190511 Hasil Audit MA-60 Diragukan

JAKARTA–Hasil audit terhadap pesawat MA-60 yang dioperasionalkan oleh Merpati Nusantara Airlines (MNA) diragukan karena Indonesia belum memiliki badan sertifikasi yang idependen sesuai amanat dari Undang-undang Penerbangan No 1/2009.

“Indonesia hingga saat ini belum memiliki otoritas sertifikasi independen berbentuk badan layanan umum (BLU) seperti yang diamanatkan UU No 1/2009. Jika memang menurut Kemenhub, MA-60 layak terbang hanya melihat aspek teknis, apa itu sudah cukup,” tegas Anggota Komisi V DPR RI KH Abdul Hakim  saat rapat dengan jajaran manajemen MNA, Kemenhub, dan Badan SAR Nasional di Jakarta, Rabu (18/5).

Diungkapkannya, kala sertifikasi layak terbang dikeluarkan pada periode 20 Maret-27 April 2006, otoritas penerbangan sipil Indonesia dalam kondisi disorot oleh ICAO karena banyak hal yang belum memenuhi standar penerbangan internasional. “Sekarang lembaga yang sama melakukan audit terhadap MA-60, tanpa menafikan adanya perbaikan yang dilakukan oleh otoritas penerbangan sipil, saya merasa audit aspek teknis tidak mencukupi. Harus ada audit manajemen dan operasional,” tegasnya.

Disarankannya, untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat, pesawat buatan Xian tersebut digrounded hingga hasil penyebab kecelakaan di Teluk Kaimana awal Mei lalu diketahui oleh Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). “Hasil temuan KNKT harus dipublikasi karena itu hak publik,” tukasnya.

Anggota Komisi V lainnya Fahri Jamie Francis mendesak audit untuk pesawat MA-60 dilakukan oleh pihak independen dan berkompetensi di bidangnya. “Jika perlu kita undang pihak asing yang paham soal sertifikasi. Ini dimungkinkan oleh UU Penerbangan pada pasal 49,” jelasnya.

Secara terpisah, Anggota Komisi II DPR Akbar Faisal meminta semua pihak untuk bersabar mengetahui penyebab kecelakaan dengan menunggu hasil penyelidikan KNKT.

Namun, Akbar mendesak terkait kehadiran pesawat MA-60 di Indonesia harus ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.

“Soal kecelakaan, teknisnya kita tunggu dari KNKT. Namun ada pertanyaan soal kotak hitam, ini penting, Merpati katanya punya alat yang bisa baca Flight Data Record (FDR) kotak hitam MA-60 dan dibeli dari Kanada, tetapi ternyata tidak cocok ketika dipasang ke pesawat buatan China itu, bagaimana ini,” kata Akbar.

Dia menambahkan pihaknya juga memusatkan perhatian pada soal pembelian ke-15 pesawat MA-60 asal China tersebut.”Tolong buka dokumen pembeliannya yang sebanyak 3.000 lembar. Siapa yang paling bertanggung jawab di pembelian Merpati. Negara harus bertanggung jawab dengan keselamatan rakyatnya. Harus ada yg bertanggung jawab, sampai informasi itu jelas,” katanya.

Akbar mengatakan ada keanehan dari sisi harga pesawat yang menggelembung dari yang seharusnya 11,2 juta dollar AS  menjadi 14,7 juta dollar AS.

Selain itu ada perbedaan bunga, Merpati harus bayar 3 persen  ke pemerintah, sedangkan pemerintah bayar ke Bank Exim China sebesar 2,5 persen.

“Kami miris  pemerintah memberikan ruang bagi produk luar yang kurang kredible. Kenapa tidak pakai pesawat CN 235 buatan IPTN yang lebih baik,” kata Akbar.

Akbar mengusulkan agar dibentuk pansus penyelesaian masalah pembelian pesawat MA-60 Merpati. “Sekarang semua anggota dewan sedang bersemangat membahas hal ini. Kita lihat nanti arah selanjutnya,” katanya.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay mengungkapkan, audit teknis telah selesai dilakukan terhadap 12 pesawat MA-60 dan akan dilanjutkan pada audit manajemen serta operasional.

“Pemeriksaan terhadap 12 pesawat MA-60 sudah selesai diperiksa sejak Selasa (17/5),” ungkapnya.

Diungkapkannya, dari hasil tim audit kelayakan terhadap 12 pesawat MA-60 milik Merpati tidak ditemukan masalah serius sehingga pesawatnya dinyatakan layak terbang. Meski demikian opsi untuk grounded (melarang terbang) pesawat buatan China ini masih terbuka karena tengah mengaudit operasional termasuk pilot.

“Opsi untuk grounded  masih terbuka, kita tunggu hasil audit operasional yang dijadwalkan selesai sesegera mungkin,”jelasnya.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub Bambang S. Ervan mengatakan dari hasil audit terhadap 12 pesawat MA-60, 11 dinyatakan layak terbang dan 1 masuk bengkel perawatan.

Ketua KNKT  Tatang Kurniadi,    mengatakan dari Cockpit Voice Recorder (CVR) yang merekam percakapan di kokpit pesawat MA-60 yang jatuh di perairan Kaimana Papua Barat, disimpulkan tidak ada kepanikan yang terjadi detik-detik menjelang jatuhnya pesawat itu. “Tidak ada kepanikan,” kata Tatang.

CVR ini merupakan bagian dari kotak hitam atau black box, yang merekam pembicaraan antara kapten pilot dan co-pilot. KNKT sudah membuka rekaman pembicaraannya, dan dalam 30 menit terakhir yang terekam, tidak ada kepanikan dalam pembicaraan di kokpit.

Meski demikian, Tatang mengatakan tidak bisa langsung disimpulkan kalau pesawat jatuh tiba-tiba tanpa diketahui pilot dan co-pilot. “Kita belum bisa bilang kalau pesawat jatuh mendadak, masih tunggu laporan akhir,” kata dia.

Pada kesempatan lain, Mantan Dirut IPTN Herry Laksono mengatakan untuk kemanan penerbangan seharusnya pesawat yang digunakan di kawasan timur Indonesia  menggunakan lisensi internasional.

“Pesawat CN 235 sudah kantongin sertifikat GAA sekarang dikenal dengan EASA. Kami juga bisa usahakan lisensi FAA, harganya tidak akan naik,” jelasnya.

Herry mengatakan harga pesawat CN 235 untuk penumpang 40 orang yakni 11 juta dollar AS.

Diperkirakannya, MA-60 jatuh di Teluk Kaimana  kemungkinan karena ada masalah flight control sehingga pilot tidak bisa menguasai pesawat.

Sedangkan Direktur Pemasaran Merpati Nusantara Airlines Toni Aulia Achmad mengungkapkan, jika seluruh armada MA-60 di-grounded, perseroan akan mengalami potential loss sekitar 1,2 miliar rupiah per hari. “Armada MA-60 diperkirakan menyumbang 20 persen bagi total omset,” jelasnya.[Dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s