansinya baru mencapai 30 persen,” jelasnya.

Direktur Government Relations HCPT Sidarta Sidik mendesak dalam kurun waktu antara satu dan dua bulan ke depan sudah ada kepastian dari pemerintah terkait penambahan kanal 3G  karena sudah menyampaikan surat kesanggupan bayar  untuk penggunaan 10 tahun.

Diungkapkannya, perseroan memilih skema membayar up front fee yang besarnya lebih dari 170 miliar rupiah dan biaya tahunan dengan jumlah yang sama. “Kami meminta diberikan blok yang contigous agar sesuai dengan standar International Telecommunication Union (ITU) dan KM No.29/2006 tentang  pengalokasian pita frekuensi  2,1 GHz.,” tegasnya.

Tata Dulu
Direktur Pengendalian Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Ditjen Sumberdaya Perangkat Pos dan Informatika, Kemenkominfo Tulus Raharjo mengungkapkan, hal yang dilakukan saat ini adalah menata dulu pemberian untuk blok kedua agar semua operator mendapatkan frekuensi yang contigous.

“Ini berarti Telkomsel harus mau legawa pindah kanal. Apalagi operator itu sudah menyetujui penataan blok 3G. Semua ini sesuai dengan regulasi karena itu tidak ada kompensasi yang diberikan dalam pemindahan,” tegasnya.

Sedangkan untuk sisa blok yang ada, dilakukan kajian yang mendalam terutama masalah kebutuhan untuk guard band dari frekeunsi Smart Telecom.“Kita akan umumkan nantinya ketersediaan blok untuk transparansi. Bisa saja terjadi lelang tahun ini kalau penataan cepat selesai di blok kedua bagi semua operator,” jelasnya.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI)  M. Ridwan Effendi mengungkapkan, telah disiapkan lima opsi bagi pemerintah untuk menata spektrum 2,1 GHz. “Kami sudah menyiapkan opsi yang bisa diambil oleh pemerintah. Sebaiknya kebijakannya diambil secara paralel untuk tambahan blok kedua dan ketiga agar operator tidak dua kali pindah kanal yang berujung pemborosan investasi,” jelasnya.

Opsi yang disiapkan oleh regulator, pertama, setiap pemain diberikan blok yang bersebelahan. Untuk mewujudkan ini, Telkomsel diminta pindah dari blok ke 4 ke 6 dengan konsekuensi operator itu harus mengeluarkan dana sekitar 34 miliar rupiah dan ada kendala kualitas layanan kala salah satu kanal dimatikan.

Kedua, NTS diberikan kanal kedua agar contigous. Dampaknya, blok milik HCPT tidak contigous. Ketiga, NTS diberikan kanal ke 6. Dampaknya, HCPT memiliki blok contigous, sementara NTS tidak. Keempat, NTS di blok ke 1 dan 2, HCPT di blok 3 dan 6. konsekuensinya blok milik HCPT akan terpakai sebagian untuk guard band. Kelima, disiapkan kajian refarming 2,1 GHz yang menyertakan tambahan blok ketiga.

Anggota Komite lainnya, Heru Sutadi membantah ada pilih kasih dalam penataan ulang blok kedua 3G seperti diloloskannya keinginan NTS dan HCPT yang  ingin memiliki kanal bersebelahan walau kedua operator itu sempat tidak tertarik meminta tambahan frekuensi beberapa waktu lalu.

“Rencananya blok kedua diberikan 2008 tapi tertunda, akhirnya diberi deadline baru untuk mengajukan tambahan sesuai harga yang ditentukan pemerintah Agustus 2010. Itu fair, karena sesuai regulasi, kita punya kewajiban mencadangkan 5 MHz kedua untuk operator 3G dengan evaluasi dan membayar up front fee sesuai dengan angka yag ditentukan,” ketusnya.

Ditegaskannya, penataan ulang sudah dilakukan jauh hari dan adalah hal yang wajar Axis mendapatkan blok bersebelahan karena kala tender 3G dilakukan 5 tahun lalu satu blok miliknya ditarik oleh pemerintah. “Telkomsel waktu tahun lalu diberikan disamping blok milik Indosat tidak mau. Akhirnya sementara menggunakan disebalah NTS. Setelah semua pemain minta blok kedua tentu akan ditata ulang, agar sisa 10 MHz itu bisa dilelang untuk blok ketiga,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s