190511 Kemenkominfo Kaji SLI Diliberalisasi

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengaji lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI) diliberalisasi layaknya seluler karena jasa tersebut sudah generik terdapat di setiap penyelenggara telekomunikasi.

”Sebenarnya panggilan SLI itu bisa dilakukan oleh semua operator. Di Indonesia karena rezimnya per lisensi maka tidak semua operator bisa menyelengarakan SLI. Kita sedang mengaji jika diliberalisasi, apakah berdampak positif bagi industri,” ungkap Menkominfo Tifatul Sembiring di Jakarta, kemarin.

Diungkapkannya, sudah terdapat beberapa operator yang mengajukan lisensi SLI seperti XL Axiata dan Axis. ”Keduanya sudah mengajukan dan sedang dipelajari. Kita juga ingin sinkronkan dengan program Asean Roaming yang tengah dibahas di tingkatan regulator anggota kawasan Asia Tenggara,” jelasnya.

Dijelaskannya, dalam program Asean Roaming tersebut sedang dikaji kemungkinan biaya roaming bagi sesama negara Asean menjadi flat atau bahkan dinihilkan. ”Tetapi ini perlu kajian mendalam karena Indonesia adalah pemilik pasar terbesar. Jika kita lepas dan operator tidak siap, Indonesia bisa hanya menjadi pasar yang empuk,” tuturnya.

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio menegaskan, liberalisasi SLI sudah saatnya dilakukan    agar azas manfaat, adil, dan merata bisa terjadi di industri telekomunikasi.
“Saya melihat tiga pemain SLI yang ada (Indosat, Telkom,  dan Bakrie Telecom) saat ini belum mampu mewujudkan tiga azas di atas. Pemerintah harus lebih berani melakukan liberalisasi dengan membukan peluang usaha di sektor SLI bagi pemain lain,” tegasnya.
Diperkirakannya, melihat tingkat pertumbuhan yang terjadi selama ini,  pada 2015 nanti diperkirakan sudah akan ada lebih dari 36.000 juta menit SLI atau 12.000 juta menit/operator. Saat itu diperkirakan dibutuhkan  enam operator SLI agar kualitas pelayanan tetap baik.
GM International Business and Domestic Wholesale XL Retno Wulan mengakui mengantongi lisensi SLI  akan membuat perseroan  bisa mengelola biaya produksi secara lebih baik. ”Kami selama ini menjadi tergantung dengan pihak lain sehingga biaya tidak bisa dikontrol,” jelasnya.

Diungkapkannya, hampir 50 persen dari biaya roamig internasional sangat menyangkut pemilihan mitra,  30 persen dari pihak yang menyalurkan trafik internasional (pemilik lisensi SLI), dan sisanya komponen lainnya.

VP Sales & Distribution Axis Syakieb Sungkar mengungkapkan, jika pemerintah meliberalisasi lisensi SLI maka kemungkinan tarif roaming internasional bisa diturunkan karena tidak perlu lagi membayar pihak ketiga serta daya tawar dalam bernegosiasi akan lebih kuat. [dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s