140511 KAI Tunggu Rangkaian KRL

JAKARTA—PT Kereta Api Indonesia (KAI) sedang  menunggu dua rangkaian kereta rel listrik (KRL) ekonomi buatan PT Inka dari  pemerintah untuk dioperasikan oleh PT KA Commuter Jabodetabek (KCJ).

“Rangkaian KRL ekonomi itu nantinya akan diterima Daerah Operasional (Daop) I PT KAI, dan selanjutnya diserahkan kepada  PT KA Commuter Jabodetabek (KCJ) untuk dioperasikan,” ungkap Humas Daop I PT KAI Mateta Rizalulhaq di Jakarta, kemarin.

Diungkapkannya, KRL itu akan digunakan untuk melayani rute Jabodetabek mengingat tingginya kebutuhan untuk tujuan tersebut.

Dijelaskannya,  KAI membutuhkan 156 rangkaian kereta KRL untuk melayani penumpang Jabodetabek hingga 2014 atau tiga kali lipat dari posisi saat ini yang nencapai 52 rangkaian kereta. Ke 52 ini melayani 500.000-511.000 penumpang, namun pada 2014, pemerintah menargetkan jumlah penumpang KRL Jabodetabek sebanyak 1,2 juta jiwa.

Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan sendiri  dikabarkan akan menyerahkan dua unit KRL ekonomi kepada PT KAI. Sebelum diserahkan, armada diujicoba terlebih dahulu.

Dua rangkaian KRL itu merupakan bagian dari 40 set kereta yang dibangun pemerintah di PT Inka senilai 185 juta euro atau setara 240 juta dollar AS yang bersumber dari pinjaman lunak jangka panjang Bank Pembangunan Jerman (Kreditanstalt fur Wiederaufbau/KfW).

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Tundjung Inderawan mengatakan pembangunan KRL itu akan diselesaikan PT Inka secara bertahap hingga 2012. KRL ekonomi tersebut akan menambah kapasitas angkut penumpang yang sampai saat ini belum mampu dipenuhi  KAI.

”KRL ekonomi buatan PT Inka ini kami harapkan bisa menambah kapasitas angkut, yang sampai saat ini masih belum mencukupi. Dua akan diserahkan dan sekarang sudah diujicoba di Balai Yasa untuk disesuaikan dengan operasional,” kata Tundjung.

Dia berharap KRL tersebut mampu mengurangi tingkat kepadatan penumpang, karena dalam operasi penertiban yang digelar sebelumnya, masih banyak penumpang yang terpaksa diturunkan paksa karena naik di atas gerbong, sambungan dan ruang kabin masinis.

”Buktinya sekarang ini saja masih banyak penumpang yangh naik ke gerbong, sambungan kereta dan ruang masinis. Ini tidak dibenarkan dan bisa dikenakan kurungan,” kata Tundjung.

Tundjung mengatakan operasi. penertiban seperti itu akan dilakukan secara rutin pada seluruh stasiun keberangkatan Jabodetabek.

Pembiayaan pembangunan kereta yang bersumber dari KfW tersebut, kemungkinan akan dikembangkan kembali untuk pembangunan proyek angkutan massal sejenis. Menurut Tundjung, hasil kesepakatan itu dilanjutkan untuk kereta jarak jauh dan pengembangan infrastruktur lainnya di sejumlah lintasan.

”Pinjaman lunak jangka panjang ini diberikan dengan masa pengembalian selama 30 tahun yang sepenuhnya ditanggung pemerintah,” kata Tundjung.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s